BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KENANGAN BURUK DI PANTAI RENHILL


__ADS_3

"Tidak sering, tapi pernah. Terakhir kali aku mengunjungi ke tempat ini 15 tahun yang lalu. Dan itu bukan sesuatu yang indah untuk dikenang." Deanda yang awalnya berjalan sedikit di depan Alvero sambil menarik tangan suaminya itu, langsung menoleh membeliakkan matanya mendengar perkataan Alvero tentang pantai yang sedang mereka kunjungi sore ini.


"My Al... kenapa denganmu? Bukankah pantai ini sangat indah? Lihat! Bahkan di sana terlihat tanjung yang indah. Juga di sana, ada tebing dimana dari atas sana kita bisa melihat pemandangan indah di sekitar laut. Di bawah tebing yang indah itu, di bawahnya terdapat hutan bakau!" Deanda berkata dengan nada sedikit keras untuk mengalahkan suara deburan ombak, sambil salah satu tangannya menunjuk ke tempat-tempat yang baru dia sebutkan tadi.


(Tanjung adalah daratan yang menjorok ke laut, atau bisa dikatakan bahwa tanjung adalah daratan yang dibatasi oleh laut di ketiga sisinya. Tebing atau jurang adalah formasi bebatuan yang menjulang secara vertikal. Tebing terbentuk akibat dari erosi. Tebing umumnya ditemukan di daerah pantai, pegunungan dan sepanjang sungai. Tebing umumnya dibentuk oleh bebatuan yang tahan terhadap proses erosi dan cuaca).


Mendengar perkataan Deanda, Alvero sedikit mengernyitkan dahinya, merasa heran karena Deanda sepertinya pernah ke tempat ini, sehingga sedikit banyak mengetahui tentang tata letak pantai ini. Pantai yang sebenarnya menyimpan kenangan buruk bagi Alvero.


Karena disinilah, di pantai Renhill ini, 15 tahun yang lalu, Alvero mengalami peristiwa penculikan dan hampir saja dibunuh oleh Eliana, kalau saja gadis kecil itu tidak menyelamatkannya.


"Sweety... apa kamu pernah datang ke tempat ini?" Alvero baru saja bertanya kepada Deanda yang tidak mendengar pertanyaan Alvero yang memang diucapkannya dengan suara standar, sedang suara debur ombak yang lebih keras datang dan menyapu suara Alvero


Karena tidak mendengar perkataan Alvero, dengan santai Deanda menarik tangan Alvero dan tiba-tiba mengajaknya berlari ke arah tanjung yang tadi ditunjukkannnya kepada Alvero.


"My Al! Di tanjung sana pemandangannya sangat menarik! Ayo kita kesana! " Deanda kembali berteriak sambil tersenyum dan tetap mengajak Alvero berlari.


"Eh..." Alvero hanya bisa terkejut sambil mengikuti gerakan Deanda yang berlari ke arah tanjung itu, dimana di sana terlihat beberapa tempat duduk yang terpahat dari batu-batu besar dan disusun rapi.

__ADS_1


Tempat duduk yang terbuat dari batu-batu besar itu terlihat memiliki bentuk yang tidak simetris dan tidak sama, karena di waktu-waktu tertentu saat air laut naik, dan mulai menutupi sebagian tanjung itu, hantaman ombak di batu-batu itu menyebabkan batu-batu itu sedikit demi sedikit terkikis dan sedikit demi sedikti mulai berubah bentuk.


Beberapa pengawal yang sedang mengawal raja dan permaisuri mereka berusaha mengikuti langkah-langkah Alvero dan Deanda dari jauh, termasuk Erich yang hanya mengamati dari jauh tanpa berani mendekat ke arah Alvero dan Deanda agar tidak dianggap sebagai pengganggu.


Karena tanjung yang ditunjuk oleh Deanda berada cukup jauh, Alvero harus mengikuti gerakan lari dari Deanda untuk waktu yang cukup lama. Dan entah kenapa, bagaimana cara Deanda menarik tangannya saat ini sambil mengggenggam tangannya dan mengajaknya berlarian, mengingatkan Alvero tentang kejadian 15 tahun lalu, hari dimana dia diculik saat itu.


Ada perasaan hangat, aman dan begitu nyaman yang mengalir dari kehangatan genggaman tangan Deanda yang mengalir ke arah dada Alvero. Dan perasaan itu sungguh mengingatkan Alvero terhadap sosok gadis kecil yang sudah menjadi penyelamatnya waktu itu.


"Ayo my Al! Kenapa denganmu? Apa tenagamu sudah terkuras habis karena pertandingan kita tadi di kamp pelatihan?" Deanda berkata dengan suara keras sambil tertawa lebar, menoleh ke arah Alvero yang karena pikirannya tentang ingatan di masa lalunya, membuatnya tanpa sadar mengurangi kecepatan larinya, sehingga Deanda memprotesnya.


Hah! Kenapa istriku hari ini menjadi orang yang begitu tidak sabaran? Apa dia sudah mulai tertular kebiasaanku?


"Ahhhhh....!" Begitu sampai di tanjung itu, Deanda berteriak sekeras-kerasnya ke arah laut, setelah itu tersenyum lebar dengan wajah puas, membuat Alvero tertawa.


Begitu Deanda puas setelah berteriak beberapa kali ke arah laut dengan sekencang-kencangnya, Deanda membalikkana tubuhnya, berhadap-hadapan dengan Alvero. Melihat wajah ceria istrinya, Alvero yang sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di perut ikut tersenyum.


"Apa kamu menyukai tempat ini sweety?" Tanpa menjawab pertanyaan Alvero, Deanda langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat sambil senyum manis tetap tersungging di bibirnya.

__ADS_1


"Pantai yang begitu indah, siap yang bisa menolak pesonanya? Memangnya kamu tidak suka pantai ini? Kenapa? padahal boleh dibilang, pantai ini tidak kalah cantik dengan pantai Tavisha...."


"Tidak ada yang lebih cantik dari permaisuriku." Alvero memotong perkataan Deanda dengan cepat, membuat Deanda mencebikkan bibirnya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya diri kalau kecantikanmu mengalahkan pantai ini?" Alvero justru bertanya balik kepada Deanda yang mengubah cebikan bibirnya jadi sebuah senyuman.


"Mana ada orang membandingkan kecantikan alam dengan kecantikan manusia?" Deanda berkata sambil menatap Alvero yang wajahnya terlihat serius.


"Bukannya manusia adalah bagian dari alam? Lagipula.... Terserah aku. Kamu tahu sebagai raja aku berhak melakukan dan memikirkan hal yang mungkin bagi orang lain tidak masuk akal. Lagian, aku yang memuji permaisuriku sendiri, kenapa kamu yang merasa tidak enak hati dan memprotesnya?" Deanda sedikit melotot mendengar perkataan Alvero yang mulai memamerkan statusnya dengan wajah dingin dan sikap arogannya yang kembali muncul, membuat ingatan Deanda kembali ke saat dimana untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Alvero ketika mengejar seorang pencopet di depan mall.


Waktu itu, di mana dia bertemu dengan Alvero, waktu dimana sejak detik itu juga, roda kehidupan Deanda mulai berputar, dan kehidupan Deanda perlahan tapi pasti, berubah menjadi seratus delapan puluh derajat.


"Baik Yang Mulia. Kalau begitu, terserah apapun pendapat Yang Mulia tentang pantai ini." Deanda berkata sambil memberikan salam penghormatan kepada Alvero yang langsung tergelak melihat apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Deanda barusan.


"Kamu ini..." Dengan gerakan cepat Alvero meraih kepala Deanda dan menarik ke dadanya.


Setelah itu, dengan lembut dikecupnya puncak kepala Deanda beberapa kali sebelum akhirnya dilepaskannya kembali kepala Deanda. Begitu Alvero melepaskan kepalanya, Deanda kembali meraih tangan Alvero, kali ini menariknya untuk mengajaknya duduk di atas batu, duduk bedampingan dengannya sambil memandang ke arah laut.

__ADS_1


Begitu mereka duduk berdampingan, Alvero kembali meraih kepala Deanda dan menariknya mendekat ke arah bahunya, menyandarkan kepala istrinya di sana. Deanda yang menyadari bagaimana mesranya Alvero memperlakukannya, hanya bisa tersenyum dengan wajah terlihat begitu bahagia.


__ADS_2