
Alvero maupun Enzo yang melihat kejadian mengharukan di depan mata mereka dari jarak yang cukup jauh, sama-sama menarik nafas panjang sambil tersenyum lega melihat hasil akhir dari kejadian itu.
Kedua laki-laki tampan keturunan dari Adalvino itu sama-sama merasa lega melihat bagaimana Deanda dan Alexis yang akhirnya bisa saling berpelukan untuk bisa melepaskan rasa rindu dan sayang mereka, setelah saling memaafkan satu dengan yang lain.
My sweety, akhirnya kamu bisa membuka hatimu kembali untuk papa Alexis. Aku sungguh bangga kamu bisa melakukan itu dengan begitu cepat. Merelakan dirimu untuk membuka pintu maaf atas semua kesalahan papa Alexis kepadamu. Hal yang sebenarnya tidak mudah untuk dilakukan. Kamu dan papa Alexis, kalian berdua sama-sama memiliki sisi heroik yang tidak dimiliki oleh orang lain, yang pantas untuk diacungi jempol. Kamu membuatku semakin terpesona dan terkagum-kagum padamu, my beloved wife.
Alvero berkata dalam hati sambil tersenyum dengan wajah ikut bahagia melihat semuanya hampir berada di tempat yang sudah seharusnya. Tinggal menunggu kedatangan Larena dan kembalinya Larena ke sisi Vincent. Kembali membuat keluarga mereka bersatu dan utuh.
Akhirnya kamu menemukan kembali kebahagiaanmu sebagai seorang anak yang sudah lama kehilangan sosok seorang ayah, Deanda. Sekarang tinggal satu hal yang harus kita lalukan, menendang keluar si ular betina itu dari istana. Agar tidak adalagi peristiwa mengerikan sekaligus menyedihkan seperti yang sudah terjadi di masa lalu. Menyempurnakan kebahagiaan hari ini dengan kembalinya auntie Larena di tengah-tengah keluarga kalian.
Enzo berkata dalam hati sambil ujung-ujung jarinya menggaruk alis tebalnya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
Walaupun Enzo tidak begitu mengenal tentang sosok Alexis, tapi dari cerita yang dia dengar sepanjang hari ini, dia tahu bahwa Alexis merupakan sosok pria hebat yang sudah banyak berjuang untuk keluarga kerajaan, terutama keluarga Adalvino, tanpa perduli dengan kebahagiaannya sendiri.
Alvero ini memang selalu beruntung. Memiliki istri yang begitu cantik dan begitu baik hati. Tapi bukan hanya sekedar itu saja. Dia memiliki seorang papa mertua yang begitu hebat, ditambah lagi.... Sekarang dia memiliki seorang adik yang juga cantik dan dididik dengan baik oleh uncle Alexis. Auntie Larena yang ternyata masih hidup, menambah kesempurnaan dari keberuntungan Alvero. Belum lagi hadirnya calon bayi milik Alvero dan Deanda.
__ADS_1
Enzo kembali berkata dalam hati dengan wajah yang terlihat ikut bahagia melihat Alvero dan Deanda.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan yang membuatnya berhati dingin, akhirnya Alvero mendapatkan kebahagiaan berlipat-lipat yang tidak pernah disangka oleh siapapun, termasuk aku. Yang pasti, itu akan membuat ibu suri Eliana terkena serangan jantung dan aku begitu tidak sabar melihat bagaimana ular betina itu menggeliat akibat kesakitan dan shock karena semua kejadian ini. Aku sungguh tidak sabar melihat kemarahan di wajah wanita ular itu. He he he
Enzo melanjutkan kata-kata dalam hatinya dengan sebuah senyum puas tersungging di wajahnya, membayangkan bagaimana reaksi Eliana jika mendengar tentang semua hal yang terjadi hari ini.
Setelah melihat Deanda mulai tenang, Alvero berjalan ke arah mereka. Alexis cukup kaget melihat kehadiran Alvero yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.
"Selamat malam Yang Mulia." Dengan gerakan sigap, Alexis menyapa Alvero sambil memberikan salam penghormatan kepada Alexis yang langsung dibalas sebuah senyum dan gerakan tangan dari Alvero.
"Papa Alexis, seperti kata Deanda, tidak sepatutnya Papa membungkukkan tubuh di hadapan anaknya seperti barusan." Kali ini Alexis hanya bisa diam terpaku tanpa bisa berkata-kata lagi, karena apa yang barusan dikatakan oleh Alvero memiliki arti yang sangat dalam baginya.
"Sebagai menantu, aku bahkan belum menyapa dan mengucapkan terimakasih dengan benar. Terimakasih karena Papa sudah merelakan putri cantik Papa untuk menjadi istriku." Kata-kata Alvero sukses membuat Alexis bertambah kaget.
Belum lagi rasa kaget yang menguasai Alexis berakhir, tiba-tiba saja Alvero mendekat ke arah Alexis dan langsung memeluknya dengan hangat, membuat airmata Deanda yang hampir saja berhenti, kembali membasahi pipinya, melihat bagaimana Alvero yang menyambut Alexis sebagai ayah mertuanya dengan hangat.
__ADS_1
Begitu juga dengan Alaya, yang pada akhirnya ikut menangis kembali melihat bagaimana Alvero memeluk Alexis dengan sikap hormat sekaligus hangat.
Haist... apa-apaan kalian ini. Kenapa sepanjang hari ini kenapa kalian semua selalu membuat aku hampir menangis seperti seorang pria cengeng.
Enzo berkata dalam hati dengan buru-buru mengalihkan pandangan matanya dari sosok Alvero dan Alexis yang sedang berpelukan, karena Enzo sendiri hampir tidak bisa menahan air mata harunya melihat kejadian di depannya saat ini.
Apalagi tadi siang Enzo juga sudah mendengar tentang bagaimana perjuangan Alexis di masa lalu untuk Larena dan Alaya, yang sempat membuatnya mengorbankan kebahagiaan putri tunggalnya sendiri.
"Seharusnya saya yang berterimakasih kepada Yang Mulia karena sudah bersedia menikahi putri saya, yang hanya merupakan putri dari laki-laki rakyat biasa seperti saya. Semoga dia bisa menjadi istri yang baik dan layak bagi Yang Mulia." Begitu Alvero melepaskan pelukannya, Alexis segera membalas ucapan Alvero yang langsung tersenyum sambil melirik ke arah Deanda yang mulai menangis lagi.
"Kami berdua, sama-sama beruntung dipertemukan oleh Tuhan dan bisa menikah, untuk saling melengkapi." Alvero berkata pelan sambil matanya menatap dalam-dalam ke arah wajah Deanda.
"Ah, baru kali ini istriku yang biasanya begitu tegar, terlihat begitu cengeng. Sampai-sampai wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis." Alvero berkata sambil merengkuh bahu Deanda dan membawa tubuh wanita cantik itu dalam pelukannya.
Dengan gerakan lembut, Alvero menggerakkan jari-jari tangannya untuk menghapus air mata Deanda yang membasahi pipinya. Dan seperti kata Alvero, mata dan wajah Deanda terlihat bengkak karena banyaknya dia menangis sepanjang hari ini, membuat Alvero sedikit menahan nafasnya sambil mengelus-elus lembut lengan atas Deanda, berharap agar ke depannya Deanda bisa hidup lebih bahagia karena papa yang selalu dirindukannya sudah kembali ke sisinya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, semuanya sudah beres kan. Kasihan bayi dalam perutmu kalau harus melihat mamanya menangis sepanjang hari ini. Belum lagi wajahmu yang terlihat bengkak. Apalagi besok kamu akan menghabiskan waktu bersama Alea dan Abella. Jangan-jangan mereka berpikir aku yang sudah membuatmu sakit hati." Alvero berkata dengan wajah menggodanya, membuat mau tidak mau Deanda jadi tersenyum.
"Ah, permaisuriku memang terlihat begitu cantik saat tersenyum." Kata-kata godaan Alvero kepada Deanda sukses membuat yang lain ikut tersenyum, sedang Deanda, wajahnya langsung memerah karena godaan Alvero yang kadang tidak perduli dengan situasi dan kondisi yang ada di sekitarnya saat bersama wanita tercintanya.