BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
TEKAD ENZO


__ADS_3

"Aku hanya mencoba mengungkapkan apa yang ada di pikiranku Countess Melva. Jujur saja, aku ingin gadis baik dan berbakat seperti Countess Melva bisa mendapatkan kehidupan bahagia bersama pria yang benar-benar mencintai dengan tulus dan menghargai Countess Melva." Deanda berkata dengan nada pelan karena dari arah lain dilihatnya sosok suaminya, Alvero bersama Enzo dan earl Robin berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


Apalagi Deanda melihat sosok Alvero langsung berjalan ke arahnya dengan tatapan mata Alvero yang terlihat begitu fokus menatapnya.


"Apa kamu sudah kenyang sweety?" Bisikan lembut dari Alvero ke telinganya membuat Deanda tersenyum dan langsung menoleh ke arah wajah suaminya yang juga sedang tersenyum ke arahnya dalam jarak yang begitu dekat, bahkan hampir tidak ada jarak diantara wajah mereka, membuat dengan gerakan sedikit cepat Deanda menjauhkan wajahnya dari wajah Alvero sebelum yang lain menyadari posisi mereka berdua.


Begitu Alvero berada di dekat Deanda, hal pertama yang dilakukan oleh laki-laki itu adalah mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya dan berbisik lembut kepada wanitanya itu. Entah Deanda sadar atau tidak, Alvero sengaja melakukan itu sekaligus untuk menikmati bau harum dari tubuh Deanda yang sudah membuat Alvero begitu  merindukannya, padahal belum ada 30 menit waktu berlalu sejak mereka berpisah.


"Eh, sudah Yang Mulia. Apa Yang Mulia akan memulai makan malam sekarang? Biarkan aku mengambilkan makanan untuk Yang Mulia." Deanda menjawab pertanyaan Alvero dengan wajah sedikit memerah karena tindakan Alvero kepadanya barusan.


"Cukup berada di dekatku. Jangan melakukan hal yang lain. Aku akan mengambil sendiri makan malamku." Alvero kembali berbisik lirih ke arah telinga Deanda walaupun kali ini dengan jarak tidak sedekat tadi, agar permaisurinya tidak merasa canggung.


Apalagi bagi Alvero, jika ingin melakukan hal lain yang lebih dekat dan intim dengan Deanda, dia bisa melakukannya di dalam kamar nanti malam. Menyadari pikirannya yang tiba-tiba saja berlarian ke sana kemari membayangkan tentang hal itu bersama Deanda membuat Alvero sedikit tersentak kaget.


Aist... kenapa... sekarang aku jadi seperti seorang pria mesum? Sebentar saja melihat sosok istriku pikiranku langsung lari ke arah sana. Hah! Deanda Federer! Kamu benar-benar sudah membuatku tergila-gila padamu karena begitu mencintaimu.


Alvero berkata dalam hati sambil sedikit menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar untuk mengalihkan pikirannya dari kegiatan panas yang seringkali memenuhi pikirannya saat berada di dekat istrinya.

__ADS_1


"Yang Mulia... Kenapa denganmu? Apa kepalamu sakit?" Melihat apa yang baru dilakukan Alvero barusan, membuat Deanda dengan wajah khawatir berbisik pelan ke arah Alvero untuk menanyakan keadaannya, membuat bibir Alvero menyeringai karena tertangkap basah oleh istrinya sedang bertingkah aneh.


"Tidak ada apa-apa. Selama ada kamu di dekatku. Aku akan baik-baik saja...." Alvero menghentikan perkataannya sebentar untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Deanda.


"Apalagi jika nanti malam kamu memberikan jatahku, dan memanjakanku. Aku akan merasa lebih baik lagi." Kali ini bisikan Alvero benar-benar membuat wajah Deanda memerah dan terlihat malu.


"Ayo, temani aku mengambil makan malam." Dengan senyum bangga dan penuh kemenangan karena berhasil menggoda Deanda, Alvero berjalan ke arah meja sajian.


Dan mau tidak mau dengan langkah gugup dan sedikit canggung akibat kata-kata Alvero barusan, Deanda berjalan mengikuti langkah-langkah Alvero, berencana menemani suami tercintanya untuk mulai menikmati makan malamnya.


Kalau saja memungkinkan, bisa-bisa Alvero memberikan alarm di tubuh Deanda, agar ketika sosok Deanda terlalu jauh darinya bisa segera terdengar bunyi suara alarm itu sebagai tanda peringatan untuknya. Aish, si Alvero ini membuat orang iri sekaligus cemburu saja. Tidak aku sangka si polos Alvero yang beberapa waktu lalu bahkan tidak tahu bagaimana cara mendekati wanita, sekarang terlihat begitu ahli dalam menunjukkan kemesraannya kepada Deanda di depan banyak orang. Benar-benar cinta sudah membuatnya berubah menjadi laki-laki yang terlihat seperti bukan lagi si dingin dan arogan Alvero yang aku kenal. Deanda Federer.... kamu benar-benar wanita hebat yang bisa merobohkan gunung es yang ada dalam pikiran dan hati Alvero.


Enzo berkata dalam hati, menyatakan keheranannya atas perubahan sikap Alvero saat di dekat Deanda, sekaligus rasa kagumnya kepada Deanda yang sudah berhasil mengubah Alvero. Menyadari itu, sebentar kemudian Enzo tersenyum kecil sambil melirik ke arah Melva.


Entah apa yang sudah dibicarakan Melva dengan Deanda, tapi Enzo bisa menangkap adanya sesuatu yang sudah terjadi, sehingga membuat wajah Melva hari ini terlihat begitu serius, seolah ada hal besar yang sedang mengganggu pikirannya.


Apa yang sedang dipikirkan oleh Melva? Apa yang sudah dibicarakan oleh Deanda dan Melva sehingga wajah Melva terlihat begitu serius? Semoga saja Deanda tidak mengungkit-ungkit tentang perasaanku kepada Melva. Sepertinya mulai hari ini aku harus berjuang untuk mendapatkan kebahagiaanku. Alvero sudah banyak membantuku hari ini. Kali ini, aku ingin belajar dari Alvero bagaimana dia mengejar gadis impiannya untuk meraih kebahagiaannya. Jika aku sudah berusaha sebaik mungkin tapi Melva tetap menolakku. Paling tidak, tidak akan ada penyesalan bagiku di kemudian hari karena sudah melepaskan kesempatan ini.

__ADS_1


Enzo berkata dalam hati sambil tersenyum ke arah Melva yang baru saja memandang ke arahnya dan melempar sebuah senyuman ramah kepada Enzo.


# # # # # # # #


Setelah makan malamnya selesai, beberapa orang tampak berusaha mendekati Alvero. Beberapa orang tersebut termasuk para bangsawan, keluarga istana maupun para kolega bisnis yang sengaja diundang Enzo untuk merayakan ulang tahunnya kali ini. Mereka mendekati Alvero entah hanya untuk menyapa ataupun mengajaknya berbincang, baik tentang kondisi perusahaan  maupun kerajaan.


"Selamat malam, semoga apa yang barusan kita bicarakan tentang rencana pelebaran kerjasama kita bisa segera terealisasi dengan baik Tuan." Alvero berkata sambil memberikan tanda bahwa dia menerima salam penghormatan dari orang yang baru saja mengobrol dengannya tentang bisnis mereka.


"Ya Yang Mulia, saya juga berharap seperti itu. Kami permisi dulu Yang Mulia, Permaisuri.... Terimakasih untuk waktunya." Dua orang yang baru saja berpamitan itu segera pergi begitu melihat anggukan kepala dari Alvero dan Deanda.


"Ah, cukup melelahkan harus meladeni begitu banyak orang di sini." Begitu tidak adalagi orang yang berada di dekatnya, Alvero berkata lirih kepada Deanda yang sedari tadi dengan sabar terus berada di sampingnya, menemani Alvero yang mengobrol dengan para tamu, meskipun Deanda memilih untuk menjadi pendengar yang baik, tidak mau ikut terlibat dalam pembicaraan mereka.


"Ternyata dimanapun dan dalam situasi apapun, keberadaanmu selalu ditunggu banyak orang." Deanda berkata sambil tersenyum dengan tatapan mata menunjukkan bahwa dia begitu bangga dengan sosok hebat suaminya.


"Tapi dibandingkan dengan apapun dan siapapun, aku ingin kamulah orang yang selalu berada di dekatku." Alvero berkata sambil meletakkan gelas minumannya yang tinggal sedikit ke atas nampan pelayan yang sedang lewat di dekatnya, sedang Deanda hanya bisa tersenyum malu mendengar perkataan Alvero yang menunjukkan bahwa bagi Alvero, dia adalah orang yang sangat berharga, seperti dirinya menganggap Alvero adalah harta paling berharga miliknya saat ini.


Dan Deanda bertekad, akan melakukan apapun untuk bisa menjaga dan melindungi Alvero, seperti yang sudah dilakukan Alvero selama ini kepadanya. Alvero selalu berusaha untuk membantunya, bahkan di saat-saat yang kadang dia tidak sadar bahwa itu cukup berbahaya untuknya. Sejak bertemu dengan Alvero hari itu tanpa sengaja di depan mall, saat Deanda berusaha merebut kembali tas milik duchess Danella, mama duke Evan dari tangan penjambret.... Sejak hari itu juga Deanda ingat bahwa Alvero selalu berada di sekitarnya, dan tanpa dia sadari... Alvero selalu ada untuknya, seperti udara yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2