BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
OBSESI YANG TIDAK TERKENDALI


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh Enzo, Alvero justru langsung menarik tangan Enzo untuk mendekat ke arahnya, kemudian menyeret Enzo agar sedikit menjauh dari Deanda dan yang lain agar pembicaraan mereka selanjutnya tidak terdengar oleh yang lain.


"Apa maksud perkataanmu barusan?" Mendengar pertanyaan Alvero yang dibisikkan dengan suara pelan kepada Enzo, Enzo mengernyitkan dahinya dengan wajah terlihat heran.


"Hei, jangan bilang kalau kamu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tadi barusan aku katakan." Mendengar perkataan Enzo, Alvero hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dengan wajah polos karena dia memang tidak mengerti arah pembicaraan Enzo tadi.


"Wahhh... kamu tidak mengerti? Haruskah aku memberimu pelajaran private kepadamu tentang "itu"? Tapi bukannya kondisi ini terbalik? Harusnya kamu yang sudah menikah mengajarkan hal seperti itu padaku." Enzo kembali berbisik sambil melihat ke arah Deanda, Ernest dan Alea yang terlihat mengobrol bertiga sambil menunggu kedua keturunan Adalvino yang sedang berbicara serius dengan saling berbisik-bisik itu.


Enzo benar-benar ingin memastikan bahwa mereka bertiga tidak bisa mendengar pembicaraannya dengan Alvero.


"Bukan hanya istrimu, kamu juga akan kesulitan berjalan jika terlalu banyak melakukan hal seperti itu. Ah, tapi lupakan saja. Dengan usiamu yang sekarang justru dimana puncak staminamu mungkin itu tidak akan jadi masalah. Kamu tidak akan merasakan lelah. Hanya perhatikan saja makananmu jangan sampai kamu loyo karena kurang asupan gizi, atau lututmu akan bermasalah. He he he." Akhirnya Enzo kembali berbisik sambil tersenyum geli, tidak menyangka ternyata di balik sikap arogan dan posesifnya Alvero terhadap istrinya, Alvero adalah laki-laki yang begitu polos.


Menyadari itu Enzo hampir saja tidak bisa menahan tawanya, tapi kali ini dia benar-benar menahan dirinya untuk tidak tertawa agar tidak membuat Alvero tersinggung atau merasa diremehkan. Bagaimanpun Alvero adalah seorang laki-laki, apalagi posisinya sebagai raja, dia pasti memiliki ego cukup tinggi dimana dia tidak mau terlihat lemah atau tidak mampu, dan Enzo tahu pasti dia harus menjaga ego Alvero juga.


"Kenapa bisa terjadi seperti itu? Apa hubungannya hal itu dengan kemampuan berjalan?" Dengan polosnya Alvero bertanya lagi, membuat Enzo mendecakkan bibirnya.

__ADS_1


"Dengan berjalannya waktu kamu akan mengerti dengan sendirinya. Pengalaman akan membawamu mengerti dengan baik hal yang tadi aku katakan." Enzo berkata lirih sambil menepuk bahu Alvero yang hanya bisa mengernyitkan dahinya.


Ternyata bukan hanya masalah catur, pengetahuanmu masalah wanita masih kalah jauh dariku. Walaupun aku belum menikah dan belum pernah melakukannya, tapi aku tidak sebodoh Alvero. Ah, leganya... paling tidak ada beberapa hal Alvero masih kalah denganku.


Enzo berkata dalam hati dengan bibir bersiul riang sambil menyusul Alvero yang sudah mulai kembali berjalan ke arah Deanda. Menyadari bahwa saudara sepupunya yang hebat itu tidak dalam semua hal dapat mengalahkannya, Enzo terlihat senang. Dan hal itu tentu saja membuat Enzo merasa begitu bangga hari ini.


Wah.... Enzo belum menikah tapi kenapa dia bisa lebih tahu banyak hal tentang wanita dibanding aku? Apa bukan hal yang memalukan jika aku justru belajar hal seperti itu darinya? Hah... benar-benar.... Terserahlah, masa bodoh. Belum tentu yang dikatakan Enzo itu benar. 


Alvero berkata dalam hati sambil mendekat ke arah Deanda, menepuk lembut bagian belakang punggung istrinya, untuk memberi tanda agar Deanda mengikutinya, melangkah menuju ruang makan istana, bersiap menikmati makan malam bersama anggota keluarga yang lain.


# # # # # # #


Ernest yang membaca pesan dari Alvero langsung mengernyitkan dahi.


Jika ada yang bertanya siapapun, beritahu mereka kita akan membantu pangeran Enzo untuk mempersiapkan acara ulang tahunnya. Siapkan mobil, kita akan segera berangkat setelah acara makan malam selesai.

__ADS_1


Alvero kembali mengirimkan pesan kepada Ernest sebelum kembali menyuapkan sendok ke dalam mulutnya sambil tersenyum ke arah Deanda yang sedang melihat ke arahnya tanpa sengaja. Melihat Alvero tersenyum, Deanda langsung membalas senyuman itu dengan sedikit ragu, karena kali ini Deanda merasa Alvero sedikit memaksakan senyumnya, seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Alvero, dan itu pasti bukan sesuatu yang sepele.


Begitu menyadari bahwa tidak memungkinkan bagi Deanda untuk bertanya langsung kepada Alvero untuk sekarang ini, Deanda memilih untuk mengalihkan pandangan matanya. Sekilas diliriknya kursi yang biasa diduduki oleh Desya tampak kosong. Dari Alea tadi Deanda sempat mendengar bahwa Desya tidak mau menunggu sampai besok. Setelah Alvero menyampaikan keputusannya, tanpa berpamitan kepada siapapun dan membawa apa-apa Desya pergi meninggalkan istana. Hal itu membuat para pelayan di bawah perintah Eliana sibuk untuk membereskan barang-barang milik Desya, untuk dikemas dan dibawa ke apartemen milik keluarga Eliana.


Dion yang melihat mata Deanda sedang melihat ke arah kursi kosong milik Desya langsung menyunggingkan senyum dengan tatapan mata terpaku ke arah Deanda.


Bagaimana bisa saat aku tahu kamu sudah menjadi milik kak Alvero bahkan tidak bisa menghalangi dan menghentikan hatiku untuk tetap dapat memilikimu. Bahkan aku merasa menjadi orang gila yang hanya dengan melihat sosokmu dalam keadaan baik-baik saja sungguh membuat aku merasa senang dan bahagia lebih dari apapun juga. Kamu membuat pikiranku tidak waras, membuatku merasa bukan lagi diriku lagi. Aku tidak perduli lagi orang menilai aku begitu tergila-gila dan terobsesi padamu. Yang pasti sekecil apapun kesempatan yang aku miliki, aku akan menarikmu ke arahku dan merebutmu dari kak Alvero. Aku bisa benar-benar akan menjadi gila jika tidak bisa mendapatkanmu.


Dion berkata dalam hati sambil matanya tetap memandang dengan tatapan mata begitu mengharapkan Deanda untuk membalas tatapan matanya dan tersenyum ke arahnya, walaupun sepertinya itu harapan yang sungguh mustahil mengingat selama ini Deanda tidak pernah terlihat perduli padanya.


Namun begitu Dion melihat mata Alvero yang menatapnya dengan begitu tajam karena tertangkap basah sedang mengamati Deanda, membuat Dion langsung berdehem dan mengalihkan pandangan matanya dari Deanda dengan perasaan tidak rela.


Hah! Kamu benar-benar laki-laki tidak tahu diri! Bagaimana bisa kamu menatap kakak iparmu dengan tatapan seperti itu? Benar-benar tidak memiliki sopan santun! Tidak pantas menjadi seorang Adalvino. Kalau saja kamu bukan adik tiriku, aku akan mencari cara agar bisa menghajarmu! Memberikan pelajaran terutama kepada kedua matamu itu agar tidak kamu gunakan dengan sembarangan, memandangi istri orang seperti itu!


Alvero memaki Dion dalam hati sambil menahan nafasnya, rasanya dia ingin sekali tangannya yang sekarang sedang terkepal memukul wajah Dion yang selalu tersenyum ke arah Deanda, yang bagi Alvero seperti sebuah senyuman seorang yang sedang terganggu jiwanya karena begitu tergila-gila dengan sesuatu yang bukan miliknya dan tidak mungkin akan bisa dia miliki.

__ADS_1


Beberapa saat berikutnya, Alvero sengaja sering-sering menatap ke arah Dion, agar adik tirinya itu tidak lagi berani mencuri pandang ke arah permaisurinya yang justru terlihat tenang, tidak mengetahui bahwa saat ini ada dua orang pria yang sedang bertarung melalui pandangan mata mereka karena sosok cantik dan mengagumkan yang dia miliki. Jika saja pandangan mata bisa membunuh orang, mungkin salah satu dari mereka sudah tergeletak tidak bernyawa karena itu.


Begitu acara makan malam selesai, yang lain sudah mulai pergi meninggalkan ruang makan dan berpamitan kepada Alvero, namun Alvero memilih untuk tetap diam di tempat duduknya, membuat Deanda hanya bisa mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh suaminya, tetap duduk diam di kursinya, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Alvero selanjutnya.


__ADS_2