BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEGAGALAN RENCANA ELIANA


__ADS_3

"Ernest! Cepat kemari!" Alvero sedikit menjauhkan telinganya dari jangkauan bibir Deanda, namun tetap membiarkan tubuhnya berada begitu dekat dari Deanda dan meneriakkan nama Ernest dngan cukup keras.


"Ya Yang Mulia..." Ernest langsung menjawab sambil membalikkan tubuhnya, berniat untuk mendekat ke arah Alvero.


"My Al... apa yang kamu lakukan? Jangan bertindak aneh di depan Ernest...:" Melihat Ernest yang berjalan mendekat tanpa Alvero membiarkan tubuhnya menjauh dari Alvero, membuat Deanda dengan cepat memprotes tindakan Alvero.


"Memang apa yang sedang kamu pikirkan sekarang sweety? Apa jangan-jangan kamu sedang menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar pelukan dan ciuman dariku? Katakan saja, aku akan selalu siap meladenimu, kapanpun, dimanapun, sebanyak apapun." Wajah Deanda langsung memerah mendengar perkataan Alvero yang dikatakannya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan wajah menggoda.


Deanda hampir saja menanggapi perkataan Alvero ketika diliriknya Ernest sudah semakin mendekat ke arah mereka, membuat Deanda langsung membatalkan niatnya dan menggeser tubuhnya ke samping agar tidak terlalu dekat dengan tubuh Alvero.


"Apa yang bisa saya bantu Yang Mulia?" Ernest yang sudah berada di dekat meja kerja Deanda langsung menanyakan perintah selanjutnya dari Alvero dengan berusaha keras mengalihkan pandangannya dari sosok sepasang suami istri yang terlihat sedang dimabuk asmara itu, sehingga membuat Ernest merasa malu dan takut dianggap bersikap kirang ajar jika berani memandang, apalagi mengamati tindakan mereka berdua.


"Rapikan ijazah permaisuri, masukkan ke dalam brankas pribadinya." Mendengar perintah dari Alvero, dengan sigap Ernest mengambil map yang ada di atas meja kerja Deanda, lalu membawanya ke arah dinding yang ada di belakang meja kerja Deanda.


Alvero sendiri langsung mengajak Deanda untuk mendekat dan mengamati apa yang akan dilakukan oleh Ernest dengan map yang berisi foto dan ijazah Deanda itu. Laki-laki itu ingin menunjukkan kepada Deanda bahwa selain meja kerja, dia juga sudah menyiapkan brankas pribadi untuk Deanda, yang mulai hari ini akan bekerja bersamanya, di kantor yang sama.


Saat Deanda memandang ke arah yang dituju oleh Ernest, disana tampak sebuah lukisan yang tergantung di dinding tersebut. Sebuah lukisan dengan tipe aliran futurisme.


(Seni lukis aliran futurisme adalah lukisan yang bercerita tentang pertumbuhan dan perkembangan tipografi sebagai dasar utama ekspresi didalam sebuah dekorasi. Lukisan dibuat secara spontan dan dinamis. Pelukisnya adalah Umbrito boccioni. Carlo carra, Buido severini (Jenis lukisaan ini bersifat ringan dan cepat). Ciri cirinya adalah: lukisan dipenuhi warna warna yang terang yang diikuti dengan sapuan warna warna gelap yang akhirnya tercipta sebagai satu kesatuan warna yang saling mengikat yang menyebabkan hasil akhir dari lukisan begitu menakjubkan).

__ADS_1


Di bagian ujung paling bawah lukisan itu ternyata ada sebuah tombol kecil, yang jika tidak diperhatikan dengan teliti, terlihat seperti sebuah lingkaran hitam yang menjadi bagian dari gambar dari lukisan tersebut.


Begitu Ernest menekan tombol itu, tampak lukisan itu bergerak masuk ke dalam, kemudian bergeser ke arah kanan, menunjukkan di balik lukisan itu ada sebuah brankas besi yang dilengkapi oleh sistem keamanan dengan sistem retina scan untuk dapat membuka brankas tersebut.


(Pola dari pembuluh darah yang membentuk retina mata sama uniknya dengan sidik jari, sehingga setiap orang akan memiliki pola yang berbeda. Definisi Retina Scan atau pemindaian retina adalah teknik biometrik yang menggunakan pola unik pada pembuluh darah retina seseorang. Tidak perlu bingung dengan teknologi berbasis mata lainnya: pengenalan iris, yang biasa disebut "pemindaian iris", dan verifikasi pembuluh darah mata yang menggunakan pembuluh darah skleral. Pengertian dari retinal scan itu sendiri adalah salah satu teknologi biometri yang memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi yang mampu meneliti lapisan pembuluh darah dibelakang selaput mata. Tapi tingkat akurasi dari retinal scan sendiri bisa menurun apabila terjadi gangguan pada selaput mata).


Setelah bagian depan brankas terlihat, Ernest langsung mundur dua langkah ke belakang, lalu bergeser ke samping, memberi jalan kepada Alvero dan Deanda untuk mendekati brankas itu.


"Mendekatlah sweety, aku akan mendaftarkan retinamu agar bisa mengakses brankas ini untuk dirimu sendiri." Alvero yang sudah berada di depan brankas itu, dengan Deanda yang berdiri sedikit menyerong di belakangnya, langsung meraih pergelangan tangan Deanda dan mengajaknya untuk mendekat kepadanya.


"Ok, sudah selesai... Ernest! Bawa ijazah milik permaisuri ke sini!" Alvero langsung memerintahkan Ernest untuk langsung mendekat kembali begitu selesai mendaftarkan retina Deanda agar dikenali oleh sistem keamanan brankas itu sebagai orang yang berhak untuk mengaksesnya.


"Yang Mulia... bolehkah untuk foto nya aku membeli sebuah pigura dan memasangnya di salah satu sudut penthouse?" Mendengar pertanyaan Deanda yang terdengar diucapkannya dengan begitu hati-hati, Alvero langsung tersenyum dengan mesra.


"Tentu saja boleh, di bagian manapun dari penthouse, kamu bebas untk menggantungnya di sana. Penthouse itu adalah milikmu juga. Kamu bebas melakukan perubahan apapun di sana." Jawaban Alvero sukses membuat Deanda tersenyum dengan wajah lega sekaligus senang.


"Ernest! Segera aturkan untuk membeli pigura agar foto permaisuri bisa segera digantung di penthouse."


"Baik Yang Mulia." Ernest menjawab dengan cepat perintah dari Alvero.

__ADS_1


"Dan satu lagi..." Suara nada panggilan telepon milik Alvero yang terdengar tiba-tiba membuat Alvero menghentikan kata-katanya.


Dengan langkah bergegas, Alvero segera berjalan ke arah meja kerjanya untuk mengambil handphonenya yang tergeletak di sana.


Begitu melihat ke arah layar handphone miliknya yang menuliskan nama orang yang sedang berusaha menghubunginya, wajah Alvero langsung berubah tegang, dengan senyum sinis langsung tersungging di bibirnya.


"Hallo." Dengan nada suara terdengar begitu ogah-ogahan, Alvero menerima panggilan telepon dari Eliana.


"Yang Mulia Alvero. Sebenarnya apa maksud Yang Mulia melakukan tindakan yang tidak masuk akal seperti ini?" Dari seberang sana langsung terdengar pertanyaan dari Eliana dengan nada protesnya begitu Alvero merespon panggilan teleponnya.


"Apa maksud dari perkataan ibu suri Eliana? Menurut ibu suri, tindakan tidak masuk akal apa yang sudah aku lakukan saat ini?" Alvero menjawab pertanyaan Eliana dengan pertanyaan balik.


Dengan langkah santai, Alvero berjalan ke arah meja kerjanya, lalu menghempaskan tubuhnya dengan sedikit keras. Rasanya mendengar suara dari Eliana adalah sesuatu yang membuat emosinya langsung terpancing.


"Aku sudah jauh-jauh melakukan perjalanan ke Renhill untuk menemui yang mulia Vincent. Tapi seseorang membuat aku tidak bisa menemui yang mulia Vincent." Mendengar protes dari Eliana, Alvero justru tertawa pelan.


"Ibu suri, jika masalahnya seperti itu, kenapa ibu suri menyalahkan aku? Menuduhku sebagai orang yang menghalangi ibu suri untuk bertemu yang mulia Vincent? Yang benar saja? Untuk apa aku melakukan hal yang tidak penting seperti itu?" Alvero berkata dengan nada terdengar sinis.


 

__ADS_1


 


__ADS_2