BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEPUTUSAN MELVA


__ADS_3

Namun, mendengar alasan kenapa Monica tidak ingin ke hotel, bagi Emilio, itu sangat masuk akal sekali, dan justru cukup menguntungkan untuk posisinya sekarang ini. Dia sendiri juga tidak ingin jika ada orang yang melihatnya memasuki hotel bersama Monica, dan berita itu sampai di telinga Melva. Selama ini dengan sembunyi-sembunyi Emilio berusaha melakukannya di hotel, menggunakan nama orang lain dan dia sendiri harus masuk melalui pintu belakang dan tidak datang bersamaan dengan wanita panggilannya, agar tidak terpergok orang lain.


“Baiklah, sesuai dengan permintaanmu.” Emilio berkata kepada Monica sambil mendekatkan tubuhnya ke arah bartender, lalu membisikkan sesuatu kepada bartender itu.


Setelah mendengar bisikan dari Emilio, bartender itu segera membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah sebuah lemari kaca, dimana di sana terlihat beberapa kunci tergantung di dalamnya. Dengan gerakan cepat, bartender itu mengambil salah satu dari kunci yang tergantung di sana dan menyerahkan kepada Emilio bersamaan dengan sebotol wine, sesuai dengan permintaan Emilio.


Kunci ruang VIP dan sebotol wine untuk merayakan malam panjangnya hari ini bersama Monica, gadis cantik yang baru pertama kalinya dia temui, tapi cukup membuat tubuh Emilio panas dingin, dengan dada berdebar keras dan nafas memburu karena nafsu dan gairah yang sudah mengusainya.


Begitu mereka berdua memasuki ruang VIP dari bar itu, Emilio langsung mengunci pintu ruangan itu dan berjalan mendekat ke arah Monica yang langsung menghindar.


“Tunggu dulu Tuan. Aku adalah wanita yang selalu ingin melakukan sesuatu lain daripada yang lain. Bagaimana kalau aku bersiap di kamar mandi. Tapi aku bukan orang yang sabar. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku ingin Tuan sudah siap juga. Jangan membuatku menunggu terlalu lama dan sibuk dengan pakaian Tuan. Tuan mengerti maksudku kan?” Monica berkata sambil ujung-ujung jarinya bergerak menelusup ke dalam kemeja Emilio melalui lubang yang ada diantara kancing kemejanya, untuk kemudian memainkan jari-jarinya di dada Emilio yang langsung menahan nafasnya, merasakan sensasi dari tindakan Monica kepadanya.


Saat ini Emilio begitu sulit mengendalikan dirinya karena selain Monica menggodanya dengan melakukan sentuhan lembut di dadanya dengan ujung-ujung jarinya…. Tangan Monica yang lain bergerak mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah lingerie berwarna merah terang, yang sengaja dipamerkannya kepada Emilio, dengan mengangkat lingerie itu di depan wajah Emilio.


“Tunggu aku di sini dan bersiaplah, aku akan segera berganti pakaian. Jangan lupa, aku tidak suka menunggu lama.” Monica berkata sambil menjauhkan tangan dan tubuhnya dari Emilio, setelah itu dia berjalan dengan melenggang ke arah kamar mandi, dengan kepalanya tetap menoleh ke arah Emilio.

__ADS_1


“Apapun permintaanmu malam ini Tuan Putri.” Emilio berkata sambil mengerlingkan matanya kepada Monica yang langsung membalasnya dengan sebuah senyuman menggoda.


Kepergian Monica ke kamar mandi diikuti oleh pandangan mata Emilio yang menatapnya dengan mata berbinar sekaligus begitu bernafsu. Rasanya dia begitu tidak sabar menunggu sosok Monica yang keluar dari kamar mandi, mengenakan lingerie berwarna merah terang yang dibawanya serta ke kamar mandi barusan.


Membayangkan itu membuat Emilio sadar tentang keinginan Monica sebelumnya, bahwa dia juga harus segera bersiap. Dengan cepat, sambil bersiul dengan nada riang, Emilio mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu, hingga tinggal tersisa celana boxer, satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya yang nyaris polos.


Beberapa saat kemudian, saat Emilio dengan santainya duduk bersandar dengan santai di sofa ruang VIP itu sambil menyilangkan kakinya dengan bibir masih mengeluarkan bunyi siulan. Tiba-tiba saja tampak sosok Monica keluar dari kamar mandi.


Mata Emilio sedikit menyipit dengan kening berkerut melihat bagaimana Monica keluar dari kamar mandi namun tetap dengan pakaian lengkapnya, tanpa menggunakan lingerie yang tadi dibawanya ke kamar mandi.


Emilio yang masih terpaku karena bingung, tidak menyadari begitu dengan gerakan cepat, Monica meraih semua pakaian Emilio dan bergegas membuka kunci pintu ruanga VIP tersebut. Begitu Emilio sadar, dia segera berlari ke arah pintu, bermaksud menghentikan tindakan Monica yang membawa kabur semua pakaiannya dan juga membuka pintu ruangan VIP tempat mereka berdua berada sekarang.


Belum lagi Emilio menyelesaikan kata-katanya, begitu pintu terbuka, sosok Melva langsung masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah terlihat dingin, tanpa senyum dan keramahan sama sekali.


Kehadiran sosok Melva membuat Emilio yang hampir saja meraih pergelangan tangan Monica menghentikan tindakannya. Dan justru membuat Emilio mundur dua langkah ke belakang dengan wajah kagetnya dan sedikit pucat. Seolah yang sedang berdiri di depannya saat ini adalah hantu dari orang yang sudah dibunuhnya.

__ADS_1


“Tuan Emilio, dia adalah teman yang aku bicarakan tadi. Yang aku bilang sedang aku tunggu kedatangannya di bar ini. Ternyata dia bisa menyusulku kesini karena urusannya sudah selesai.” Monica berkata sambil melemparkan keluar pakaian Emilio dari ruangan VIP itu dengan sembarangan.


Perkataan Monica membuat mata Emilio tadinya melotot karena kaget, semakin terbeliak dengan sempurna. Tidak menyangka bahwa apa yang terjadi malam ini, ternyata ada sangkut pautnya dengan Melva.


“Kerja bagus Monica. Sangat memuaskan. Ini adalah bayaran yang sudah aku janjikan untukmu. Terimakasih untuk Kerjasama kita. Kamu boleh meninggalkan tempat ini sekarang. Karena selanjutnya adalah waktuku untuk membereskan masalah kami berdua malam mini.” Melva berkata sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna putih yang terlihat tebal, berisi uang tunai yang sudah disepakatinya sebagai pembayaran atas kerja Monica untuk menjebak Emilio malam ini.


Tanpa mempertanyakan perintah dan permintaan Melva, Monica meraih amplop berisi uang yang disodorkan oleh Melva, dan dengan langkah santai berjalan keluar dari ruangan VIP itu, meninggalkan Melva dan Emilio dengan urusan mereka.


“Kalian berdua…. Saling mengenal?” Emilio berkata dengan wajah frustasi karena sadar sudah masuk ke dalam jebakan yang sudah dibuat oleh Melva, membuat pada akhirnya Melva mengetahui kebusukan tingkah lakunya selama ini kepada para wanita.


“Kamu tidak perlu tahu, karena mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Tidak ada yang harus aku jelaskan kepadamu sebagai orang asing.” Melva berkata dengan nada tegas, tanpa senyum, dengan wajah terlihat dingin dan tatapan mata terlihat begitu tajam ke arah Emilio.


“Tung…. Tunggu Melva, ini hanya kesalahpahaman. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan…. Aku dapat menjelaskan semua yang terjadi saat ini. Percayalah padaku.” Emilio berkata sambil berjalan mendekat ke arah Melva.


“Tidak adalagi yang perlu kamu jelaskan, hubungan kita berakhir malam ini. Semua yang fasilitas yang aku berikan padamu akan aku selesaikan hari ini juga. Setelah hari ini, kita tidak perlu lagi bertemu.” Melva berkata sambil meletakkan sebuah tas di atas meja, membuat Emilio mengurungkan niatnya untuk mendekat ke arah Melva.

__ADS_1


 


 


__ADS_2