
Tindakan Alvero sukses membuat tubuh Deanda benar-benar sedikit tersentak dengan mata sedikit terbeliak. Bisikan lembut dari Alvero, hembusan nafas Alvero yang hangat menerpa leher dan telinganya, sekaligus kecupan mesra Alvero di telinganya sontak membuat Deanda memegang dadanya yang bergetar hebat dengan bibir sedikit terbuka untuk menghembuskan nafasnya.
Yang Mulia... kamu benar-benar... Akhhh... kamu selalu berhasil membuatku hampir kehabisan nafas karena jantungku yang selalu berdetak keras setiap kamu berada di dekatku. Wah... jika yang mulia selalu menggodaku seperti itu, bisa-bisa aku terkena serangan jantung. Dan jika itu terjadi, semuanya akan menjadi tanggung jawab yang mulia sepenuhnya.
Deanda berkata dalam hati sambil menarik nafas lega begitu menyadari Alvero sudah masuk ke kamar mandi dan tidak lagi menggodanya. Walaupun sejak awal mengenal Alvero, Deanda tahu bahwa laki-laki tampan yang saat ini sudah menjadi suaminya itu begitu suka menggodanya, tapi tetap saja setiap godaan Alvero kepadanya tetap saja mampu membuat dadanya berdebar, tubuhnya bergetar, dan yang pasti membuatnya begitu gugup dan salah tingkah. Namun tanpa sadar tindakan Alvero juga sukses membuat bibirnya menyunggingkan sebuah senyum yang menunjukkan bahwa dia begitu bahagia menyadari bahwa Alvero selalu membuatnya tersanjung dan merasa begitu dicintai.
# # # # # # #
"Enzo! Sudah lama kamu tidak bermain catur denganku." Alvero berkata sambil menepuk bahu Enzo yang langsung menghentikan gerakan mulutnya yang sedang menikmati macaron kesukaannya.
(Macaron adalah biskuit yang dibuat dengan putih telur, tepung gula, gula rafinasi, tepung almon, dan pewarna makanan. Macaron merupakan biskuit berbentuk bulat kecil, aneka warna, renyah di luar,. Macaron, (dibaca mack-a-ROHN) adalah kue kering yang berasal dari Prancis berbasis meringue. Macaron bentuk bulat dan ditumpuk seperti sandwiches dengan isian manis seperti selai, buttercream atau ganache. Tekstur luarnya renyah namun bagian tengahnya terdapat krim lembut yang lumer di mulut. Tampilannya menarik dengan warna-warna yang lucu menggemaskan. Makaron, menurut tradisi, diperkenalkan di Prancis oleh koki Italia milik Ratu Catherine De Medici selama masa Renaisans.
Sejak abad ke-19, macaron ala Paris disajikan dengan ganache, krim mentega, atau isi selai yang diapit di antara dua biskuit, yang menjadikannya mirip dengan biskuit lapis. Makanan tersebut diidentikkan dengan atasan yang halus dan sedikit melengkung, bulatan yang kasar, dan alas yang rata. Makaron agak lembap dan mudah meleleh di mulut. Makaron dapat divariasikan dalam berbagai rasa, di mulai dari perisa tradisional (rasberi, cokelat) hingga perisa yang tidak biasa (foie gras, matcha). Hal ini menjadikan makaron juga dapat ditemukan dalam berbagai warna sesuai rasanya. Ada sejumlah perdebatan dalam penggunaan istilah macaron dan macaroon, karena adanya makarun berbahan kelapa yang cukup berbeda dengan makaron Prancis (macaron). Dalam bahasa Inggris, beberapa tukang roti mengadopsi ejaan bahasa Prancis, macaron, sebagai nama dari makanan berjenis kue busa tersebut, agar dapat membedakannya dari macaroon. Guru besar linguistik dari Universitas Stanford, Daniel Jurafsky, menjelaskan bahwa kedua makanan tersebut memiliki sejarah yang sama dengan makaroni (bahasa Italia: maccheroni). Jurafsky mencatat bahwa kata-kata Prancis yang diakhiri dengan "-on" yang diserap ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-16 dan ke-17 biasanya mengalami pengubahan ejaan dan diakhiri dengan "-oon", seperti balloon (ballon, balon), cartoon (kartun; dari bahasa Prancis: carton, karton), dan platoon (peloton, peleton). Oleh sebab itu, masih banyak toko roti terus menggunakan istilah "makarun").
"Eh, bermain catur? Apa Yang Mulia sedang bergembira hari ini? Tumben sekali menantangku bermain catur? Apa Yang Mulia yakin tidak akan merasa malu kalau aku berhasil mengalahkan Yang Mulia seperti biasanya?" Enzo berkata sambil mengerlingkan matanya.
__ADS_1
Semua orang di istana tahu bahwa Enzo adalah pemain catur terhebat yang mereka kenal. Walaupun seringkali bersikap santai dan sedikit seenaknya sendiri namun jika sudah berhadapan dengan papan catur, wajah Enzo akan berubah seratus delapan puluh derajat. Dia akan bersikap sangat serius dengan mata tidak mau melepaskan pandangan matanya dari papan catur barang sedetikpun.
"Ayolah, temani kami bermain catur di dekat kolam." Alvero berkata dengan suara sengaja sedikit keras agar didengar oleh yang lain sehingga dia tidak perlu mengucapkan salam sebelum meninggalkan acara afternoon tea yang masih baru saja diikutinya, belum genap 10 menit dia hadir di taman istana untuk acara afternoon tea.
Perkataan Alvero sukses membuat Enzo mengambil sebuah piring, memenuhinya dengan macaron kesukaannya, setelah itu dengan cepat dia meraih bahu Alvero, mengajaknya menjauh dari lokasi tempat diadakannya afternoon tea.
Hari ini aku harus segera memberitahukan apa yang sedang terjadi kepada Enzo. Bagaimanapun dia juga seorang pangeran Adalvino yang juga harus tahu bahwa Eliana adalah seorang wanita ular yang sungguh berbahaya. Kami berdua harus segera bertindak sebelum terlambat dan kekuatan Eliana semakin tidak terbendung.
Alvero berkata dalam hati sambil menunggu Enzo mengikutinya untuk pergi ke arah kolam istana.
Walaupun Deanda tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja Alvero mengajak Enzo bermain catur, namun karena Alvero memberikan kode kepadanya agar ikut dengannya melalui kerlingan matanya, Deanda hanya bisa memenuhi permintaan Alvero untuk mengikuti kedua pria tampan itu ke arah kolam.
Begitu sampai di dekat kolam ternyata di sana sudah berdiri Alea dan Ernest di dekat sebuah meja yang di atasnya sudah tersusun bidak catur dengan rapi di atas papan catur, siap untuk dimainkan. Melihat kehadiran Alea dan Ernest dengan cepat Deanda bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Yang Mulia Alvero pasti dengan sengaja berpura-pura mengajak pangeran Enzo untuk bermain catur sekaligus membicarakan tentang sesuatu yang penting tanpa dicurigai oleh orang lain.
__ADS_1
Deanda berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alea yang langsung tersenyum denganĀ ke arahnya.
Setelah hari pernikahan Deanda baru hari ini Alea bisa melihat sosok Deanda kembali, apalagi sejak pulang ke istana Alvero meminta dengan tegas agar untuk ritual mandi pagi sementara waktu para pelayan tidak membantu Deanda. Bagaimanapun Alvero tidak bisa membiarkan para pelayan melihat kulit mulus istrinya dipenuhi oleh stempel kepemilikan yang sudah dia buat hampir di seluruh tubuh permaisurinya yang berkulit putih mulus itu.
Walaupun sebenarnya tanpa perintah dari Alvero, sebenarnya nyonya Rose pun sudah memerintahkan agar para pelayan tidak perlu membantu Deanda mandi selama beberapa waktu sampai nyonya Rose kembali memerintahkan kepada mereka kembali untuk melayani Deanda mandi di pagi hari, yang pasti itu tidak akan dalam waktu dekat.
"Duduklah Enzo." Alvero berkata sambil meraih tangan Deanda dan sedikit menariknya agar Deanda duduk di sebelahnya, berhadap-hadapan dengan Enzo yang tampak menyungingkan senyum kemenangan walaupun permainan belum dimulai, sambil tangan Enzo yang memegang piring berisi macaron meletakkan piring tersebut di atas meja, di samping papan catur.
Alea yang berdiri di samping meja yang di atasnya terletak papan catur bersama Ernest mengangkat sebuah meja kecil dan mendekatkan ke meja yang berisi papan catur itu. Di atas meja kecil itu tampak sebuah teko keramik berisi seduhan teh dengan cangkir-cangkir keramik berukuran kecil dimana di bagian bibir cangkir itu dipoles dengan lapisan emas murni.
Begitu selesai meletakkan meja itu, dengan gerakan perlahan dan hati-hati Alea mulai menuangkan teko berisi teh itu ke dalam cangkir-cangkir itu. Dan begitu selesai menggeser cangkir-cangkir itu ke arah Enzo, Deanda dan Alvero.
"Apa kamu serius ingin menantangku bermain catur? Apa kamu tidak takut dan malu jika aku berhasil mengalahkanmu di depan permaisurimu yang cantik?" Enzo berkata sambil melirik ke arah Deanda yang duduk terdiam di samping Alvero tanpa bersuara.
"Sekali lagi kamu mengucapkan rayuan gombalmu. Aku akan mengusirmu dari istana dengan tuduhan sudah berani melecehkan pemaisuri Gracetian." Alvero berkata dengan matanya yang melotot tajam ke arah Enzo yang langsung tergelak.
__ADS_1
"Wah, ternyata meskipun sudah berhasil menikahi gadis impianmu, tapi kamu tetap saja bersikap galak. Melecehkan di bagian mana? Justru aku begitu mengagumi kecantikan dan kebaikan permaisuri Gracetian ini. Deanda, jika kamu memiliki saudara kembar atau saudara kandung perempuan, perkenalkan kepadaku terlebih dahulu sebelum dilihat oleh yang lain, apalagi Dion." Mata Alvero semakin melotot mendengar perkataan Enzo yang terbiasa tidak mau menggunakan panggilan resmi untuk Alvero dan Deanda jika hanya diantara mereka, namun di sisi lain Alvero tidak bisa menyangkal perkataan Enzo yang mengakui bahwa Deanda merupakan wanita spesial yang bukan hanya cantik, tapi begitu mempesona dengan sifatnya yang selalu perduli dengan orang lain dan baik hati, lembut namun kuat.