BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MEMANCING ERICH (2)


__ADS_3

Erich... Erich... sejak kapan kamu jadi orang yang begitu cerewet seperti barusan? Jadi orang yang bisa memberikan penjelasan dengan begitu panjang lebar tentang orang lain yang biasanya kamu tidak pernah perduli?


Alvero berkata dalam hati sambil meringis menahan tawa gelinya, melihat bagaimana Erich mulai terlihat gelisah, bukan seperti Erich yang dia kenal, yang biasanya selalu bersikap tidak perduli dan berwajah dingin.


"Sebenarnya memang ada plus minusnya untuk masalah itu. Baik Cleosa menjadi humas di perusahaan Adalvino ataupun sebagai humas di istana. Jika dia menjadi humas di perusahaan, dia akan memiliki koneksi yang luas dan bisa mengembangkan kemampuan sosialnya. Namun kamu harus ingat, jika bekerja sebagai humas di istana, dia akan mendapatkan gaji lebih tinggi daripada humas di perusahaan Adalvino, dan memiliki privilege lebih jika dia menjadi humas di istana. Siapapun akan sulit untuk menolak itu." Alvero berkata sambil menarik nafas panjang.


(Privilege artinya hak istimewa sosial atau privilese sosial. Privilege merupakan hak istimewa yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang, namun tidak dimiliki oleh pihak lainnya. Hak ini bisa muncul dari hasil stratifikasi sosial dengan adanya perbedaan akses untuk memperoleh barang dan mendapatkan layanan yang sama).


Kalau gadis itu bekerja sebagai humas di istana, akan semakin sedikit kesempatanku untuk bisa bertemu dengannya. Jika saja Cleosa bersedia menikah denganku, bahkan jika dia mau, dia tidak perlu bekerja lagi karena gajiku sudah lebih dari cukup untuk kami berdua. Dia juga akan mendapatkan privilege sebagai istriku yang merupakan pengawal pribadi yang mulia Alvero.


Erich berkata dalam hati, dan sedetik kemudian dia tersentak akibat kaget terhadap dirinya sendiri. Karena tanpa sadar barusan dia memikirkan untuk dapat menikah dengan Cleosa. Sebuah pemikiran yang belum pernah sekalipun Erich pikirkan selama ini terhadap gadis manapun.


Menikah bukanlah hal yang pernah dipikirkan oleh Erich, tapi entah kenapa perkataan Alvero barusan membuatnya berpikir tentang seandainya Cleosa mau menikah dengannya.


Aku pasti benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya aku berpikiran aneh tentang gadis itu. Bagaimana bisa tiba-tiba saja aku memikirkan kemungkinan untuk menikah dengannya?


Erich merutuk dalam hati sambil berusaha menahan dirinya agar Alvero tidak melihat bagaimana pembicaraan mereka siang ini sungguh membuatnya merasa tidak tenang dan tidak nyaman, membuatnya seolah berubah menjadi sosok asing, bukan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Dan jika dia bekerja sebagai humas di istana, dia akan lebih sering bekerja sama dengan permaisuri. Aku akan lebih tenang jika Cleosa adalah orang yang akan sering menemani Deanda melakukan kegiatan berkaitan dengan tugasnya sebagai permaisuri. Daripada orang lain, aku merasa Cleosa lebih tepat karena hubungan antara permaisuri dan Cleosa yang cukup dekat." Alvero menyambung lagi perkataannya.


Mendengar perkataannya, Alvero bisa melihat bagaimana Erich semakin terlihat bertambah gelisah.


"Permaisuri mengatakan bahwa Cleosa adalah anak terakhir di keluarga mereka yang belum menikah, sehingga mereka ingin secepatnya Cleosa menikah, selagi kakek dan neneknya juga masih sehat. Aku hanya ingin membantu Cleosa dan Reyno agar mereka bisa saling mengenal dengan lebih dekat dan baik mulai sekarang. Supaya keinginan keluarganya agar dia bisa segera menikah dapat tercapai secepatnya." Kali ini perkataan Alvero sukses membuat Erich membeliakkan matanya, dan tanpa sadar membuat tangan kanan Erich terkepal.


"Yang Mulia... mohon dipertimbangkan ulang untuk rencana Yang Mulia terhadap Nona Cleosa." Mendengar perkataan Erich yang diucapkannya sambil sedikit menundukkan kepalanya, dengan sikap dan nada bicara yang terdengar memohon membuat Alvero menyungingkan senyumnya.


"Bukankah kamu tadi mengatakan kamu tidak memiliki perasaan terhadap Cleosa? Kenapa sekarang kamu ingin ikut campur dengan pekerjaan dan keinginan keluarga Cleosa?" Erich hanya bisa terdiam kembali mendengar pertanyaan dari Alvero, merasa mati kutu dan tidak dapat menanggapi perkataan Alvero.


"Ah, sudahlah, aku juga tidak mau mendengar pengakuan cintamu. Lebih baik itu kamu ucapkan kepada orang yang bersangkutan. Aku akan ke penthouse sebentar sebelum permaisuri kembali ke kantor." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kantornya.


"Ah, ya... Erich! Untuk map itu, jika kamu tidak memerlukannya, kembalikan file berisi data pribadi Cleosa itu ke bagian keamanan perusahaan Adalvino, agar orang lain tidak melihat data penting seperti itu. Serahkan sendiri file itu agar tidak jatuh ke tangan orang lain yang tidak berkepentingan." Alvero memberikan perintah kepada Erich, sengaja melakukan itu karena sejak tadi sebenarnya Alvero tahu berkali-kali pandangan mata Erich melirik ke arah map berisi data-data pribadi Cleosa itu.


"Baik Yang Mulia." Erich menjawab singkat perintah dari Alvero sambil menarik nafas dalam-dalam.


# # # # # # # #

__ADS_1


"Ah, akhirnya yang begitu ditunggu, kembali juga ke kantor." Deanda yang baru saja memasuki kantor Alvero, langsung mendapatkan sapaan hangat dari suaminya itu.


"Kenapa? Apakah kantormu menjadi berubah sesepi kuburan karena tidak ada aku di sini?" Deanda bertanya dengan senyum tersungging di wajah cantiknya, membuat Alvero langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Deanda.


"Bukan lagi sepi, tapi terasa begitu kosong." Alvero berkata sambil memeluk tubuh Deanda, dan langsung mengelus lembut punggung istrinya, seolah sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, membuat Deanda hanya bisa tersenyum di dalam pelukan Alvero yang baginya terasa begitu hangat dan nyaman.


"Sudah waktunya bekerja my Al." Deanda berkata sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Alvero yang langsung tersenyum melihat sikap Deanda yang berusaha menghindarinya.


"Sebentar saja. Aku sudah memberikan waktu istirahatmu untuk teman-temanmu. Tidak bisakah aku mendapatkan sedikit hadiah karena kebaikan hatiku hari ini?" Alvero berkata dengan kedua lengannya tetap memeluk tubuh Deanda dengan begitu erat, sehingga Deanda tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya.


“Hah, kamu ini, sikapmu sudah seperti seorang suami yang tidak bertemu istrinya selama berminggu-minggu.” Deanda berkata sambil meletakkan kedua telapak tangannya pada dada Alvero dan berusaha mendorongnya dengan pelan.


Mendengar perkataan Deanda, Alvero bukannya menjauhkan tubuhnya, justru menempelkan hidung mancungnya di hidung Deanda.


Bahkan beberapa detik kemudian, dengan sengaja hidung mancung Alvero justru beralih ke leher jenjang Deanda, dan mulai menciumi leher Deanda dengan mesra. Beberapa kali Alvero menarik nafas dalam-dalam dengan hidung mancungnya, menghirup udara di sekitar leher Deanda yang bercampaur dengan bau harum tubuh Deanda yang selalu berhasil membuatnya merasa begitu nyaman.


“Aku mau hadiahku sweety. Kira-kira hadiah apa yang akan kamu berikan untukku hari ini?” Alvero kembali menagih handiahnya, membuat Deanda tersenyum geli.

__ADS_1


"Untuk hadiah, bukannya hampir setiap hari kamu sudah mendapatkannya my Al?" Deanda berbisik pelan dan dengan sengaja, justru balik menggoda Alvero dengan mengecupkan bibirnya ke telinga Alvero setelah selesai mengucapkan pertanyaannya kepada Alvero.


__ADS_2