BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENGOREK INFO TENTANG ALAYA


__ADS_3

Mata Abella fokus menatap ke arah Cleosa yang tampak sedikit bingung begitu melihat sosok Alvero dan juga Erich tidak lagi ada di tempatnya. Tatapan mata Abella yang terlihat begitu fokus ke arah Cleosa, membuat Deanda dan yang lain langsung ikut melihat ke arah Cleosa.


"Eh, kamu sudah kembali Cleosa? Yang mulia Alvero dan Erich sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, jadi mereka pergi lebih dahulu." Dengan cepat Deanda segera memberikan penjelasan kepada Cleosa, tidak ingin Cleosa kecewa karena Erich yang tiba-tiba sudah tidak lagi ada di posisinya saat Cleosa pergi ke kamar mandi tadi.


Setelah ini, aku harus menanyakan kepada yang mulia. Setahuku, semua pertemuan dan pekerjaan penting yang mulia sudah dilakukan sepanjang pagi ini. Siang setelah jam istirahat, seharusnya yang mulia hanya ada pekerjaan mengecek file rencana pelebaran pembangunan pabrik di pinggiran kota Tavisha. Setelah itu memang ada meeting dengan para pemegang saham, tapi tidak seharusnya yang mulia pergi dengan terburu-buru karena masih ada cukup banyak waktu. Apa maksud yang mulia mengajak Erich pergi secara tiba-tiba tanpa menunggu Cleosa kembali dari kamar mandi. Itu sama saja artinya dengan sengaja membuat Cleosa agar berhenti untuk berusaha mendekati Erich.


Deanda berkata dalam hati sambil tetap berusaha memikirkan cara agar Cleosa tidak merasa kecewa.


"O, begitu. Tapi untunglah yang mulia Alvero membiarkan Deanda untuk tetap berada bersama kita. Aku sudah merindukan saat-saat kita bisa menghabiskan waktu bersama dan menceritakan pengalaman yang kita alami." Cleosa berkata dengan wajah ceria dan senyum manis tersungging di bibirnya, menyadari Deanda bisa tetap berada bersama mereka walaupun Alvero dan Erich sudah tidak lagi ada di sana.


Bagi Cleosa, sebenarnya ketidakhadiran Erich setelah dia kembali justru memberinya kesempatan untuk dia bisa bernafas lega. Rasanya sungguh merasa canggung duduk bersebelahan dengan Erich, dimana sesekali Cleosa bisa mencuri pandang dan mencium bau harum parfum yang digunakan oleh Erich.


Keberadan Erich yang begitu dekat dengan Cleosa hari ini sungguh membuat jantung Cleosa berpacu dengan cepat, sehingga membuatnya bertingkah aneh dan sembrono. Bahkan membuat dirinya yang biasanya ceria dan percaya diri menjadi seorang gadis pendiam saat berhadapan dengan Erich.


Yang pasti, Cleosa sedikit lega karena siang ini Erich sudah tidak lagi berada di sana, agar untuk sementara waktu, dia bisa sedikit menenangkan hatinya, bersiap agar ke depannya dia bisa lebih mengendalikan diri saat memiliki kesempatan untuk berada di dekat Erich lagi.

__ADS_1


"Yang mulia mungkin sedang sibuk sekarang bersama Erich, sehingga belum membutuhkan bantuanku." Deanda berkata untuk menanggapi perkataan Cleosa, berusaha menutupi bahwa sebenarnya saat ini Deanda juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba Alvero memutuskan untuk segera mengajak Erich pergi meninggalkan acara makan siang mereka.


"Alaya, kamu pasti senang sekali bisa bertemu dengan permaisuri dan makan siang bersamanya. Jarang-jarang orang seperti kita mendapat kesempatan menghabiskan waktu dengan seorang permaisuri Gracetian. Sebelum mengenal Deanda, itu pasti hanya sebuah angan-angan saja. Seperti mimpi di siang bolong. Kamu tahu Deanda, Alaya sungguh senang sekali ketika kami ajak makan siang bersamamu." Cleosa yang duduk kembali di posisinya segera berkata kepada Alaya dengan wajah cerianya kembali, setelah berhasil menguasai diri dari rasa gugupnya, apalagi Erich sudah tidak lagi berada di sana.


Mendengar perkataan Cleosa tentang bagaimana senangnya Alaya bisa bertemu dan makan siang bersamanya, membuat Deanda sedikit mengernyitkan dahinya walaupun sebuah senyum tersungging di bibirnya.


Cleosa yang melihat reaksi dari Deanda langsung tertawa kecil.


"Aku serius Deanda. Sejak kita mulai dekat, seringkali Alaya membahas apapun berita tentang kamu dan yang mulia Alvero. Bahkan saat ada kesempatan bertemu atau berpapasan dengan kalian berdua, Alaya selalu dengan semangat menatap ke arah kalian berdua." Deanda langsung tertawa mendengar cerita dari Cleosa.


"Kalian ini, aku dan yang mulia bukan pasangan artis, kenapa bisa ada cerita seperti itu?" Deanda berkata sambil melirik ke arah Alaya yang wajahnya tampak tersipu malu.


Deanda berbisik dalam hatinya.


"Alaya, dimana tempat tinggalmu? Apa kamu berasal dari kota Tavisha?" Mendengar pertanyaan Deanda, Alaya langsung menatap ke arah Deanda dengan wajah berbinar, seolah dia begitu senang bisa mengobrol dengan permaisuri Gracetian yang dikenal cantik dan baik hati itu.

__ADS_1


"Saya tinggal di apartemen kecil di dekat gedung perkantoran ini Permaisuri. Sejak kecil saya tinggal di luar negeri bersama paman dan ibu saya. Dulunya saya lahir di kota Tavisha, sempat tinggal di kota Renhill, tapi sebelum saya berumur 10 tahun, paman dan ibu saya membawa saya pergi keluar negeri dan tinggal disana, menyelesaikan kuliah, baru saya kembali ke kota ini." Penjelasan Alaya cukup membuat Deanda merasa semakin penasaran dengan sosok gadis itu.


"Lalu apa yang membuatmu kembali ke kota Tavisha ini? Atau mungkin selama kamu hidup di luar negeri, kamu sering berkunjung ke Gracetian? Apa kamu masih memiliki sanak saudara di kota ini?" Dengan hati-hati, Deanda berusaha mengorek informasi tentang siapa dan bagaimana sosok Alaya ini.


Entah kenapa begitu Deanda mulai berbincang dengan Alaya, Deanda merasa semakin penasaran dengan sosok Alaya, latar belakang dan kehidupannya. Bukan lagi sekedar tertarik dengan cerita tentang liontin yang sedang dikenakan oleh Alaya.


"Sejak ya keluar dari negara ini bersama ibu dan paman saya, saya belum pernah sekalipun mengunjungi kota Tavisha ini. Setelah lulus dan mengantongi ijazah baru saya berani kembali ke kota ini." Jawaban dari Alaya membuat Deanda sedikit mengernyitkan alisnya.


"Lalu kenapa kamu tertarik kembali di kota ini? Apakah di luar negeri tidak ada pekerjaan yang menarik untukmu?" Deanda kembali bertanya sambil meraih gelas berisis minuman di depannya, emminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali ke atas meja, sambil menunggu jawaban dari Alaya.


"Di sana bukannya tidak ada pekerjaan yang menarik Permaisuri. Tapi seperti kata pemaisuri tadi. apakah saya memiliki kerabat di kota ini. Ada beberapa, dan ada juga beberapa masalah yang harus saya selesaikan bersama para kerabat saya, jadi saya memutuskan untuk tinggal di kota ini dan bekerja di kantor perusahaan Adalvino." Deanda langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Alaya.


"Sebelumnya kamu bekerja di kota Renhill, di pabrik pengalengan ikan milik perusahaan Adalvino. Benar begitu kan?" Pertanyaan Deanda berikutnya membuat Alaya langsung menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Benar Permaisuri. Awalnya memang saya ingin bekerja di kota Tavisha, tapi paman ingin saya bekerja di Renhill terlebih dahulu, agar ke depannya jika ada kesempatan baru saya ke kota Tavisha." Alaya berkata sambil tersenyum, matanya tidak lepas menatap ke arah Deanda yang hari ini tampak cantik dan anggun dengan rambut di cepol, dengan setelan blazer berwarna pastel yang menonjolkan kulit putih bersihnya, membuatnya terlihat semakin cantik, dan terlihat sebagai seorang wanita yang cerdas.

__ADS_1


 


 


__ADS_2