
Deanda bisa melihat dengan jelas guratan kecewa dari wajah Melva saat ini. Tapi rasa penasaran membuat Deanda ingin bertanya lebih jauh lagi hubungan antara Melva dan kekasihnya.
"Kalau boleh tahu... apa yang membuat Countess Melva jatuh cinta dengan kekasih Anda? Apakah itu cinta pada pandangan pertama?" Melva langsung menyunggingkan sebuah senyum di bibirnya mendengar pertanyaan dari Deanda.
Ah, yang mulai permaisuri Deanda... seperti yang diberitakan oleh banyak orang dan media. Sosok wanita cantik, anggun dan juga baik hati. Untuk orang yang tidak mengetahui dengan jelas tentang latar belakang permaisuri, orang itu pasti mengira bahwa permaisuri berasal dari kalangan bangsawan atau kaya yang orang terpandang, karena sikapnya benar-benar menunjukkan sikap seorang bangsawan sejati. Dan tidak sedikitpun ada kesan sombong walaupun dia memiliki kedudukan tinggi di Gracetian. Berbicara dengannya terasa nyaman, seperti berbicara dengan seorang teman lama.
Melva berkata dalam hati sambil matanya menatap kagum ke arah Deanda sebelum memutuskan untuk menjawab dengan jujur apa yang baru saja dipertanyakan oleh Deanda kepadanya barusan.
"Awal pertemuan kami karena sebuah kecelakaan. Saat itu dia yang sedang mengantarkan mamanya ke rumah sakit dan tanpa sengaja tertabrak mobil yang sedang saya kendarai. Akibat kecelakaan itu, sekarang mamanya menjadi lumpuh, dan dia sebagai anak satu-satunya harus merawat mamanya seorang diri. Itu yang membuat awalnya saya menjadi salut dan kagum dengan kegigihannya dan bagaimana dia begitu menyayangi mamanya. Jarang sekali seorang laki-laki muda, apalagi belum menikah begitu telaten dan perhatian dengan mamanya. Membuat lambat laun saya jatuh cinta padanya. Tapi seperti yang permaisuri tahu, papa tidak mendukung hubunganku dengannya." Mendengar penjelasan dari Melva, Deanda menyunggingkan sebuah senyum kagum melihat alasan kenapa gadis itu begitu membela kekasihnya.
"Jika tidak keberatan. Sebagai seorang seniman, apa yang dikerjakan oleh kekasihmu?" Entah kenapa, mendengar cerita dari Melva, rasa ingin tahu Deanda terhadap kekasih Melva terasa semakin besar.
__ADS_1
"Dia seorang komposer. Dia seorang pekerja keras, sayangnya sampai saat ini karya-karyanya masih belum dikenal oleh banyak orang. Untuk sementara ini dia sering mengisi pertunjukan musik live di beberapa cafe bersama teman-temannya." Melva berkata sambil mengambil sebuah gelas piala dari nampan yang sedang dibawa oleh seorang pelayan yang berjalan keliling untuk menawarkan minuman yang dibawanya.
(Composer (dalam bahasa Indonesia disebut "komponis" dan bukan "komposer") adalah orang yang menulis komposisi original musik instrumental maupun vokal dalam format solo, duo trio quartet qwintet dst sampai dengan orkestra dan meneruskan kepada orang lain untuk memainkannya. Sementara orang yang membuat lagu atau melodi saja disebut sebagai pengarang lagu, dan yang membuat iringan lagu disebut sebagai arranger. Harus dibedakan antara komponis dan arranger. Arranger bisanya hanya mengaransemen ulang hasil karya dari komponis. Salah satu komponis dunia yang terkenal adalah Wolfgang Amadeus Mozart, sedangkan komponis Indonesia yang cukup berperan besar antara lain adalah, Slamet Abdul Sjukur, Amir Pasaribu,Otto Sidharta, Tony Prabowo, Michael Asmara, Ben Pasaribu, Gatot Danar Silistyanto, Tony Maryana, Matius Shanbone, Aldy Maulana, Septian Dwi Cahyo, Christanto Hadijaya, dsb. Konsep karya musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang Komponis adalah orang yang menciptakan hasil karya musik.).
"Sayang sekali... aku harap ke depannya dia bisa menjadi seorang komposer terkenal." Sebuat tawa kecil kembali menghias bibir Melva begitu mendengar perkataan dari Deanda yang terasa begitu menghibur dan menenangkan hatinya.
Melakukan pembicaraan dengan Deanda tanpa sadar sudah membauat Melva melupakan kejadian tadi saat masih bersama ayahnya di geladak kapal.
"Karena itu saya sangat mendukungnya Permaisuri. Saya tahu karena kecelakaan itu, mamanya menjadi lumpuh, sedangkan dia harus merawat seorang keponakan perempuannya juga yang kedua orangtuanya sudah meninggal. Dia harus menyekolahkan keponakannya dan juga membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga untuk membantu meringankan kebutuhan mereka, biaya rutin pengobatan mamanya, dan untuk biaya sekolah keponakannya, saya harus memberikan sebagian besar dari hasil penjualan hasil lukisan saya kepadanya." Perkataan Melva berhasil sedikit mengusik hati Deanda.
"Mungkin tidak semuanya, karena menurutnya apa yang saya berikan tidak cukup untuk membayar semua tagihan perawatan kesehatan mamanya dan biaya hidup mereka sehari-hari. Tapi sebagian besar iya... saya yang menanggungnya sebagai rasa tanggung jawab saya karena akibat perbuatan saya, mamanya harus hidup menderita karena lumpuh. Tapi permaisuri... tolong jangan katakan apapun kepada papa tentang apa yang barusan saya ceritakan. Jika papa mendengarnya, pasti papa akan semakin membencinya." Mendengar cerita dari Melva, Deanda sedikit mengernyitkan dahinya, ada sebuah pertanyaan besar yang tiba-tiba mencuat di hati Deanda tentang Melva dan kekasihnya.
__ADS_1
"Countess Melva, bukannya aku mau menggurui Anda. Karena sebenarnya aku juga tidak memiliki banyak pengalaman dalam urusan percintaan. Tapi, bisakah aku bertanya tentang sesuatu yang mungkin juga bisa menjadi bahan pertimbangan Countess Melva. Countess Melva... Anda mencintai kekasih Anda karena memang benar-benar mencintainya, atau hanya sekedar perasaan kasihan dan tanggung jawab atas apa yang sudah pernah terjadi di masa lalu?" Mata Melva langsung terbeliak dengan tubuh sedikit tersentak karena kaget dengan pertanyaan tajam Deanda yang tidak disangka-sangkanya barusan.
Mau tidak mau pertanyaan Deanda barusan membuat Melva diam termenung. Otak Melva seolah-olah seperti tersengat listrik, membuatnya kaget sekaligus berpikir keras. Baginya pertanyaan Deanda barusan seolah-olah membuatnya tersadar dari tidur panjangnya, apakah benar dia mencintai kekasihnya atau hanya karena rasa kasihan dan tanggung jawab.
Melihat wajah kaget Melva, sekaligus sikap tubuhnya yang menunjukkan bahwa gadis itu terlihat tegang dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Deanda, Deanda langsung tersenyum dengan lembut ke arah Melva. Jujur saja Deanda merasa sedikit bersalah melihat wajah tegang dan sekaligus bingung dari Melva begitu mendengar pertanyaannya.
Tapi, entah kenapa, Deanda merasa tidak nyaman mendengar bagaimana Melva harus menghabiskan begitu banyak uang untuk mengobati dan kebutuhan hidup keluarga kekasihnya, yang sebenarnya sebagai seorang pria sudah seharusnya dia yang memikul tanggung jawab secara keuangan. Apalagi laki-laki itu belum terikat secara sah sebagai suami Melva. Jadi, boleh dibilang belum ada hubungan keluarga atau apapun yang mewajibkan Melva untuk ikut menanggung biaya hidup keluarga laki-laki itu.
Untuk biaya pengobatan mungkin masuk akal sebagai bentuk rasa tanggung jawab. Karena bagaimanapun Deanda mengerti tentang rasa bersalah Melva yang sudah menabrak ibu dari laki-laki itu. Tapi biaya sekolah keponakannya dan kehidupan sehari-hari mereka, sepertinya itu terasa aneh bagi Deanda.
"Maaf jika pertanyaanku barusan tidak pada tempatnya, mungkin pertanyaan itu terlalu dalam dan pribadi, membuat Countess Melva merasa tidak nyaman..." Mendengar kata-kata Deanda, Melva langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan memaksakan sebuah senyuman di bibir tipisnya.
__ADS_1
"Tidak Permaisuri.... Pertanyaan Permaisuri memang harus saya pikirkan dengan baik. Selama ini saya tidak pernah memikirkan hal seperti itu sebelumnya." Melva segera menanggapi permintaan maaf dari Deanda yang baginya terasa terlalu sopan.
Deanda sebagai seorang permaisuri Gracetian, harusnya Melva yang merasa bangga dan merasa terhormat karena memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Deanda. Apalagi selama ini, Alvero sejak masih menjadi putra mahkota dikenal jarang mau bersosialisasi dengan orang lain. Sehingga keberadaan Deanda yang selain cantik namun juga baik hati dan ramah sebagai permaisuri Alvero membuat banyak orang mengagumi sosoknya.