BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
RENCANA VINCENT


__ADS_3

"Hah! Sebaiknya kita harus segera keluar dari kamar ini atau aku tidak akan tahan untuk tidak membawamu ke tempat tidur." Alvero berkata sambil meraih pakaiannya dari tangan Deanda dan mulai mengenakan celana berkuda dan pakaiannya sendiri, membiarkan Deanda yang masih berdiri mematung di tempatnya sambil tangannya memegang dadanya yang terus berdetak dengan keras.


Aist... aku benar-benar menyesal sudah mengajak Deanda dan yang lain berkuda pagi ini. Seharusnya kami menghabiskan masa bulan madu kami di atas tempat tidur. Sayangnya mereka semua pasti sudah menunggu di istal, dan aku tidak mungkin membatalkan rencana berkuda pagi ini jika tidak ingin membuat orang-orang Eliana curiga.


Alvero berkata dalam hati sambil melirik ke arah Deanda yang dengan gerakan pelan memilih untuk melarikan diri ke kamar mandi untuk berganti pakaian berkudanya, membuat Alvero tersenyum geli melihat tingkah istrinya.


"Lebih baik besok aku mengajak istriku menginap di penthouse agar tidak ada yang mengganggu bulan madu kami, sekaligus membuat orang-orang Eliana merasa bebas bertindak di istana, sehingga mereka melakukan kecerobohan. Itu akan menguntungkan buat penyelidikanku." Alvero bergumam pelan sambil menarik ritsleting pakaian berkudanya, dengan bibir dipenuhi senyum nakal karena membayangkan bagaimana dan apa yang akan dia lakukan untuk menghabiskan banyak waktu dengan istri tercintanya besok.


Setelah mengenakan pakaian berkudanya, Alvero meraih handphonenya, melihat sebuah pesan baru dari Evan.


Selamat pagi Yang Mulia, ibu suri Eliana (setelah Vincent meninggalkan posisinya sebagai raja, secara otomatis, posisi permaisuri berpindah kepada Deanda sebagai istri Alvero yang merupakan raja Gracetian saat ini, dan sebutan Eliana berubah menjadi ibu suri, walaupun beberapa orang di istana masih menyebutnya dengan permaisuri karena merasa tidak enak langsung mengganti panggilan tersebut sedang Vincent masih hidup) terlihat meninggalkan kota Renhill. Sesuai perintah Yang Mulia, kami segera melakukan penggeledahan di kamar hotel bekas ibu suri Eliana menginap untuk mendapatkan petunjuk. Dalam waktu kurang dari 30 menit saya akan melaporkan perkembangan selanjutnya.


Membaca pesan dari Evan, Alvero segera melakukan panggilan telepon kepada Ernest.


"Ya Yang Mulia." Ernest langsung menjawab cepat panggilan dari Alvero.

__ADS_1


"Eliana sepertinya dalam perjalanan kembali ke istana. Secepat mungkin batalkan perintah kepada Alea untuk menyusup ke kamar Eliana. Kita lanjutkan perintah penyusupan selanjutnya saat kondisi kembali aman. Ubah perintah menjadi usaha mengamati orang-orang di istana yang kemungkinan merupakan pemilik plakat itu." Alvero langsung memberikan perintah pembatalan tugas kepada Alea, karena sebelumnya pagi tadi Alvero sempat memerintahkan kepada Alea agar melakukan penyusupan ke kamar Eliana sebelum siang nanti Eliana kembali ke istana.


Namun info tentang keberadaan plakat yang dibawa Deanda kepadanya pagi tadi membuat Alvero sadar bahwa saat ini mungkin beberapa orang yang berasal dari kelompok pemberontak itu sedang berada di istana dan berusaha mengamati pergerakannya juga. Dan Alea merupakan salah satu orang baru yang tindak tanduknya pasti diamati oleh orang-orang itu, untuk menetapkan Alea berada di pihak mereka atau di pihak pemerintah resmi Gracetian.


"Baik Yang Mulia."


"Berikan peringatan kepada Alea, mulai sekarang dia harus lebih berhati-hati karena kemungkinan musuh sedang berada diantara orang-orang dalam istana, termasuk pelayan dan pengawal. Jangan mempercayai siapapun dan berteman dengan siapapun untuk beberapa waktu ini. Jika ada sesuatu yang mencurigakan agar segera melaporkannya padamu." Alvero kembali memberikan perintah.


"Baik Yang Mulia. Dan ini, nyonya Rose baru saja menanyakan kepada saya kapan Yang Mulia dan permaisuri berniat meninggalkan istana selatan dan pindah ke istana barat?" Mendengar pertanyaan dari Ernest, Alvero sedikit menahan nafasnya.


"Katakan kepada nyonya Rose, sementara ini aku tetap akan berada di istana selatan." Alvero menjawab sambil mengakhiri panggilan teleponnya.


Selain menyatakan keinginannya untuk sementara waktu tinggal di Renhill, Vincent juga mempersilahkan Alvero untuk memboyong istrinya untuk menempati istana barat. Namun saat itu dengan tegas Alvero menolak. Jika sebelum-sebelumnya posisi raja Gracetian diturunkan kepada putra mahkota secara otomatis karena raja meninggal, maka setelah prosesi pengangkatan, raja yang baru akan langsung pindah ke istana barat.


Tetapi, karena saat ini Vincent masih hidup, Alvero bersikeras tidak mau pindah ke istana barat, baginya tidak ada bedanya dia harus tinggal di istana selatan atau barat, tapi baginya adalah sesuatu yang penting untuk tetap menghormati dan menghargai ayahnya dengan membiarkannya tetap tinggal di istana barat sampai tutup usianya kelak.

__ADS_1


Karena saat itu Vincent bersikeras, akhirnya sebagai raja Gracetian yang baru, Alvero mengeluarkan sebuah peraturan baru bahwa istana barat diperuntukkan bagi raja Gracetian dan jika mantan raja Gracetian sebelumnya masih hidup, maka raja yang baru akan tetap menempati istana selatan, istana milik putra mahkota yang untuk sementara waktu masih kosong posisinya.


Mendengar peraturan baru yang ditetapkan oleh Alvero membuat keinginan Vincent untuk menetap di Renhill untuk sementara waktu semakin kuat. Dan ke depannya jika dia sudah mulai bosan dnegan kota Renhill, Vincent berencana tinggal di villa kerajaan yang ada di pantai Tavisha sampai kesehatannya pulih kembali.


Alvero menarik nafas panjang ketika dia teringat akan apa yang dikatakan Vincent selain masalah kesehatannya. Ada beberapa hal yang ternyata baru-baru ini ditemukan oleh Vincent yang membuat dia merasa tidak nyaman berada di dekat Eliana dan mulai mencurigai sesuatu tentang wanita itu walaupun belum terbukti. Vincent sendiri sengaja menyingkir dari istana, menjauhkan diri dari kota Tavisha agar konsentrasi Eliana terpecah. Di depan orang lain, Eliana selalu ingin tampil menjadi seorang wanita anggun dan baik hati yang terlihat begitu mencintai suaminya, sehingga mau tidak mau keberadaan Vincent di kota Renhill membuatnya harus sering-sering berada di Renhill, namun di satu sisi jika dia memang berencana memberontak, dia harus berada di kota Tavisha untuk mengatur orang-orangnya.


Beberapa lama Alvero berkutat dengan pikirannya yang kembali teringat dengan beberapa kalimat yang dibisikkan oleh Vincent ke telinganya malam itu saat Alvero menjenguk Vincent di rumah sakit sebelum memindahkannya ke kota Renhill. Dengan sedikit tersentak, Alvero melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, menyadari bahwa sudah terlalu lama Deanda berada di dalam kamar mandi. Dengan bergegas, Alvero berjalan mendekat ke arah kamar mandi.


"Sweety... apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu lama sekali?" Alvero berkata sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Dengan gerakan ragu, Deanda membuka pintu kamar mandi dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya sibuk memegang pakaian berkudanya yang belum tertutup sempurna, bahkan masih tertutup sebagian kecil saja, karena ritsleting pakaian itu masih di bagian ujung bawah pakaian, sehingga menunjukkan sebagian dadanya yang tertutup bra berwarna kulit, namun tidak bisa menyembunyikan dengan sempurna benda yang ada di baliknya, walaupun Deanda berusaha menutupinya. Belum lagi banyaknya kissmark akibat perbuatannya semalam masih terlihat jelas memenuhi tubuh istrinya, membuat mata Alvero terbeliak kaget dan tanpa sadar membuatnya dadanya berdegup kencang, karena mau tidak mau pemandangan di depannya membuat gairah Alvero kembali terusik untuk bangun dari tidurnya.


"Ma... maaf lama, ritsleting pakaian ini tersangkut di kainnya sehingga macet." Mendengar penjelasan dari Deanda, Alvero meraih pergelangan tangan Deanda, lalu menariknya keluar dari kamar mandi.


Setelah Deanda keluar dari kamar mandi, Alvero langsung berlutut dengan salah satu kakinya di hadapan Deanda dan meraih bagian bawah pakaian Deanda dimana slider ritsleting pakaian itu macet karena tersangkut kain di bagian dalam slider resleting, mengamatinya dengan teliti.

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu sweety, kalau tidak... aku tidak bisa leluasa membetulkan ritsleting ini." Mendengar permintaan Alvero membuat dada Deanda berdegup dengan kencang, karena melepaskan tangan yang sedang memegang erat pakaiannya berarti sama saja dengan membiarkan tubuh bagian depannya terekspos sepenuhnya di depan Alvero.


Walaupun boleh dibilang sejak semalam mereka sudah saling memiliki secara utuh satu sama lain, dan tidak adalagi yang tersembunyi diantara mereka berdua, tapi bagi Deanda hal seperti itu masih terasa begitu memalukan baginya. Apalagi saat ini dia dalam keadaan benar-benar sadar, tidak dalam kondisi mabuk akibat alkohol.


__ADS_2