
"Ernest... beritahukan kepada nyonya Rose untuk melaporkan semua nama dan info detail pegawai istana yang masuk selama 6 bulan ini, termasuk para pelayan, pengawal, pekerja di istal kuda, semuanya. Setelah kamu dapatkan daftar nama itu segera kirimkan ke Erich agar dia bekerja sama dengan duke Evan untuk bisa mengakses data keamanan kerajaan. Pastikan dengan baik siapa saja yang bekerja di sekitar kita adalah orang-orang yang setia terhadap istana. Kita harus mulai melakukan pembersihan kaki tangan Eliana, dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kita.... istana." Alvero berkata sambil matanya menatap keluar jendela mobil yang ditumpanginya, mengamati gedung-gedung tinggi, kawaasan tinggal penduduk dan area pertokoan yang mereka lewati, sambil menarik nafas panjang, berharap selama kepemimpinannya sebagai raja Gracetian, dia bisa melakukan yang terbaik untuk rakyatnya.
"Baik Yang Mulia, saya akan segera menghubungi mereka agar cepat menyelesaikan tugas ini." Ernest menjawab perintah Alvero dengan matanya tetap fokus menatap ke depan, ke arah jalanan yang cukup padat pagi itu.
"O ya, satu lagi, setiap anggota pengawal eksklusif kerajaan milik raja sebelumnya, aku mau setiap data dan info pribadi mereka dilakukan pengecekan ulang, singkirkan mereka dari tim pengawal eksklusif jika memang ditemukan sedikit hal yang mencurigakan. Dan untuk ke depannya aku sendiri yang akan memilih oang-orang yang ada di tim itu. Aku mau sama seperti dahulu Erich memimpin tim pengawal eksklusif untuk putra mahkota Gracetian, aku mau Erich yang sekarang memimpin tim pengawal ekslusif raja Gracetian. Pemimpin tim pengawal eksklusif putra mahkota berikutnya akan ditetapkan kembali saat putra mahkota berikutnya dilahirkan." Alvero berkata sambil melirik ke arah perut Deanda yang tanpa sepengetahuan Alvero menarik nafasnya melalui sela-sela bibirnya karena dadanya terasa bergetar mendengar kata-kata Alvero barusan.
"Yang Mulia.... bagaimana dengan pemimpin tim pengawal ekslusif kerajaan milik raja yang lama?" Dengan ragu Ernest bertanya kepada Alvero.
"Aku tahu dia bukan golongan dari kaki tangan Eliana, tapi dia juga bukan pendukung setia papa. Orang yang tidak memilki pendirian tegas seperti itu, tidak pantas untuk menjadi seorang pemimpin tim. Berikan dia pilihan untuk kembali ke tim pengawal kerajaan umum, jika dia keberatan, dia bisa mengambil haknya untuk pensiun dini, aku akan memberikan pesangon sesuai dengan aturan yang berlaku, dan dari aku pribadi dia akan mendapatkan 2 kali pesangon dari yang seharusnya. Mungkin dia memiliki impian lain yang ingin dicapainya." Alvero menghentikan sebentar kata-katanya sambil mengernyitkan keningnya, menunjukkan saat ini dia sedang begitu serius memikirkan tentang semua hal yang harus mulai dia rapikan dan atur satu persatu agar sedikit demi sedikit dia bisa menggerogoti kekuatan yang dimiliki oleh Eliana.
"Selain itu, minta mulai sekarang nyonya Rose untuk lebih ketat dalam mengawasi setiap barang datang yang masuk ke istana. Kita harus tetap waspada dengan kemungkinan buruk yang mungkin dilakukan oleh Eliana, termasuk kemungkinan dia meracuni makanan yang ada di istana. Dan untuk aliran dana masuk dan keluar dari kerajaan selama 2 tahun ini, minta pejabat keuangan melaporkan padaku dalam waktu seminggu ini." Alvero kembali melanjutkan perintahnya.
Untuk aliran dana dalam perusahaan, Alvero tidak perlu khawatir karena selama beberapa tahun ini semua laporan masuk ke mejanya, kecuali pemasukan yang telah dikirimkan ke rekening pribadi Vincent sebagai penghasilan atas posisinya sebagai salah satu pemegang saham perusahaan Adalvino. Namun, untuk laporan keuangan kerajaan yang selama ini diawasi oleh raja dan permaisuri, saat Alvero masih menjabat sebagai putra mahkota, dia belum memiliki akses sepenuhnya untuk bisa melihat ke sana.
Deanda yang mendengar pembicaraan antara Alvero dan Ernest di sepanjang perjalanan hanya diam sambil mengamati bagaimana sosok suaminya yang terlihat berwibawa memberikan setiap perintah dan keputusan. Dan bagi Deanda, sosok Alvero saat dia sedang serius membicarakan urusan pekerjaan dan kerajaan dengan Ernest tampak terlihat begitu menawan.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." Ernest kembali menjawab perintah Alvero dengan tegas.
Sekilas Alvero melirik ke arah Deanda yang dia tahu sejak dia memberikan banyak perintah kepada Ernest, tanpa berkedip Deanda memandanginya dengan tatapan terlihat kagum dan terpesona.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu? Apa wajahku terlihat aneh?" Alvero mendekatkan bibirnya ke telinga Deanda dan berbisik pelan, menggoda istrinya yang langsung sedikit tersentak melihat tindakannya.
"Ti... dak... Kamu tampak hebat Yang Mulia. Aku suka bagaimana caramu mengatur semua hal yang ada di sekitarmu." Kata-kata Deanda sukses membuat Alvero tersenyum dengan wajah terlihat begitu bangga.
"Benarkah? Sepertinya aku sudah berhasil membuatmu begitu tergila-gila padaku." Alvero berkata sambil tangannya memencet tombol yang ada di belakang kursi pengemudi yang ditempati Ernest, membuat tiba-tiba kaca pembatas yang ada diantara pengemudi dan penumpang berubah menjadi gelap, sehingga seperti Alvero dan Deanda tidak bisa melihat ke arah Ernest, Ernestpun tidak lagi bsia melihat ke arah Alvero dan Deanda.
Setelah itu Alvero menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran kursi, dengan tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Deanda yang duduk si sebelah kirinya. Sambil menahan nafasnya, Alvero mendekatkan punggung telapak tangan Deanda ke bibirnya, mengecupnya dengan mesra, setelah itu mengelus-eluskan tangan Deanda di pipi kanannya, menunjukkan bahwa Alvero begitu menyayangi pemilik tangan itu.
"Sweety... beberapa waktu ke depan mungkin kita belum bisa hidup dengan tenang sampai Eliana tersingkir dari istana. Karena itu, aku membutuhkan banyak bantuanmu." Alvero berkata sambil merangkum tangan kanan Deanda dengan kedua tangannya.
"Apapun yang bisa aku lakukan untukmu my Al." Deanda berkata lirih sambil membalas genggaman tangan Alvero.
__ADS_1
"Setelah pesta ulang tahun Enzo, kita akan kembali bekerja di kantor Adalvino. Aku membutuhkanmu sebagai asistenku. Karena itu aku memindahkanmu dari devisi R&D ke kantorku." Deanda hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Alvero.
Selama beberapa lama ini Deanda sempat berpikir yang aneh-aneh karena tiba-tiba saja posisinya, bahkan tempat duduknya di kantor R&D sudah digantikan oleh Alaya. Deanda menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu kepada Alvero. Namun, perkataan Alvero barusan sudah menjelaskan semua tentang keraguan, kekagetan dan ketidaktahuannya tentamg semua rencana Alvero yang sudah disusun sedemikian rapi.
"Bagaimana sweety... tidak ada masalah kan untukmu?" Deanda langsung menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Alvero.
"Selain alasan itu. Aku sengaja menempatkanmu untuk selalu di dekatku, karena sepertinya kamu sudah menjadi magnet yang membuatku selalu ingin berada di dekatmu." Alvero berkata sambil salah satu telapak tangannya bergerak dan mengelus lembut leher Deanda, lalu dengan gerakan perlahan turun ke dadanya dan menyentuh sesuatu yang terbungkus rapat di sana, sedikit memijatnya dengan lembut. Dan sebelum Deanda berteriak menyatakan protesnya, tangan Alvero langsung menyingkir dengan senyum menggoda di wajahnya, membuat Deanda sedikit melotot.
"Kamu lihat kan sweety... ke depannya akan semakin mudah bagi kita untuk bermesraan karena kita akan selalu bekerja bersama. Seperti barusan, kapanpun ingin menyentuhmu, aku bebas melakukannya." Wajah Deanda langsung memerah mendengar perkataan Alvero.
"My Al... jangan selalu.... berpikir macam-macam." Deanda berbisik pelan, seolah begitu takut Ernest mendengar perkataannya.
Melihat itu Alvero bukannya diam, namun laki-laki tampan itu justru tertawa kecil sambil mengelus lembut rambut istrinya.
"Apa kamu tahu sweerty? Keberadaanmu sudah menjadi obat yang menimbulkan ketergantungan tinggi bagiku. Dimana sebentar saja tidak melihatmu sudah berhasil membuatku sakau. Ah, aku baru tahu ternyata mencintai seseorang bisa membuatku seperti orang gila. Bahkan aku tidak percaya, bahwa aku seorang Adavino, bisa begitu tergila-gila padamu, sehingga rela memberikan apapun untukmu, bahkan nyawaku sekalipun." Deanda langsung melotot mendengar kata-kata Alvero.
__ADS_1
"Aku tidak mau nyawamu. Justru kamu harus selalu menjaga nyawamu untukku. Bagiku, melihatmu hidup dan bahagia lebih dari cukup. Tidak ada yang aku inginkan lebih dari keselamatan dan kebahagiaanmu. Kamu..." Tanpa menunggu Deanda menyelesaikan kata-katanya, Alvero yang menatap ke arah Deanda dnegan tatapan penuh cinta karena merasa begitu bahagia dengan yang baru saja diucapkan oleh istrinya, langsung membungkam bibir Deanda dengan bibirnya.