BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PENGKHIANAT?


__ADS_3

Kata-kata Alvero membuat Deanda menarik nafas panjang dan ikut berpikir dengan keras.


Sepertinya memang ada sesuatu yang tidak beres dengan bunker itu. Semoga itu adalah info awal untuk menemukan bukti yang lain.


Deanda berkata dalam hati sambil memandang kea rah Alvero, mencoba untuk mulai mengutarakan pendapatnya tentang langkah selanjutnya yang bisa mereka lakukan.


"Mungkin Yang Mulia, sepertinya kita perlu untuk kembali melakukan pengecekan terhadap bunker-bunker itu. Baik lokasi dan kondisinya satu persatu. Setelah itu mungkin kita baru mengetahui apa ada yang salah atau mencurigakan dengan salah satu atau bahkan semua bunker-bunker itu. Jika memungkinkan, kita siapkan detail data tentang denah dan fasilitas keamanan masing-masing bunker. Aku tidak tahu. Mungkin tiap bunker itu memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda satu dengan yang lain." Deanda berkata dengan suara pelan.


"Kita tidak perlu berpikir bahwa bunker itu ada hubungannya dengan kasus pembunuhan ini atau apapun. Kita coba saja mencari apa yang bisa kita temukan saat melihat info dan mengunjungi bunker-bunker itu. Apakah diantara bunker-bunker itu ada yang menyimpan rahasia yang selama ini kita tidak tahu." Deanda melanjutkan kata-katanya kembali.


Perkataan Deanda membuat Ernest langsung melirik ke arah Deanda dengan tatapan kagum.


Bukan hanya cantik, permaisuri Deanda memiliki kemampuan lebih dalam menganalisa sesuatu. Keberadaan permaisuri di sisi yang mulia Alvero benar-benar menyempurnakan kedudukan yang mulia sebagai raja Gracetian. Tidak heran kalau yang mulia benar-benar mencintai permaisuri.


Ernest berkata dalam hati sambil tersenyum dengan tatapan mata bangga ke arah kedua majikannya itu.


"Idemu benar Permaisuri. Itu masuk akal sama sekali. Kita perlu melakukan itu agar bise mengetahui apa hubungan bunker dengan saksi mata yang sudah meninggal itu. Dia pasti ingin mengatakan suatu rahasia tentang bunker itu." Alvero langsung menyetujui ide dari Deanda.


"Ernest, persiapkan semua arsip tentang data bunker-bunker yang ada di kota Tavisha. Mulai dari lokasi, kapan dibangun, denah bangunan, semua sistem keamanan yang dipakai, juga data siapa saja yang bisa mengaksesnya, dan data orang yang keluar masuk dalam bunker itu dalam setahun belakangan ini." Alvero segera memerintahkan kepada Ernest untuk segera memulai penyelidikan terhadap bunker-bunker itu.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia. Akan segera saya kerjakan." Ernest berkata dengan sikap sigap.


"Dan satu lagi, selidiki dengan teliti siapa yang sudah menjadi pengkhianat diantara kita." Baik Red, Deanda maupun Ernest langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah Alvero dengan wajah bertanya-tanya begitu Alvero menyebutkan tentang pengkhianat diantara mereka.


"Kenapa? Ada yang aneh? Aku sengaja mengatakan itu agar kalian juga mulai waspada terhadap orang-orang di sekitar kalian. Apa kalian tidak menyadari bahwa kasus pembunuhna ini terlihat begitu aneh?" Begitu mendengar perkataan Alvero, kepala Red kembali menoleh ke arah dapur, dimana dari tempatnya berdidri sekarang tampak mayat korban pembunuhan itu terlihat bagian keda kakinya yang terbujur kaku di lantai.


"Harusnya kalian tahu bahwa diantara orang-orang yang ada di sekitar kita ada seorang pengkhianat yang bekerja untuk Eliana." Alvero kembali mengulang kata-katanya tentang keberadaan pengkhianat yang sedang dicurigainya.


"Menurutmu, bagaimana bisa saksi itu hidup selama puluhan tahun jika Eliana mengetahui tempat persembunyiannya? Dan jika Eliana sudah sejak lama mengetahui bahwa masih ada salah satu saksi yang masih hidup sejak dulu.... Aku yakin Eliana tidak akan tinggal diam. Dan saksi itu pasti sudah lama mati jika Eliana sudah tahu sejak dulu tentang keberadaannya. Buat apa dia menunda-nunga waktu untuk membunuhnya." Baik Red maupun Ernest langsung termenung mendengar penjelasan tentang analisa Alvero yang masuk akal barusan.


"Aku yakin, pasti Eliana juga baru mengetahui kebenaran tentang adanya salah satu saksi mata yang masih hidup hingga saat ini. Karena itu, barusan dia berusaha mati-matian untuk membungkam mulut satu-satunya saksi yang tersisa ini." Alvero berkata dengan nada sinis, mengingat bagaimana kekejaman yang sudah dilakukan oleh Eliana.


"Tenang Tuan Red. Aku percaya dengan kalian yang ada di sini. Tapi aku tidak bisa begitu saja percaya, dengan orang-orang yang ada di sekitar kita yang mungkin saja sengaja disisipkan oleh Eliana untuk menjadi mata-mata di tengah-tengah kita." Seolah bisa membaca kegusaran hati Red, Alvero langsung menjawab dengan cepat perkataan Red.


"Kita harus sama-sama lebih waspada mulai sekarang. Untuk selanjutnya, masalah di sini aku serahkan kepada Tuan Red dan Ernest. Tolong kuburkan kedua jenazah itu dengan layak. Perlakukan mereka dengan manusiawi, terlepas siapa dan status mereka sebelum meninggal." Alvero berkata sambil melirik kembali ke arah dapur, dimana mayat itu masih berada pada posisinya semula.


"Karena sudah tidak adalagi yang bisa kita lakukan di sini untuk saat ini, kami akan langsung berangkat ke kota Renhill untuk menjenguk yang mulia Vincent. Ernest, cek keberadaan Erich sudah sampai dimana. Tadi aku sengaja memintanya menyusul kita ke Croyen." Alvero menarik nafas panjang setelah menyampaikan perintahnya kepada Ernest.


Apa mungkin mata-mata itu adalah.... Ah, aku tidak boleh asal menuduh, sudah puluhan tahun dia bekerja untuk kerluarga Adalvino. Sejak papa Vincent masih sehat, dia juga salah satu orang kepercayaan papa Vincent.

__ADS_1


Alvero berkata dalam hati setelah dalam pikirannya terbersit sebuah nama seseorang yang mungkin menjadi mata-mata Eliana dan berkutat di sekitarnya.


"Baik Yang Mulia. Saya akan segera menghubungi Erich." Ernest berkata sambil berencana berjalan keluar dari rumah itu dan menghubungi Erich.


Baru saja Ernest melewati pintu depan rumah itu, tampak sosok Erich dengan setengah berlari bergerak ke arah Ernest.


"Ah, kamu sudah sampai di sini?" Ernest langsung menepuk-nepuk lengan atas Erich.


"Apa yang sudah terjadi? Pengawal di depan ribut menerka-nerka ada kejadian apa di sini." Erich bertanya sambil kepalanya melongok ke samping berusaha melihat apa yang sudah terjadi di dalam.


"Apa yang mulia Alvero dan permaisuri baik-baik saja?" Mendengar pertanyaan Erich dengan nada khawatirnya, Ernest langsung tersenyum.


"Beliau berdua baik-baik saja, hanya saja satu-satunya saksi, satu-satunya harapan agar secepatnya bisa memulihkan nama baik tuan Alexis sudah mati terbunuh oleh pembunuh profesional. Dan sepertinya orang itu adalah orang suruhan dari ibu suri. Dia sendiri sudah mati karena racun." Ernest menjelaskan pada Erich sambil mengangkat kedua bahunya dengan wajah terlihat kecewa.


"Ahhh..." Erich mendesah pendek dengan wajah terlihat ikut kecewa begitu mendengar perkataan Ernest.


"Cepatlah masuk. Yang mulia sudah menunggumu. Yang mulia ingin segera berangkat ke Renhill. Aku tidak bisa ikut bersama kalian karena harus menyelesaikan urusan di sini. Mengurus jenazah saksi dan pembunuh itu. Jaga yang mulia dan permaisuri dengan baik." Kata-kata Ernest membuat Erich segera masuk ke dalam untuk menemui Alvero dan Deanda.


 

__ADS_1


 


__ADS_2