
“Maaf Yang Mulia… saya tahu saya bersalah sudah begitu mempercayai ibu suri Eliana dan mencoba mengkhianati kepercayaan Yang Mulia selama ini. Seperti yang sudah Yang Mulia perkirakan sebelumnya. Orang yang sudah memerintahkan saya untuk meracuni permaisuri Deanda adalah ibu suri Eliana.” Melihat tidak adanya harapan lagi jika dia terus bergantung pada Eliana, Avitus membulatkan tekatnya untuk berbalik, mencoba membuang semua ego dan harga dirinya, dengan segera mengakui kesalahannya kepada Alvero, dan memohon ampunannya, agar bisa memperoleh kesempatan untuk menyelamatkan anak dan istrinya.
“Tanpa kamu membuka mulut kotormu! Aku sudah tahu bahwa dalang dibalik semua ini adalah Eliana!” Alvero berkata dengan ketus sekaligus meremehkan sikap putus asa Avitus.
“Yang Mulia, ibu suri Eliana melakukan itu untuk menjebak Yang Mulia. Ibu suri berharap dengan luka atau kematian permaisuri Deanda, rakyat Gracetian akan menuduh Yang Mulia sengaja melakukan itu agar bisa secepat mungkin menikahi nona Alaya, wanita simpanan Yang Mulia.” Avitus mencoba meluluhkan hati Alvero dengan menambahkan info tentang rencana Eliana kepada Alvero dan Deanda.
Mendengar perkataan dari Avitus, Alvero menarik nafas dalam-dalam. Dia tahu bahwa semua yang dikatakan oleh Avitus tepat seperti apa yang sudah dipikirkannya selama ini. Tapi Alvero tidak menyangka, mendengar apa yang dikatakan Avitus, masih saja membuat dadanya bergejolak hebat karena Eliana bermaksud menyakiti Deanda sedemikian rupa karena berpikir dia dan Alaya merupakan pasangan yang sedang berselingkuh.
Cih! Benar-benar wanita berhati busuk! Bisa-bisanya membuat skenario agar aku berpaling dari Deanda, dan setelah itu berusaha menuduhku telah melukai istriku agar aku bisa bersama dengan selingkuhanku! Apa dipikir Eliana semua pria adalah orang brengsek yang dengan mudah mengingkari janji setia pada pasangannya! Wanita seperti Eliana benar-benar merupakan perusak rumah tangga orang yang harus segera disingkirkan!
Alvero memaki dalam hati dengan matanya memandang ke arah Avitus dengan perasaan jijik, mengingat bagaimana laki-laki seperti Avitus yang dia kenal begitu mencintai anak dan istrinya bisa terlibat kerjasama dengan wanita jahat seperti Eliana.
Jika saja Alvero tidak ingin Deanda kecewa kepadanya sebagai seorang raja Gracetian yang bertindak kejam, rasanya saat ini juga Alvero ingin langsung memberikan perintah hukuman mati kepada Avitus.
Lagipula, hukuman mati terlalu mudah untuknya. Bagiku, dengan melihat anak istrinya mati di tangan Eliana, hukuman itu jauh lebih berat daripada sebuah hukuman mati. Berani mengkhianatiku hanya karena tergiur kekayaan yang akan dia gunakan bersama anak istrinya. Dan sekarang, justru anak istrinya ada di bawah kendali Eliana. Silahkan menikmati penderitaan yang kamu ciptakan untukmu sendiri Avitus!
__ADS_1
Alvero kembali berkata dalam hati dengan sikap tidak bersimpati sama sekali melihat sosok Avitus.
Alvero melihat Avitus dengan hati puas, melihat bagaimana hukuman Avitus, bahkan akan lebih berat dari sebuah hukuman mati yang bisa dia berikan untuk Avitus. Merasakan kesedihan, penyesalan, ketakutan karena ditinggalkan orang-orang yang dicintainya dengan cara yang mengerikan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Melihat bagaimana marahnya yang mulia, apa benar yang mulia berniat menyingkirkan permaisuri Deanda? Apa sebenarnya selama ini hanya sebuah kesalahpahaman bahwa yang mulia jatuh cinta dengan nona Alaya dan menjadikannya wanita simpanan? Tapi… bagaimana mungkin? Sedangkan mereka terlihat begitu mesra, seperti dua orang yang sedang kasmaran. Atau memang yang mulia pura-pura marah agar terlihat sebagai raja yang begitu mencintai permaisurinya? Berusaha untuk menyembunyikan perselingkuhannya? Karena sampai sekarang memang hubungan romantis yang mulia dan nona Alaya belum diketahui banyak orang.
Berbagai pertanyaan muncul di benak Avitus tentang hubungan antara Alvero dan Deanda, membuat Avitus semakin tertekan.
“Sungguh menggelikan! Kalian semua para pengkhianat sebenarnya sedang menggali kuburan kalian sendiri! Erich! Segera tarik mundur semua orang kita dari rumah Avitus! Biarkan wanita ular itu melakukan apapun sesuka hatinya kepada anak dan istri Avitus! Aku tidak mau lagi ikut campur dengan urusan mereka!” Alvero berkata sambil mulai melangkahkan kakinya untuk pergi.
"Apa kamu tidak salah meminta pertolongan dariku? Setelah kamu berniat membunuh istriku? Jangan mimpi! Sampai kamu menangis darah! Aku tidak akan membiarkanmu lepas dan menyelamatkan istrimu! Silahkan kamu merasakan bagaimana rasanya jika ditinggalkan oleh istri dan anak yang begitu kamu cintai! Hiduplah dengan rasa bersalah karena menjadikan orang yang kamu cintai sebagai tumbal dari keserakahanmu!" Alvero yang sudah membalikkan tubuhnya, berkata tanpa mau menoleh ke belakang.
"Yang Mulia! Tolong! Saya rela menanggung semua hukuman, bahkan jika itu adalah hukuman mati. Tapi anak dan istri saya tidak bersalah! Tolong kemurahan hati Yang Mulia. Saya akan menukarnya dengan info yang dibutuhkan oleh Yang Mulia." Avitus berkata sambil berusaha membungkukkan tubuhnya dengan nada memohon, tangisan sudah tidak bisa lagi ditahannya, airmatanya mengalir dengan deras, membayangkan bahwa saat ini, bisa saja sewaktu-waktu peluru menembus kepala anak dan istrinya.
Sejak dia memutuskan untuk mengabdikan dirinya kepada Eliana, Avitus tidak pernah menceritakan perihal tersebut kepada anak istrinya, karena Avitus tahu, jika istrinya mendengar tentang itu, dia pasti akan keberatan dan tidak mendukungnya.
__ADS_1
Tadi pagi sebelum berangkat berkerja, Avitus mengatakan agar istrinya segera bersiap, karena siang nanti mereka harus segera meninggalkan kota Tavisha dengan alasan ada seorang pembunuh yang sedang mengejarnya dan ingin membunuhnya.
Tanpa sedikitpun merasa curiga, istri Avitus langsung melakukan apa yang diminta oleh suaminya. Namun, saat istri Avitus sedang berbenah, tiba-tiba sekelompok orang masuk ke dalam rumah dengan paksa dan menyandera mereka.
Eliana memberikan perintah, begitu Avitus selesai dengan tugasnya dan kembali ke rumah, mereka diperintahkan untuk segera menyingkirkan Avitus, istri dan juga anaknya. Hal itu akan membuat Eliana mudah untuk melemparkan tanggung jawab kepada Avitus dengan alasan karena dendam, pribadi, saat orang mempertanyakan tentang apa yang menyebabkan Avitus memberikan racun kepada Deanda.
Selain itu, Eliana menyiapkan skenario lain, membiarkan orang berpikir bahwa Avitus sengaja meracuni Deanda atas perintah Alvero, karena itu Eliana meminta orang untuk segera melenyapkan Avitus.
Sudah menjadi motto bagi Eliana, bahwa baginya, hanya orang mati yang tidak bisa memberikan kesaksian. Jika ingin menjadikan Avitus sebagai kambing hitam, maka dia juga harus membuat Avitus tidak lagi bisa menjadi saksi yang bisa membahayakan dirinya.
“Apa kamu pikir nyawamu seberharga itu Avitus? Jangan bercanda. Aku tidak punya banyak waktu untuk bercanda denganmu.” Lagi-lagi Alvero berkata tanpa menolehkan kepalanya kepada Avitus yang tampak mulai begitu putus asa melihat Alvero yang terlihat tidak berniat sedikitpun memberinya pertolongan.
__ADS_1