
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, agar skip episode ini.
"Terimakasih untuk cintamu yang luar biasa padaku sweety." Alvero kembali berkata lembut.
"Jangan bicara seperti itu. Kamu yang terlebih dahulu memberikan cinta yang luar biasa untukku my Al. Kamu bahkan membuatku tidak memiliki kesempatan untuk tidak jatuh cinta padamu. Dengan segala yang kamu berikan padaku, bagaimana aku tidak jatuh semakin dalam dalam pesonamu." Deanda berkata dengan sedikit tersentak, menyadari bagaimana tanpa sadar cintanya kepada Alvero sudah membuatnya mampu mengeluarkan kata-kata semesra itu kepada Alvero.
"Sebenarnya kamu yang lebih dahulu mencintaiku walaupun awalnya sebagai penggemar beratku. Sepertinya tidak ada penggemarku yang lebih gila darimu. Memiliki semua benda yang berkaitan denganku, bahkan aku begitu kaget melihat di rumah pohonmu ada sprei dan bantal bergambar diriku. Apa sebenarnya sejak dulu kamu sudah memiliki pikiran mesum jika itu menyangkut aku?"
"Hah?" Mendengar pertanyaan Alvero dengan wajah menggodanya, membuat Deanda melongo, dan wajah Deanda memerah, malu sekaligus tidak terima.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara memulai melakukan hal seperti "itu"... bagaimana bisa aku berpikiran mesum seperti yang barusan kamu katakan?" Alvero langsung tergelak mendengar sanggahan dari Deanda yang dia tahu bagaimana polosnya istrinya memang tidak memungkinkan dia memilki pikiran mesum kepadanya sebagai penggemar beratnya.
Alvero masih ingat saat pertama kalinya mereka gagal melakukan penyatuan tubuh mereka di kamar villa waktu itu. Bukan hanya karena rasa sakit yang dialami oleh Deanda yang membuat Alvero berhenti. Namun saat itu baik Alvero maupun Deanda yang masih begitu polos, dengan pemikiran yang mereka tahu seadanya, sebelum Deanda menjerit kesakitan, Alvero dan Deanda yang sama-sama polos bahkan sempat salah dan tidak tahu bagaimana cara dan dimana milik Alvero harus bersarang di tempat yang tepat di tubuh Deanda.
Hal itu membuat setelah kejadian malam pertama mereka yang gagal, baik Alvero dan Deanda dengan sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh pasangan masing-masing, mulai mencari info melalui internet dan membaca website yang dirasa oleh mereka dapat membantu menjawab ketidak tahuan mereka berdua. Bahkan dari sana Alvero mengerti bahwa dia harus melakukan foreplay agar saat malam pertama mereka bisa mengurangi rasa sakit yang akan dialami oleh Deanda karena robeknya selaput darah untuk pertama kalinya.
(Aktivitas foreplay atau biasa disebut pemanasan, secara tradisional didefiniskan sebagai tindakan intim secara fisik dan emosional yang dilakukan oleh pasangan suami istri, sebagai pemanasan sebelum melakukan hubungan seksual. Hal ini merupakan cara yang dilakukan bersama pasangan demi menghidupkan suasana hati satu sama lain, tidak perduli apa yang akan terjadi sebelum dan sesudahnya. Foreplay adalah tentang menciptakan suasana hati yang kondusif untuk melakukan keintiman fisik dan menginginkan sek..s. Setelah gairah berhasil terbangun, pasangan itu bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya).
__ADS_1
"Ah, aku hanya bercanda. Aku tahu kamu begitu mencintaiku, karena itu kamu bersedia menyerahkan dirimu secara utuh kepadaku. Terimakasih untuk itu." Alvero berkata pelan sambil kembali mengecupi puncak kepala istrinya.
Alvero pernah mendengar ungkapan bahwa pria bisa melakukan hubungan intim dengan wanita tanpa mencintai wanita itu, namun seorang wanita baik-baik, tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti itu dengan pria yang tidak dicintainya. Karena itu Alvero bisa merasakan dari setiap sentuhan dan reaksi dari Deanda saat dia menyentuhnya, membuatnya yakin bahwa istrinya ini begitu mencintainya.
Walaupun begitu, dalam hati Alvero sudah bertekad, menjadi pria yang akan mencintai istri satu-satunya, Deanda Federer. Dia tidak akan pernah tertarik apalagi mau melakukan hal seperti itu selain dengan Deanda. Satu-satunya wanitanya, yang bahkan hanya satu-satunya wanita yang keberadaannya bisa membuat salah satu bagian dari tubuhnya menegang, sedangkan untuk wanita lain.... Alvero tahu, tidak akan ada yang akan pernah bisa memberikan efek seperti itu padanya, termasuk Alaya atau siapapun wanita yang ke depannya tidak lagi menimbulkan alergi padanya.
Bagi Alvero, jika itu bukan Deanda, sedikitpun tubuh apalagi hatinya tidak akan tergerak untuk melakukan hal seperti itu. Yang bahkan jika itu adalah wanita lain justru akan membuatnya jijik. Alvero tidak perduli jika ada orang yang menganggapnya aneh, tapi baginya cukup istrinya untuk membuatnya puas.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sweety?" Alvero yang melihat bagaimana Deanda terdiam dengan wajah seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Alvero merasa penasaran.
"Hei! Apa maksudmu? Jelaskan padaku sekarang." Alvero berkata sambil mengosok-gosokkan hidung mancungnya ke kening Deanda dengan gemas.
"Tidak! Jika aku mengatakannya kamu pasti akan mengejekku. Lebih baik kita segera bersiap pergi ke rumah uncle Marcello." Deanda berkata sambil menyembunyikan wajahnya di dada Alvero yang langsung mengangkat dagu Deanda agar memandang wajahnya yang sedang menunduk ke arah wajah Deanda.
"Katakan padaku atau aku tidak akan membiarkanmu turun dari tempat tidur sepanjang hari ini." Mendengar ancaman dari Alvero, dengan gerakan yang terlihat ragu-ragu, Deanda memandang ke arah wajah tampan suaminya yang masih menunggu penjelasan darinya.
"Sebenarnya tidak ada masalah. Hanya saja... aku merasa semalam... ada yang aneh dengan diriku." Alvero langsung tertawa sambil mengacak lembut rambut Deanda begitu mendengar perkataan Deanda.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu menyesal memberikan jatahku bahkan lebih dari sekali? Tapi kamu menikmatinya juga kan? Bukannya kamu juga yang meminta lagi semalam?" Alvero berkata dengan mengerlingkan matanya ke arah Deanda, membuat wajah Deanda semakin terlihat salah tingkah dan memerah.
"Tidak... bukan menyesal, hanya saja... Aku belum pernah merasakan seperti tadi malam. Apa ada sesuatu yang salah denganku?" Deanda berusaha menjelaskan kepada Alvero tentang bagaimana semalam dia begitu sulit untuk mengendalikan gairah dan hasrat dalam dirinya, tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkannya kepada Alvero yang sengaja berpura-pura bodoh.
"Kenapa? Apa kamu merasa semalam kamu... bersikap sedikit... agresif? Begitu inginnya melakukan hal "itu" denganku?" Mendengar pertanyaan Alvero yang to the point sungguh membuat Deanda merasa samakin malu dan langsung berusaha mengalihkan wajahnya dari pandangan Alvero yang langsung menahannya dengan tangannya yang menggerakkan dagunya kembali.
"Masih merasa malu padaku sweety? Padahal aku suka sekali melihat bagaimana kamu terlihat begitu menginginkanku tadi malam dan...."
"Tolong hentikan my Al." Deanda langsung memotong perkataan Alvero sambil menutup bibir Alvero dengan telapak tangannya, membuat Alvero kembali tertawa tergelak dan langsung menarik telapak tangan Deanda agar menjauh dari bibirnya.
"Itu perbuatan Enzo. Dia sudah melakukan sesuatu pada pengharum ruangan ini." Alvero berkata sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Hah? Benarkah?" Deanda berkata dengan mata terbeliak, tidak menyangka bahwa dia bisa berubah menjadi sedikit liar karena pengharum ruangan yang diberikan oleh Enzo.
"Tenang saja. Hari ini juga aku akan membalas perbuatan Enzo. Aku tidak akan membiarkan dia dengan tenang tertawa karena sudah berhasil menjebak kita. Aku harus memberi pelajaran si Enzo itu. Lagipula, bisa-bisanya dia belajar tentang hal-hal yang seharusnya hanya pantas dipelajari oleh orang yang sudah menikah. Aku harus memberinya pelajaran agar otaknya tidak mesum." Alvero berkata sambil mengelus lembut punggung Deanda yang hanya bisa terdiam, merasa penasaran, tapi tidak berani bertanya balasan seperti apa yang akan dilakukan oleh Alvero untuk Enzo.
Walaupun Deanda cukup kaget dan tidak menyangka dengan apa yang sudah dilakukan Enzo kepada mereka, tapi dia juga tidak mengharapkan Enzo mendapatkan hukuman berat dari Alvero. Deanda hanya berpikir positif bahwa Enzo hanya ingin memberikan suasana romantis dan bergairah karena ini masih masa bulan madunya bersama Alvero, meskipun tindakan Enzo terlihat konyol.
__ADS_1