BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BERSIAP UNTUK KEMBALI BEKERJA


__ADS_3

"Selamat pagi Yang Mulia, Permaisuri..."


Begitu Deanda dan Alvero memasuki gedung perusahaan Adalvino, setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua langsung memberi salam pernghormatan dan ucapan salam selamat pagi.


Alvero dan Deanda beberapa kali membalas salam mereka dengan sedikit menganggukkan kepalanya. Dari pelajaran yang dia dapat di iStana, Deanda tahu bahwa saat membalas sapaan dan salam hormat dari banyak orang yang sambil lalu, dia cukup dengan tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya, tanpa harus berhenti dan mengeluarkan kata-kata.


Sebagai seorang permaisuri, Deanda dilarang keras membungkukkan tubuhnya di depan orang lain, kecuali di hadapan Alvero, sebagai raja Gracetian yang kedudukannya di atasnya. Walaupun sebenarnya, sejak bertunangan dengan Alvero, tidak pernah sekalipun Alvero mengijinkan Deanda untuk membungkukkan tubuhnya di hadapannya, menunjukkan Alvero sungguh menghargai dan menghormati status Deanda sebagai istrinya, bukan sekedar gelar permaisuri yang dimilikinya, yang berada di bawah kedudukannya.


Dari tatapan mata orang-orang yang melihat ke arah mereka berdua saat ini, Deanda bisa melihat berbagai macam ekspresi dari tatapan mereka, mulai dari kagum, hormat, ikut senang dan bahagia. Namun juga ada tatapan tidak suka, iri, bahkan meremehkan yang bisa Deanda rasakan.


Beberapa bisik-bisik langsung terdengar begitu Alvero dan Deanda menjauh. Deanda tidak tahu pasti apa yang sedang dibicarakan oleh para karyawan di sini. Namun itu cukup membuatnya merasa tidak nyaman, karena lagi-lagi mengingatkannya bahwa sebenarnya dia tidak pantas menjadi asisten pribadi Alvero.


Dengan langkah percaya diri dan elegan sekaligus wajah terlihat senang karena pada akhirnya Deanda akan bekerja bersamanya langsung, Alvero berjalan menuju lift pribadinya.


Beberapa karyawan yang berada berkerumun di depan lift umum dan memenuhi Lorong yang ada di depan lift, segera bergerak untuk memberi jalan kepada Alvero dan Deanda sambil memberikan salam penghormatan kepada mereka berdua.


Sekilas Deanda memperlambat langkahnya begitu melihat sosok Alaya dan Abella yang tampak mengantri juga di depan lift. Senyum ceria segera tersungging di bibir Abella begitu Deanda menoleh ke arahnya.


Melihat mata Deanda memandang ke arah Abella yang tepat berada di sampingnya, Alaya langsung menyugingkan senyum kepada Deanda sambil menganggukkan kepalanya dengan hormat. Dan sebelum menunduk, Deanda bisa melihat lirikan mata Alaya yang mencuri pandang ke arah sosok Alvero.

__ADS_1


Tindakan Alaya sukses membuat Deanda mengalihkan pandangan matanya dari Abella, memandang ke arah Alvero, yang ternyata sedang berkonsentrasi menatap pintu lift yang terbuka dengan kedua tangannya yang dimasukkannya ke dalam saku celana panjangnya, daripada memperhatikan sekelilingnya.


"Ayo." Dengan langkah cepat, Alvero melangkah masuk ke dalam lift sambil mengajak Deanda yang berada di sampingnya untuk ikut masuk ke dalam lift bersamanya.


"Tadi ada Alaya. Tidakkah kamu ingin menyapanya?" Begitu berada di dalam lift, Deanda berkata dengan nada ragu ke arah Alvero yang langsung menoleh dengan wajah heran ke arah Deanda.


"Kenapa aku harus menyapanya? Aku tidak memiliki kepentingan apapun dengan gadis itu. Bukankah seharusnya dia yang menyapa kita sebagai pimpinannya?" Alvero langsung menjawab pertanyaan Deanda dengan cepat.


"Apa kamu tidak merasa penasaran kenapa sentuhan Alaya tidak menimbulkan alergi padamu?" Lagi-lagi Deanda bertanya dengan ragu kepada Alvero yang tiba-tiba langsung tertawa, sambil melangkah keluar dari lift yang pintunya sudah terbuka kembali, menunjukkan bahwa mereka sudah sampai di lantai paling atas, tempat dimana kantor Alvero berada.


"Ernest! Balikkan badanmu!" Tanpa disangka tiba-tiba Alvero memberi perintah kepada Ernest agar membalikkan tubuhnya.


Setelah Ernest membalikkan tubuhnya, dengan gerakan yang sangat cepat, lengan Alvero langsung meraih pinggang Deanda, dan memeluknya dengan erat.


Astaga... sepagi ini yang mulia dan permaisuri sudah membuat heboh. Benar-benar tidak memikirkan perasaan para lajang di sekitar mereka. Apa yang mulia tidak berpikir, walaupun aku membalikkan tubuhku, mataku mungkin tidak melihat, tapi telingaku masih normal dan bisa mendengar dengan jelas. Dan dari suara yang aku dengar... aku bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh yang mulia kepada permaisuri. Akhhhh.... lebih baik lain kali aku membawa penutup telinga, daripada pikiranku berkelana kemana-mana.


Ernest hanya bisa berkata dalam hati sambil meringis, karena hanya itu yang bisa dilakukannya untuk saat ini dalam menghadapi sikap Alvero yang begitu tergila-gila dengan Deanda.


"Sweety... sebenarnya apa yang kamu inginkan? Di satu sisi kamu tidak ingin aku dekat dengan Alaya. Tapi, di sisi lain, kamu merasa begitu penasaran dengan sosok Alaya." Alvero berbisik pelan dengan suara mesra.

__ADS_1


Rasanya setiap ada kesempatan, Alvero berusaha untuk bisa menggoda istrinya, sebuah hobi baru yang begitu dinikmatinya setelah mengenal Deanda.


"Aku... Ah... lupakan saja apa yang tadi baru saja aku tanyakan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya." Dengan sikap salah tingkah Deanda berkata sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Alvero.


"Aist.... mana bisa sesuatu yang sudah terlanjur keluar dari bibir ditarik kembali? Sweety.... apa kamu sedang... merasa cemburu?" Alvero berkata sambil membiarkan Deanda lepas dari pelukannya dan berjalan dengan langkah cepat ke arah kantor Alvero yang segera menyusulnya dengan senyum geli di wajahnya.


"Tidak, buat apa cemburu dengan gadis itu?" Deanda langsung bertanya balik kepada Alvero sebelum membuka pintu kantor Alvero.


Dengan gerakan cepat, Deanda yang berdiri tepat di depan pintu kantor Alvero, membalikkan tubuhnya, sehingga berhadap-hadapan dengan Alvero.


"Aku hanya penasaran saja, kenapa Alaya juga tidak menimbulkan alergi padamu. Ah, sebenarnya bukan hanya itu... bahkan sampai sekarang aku merasa masih begitu penasaran, kenapa aku tidak menimbulkan alergi padamu." Deanda berkata dengan wajah serius.


Bukannya menanggapi perkataan Deanda, Alvero justru berjalan maju ke depan, membuat Deanda mundur ke belakang hingga gerakan tubuhnya terhenti karena terhalang oleh dinding yang ada di belakangnya.


"Tidak perlu memikirkan alasannya. Yang pasti aku bersyukur wanita yang aku cintai tidak menimbulkan alergi padaku. Aku tidak akan bisa membayangkan bagaimana tersiksanya aku saat menginginkanmu tapi tidak bisa menyentuhmu. Jika itu terjadi, aku benar-benar akan merasa bahwa hidupku adalah sebuah kutukan. Aku akan memilih untuk tidak dilahirkan." Alvero berbisik pelan sambil menatap dalam-dalam ke arah tubuh Deanda yang punggungnya menempel pada dinding.


Begitu melihat posisi Deanda yang terpojok, kedua lengan Alvero langsung bergerak mengurung tubuh Deanda dengan wajahnya mendekat ke wajah Deanda, mengarahkan hidung mancungnya ke leher Deanda dan mulai sibuk menciumi leher jenjang istinya dengan sesekali mengusapkan hidung mancungnya ke leher Deanda, membuat sesekali Deanda menggeliat karena merasa geli.


"Tidak perduli dengan Alaya atau siapapun wanita yang tidak menimbulkan alergi padaku. Hanya Deanda Federer satu-satunya wanita yang kuinginkan. Satu-satunya wanita pemilik hati dan ragaku, satu-satunya wanita yang ingin aku sentuh. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikannya." Alvero kembali berbisik pelan dengan suara terdengar sedikit parau karena baginya, kata-kata yang diucapkannya barusan merupakan sebuah sumpah setianya kepada Deanda.

__ADS_1


 


 


__ADS_2