BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERSIAPAN KE RENHILL


__ADS_3

"Padahal sebagai putra mahkota saat itu bisa saja aku langsung memaksamu untuk menikah denganku, tanpa harus mengikuti aturan dan syarat yang sudah kamu buat untuk menghindar dariku. Memangnya di Gracetian ini siapa yang berani menentang perintahku? Tapi si Nona Besar saat itu, tetap saja menolak mentah-mentah cintaku. Benar-benar cari mati." Mendengar perkataan selanjutnya dari Alvero, Deanda langsung menggerakkan tangannya dengan cepat ke pinggang Alvero dan mencubit pinggangnya, membuat tubuh Alvero sedikit melompat ke samping karena kaget.


"Auw...." Alvero berteriak pelan sambil mengatupkan kedua giginya dan mengeluarkan suara geraman pelan, berpura-pura sedang menunjukkan kemarahannya.


"Ah, sama sekali tidak menakutkan." Melihat itu Deanda justru tersenyum geli, lalu berkata sambil mendekat ke arah Alvero yang masih memasang wajah pura-pura marah.


"Percayalah padaku Yang Mulia Avero. Kadang kemarahan seorang istri jauh lebih menakutkan dari kemarahan seorang raja." Deanda berbisik pelan di telinga Alvero, sengaja mengucapkan kata-katanya dengan suara manja dan menggoda, membuat Alvero langsung meringis.


"Aku percaya... Percaya sekali. Jadi, kali ini mohon Nona Besar tidak marah." Alvero menjawab perkataan Deanda sambil mencubit hidung Deanda dengan gemas.


"Baik Yang Mulia. Akan segera saya laksanakan perintah Yang Mulia." Deanda langsung membalas godaan Alvero sambil memeluk pinggang Alvero sebentar dengan kedua tangannya, sebelum akhirnya melepaskannya dan sedikit menjauhkan tubuhnya, bahkan sebelum Alvero sempat membalas pelukan hangat dan mesra dari Deanda.


"Wah... kenapa harus buru-buru dilepas sweety? Padahal rasanya nyaman sekali. Jarang-jarang istriku memelukku seperti tadi." Mendengar perkataan Alvero Deanda langsung tersenyum dengan wajah memerah.


Apa yang dikatakan Alvero memang benar sekali. Rasanya belum pernah sekalipun Deanda berinisiatif untuk memeluk tubuh Alvero seperti yang barusan dia lakukan. Padahal jika boleh jujur, kehangatan tubuh Alvero saat Deanda memeluknya seperti barusan, sungguh membuat Deanda merasa nyaman dan tenang. Hatinya merasa begitu damai saat memeluk tubuh Alvero tadi. Deanda mengulum senyum bahagianya, menyadari bahwa sekarang dia memiliki sosok suami yang selalu ada di dekatnya, yang selalu bisa dia andalkan, baik di saat sulit maupun bahagianya.

__ADS_1


Menangis bersama, atau tertawa bersama. Sekarang dia memiliki seseorang untuk melakukan hal-hal itu bersamanya.


"Aku lapar..." Deanda berkata sambil mengelus perutnya yang rata dengan telapak tangannya, membuat Alvero langsung tertawa kecil.


"Ayo kita pergi sekarang. Ini memang sudah waktunya makan siang. Cacing-cacing di perutmu pasti sudah bersiap mengeluarkan suaranya untuk berdemo." Alvero meraih map yang tadi baru saja dikeluarkannya dari brankas dengan satu tangannya, dan tangannya yang lain terulur ke arah bahu Deanda, melingkar di sana sambil menarik lembut agar Deanda mendekat ke arahnya.


"Katakan padaku. Apa yang ingin kamu makan siang ini?" Alvero bertanya kepada Deanda yang sedang menolehkan wajahnya ke arah Alvero, begitu suaminya melingkarkan tangannya ke bahunya.


"Aku ingin makan siang bersama yang lain di istana siang ini." Deanda menjawab singkat, membuat Alvero mengernyitkan dahinya karena merasa sedikit heran dengan keinginan Deanda untuk kembali ke istana siang ini. Tempat yang selama ini, biasanya begitu dihindari oleh Deanda, apalagi saat di istana ada Eliana, yang selalu saja menatapnya dengan tatapan mata marah dan tidak suka saat orang lain tidak melihatnya.


"Ah, benarkah? Tumben sekali kamu ingin segera kembali ke istana?" Alvero sedikit heran karena yang dia tahu selama ini, Deanda lebih suka berada di luar istana yang baginya seperti sangkar emas.


"Sebagai permaisurimu, bukannya mulai sekarang aku harus lebih banyak tinggal di istana dan banyak belajar tentang bagaimana mengurus istana, agar dapat membantumu di masa depan sebagai permaisurimu? Aku tidak mau menjadi permaisuri yang hanya bisa dijadikan sebuah pajangan. Tidak ada bedanya dengan patung lilin di museum." Deanda melanjutkan kata-katanya sambil kembali memeluk pinggang Alvero yang langsung tersenyum dengan wajah bangga, sekaligus bahagia mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya tentang niatnya untuk lebih serius belajar tentang istana.


"Ok, sesuai keinginanmu sweety. Aku juga harus bertemu dengan nyonya Rose hari ini. Untuk menanyakan tentang peristiwa yang menimpa papa Alexis waktu itu. Mestinya nyonya Rose tahu tentang peristiwa itu." Alvero berkata sambil mengecup puncak kepala Deanda dengan penuh rasa sayang, lalu menepuk bahu Deanda pelan untuk kemudian mengajaknya turun ke front office gedung perusahaan Adalvino untuk kembali ke istana.

__ADS_1


Dengan sedikit bergegas, mereka berdua berjalan ke luar gedung, dimana  Ernest sudah menunggu mereka dari tadi di dalam mobil, bersiap mengantar kedua tuan mereka itu.


# # # # # # #


"Saya tidak tahu secara detail apa yang sudah terjadi Yang Mulia. Tetapi saat itu hampir semua penghuni istana, sebenarnya menentang pencabutan gelar knight milik tuan Alexis. Karena kami tahu tuan Alexis merupakan panutan bagi banyak orang. Sikap ksatrianya selalu menjadi inspirasi bagi para pengawal yang lain. Beberapa diantara kami yang merasa dekat dengan yang mulia Vincent, juga memberanikan diri, menanyakan alasan di balik pencabutan gelar knight itu." Nyonya Rose yang duduk bersama Deanda dan Alvero di dekat kolam istana setelah makan siang di istana selesai, berkata sambil mengernyitkan dahinya, seolah berusaha mengingat tentang apa yang terjadi waktu itu dengan lebih jelas.


"Apa nyonya Rose termasuk orang yang sempat menanyakan tentang hal itu kepada papa?"


"Iya, pasti. Tapi sayangnya yang mulia Vincent juga tidak memberikan jawaban apapun kepada saya dan yang lain. Seolah yang mulia Vincent memang ingin menyembunyikan alasan sebenarnya tentang kasus itu." Nyonya Rose menghentikan kata-katanya sebentar, sambil mencoba mengingat-ingat kembali tentang apa yang pernah terjadi saat itu. Apakah ada hal yang sudah dia lupakan tentang apa yang sudah terjadi waktu itu, apakah ada sesuatu yang sudah dia lewatkan.


"Ah, sayang sekali, padahal tuan Alexis adalah orang yang baik dan heroik. Banyak masalah dalam istana dan kerajaan yang diselesaikan dengan baik oleh tuan Alexis. Bahkan duke yang saat itu menjabat sebagai pimpinan tertinggi dalam kemiliteran, ayah dari duke Evan, begitu mengagumi sosok tuan Alexis. Kalau tidak salah, kasus pencabutan gelar knight itu terjadi tidak lama setelah permaisuri Larena meninggalkan istana." Nyonya Rose kembali melanjutkan perkataannya.


“Dari info yang sudah berhasil saya kumpulkan dari para senior yang ada di istana, beberapa diantara mereka menceritakan tentang bagaimana mereka menganggap ada yang sengaja menjebak dan memfitnah tuan Alexis. Mereka tidak percaya tuan Alexis yang dikenal sebagai orang yang lurus melakukan hal memalukan atau kesalahan besar sehingga membuat yang mulia Vincent mencabut gelar knight yang dimilikinya.” Alea yang berdiri di antara nyonya Rose dan Deanda, menyambung perkataan nyonya Rose tentang bagaimana tanggapan pada penghuni istana yang pernah mengenal Alexis.


“Baiklah, aku akan mencoba mencari kebenaran tentang apa yang terjadi saat itu. Dan itu hanya bisa dijawab sendiri oleh yang bersangkutan. Yang Mulia Vincent atau papa Alexis, sayangnya papa Alexis sudah meninggal. Semoga yang mulia Vincent tidak keberatan untuk memberitahukan kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi saat itu.” Alvero berkata sambil melirik ke arah nyonya Rose dan Alea secara bergantian.

__ADS_1


 


 


__ADS_2