BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KECURIGAAN ALVERO TERHADAP AVITUS SEJAK AWAL


__ADS_3

"Apa kamu memerlukan bantuanku yang mulia?" Sambil berjalan mengikuti Alvero, Deanda bertanya dengan wajah seriusnya.


Sekilas Alvero bisa melihat dari sudut matanya, bahwa Evan sedang menatap ke arah Deanda yang sedang berjalan di sampingnya, meninggalkan sebuah helaan nafas dari Evan.


Siapa yang rela meninggalkanmu di sini dan memberi kesempatan kepada duke Evan untuk mengagumi sosok cantikmu. Jika bisa, sedetikpun aku tidak akan membiarkan pria lain memandangimu dengan tatapan terpesonanya ataupun khawatirnya. Cukup aku yang menjadi satu-satunya pria yang terpesona padamu, dan mengkhawatirkanmu. Bahkan melindungimu. Cukup hanya aku saja seorang.


Alvero berkata dalam hati dengan perasaan sedikit sebal.


"Ah, ya, karena kita sudah sepakat untuk berpura-pura kamu berhasil diracun, sebaiknya sekarang kamu beristirahat di kamar sambil menunggu dokter yang dipanggil oleh Ernest ke sini." Alvero segera menjawab pertanyaan Deanda agar wanitanya itu tidak curiga bahwa saat ini dia begitu cemburu dengan sosok Evan, atau Deanda akan mengolok-oloknya karena sifat pencemburu akutnya yang tidak berkurang sedikitpun walau Deanda sudah menjadi miliknya, bahkan sedang mengandung buah cinta mereka.


“Kamu sendiri pasti kaget dengan peristiwa tadi. Ayo ke kamar agar kamu bisa segera beristirahat.” Alvero berkata sambil menarik pelan pergelangan tangan Deanda, agar lsedikit lebih cepat perti meninggalkan Evan yang sudut matanya masih saja menatap kepergian Deanda.


"Ok, aku juga harus sedikit menenangkan diri karena peristiwa barusan." Deanda berkata sambil mengikuti langkah-langkah Alvero menuju kamar.


Begitu sampai di depan pintu kamar, Deanda langsung membuka pintu kamar, dan secepatnya mendekat ke arah sofa yang ada di kamar mereka dan duduk dengan punggung bersandar di pegangan tangan sofa sambil mengangkat kedua kakinya di sana dan menyelonjorkan kakinya.


Wajah Deanda terlihat sedikit pucat dengan tatapan mata terlihat begitu lelah, karena sampai saat ini peristiwa barusan masih terbayang-bayang di pikiran Deanda.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja sweety?" Dengan wajah sedikit khawatir, Alvero berlutut dengan satu lututnya di samping sofa yang dipakai Deanda untuk beristirahat.


"Mmmm... sebenarnya aku tidak apa-apa, hanya saja aku merasa sedikit kaget. Selama hidupku, aku belum pernah mengalami kejadian seperti hari ini. Jika saja peristiwa perkelahian, aku seringkali mengalaminya. Dan bahkan cerita bagaimana orang-orang di Goldie Tavisha bercerita tentnag kasus pembunuhan, pengkhianatan, penculikan, ataupun penyiksaan. Aku hanya sekedar mendengar ceritanya tanpa pernah menghadapinya langsung, tidak seoerti hari ini." Deanda berkata sambil mengelus perutnya sambil menarik nafas dalam-dalam.


Tindakan Deanda membuat kekhawatiran di wajah Alvero bukannya berkurang, tapi justru bertambah khawatir melihat Deanda memegang perutnya, dimana di sana ada calon bayi mereka, yang mungkin juga mengalami dampak perbuatan Avitus tadi secara tidak langsung.


Dari hal yang dipelajari Alvero sejak dia tahu Deanda sedang mengandung anak mereka. Dengan rajin Alvero belajar banyak hal tentang kondisi ibu hamil dan juga perkembangan janin di dalam perut.


Sehingga Alvero tahu bagaimana secara emosi, bayi di dalam perut terhubung erat dengan kondisi emosi ibunya. Tanpa bisa dicegah, saat ibunya merasa sedih, bahagia, kaget, takut, bayi dalam kandungannya juga bisa merasakan emosi-emosi itu.


"Bagaimana kondisi baby kita saat ini sweety? Apa dia baik-baik saja?” Mendengar perkataan sekaligus sentuhan lembut Alvero di perutnya, membuat Deanda tersenyum sambil tangannya mengelus punggung Alvero yang berlutut di samping.


“Kami berdua baik-baik saja my Al. Jangan khawatir. Baby kita juga pasti bukan baby yang lemah. Karena dia memiliki seorang papa yang hebat dan kuat sepertimu.” Deanda menjawab pertanyaan Alvero dengan cepat, membuat Alvero tersenyum dengan hati lega. sekaligus berbunga-bunga karena pujian Deanda padanya.


“Aku sungguh lega kalian berdua baik-baik saja. Pengkhianat seperti Avitus! Berani-beraninya dia berencana mencelakakanmu dan bayi kita.” Alvero berkata sambil sedikit menahan nafasnya.


Rasa takut dan khawatir bahwa Deanda dan bayi dalam kandungannya akan mengalami masalah, benar-benar membuat Alvero merasa tidak tenang sekaligus marah.

__ADS_1


“Tapi my Al. Aku sungguh penasaran. Bagaimana kamu bisa tahu kalau hari ini Avitus memberikan racun pada cassoulet itu? Darimana kamu tahu bahwa Avitus adalah orang suruhan Eliana?” Alvero tersenyum sinis mendengar perkataan Deanda.


“Sudah lama aku selalu curiga kepada Avitus, karena tanpa sengaja beberapa kali aku melihat gerakan tubuhnya yang mencurigakan saat bertemu dengan wanita ular itu. Apalagi beberapa kali aku menemukan bahwa ada rahasia bocor, dan aku selalu mengamati, kebocoran info selalu terjadi jika sebelumnya dalam pembicaraan itu melibatkan Avitus. Atau Avitus sedang ada di dekatku.” Alvero berkata sambil mengingat-ingat, bagaimana beberapa kejadian yang pernah terjadi, Alvero beberapa kali kalah cepat dalam bertindak.


“Kecurigaanku terhadap Avitus semakin besar setelah terbunuhnya saksi yang harusnya kita temui di kota Croyen. Rencana keberangkatan kita ke Croyen dan adanya saksi dari peristiwa pelecehan yang dituduhkan kepada papa Alexis, selalin Erich dan Ernest, aku ingat dengan jelas bahwa Avitus ada di ruangan yang sama dengan kami.” Alvero berkata sambil menarik nafas panjang.


“Dan kamu tahu sendiri bahwa setiba kita di Croyen, saksi itu telah dibunuh. Dan itu belum berlangsung lama dari sampainya kita tiba di sana. Karena itu tanpa sepengetahuan yang lain, aku memberikan perintah khusus kepada Alea untuk mengawasi gerak-gerik Avitus yang seringkali pergi ke dapur istana untuk memberikan pengarahan sekaligus mengecek bahan baku untuk masakan bagi keluarga kerajaan. Kali ini aku tidak ingin ketinggalan langkah seperti sebelum-sebelumnya. Karena itu, sekecil apapun pergerakan Avitus di istana, aku minta Alea segera melaporkannya padaku.” Alvero berkata sambil berdiri dari berlututnya, lalu duduk di pinggiran sofa, tepat di samping tubuh Deanda yang sudah menggeser posisi berselonjornya.


“Dan saat aku melakukan drama dengan Alaya, aku bahkan sengaja memilih lokasi kantor Avitus agar mempercepat informasi kepada Eliana. Aku yakin waktu itu Eliana tertawa bahagia berpikir bahwa rencananya bersama Alaya untuk menjebakku berjalan dengan lancar.” Deanda sedikit menahan nafasnya sambil memandang ke arah Alvero dalam diam.


“Untuk wanita seambisius dan serakah seperti Eliana yang tidak pernah tahu apa itu cinta sejati, dan bagaimana harus berkorban untuk orang yang dicintai. Dia akan berpikir bahwa semua orang di dunia ini sama saja. Akan bisa dikendalikan oleh uang dan kekuasaan. Menganggap uang dan kekuasaan adalah Tuhan dalam hidupnya. Dan Avitus, merupakan golongan orang-orang seperti Eliana.” Alvero kembali menceritakan tentang Avitus.


“Hari ini Alea mengatakan, sebelum pergi meninggalkan istana, Avitus sempat bertemu secara pribadi, secara diam-diam dengan pelayan yang memiliki tato di punggungnya yang berapa lama ini sedang dalam pengawasan kita. Setelah kepergian Avitus, pelayan itu tampak terlihat selalu berada di dekat cassoulet yang akan disuguhkan kepadamu. Karena itu tanpa memberitahukan kepada kalian, aku meminta di depan kita Avitus kembali melakukan pengecekan terhadap menu makan siang kita.” Alvero menutup penjelasannya dengan menarik nafas panjang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2