BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
UNGKAPAN HATI ERICH YANG TERSIRAT


__ADS_3

"Kamu bisa menghubungiku di nomer itu jika ada masalah dengan tubuhmu karena peristiwa barusan." Alvero berkata sambil memandang ke arah Alaya yang sedang mengamati kartu nama Alvero yang ada di tangannya, dengan mata terlihat berbinar-binar.


"Terimakasih Yang Mulia. Saya akan simpan dengan baik kartu nama ini. Terimakasih untuk perhatian Yang Mulia." Alaya berkata dengan senyum malu-malu terlihat di wajahnya yang memperlihatkan bagaimana dia saat ini merasa begitu bahagia sudah mendapatkan perhatian lebih dari Alvero.


# # # # # # #


“O, iya, kamu cari saja surat itu di gudang penyimpanan file bagian front office. Karena itu surat penting, bagian front office kemarin malam langsung menyimpannya di sana.” Kepala bagian dari devisi front office segera berkata sambil tangannya menunjuk ke arah gudang file, begitu mendengar pertanyaan Cleosa tentang surat yang diperintahkan oleh Alvero untuk dibawa ke meja kerjanya tadi.


“Baik Nyonya. Terimakasih untuk infonya. Saya akan mengambilnya di sana.” Setelah menjawab perkataan pimpinannya, Cleosa segera berjalan ke arah pintu ruangan penyimpanan file.


Dengan cepat Cleosa meletakkan kelima jari tangannya ke arah mesin finger print untuk membuka akses pintu ruangan yang harus dilakukan dengan pemindaian sidik jari orang-orang yang sudah terdaftar, termasuk Cleosa.


Begitu pintu ruang penyimpanan file itu terbuka, Cleosa segera menoleh ke arah Erich yang berdiri di sampingnya.


“Tuan Erich, Anda bisa menunggu di sini. Saya akan mengambil surat yang diminta oleh yang mulia Alvero.” Cleosa berkata sambil sedikit mengalihkan pandangan matanya dari wajah Erich, kalau dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri karena matanya pasti akan tampak berbinar, dan bibirnya pasti akan sulit dia kendalikan dari senyuman.


Dan yang lebih parah lagi, dada Cleosa pasti akan berdisko ria di dalam sana, jika dia berani lebih lama lagi menatap sosok Erich yang begitu dikaguminya, dan sudah membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


“Tidak Nona. Yang mulia sudah memerintahkan saya untuk menemani Nona mengambil surat penting itu.” Erich berkata sambil matanya menatap ke arah Cleosa dengan sikap dingin seperti biasanya, membuat Cleosa hanya bisa menarik nafas panjang sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Erich yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan yang terlihat intens.


“Baiklah kalau begitu, silahkan ikut masuk bersama saya ke dalam.” Cleosa berkata sambil secepat mungkin menggerakkan tubuhnya dan berjalan memasuki pintu ruangan penyimpanan file, dengan Erich yang ikut berjalan di sampingnya.


Ah, sungguh membingungkan. Di satu sisi aku merasa begitu senang tuan Erich mengikutiku masuk ke ruangan ini, tapi di sisi lain dadaku yang berdebar membuatku begitu gugup, membuat aku ingin berlari menjauhi tuan Erich.


Cleosa berkata dalam hati sambil mendekat ke arah sebuah meja di mana di sana terdapat sebuah layar komputer berukuran cukup besar yang menyala dengan keyboard tergeletak di depannya.


“Emmm. Tuan Erich, saya akan cari dulu data dari surat yang diminta yang mulia Alvero, agar kita bisa segera mengetahui nomer rak penyimpanan surat itu dan mengambilnya.” Erich hanya menganggukkan kepalanya sekali dengan sikap tegas begitu mendengar perkataan dari Cleosa.


Dengan gerakan cepat, jari-jari tangan Cleosa yang lentik segera mengetikkan kata-kata tanggal dan hari penerimaan sekaligus penyimpanan, nama pengirim sekaligus penerima file, dan tidak lupa jenis file yang sedang dia cari.


Setelah mengisi semua data yang diperlukan, di layar komputer segera tertera nomer sekaligus letak rak tempat menyimpan surat yang sedang dicari Cleosa.


Begitu Cleosa sudah menemukan letak rak dimana surat yang dicari oleh Alvero diletakkan, Cleosa langsung pergi menjauhi layar komputer dan mendekat ke arah rak yang tadi tertulis di layar komputer.


“AB nomer 5 titik 1.” Cleosa bergumam pelan sambil matanya mendekat ke arah rak yang dibagian atasnya terdapat tulisan dengan ukuran cukup besar, bertuliskan AB, seperti yang sedang dicari oleh Cleosa.

__ADS_1


“Eh.” Cleosa yang berusaha meraih kotak file berwarna putih yang ada di rak AB nomer 5.1 itu dengan berjinjit karena posisinya jauh di atas sana.


Cleosa sengaja tidak meminta bantuan Erich yang tinggi tubuhnya jauh di atas Cleosa, dan sebenarnya pasti bisa meraih kotak itu. Rasa canggung sekaligus gugup, sejak Erich mengikutinya tadi membuat Cleosa sengaja untuk sebisa mungkin menghindari pembicaraan dengan Erich.


Erich hanya mengernyitkan dahinya melihat bagaimana Cleosa yang bersikeras mencoba meraih kotak di bagian atas rak itu. Sampai akhirnya Erich berjalan mendekat, berencana membantunya karena dilihatnya tidak ada harapan bagi Cleosa untuk dapat menjangkau kotak itu.


Erich sudah berada tepat di belakang tubuh Cleosa, ketika Cleosa tiba-tiba berjinjit sambil berusaha melompat agar tangannya dapat meraih kotak itu. Yang justru berakhir dengan hilangnya keseimbangan tubuh Cleosa dan tubuhnya goyah ke belakang, menabrak tubuh Erich yang dengan sigap langsung menahan tubuh Cleosa dengan memegang kedua lengan Cleosa.


Sentuhan dari Erich membuat Cleosa langsung terdiam seperti patung. Sedang Erich yang tiba-tiba merasakan sebuah sensasi asing di dadanya ketika menyentuh dan mencium bau harum tubuh Cleosa yang begitu dekat dengannya, justru dengan sengaja menggerakkan kakinya satu langkah ke depan, membuat punggung Cleosa justru menempel tepat di dada Erich.


Oh my God, matilah aku. Apa yang sedang dilakukan oleh tuan Erich sekarang?


Celosa berkata dalam hati sambil memejamkan matanya. Rasanya ingin sekali Cleosa bergerak menjauh, tapi dia tahu, cekalan kedua tangan Erich di lengannya saat ini walaupun tidak menyakitinya, tapi Cleosa tahu cekalan itu cukup kuat dan tidak akan bisa membuatnya dengan mudah melepaskan diri dari cekalan tangan itu.


“Nona, kenapa jika berada di dekatku, Nona mudah sekali kehilangan keseimbangan? Berhati-hatilah agar tidak merepotkan orang lain.” Kata-kata yang tiba-tiba saja dibisikkan Erich di telinganya sungguh membuat Cleosa semakin mempererat pejaman kedua matanya sambil menggigit bibir bawahnya karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, dan bagaimana menjawab pertanyaan Erich barusan.


Tuan Erich pasti sedang berpikir aku ini gadis yang menyebalkan dan selalu merepotkannya. Sepertinya tuan Erich memang benar-benar tidak menyukaiku.

__ADS_1


Cleosa berkata dalam hati dengan perasaan putus asa mendengar apa yang baru saja dibisikkan Erich ke telinganya. Dan dengan begitu keras, Cleosa mencoba menahan airmatanya agar tidak jatuh ke pipinya saat ini.


“Aku harap kejadian seperti ini hanya terjadi jika Nona ada di dekatku, bukan di dekat laki-laki lain. Atau aku akan menghajar laki-laki itu, karena sudah berani menyentuh Nona Cleosa.” Erich melanjutkan bicaranya, yang sukses membuat Cleosa spontan membuka matanya dan langsung menolehkan wajahnya ke belakang dengan sedikit mendongak, menatap ke arah wajah Erich dengan pandangan tidak percaya.


__ADS_2