
Dan tentu saja, bagi Larena yang terlalu sibuk dengan pikirannya dan hatinya sendiri, dan dalam posisi tubuh membelakangi Vincent, tidak menyadari bahwa laki-laki itu sudah mengumpulkan segenap kekuatannya agar bisa meraih tangan wanita yang sangat dicintainya itu.
Entah kekuatan besar darimana yang sudah diperoleh Vincent barusan. Tapi begitu melihat sosok Larena yang sudah begitu dirindukannya bermaksud kembali meninggalkannya, ada sebuah dorongan yang begitu besar dari dalam diri Vincent yang membuat Vincent berusaha keras menggerakkan seluruh otot-otot di lengan dan kakinya, berusaha untuk bisa bangkit berdiri dan meraih tangan Larena.
Rasa takut kehilangan Larena kembali membuat Vincent memaksakan dirinya untuk mengeluarkan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk bisa bangkit berdiri, agar bisa mencegah kepergian Larena darinya kali ini.
Bahkan Enzo dan Alaya yang awalnya berencana untuk membantu Vincent bangun dari jatuhnya, langsung menghentikan gerakan tangan mereka dengan wajah terlihat bingung, kaget, senang, besyukur, bercampur jadi satu.
“Yang Mulia… tolong…. lepaskan aku.” Larena berkata lirih, sambil berusaha menahan rasa sesak di dadanya yang seakan mau meledak, karena dia sendiri sebenarnya begitu merindukan sentuhan lembut dari seorang Vincent, yang tidak pernah dilupakannya barang sedetikpun.
“Tidak Larena. Kali ini aku tidak akan lagi membiarkanmu pergi dariku. Apapun alasannya, aku tahu aku bersalah, aku sudah melakukan dosa besar kepadamu. Aku memang egois dan tidak tahu diri. Tapi bisakah, kamu memberiku kesempatan sekali lagi untuk bisa dimaafkan?” Vincent berkata dengan suara pelan, dengan tangannya tetap menggenggam erat tangan Larena yang langsung menarik nafas dalam-dalam saat mendengar kata-kata dari Vincent.
“Aku tahu hukuman rasa penyesalan dan patah hati selama belasan tahun sejak berita meninggalnya dirimu mungkin beum cukup bagiku. Semua penderitaanku tidaklah sebanding dengan penderitaan yang sudah kamu alami selama ini. Tapi Larena, aku mohon, jika saat ini kamu meninggalkanku lagi, untuk apa aku hidup lebih lama lagi.” Vincent berkata sambil berjalan mendekat ke arah Larena.
“Aku mohon Larena, aku tidak bisa lagi jika harus hidup tanpamu. Jangan pergi lagi dariku Larena, aku sungguh mencintaimu.” Vincent berkata sambil memeluk tubuh Larena dari belakang, membuat tubuh Larena tersentak dan dadanya semakin bergetar dengan hebatnya.
Larena yang dalam pikirannya Vincent masih memerlukan bantuan kursi roda untuk bergerak, langsung membalikkan tubuhnya. Dan mata Larena membulat sempurna begitu melihat bahwa saat ini Vincent sudah berdiri tegak di hadapannya.
__ADS_1
Mau tidak mau Vincent melepaskan pelukannya dari Larena begitu Larena membalikkan tubuhnya, menghadap ke arahnya.
“Kamu boleh mengutukku, memarahiku, membenciku, tapi aku tidak akan melepaskanmu lagi. Sejak hari dimana kamu pergi dariku, hidupku sudah seperti di neraka, karena itu, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku.” Vincent berkata sambil memandang ke arah Larena dengan airmatanya yang mengalir tanpa dia perdulikan.
Vincent tidak lagi perduli tentang status atau harga dirinya akan turun jika dia menangis di hadapan Larena, dan dilihat oleh yang lain. Baginya saat ini, asal Larena mau kembali padanya, apapun akan dia lakukan untuk bisa mendapatkan hati Larena kembali.
Melihat apa yang terjadi di depannya, baik Alaya maupun Deanda tidak bisa lagi menahan tangisnya. Tanpa mereka sadari, mereka sudah seperti patung lilin yang diam terpaku dengan mata menatap ke arah Larena dan Vincent, sedang airmata tidak bisa lagi mereka bendung, keluar begitu saja membasahi pipi mereka.
Bahkan Alaya dan Deanda saat ini sibuk berdoa dalam hati agar hati Larena bisa luluh dan mau menerima Vincent kembali.
Sedang Enzo, hanya bisa buru-buru mengalihkan pandangan matanya yang sudah terlihat berkaca-kaca dan tampak merah. Enzo sengaja menarik nafas dalam-dalam untuk mencegah agar airmatanya tidak turun.
Larena berkata dalam hati sambil memandang Vincent yang ada tepat di hadapannya saat ini.
Jika boleh jujur, rasanya Larena begitu ingin memeluk laki-laki itu dengan erat. Melepaskan semua rasa rindu pada satu-satunya laki-laki yang dicintainya itu.
“Larena, aku sungguh mencintaimu. Aku tidak sanggup lagi jika harus kehilanganmu lagi kali ini. Kumohon…. Jangan pergi lagi dariku jika kamu tidak ingin melihatku mati di hadapanmu.” Tanpa perduli dengan jawaban Larena, Vincent berkata sambil kembali memeluk erat tubuh Larena.
__ADS_1
Kata-kata terakhir dari Vincent membuat airmata Larena mengalir deras, bahkan membasahi bahu Vincent yang sedang memeluknya dengan begitu erat, karena begitu takut Larena akan berusaha untuk melepaskan diri dan pergi lagi darinya.
“Larena, maafkan aku. Kembalilah padaku.” Melihat tidak adanya penolakan dari Larena saat dia memeluknya dengan erat, Vincent langsung mengucapkan katanya sambil salah satu tangannya mengelus lembut punggung Larena dengan penuh kasih sayang.
Untuk beberapa saat Larena tetap diam dalam tangisnya, setelah itu dengan gerakan pelan, Larena menganggukkan kepalanya, membuat Vincent langsung tersenyum dengan wajah bahagia dan kepalanya mendongak ke atas, menunjukkan betapa dia bersyukur pada akhirnya bisa mendapatkan Larena kembali.
“Terimakasih Larena, cintaku. Aku sangat mencintaimu.” Vincent berbisik lembut sebelum akhirnya dengan kedua tangannya merangkum wajah Larena, menjauhkannya dari bahunya, agar dia bisa dengan puas menikmati wajah cantik Larena yang sudah sekian lama selalu memenuhi pikiran dan mimpi-mimpinya.
Setelah itu dengan gerakan lembut, Vincent mencium mesra bibir Larena, tanpa perduli dengan keberadaan yang lain.
Melihat itu, dengan diam-diam, baik Alaya, Deanda juga Enzo segera beringsut mundur, menjauh meninggalkan Larena dan Vincent yang sedang saling melepaskan rindu mereka.
“Lebih baik kita membiarkan mereka berdua untuk saat ini. Pasti banyak hal yang ingin mereka bicarakan berdua setelah belasan tahun berpisah.” Deanda berbisik pelan setelah posisi mereka sudah berada jauh dari Larena dan Vincent.
“Benar, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kak Alvero dan menceritakan tentang apa yang terjadi hari ini, termasuk bagaimana tiba-tiba saja papa bisa berjalan kembali setelah melihat mama.” Alaya berkata dengan wajah terlihat begitu bahagia dan sangat bersemangat.
“Ternyata benar kata orang, kekuatan cinta bisa membuat orang memiliki kekuatan untuk melakukan hal-hal yang mustahil.” Enzo berkomentar sambil tersenyum lega, pada akhirnya keluarga Alvero bisa kembali utuh.
__ADS_1
# # # # # # #
“Pengawal! Cepat bawa pergi baroness Eliana dari tempat ini sekarang juga! Bawa ke penjara istana sampai pengadilan untuknya diadakan! Sebagai raja Gracetian, aku mengumumkan bahwa mulai hari ini ibu suri kerajaan Gracetian adalah Larena Hilmar, bukan lagi Eliana Edarian!” Dengan cepat Alvero memberikan perintah tegas kepada para pengawal yang sudah bersiap sedari tadi, dan mengembalikan posisi Eliana sebagai seorang baroness, bukan lagi ibu suri.