
"Tuan Emilio, ini kedua kakak beradik yang sebelumnya sempat aku ceritakan sedang mencari benda-benda yang tadi aku sebutkan tadi. Ini Tuan Alvi dan adik perempuannya." Begitu Erich memperkenalkan mereka berdua, Emilio bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangan ke arah mereka berdua.
"Ini Tuan Alvi." Erich langsung menyebutkan nama Alvi begitu Emilio menjabat tangan tangan Alvero.
"Alvi."
"Emilio."
Kedua pria itu salng berjabat tangan dan menyebutkan nama mereka masing-masing sambil saling memberikan senyuman kepada lawan bicaranya.
"Dan ini Nona..." Erich berkata dengan sedikit canggung karena sebelumnya selain Alvero berganti nama Alvi, mereka bertiga lupa tidak menyebutkan nama yang bisa disebutkan untuk pengganti nama Deanda dalam penyamarannya.
"Della." Deanda segera menjawab cepat sebelum yang lain melihat sikap Erich yang tiba-tiba terlihat ragu dan salah tingkah.
__ADS_1
Dengan tatapan tajam, Alvero melirik ke arah Emilio yang tampak menjabat tangan Deanda dengan cukup erat dan juga cukup lama, seolah enggan untuk melepaskannya. Emilio menjabat tangan Deanda, dengan tatapan matanya yang sedang menatap ke arah Deanda saat ini, terlihat dengan jelas menatap Deanda dengan tatapan terlihat genit. Jika saja mereka tidak dalam penyamaran, Alvero ingin sekali mendorong tubuh laki-laki yang dianggapnya kurang ajar itu dengan sekeras mungkin agar segera menjauhkan tubuh dan pandangan matanya dari sosok istrinya.
Melihat bagaimana cara Emilio menatapnya dengan tatapan terlihat bernafsu dan juga genggaman tangan yang sengaja dibuat erat dan lama, dengan gerakan pelan tapi dengan penuh tenaga, Deanda segera menyentakkan tangannya dari Emilo yang tampak terkejut. Tidak menyangka bahwa wanita cantik yang sedang ada di depannya saat ini memiliki tenaga yang cukup besar dan kuat untuk menyentakkan tangannya dengan mudah.
"Apa kamu sudah menemukan orang yang tepat untuk dapat menemukan benda-benda yang aku inginkan Tuan Ronald?" Alvero berkata sambil tangannya sengaja dia lingkarkan di bahu Deanda untuk menunjukkan bahwa jangan ada yang coba-coba untuk menggganggu adiknya itu.
Apalagi dengan jelas Alvero bisa melihat dan merasakan bagaimana Emilio dan teman-temannya menatap ke arah Deanda dengan tatapan kagum dan beberapa diantaranya tampak menatapnya dengan penuh nafsu, seperti mereka menatap para wanita penghibur yang sedang bersama mereka. Alvero bisa memastikan bahwa satu dua diantara mereka saat ini sedang memikirkan sesuatu yang tidak senonoh melihat bagaimana cara mereka menatap ke arah Deanda. Dan itu cukup membuat Alvero merasa geram dan begitu ingin menghajar mereka saat ini juga.
"Tuan Alvi dan Nona Della sengaja jauh-jauh datang dari kota Treya untuk mencari benda-benda yang tadi aku sebutkan, agar bisa memenuhi koleksi pribadi mereka." Emilio sedikit mengernyitkan dahinya, setelah itu tersenyum dengan mata terlihat sedikit berbinar.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang kaya yang berasal dari kota Treya. Namun karena kekayaan mereka didapatkan dari hasil pertanian dan perkebunan, mereka dikenal sebagai orang kaya yang polos dan cukup mudah untuk ditipu. Apalagi kota Treya yang terpencil, terdapat di bagian paling ujung barat dari kerajaan Gracetian, membuat posisinya berada paling jauh dari ibukota negara, dianggap sebagai kota yang sedikit terpencil dan jauh dari kata metropolitan.
Kota kecil yang cukup terpencil, namun dipenuhi oleh orang-orang kaya yang memiliki banyak uang dan tidak segan mengeluarkannya untuk menunjukkan status sosial mereka sebagai orang kaya walaupun bukan berasal dari golongan bangsawan.
__ADS_1
"Ah.... tadi sore orang di rumahku mengatakan bahwa ada seorang nona cantik yang berkunjung di rumah untuk mencariku. Tapi sayangnya, nona itu buru-buru pergi sebelum aku kembali ke rumah. Apa Nona Della yang tadi sore mencariku sampai datang ke rumahku?" Emilio berkata sambil menatap ke arah Deanda, sembari menikmati pemandangan wajah cantik dari wanita yang sedang berdiri di depannya saat ini.
"Ooo... iya. Benar sekali Tuan. Tadi sore aku mencari Tuan Emilio, tapi tidak bertemu karena aku dan kakakku sedang ada janji bertemu dengan yang lain. Karena itu, malam ini kami sengaja mencari Tuan Ronald untuk melanjutkan rencana kami. Tuan Ronald adalah orang yang biasa menyediakan benda-benda yang kami inginkan. Semoga selanjutnya kita bisa bekerjasama." Deanda berkata dengan sikap santai dan ramah, seolah dia dan Emilio sudah pernah bertemu sebelumnya, membuat Emilio semakin tertarik untuk berbincang dengan wanita cantik itu.
"Tentu saja Nona. Siapa yang bisa menolak tawaran untuk bekerja dengan Nona secantik Anda. Jadi kapan kita mungkin bisa makan malam berdua untuk membahas bisnis kita. Bisnis akan lebih lancar jika kita membicarakannya di meja makan sambil menikmati makanan lezat yang dapat memunculkan ide-ide baru." Mendengar perkataan Emilio, kali ini Alvero tidak bisa menahan dirinya untuk mengepalkan tangannya dan berniat berjalan mendekati Emilio.
Tanpa perduli dengan tujuan awal mereka, Alvero hampir saja melangkah maju. Tapi, dengan cepat tangan Deanda meraih pergelangan tangan Alvero dan menahannya, sekaligus dengan gerakan cepat, Deanda bergerak satu langkah ke depan dengan posisi menyerong, sengaja menghalangi tubuh Alvero agar tidak mendekati Emilio.
"Mana berani aku makan malam bersama dengan Tuan Emilio yang merupakan kekasih, bahkan calon tunangan dari countess Melva? Dan lagi, semua orang di Renhill mengetahui tentang hal itu." Emilio langsung menyunggingkan senyuman licik begitu mendengar kata-kata dari Deanda.
"Nona tidak perlu khawatir. Jika Nona menginginkanku, sekarang juga aku bisa dengan mudah meninggalkan Melva." Deanda langsung tersenyum mendengar kata-kata Emilio yang sudah mulai meracau tidak jelas karena mabuk.
"Begitukah?" Deanda berkata sambil menahan Alvero yang tampaknya mulai bertambah tidak tenang, melihat bagaimana tanpa sungkan dan malu, Emilio dengan terus terang menunjukkan bahwa dia tertarik dengan sosok Deanda.
__ADS_1
"Hah! Aku sengaja menjadi kekasih Melva agar bisa mendapatkan jaminan hidup mewah untukku dan keluargaku. Bagiku, seorang wanita adalah seperti pakaian. Aku bisa mengganti atau melemparkannya kemanapun aku suka. Apalagi jika harus menghadapi para wanita alim yang sungguh merepotkan. Sulit untuk bekerja sama jika itu menyangkut masalah bersenang-senang sebagai orang dewasa. Menganggap banyak hal yang seharusnya bisa dilakukan dan menyenangkan, tapi justru dia berpikir itu adalah sesuatu yagn tabu dan hanya bisa dilakukan setelah menikah. Ist... benar-benar pemikirann dari seorang gadis polos yang sungguh menyebalkan." Dengan santainya, Emilio mengata-ngatai Melva, sambil dengan tubuh sempoyongan berjalan ke arah Deanda dan Alvero.
Mata Emilio terlihat jelas sedang fokus menatap ke arah Deanda dengan pandangan terpesonanya, membuat kaki Alvero rasanya ingin sekali menendang ke arah wajah laki-laki yang bagi Alvero terlihat begitu menyebalkan dan memuakkan.