BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BAGI KAMI, DEANDA ADALAH YANG TERBAIK


__ADS_3

Sejak Deanda mulai mengobrol dengan Alaya, akhirnya mereka yang ada di sana ikut serta dalam obrolan itu. Sehingga tanpa sadar, Deanda menghabiskan sisa waktu makan siangnya dengan mengobrol santai dan bercanda dengan para sahabatnya, dan juga Alaya.


Seolah melupakan waktu karena begitu asyik bertukar cerita dengan teman-temannya, Deanda sedikit tersentak begitu melihat notifikasi dari handphone miliknya yang memiliki nada khusus jika yang mengirimkan pesan adalah Alvero.


Sweety, waktunya kembali ke kantor. Jangan terlalu lama membiarkan kursi tempat kerjamu kosong. Jika kamu tidak segera kembali, aku tidak menjamin jika tidak menyusul ke sana dan membawamu pergi dalam gendonganku.


Pesan dari Alvero yang memintanya untuk segera kembali ke kantor membuat Deanda tersenyum simpul, membuat yang lain langsung ribut.


"Wooo...." Secara bersamaan mereka yang ada di situ langsung menggoda Deanda yang masih tersenyum simpul setelah membaca pesan dari suaminya.


"Pesan dari siapa itu?" Abella langsung menggoda Deanda sambil menatap teman-temannya bergantian dengan senyum menggoda, membuat yang lain tertawa.


"Maaf, aku harus segera kembali ke kantor sekarang. Yang mulia sedang membutuhkanku." Deanda menjawab pertanyaan teman-temannya dengan senyum di wajahnya.


"Wiks.... membutuhkanmu? Sebagai asisten pribadi atau sebagai istri?" Pertanyaan terus terang dari Abella cukup membuat wajah Deanda memerah.

__ADS_1


"Apa perlu aku jelaskan secara detail? Aku takut kalian akan menghabiskan waktu kalian di café ini jika aku menceritakannya dengan detail." Deanda balik menggoda teman-temannya.


"Tidak! Tidak perlu, kami masih menyayangi nyawa kami. Cepatlah pergi sebelum yang mulia mengirimkan algojo kepada kami untuk memberikan hukuman penggal karena berusaha menahan istrinya kembali ke sisinya." Cleoasa langsung menjawab candaan Deanda dengan cepat sambil memasang wajah pura-pura ketakutan, membuat Deanda tertawa kecil.


"Ok, aku harus segera kembali kepada yang mulia. Selamat bekerja kembali. Lain waktu kita harus mengulang makan siang kita seperti hari ini." Deanda berkata sambil meraih tas kerja yang tadinya dia letakkan di kursi yang didudukinya, di bagian belakang, dekat dengan sandaran kursi.


"Apa yang mulia Alvero benar-benar mencintai permaisuri Deanda?" Pertanyaan dari Alaya yang diucapkan setelah sosok Deanda menghilang di balik pintu keluar cafe, spontan membuat Abella, Cleosa dan Clare tersentak kaget karena pertanyaan itu terdengar cukup aneh bagi mereka.


"Tentu saja. Aneh sekali pertanyaanmu? Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu? Apa yang membuatmu berpikir bahwa yang mulia Alvero tidak benar-benar mencintai Deanda? Kalau tidak mencintai Deanda, kenapa yang mulia menjadikan Deanda permaisurinya? Bahkan mungkin kamu tidak tahu, sejak awal yang mulia Alvero yang memaksa Deanda untuk segera menikah dengannya? Apa kamu merasa sikap mereka seperti orang yang berpura-pura menjadi pasangan yang terlihat mesra?" Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Abella membuat Alaya sedikit kaget dan bingung untuk menjawabnya.


"Eh... tidak ada. Aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya ingin tahu saja, apakah mereka benar-benar pasangan yang saling mencintai." Alaya berkata sambil mencoba tersenyum kepada yang lain.


"Ah, mana mungkin... aku justru senang melihat kebersamaan mereka berdua. Mereka terlihat sangat cocok antara yang satu dengan yang lain." Akhirnya Alaya berusaha menenangkan para temannya yang mulai terlihat gusar karena pertanyaan aneh dari Alaya tentang hubungan Alvero dan Deanda.


"Bagaimapun, tidak mudah bagi seorang Deanda untuk berada di sisi yang mulia. Ada banyak hal yang harus dia korbankan walaupun dia juga mendapatkan banyak hal ketika menikah dengan yang mulia yang mungkin tidak akan pernah  bisa dia dapatkan jika dia menikah dengan laki-laki dari kalangan rakyat biasa seperti kita. Yang pasti kebebasannya sebagai seorang rakyat biasa yang bisa sewaktu-waktu pergi bersenang-senang tanpa beban, tidak bisa lagi dia lakukan. Yang ada sekarang dia justru semakin sibuk dan pasti banyak hal tentang masalah kerajaan yang juga harus ikut dia pikirkan dengan baik." Clare berkata sambil melirik ke arah Alaya, berharap Alaya mengerti bahwa Deanda adalah wanita hebat yang layak berada di sisi Alvero.

__ADS_1


"Benar, hanya dengan membayangkan apa yang sekarang menjadi tugas dan tanggung jawab Deanda sebagai permaisuri sekaligus asisten pribadi yang mulia saja, sudah membuat bulu kudukku berdiri. Kalau itu terjadi padaku. Bisa jadi tiap kali ada masalah aku pingsan dan mimisan karena tidak sanggup untuk menghadapinya." Cleosa menambahkan perkataan Clare, membuat Abella mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


(Mimisan adalah istilah yang dikenal secara medis sebagai epistaksis atau pendarahan hidung. Epistaksis adalah kondisi yang ditandai dengan keluarnya darah melalui lubang hidung. Kondisi ini relatif umum terjadi sehubungan dengan lokasi hidung yang berada di tengah-tengah wajah serta jumlah pembuluh darah yang ditemukan pada hidung. Mimisan jarang menandakan sesuatu, tetapi dalam kasus tertentu, jika dibiarkan dapat mengancam hidup seseorang. Pada umumnya, terdapat dua mimisan: Mimisan di bagian depan - kebanyakan hidung berdarah terjadi di bagian depan, dimana darah mengalir dari dinding antara dua kanal (sekat) di dalam hidung. Area yang rentan ini, disebut Little's area, kaya akan pembuluh darah sensitif yang halus dan rentan terhadap kerusakan. Mimisan di bagian belakang - jenis mimisan yang tidak biasa ini terjadi ketika pendarahan berasal dari rongga hidung, terletak di dalam hidung antara otak dan langit-langit mulut. Kebanyakan mimisan di bagian belakang cenderung lebih serius daripada mimisan di bagian depan. Kasus yang demikian perlu mendapatkan perhatian medis).


"Untung saja itu adalah Deanda, yang sejak kecil dikenal dengan kecerdasan dan ketegarannya. Walaupun sulit dan berat, jika itu Deanda, aku yakin dia pasti bisa menghadapinya. Apalagi, aku dengar dari Deanda sendiri, yang mulia begitu perhatian dan menyayanginya." Abella berkata sambil bangkit dari duduknya.


"Ayolah, sudah waktunya kembali ke tempat kita bekerja. Aku berharap bisa secepatnya kembali memiliki waktu mengobrol dengan Deanda seperti hari ini." Abella kembalia berkata dengan menggerakkan tangannya, mengajak teman-temannya untuk segera kembali bekerja.


# # # # # # #


“Erich, apa kamu menyukai Cleosa?” Mendengar pertanyaan dari Alvero yang tiba-tiba diucapkannya begitu mereka berada di kantor Alvero, Erich langsung tersentak kaget, benar-benar tidak menyangka Alvero akan mempertanyakan hal seperti itu kepadanya.


Aduh… benar-benar gawat. Apa semuanya terlihat begitu jelas bagi yang mulia Alvero? Sepertinya aku tidak pernah bertemu secara pribadi dengan Cleosa, apalagi mengobrol berdua dengannya. Bagaimana yang mulia tiba-tiba berpikir aku menyukai gadis itu? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi sehingga membuat yang mulia berpikir begitu?


Erich berkata dalam hati dengan sikap tetap terdiam di tempatnya, diam membisu tanpa menjawab pertanyaan dari Alvero.

__ADS_1


 


 


__ADS_2