
Akhirnya dengan sikap terlihat malas dan ogah-ogahan, Alvero melepaskan bibirnya dari bibir Deanda yang harus menarik nafas dalam-dalam karena ciuman panjang dari Alvero barusan, tanpa sengaja membuatnya menahan nafas untuk menahan gejolak dalam dadanya saat Alvero memberinya perlakuan begitu lembut dan mesra seperti barusan. Karena itu, hampir saja Deanda kehabisan nafasnya.
Apalagi ingatan Deanda tentang hadiah yang baru saja dia terima dari ALvero pagi tadi membuat perasaan Deanda begitu dipenuhi dengan rasa haru dan bahagia. Sehingga perlakuan mesra Alvero barusan membuat dadanya bergetar hebat dan dipenuhi dengan rasa cinta yang semakin dalam kepada Alvero.
"Sweety, kalau aku tidak menghentikannya sekarang, sepertinya sepanjang hari ini kita bisa menghabiskan waktu di tempat tidur dan tidak bekerja. Kamu bener-benar membuatku seperti orang kecanduan yang selalu lupa diri jika berada didekatmu sweety." Alvero berkata dengan nada melenguh, karena dia harus menahan hasratnya yang begitu besar saat bagian dari tubuhnya bersentuhan dengan bagian tubuh Deanda, yang baginya terasa begitu menggoda dan menimbulkan sensasi seperti sengatan-sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
Kedekatannya dengan Deanda selalu berhasil membuat salah satu bagian tubuhnya di bawah sana terbangun dari tidurnya, dan membuat sesak dan sensasi liar di pikirannya timbul dengan cepat memenuhi otaknya.
"Kalau begitu, lebih baik kamu segera kembali ke meja kerjamu. Biarkan aku bekerja dengan tenang hari ini, jika ingin pekerjaanku cepat selesai." Deanda berkata sambil mendorong dada Alvero agar menjauhinya.
Setelah itu Deanda memegang kedua bahu Alvero dan membalikkan tubuh laki-laki itu, lalu mendorong punggung Alvero dengan kedua telapak tangannya. Berjalan menuju meja kerja Alvero sendiri.
"Permaisuri, ini berkas-berkas yang sudah..." Ernest langsung menghentikan kata-kata maupun langkahnya.
Selain itu Ernest juga dengan segera membalikkan tubuhnya, begitu melihat bagaimana Deanda sedang mendorong tubuh Alvero yang sengaja menahan tubuhnya dengan kekuatan kedua kakinya, agar Deanda tidak dengan mudah membawanya menjauh dari meja kerja Deanda.
Apalagi sambil mendorong tubuh Alvero dari arah belakang, Deanda juga tampak sedang menciumi punggung Alvero untuk menggodanya, tepat ketika Ernest melangkah masuk ke ruangan itu.
Ah... lagi-lagi, mereka berdua memamerkan kemesraan mereka. Dulu saat yang mulia belum menikah, melihat kemarahan dan sikap dingin yang mulia kadang membuatku merasa tidak nyaman. Setelah menikah, yang mulia Alvero terlihat lebih jarang marah dan murah senyum. Tapi sayangnya, membuatku merasa lebih tidak nyaman melihat bagaimana mesranya mereka berdua tanpa sadar keberadaanku yang seringkali berada di dekat mereka berdua. Aku tidak tahu jika hal seperti ini terjadi pada Erich. Kira-kira dia akan bertahan atau tidak ya?
__ADS_1
Ernest berkata dalam hati sambil menahan nafasnya dengan kening berkerut. Apakah ini dinamakan sebuah keberuntungan atau kesialan. Jika sedang bersama Erich, Alvero dan Deanda jarang menunjukkan kemesraan mereka. tapi jika sedang bersama Ernsent, hampir setiap waktu mereka menunjukkan hal seperti itu.
Memikirkan hal itu akhirnya Ernest hanya bisa tersenyum antara geli namun juga terpaksa, menyadari nasibnya yang belum menemukan jodohnya, sedang kedua majikannya selalu pamer kemesraan di depannya.
"Hei! Ernest! Cepat kemari! Cepat serahkan berkas-berkas itu agar permaisuri bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat hari ini! Apa yang sedang kamu tunggu disana?" Alvero langsung berteriak memanggil Ernest begitu melihat pengawal setianya itu membalikkan tubuhnya, bahkan berniat keluar lagi dari ruangan Alvero.
"Eh... ya... Baik Yang Mulia. Akan saya berikan sekarang." Begitu mendengar teriakan dari Alvero dengan kata-kata perintahnya, dengan buru-buru Ernest kembali melangkah ke arah Deanda sambil membawa berkas-berkas di tangannya.
“Silahkan Permaisuri.” Ernest berkata sambil meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Deanda, yang tadinya berdiri di samping Alvero yang sudah duduk di kuris kebesarannya.
“Ok, terimakasih Ernest.” Deanda segera berjalan ke arah meja kerjanya dan mulai melihat ke arah tumpukan map yang ada di depannya.
# # # # # # #
"Hah! Benarkah Tuan Red? Aku senang sekali mendengar berita ini." Alvero yang awalnya sedang bersiap untuk menghadiri meeting rencana peluncuran produk baru untuk perusahaan spare part mesin miliknya saat menerima panggilan telepon dari Red, langsung menghentikan langkahnya untuk keluar dari kantornya.
"Iya Yang Mulia, dan saksi itu sedang berada di tempat persembunyiannya di kota Croyen. Puluhan tahun dia bersembunyi dengan menggunakan identitas palsunya di pinggiran kota Croyen. Karena itu kita begitu sulit untuk menemukannya." Red menjelaskan tentang info yang baru saja ditemukan oleh orang-orang Goldie Tavisha untuk menemukan para saksi palsu peristiwa pelecehan Eliana oleh Alexis.
"Tuan Red, harap mengawasi saksi itu dengan baik. Aku akan segera mengaturkan waktuku dengan permaisuri untuk bisa segera berangkat ke kota Croyen." Alvero segera menanggapi perkataan dari Red.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia. Saya akan coba aturkan dari dari kota Renhill. Karena untuk sementara saya harus fokus di kota Renhill selama pelatihan pasukan khusus." Red menjawab perintah Alvero dengan cepat, karena diapun ingin dengan segera nama baik Alexis dipulihkan.
Dan dengan diketemukannya salah satu saksi yang dulunya merupakan pengawal kerajaan itu, Red seperti menemukan angin segar agar masalah Alexis sebagai korban fitnah dari Eliana tidak berlarut-larut.
"Baik Tuan Red. Terimakasih untuk kerjasamanya. Selamat siang." Alvero mematikan panggilan teleponnya dengan Red sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ada sesuatu yang terjadi Yang Mulia?" Deanda yang sempat sedikit mendengarkan pembicaraan Alvero dan Red melalui telepon segera berjalan mendekat ke arah Alvero.
Sedang Avitus, Erich, dan Ernest yang sedari tadi juga sedang menunggu Alvero untuk menghadiri meeting tetap berdiri di tempat mereka.
"Kalian bertiga pergilah dahulu ke ruang meeting. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan permaisuri." Alvero segera memerintahkan ketiga orang yang lain pergi agar dia bisa berbicara dengan tenang bersama Deanda.
"Baik Yang Mulia." Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, mereka langsung berjalan meninggalkan kantor Alvero.
"Ada apa my Al? Ada sesuatu yang terjadi dengan Red?" Mendengar pertanyaan Deanda, tanpa menjwab, tiba-tiba saja Alvero meraih tubuh Deanda, lalu memeluknya dengan erat sambil kepalanya menopang ke atas puncak kepala Deanda, sedang kedua tangannya sibuk mengelus-elus punggung Deanda.
"Ah.... nyaman sekali." Alvero berkata pelan sambil tersenyum, setelah itu baru melepaskan pelukan eratnya dari tubuh istrinya.
"Coba tebak info apa yang sudah berhasil didapatkan oleh tuan Red?" Mendengar pertanyaan Alvero, Deanda langsung tertawa kecil.
__ADS_1
"Apa info tentang tempat liburan yang indah di kota Croyen?" Dengan tersenyum, Deanda menjawab dengan asal pertanyaan Alvero tanpa berpikir panjang karena dia mendengar Alvero tadi menyebutkan kota Croyen.