BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BERSIAP MENGHADIRI PESTA ULANG TAHUN ENZO


__ADS_3

"Tenang saja sweety, Enzo akan baik-baik saja. Ah, seharusnya dia segera menikah sehingga aku bisa memberikan parfum itu sebagai hadiah pernikahannya, bukan sebagai alat balas dendam." Alvero langsung menenangkan Deanda yang terlihat sedikit khawatir mendengar tentang bagaimana Alvero benar-benar membalas perbuatan Enzo kepada mereka kemarin malam.


"Apakah tidak sebaiknya kamu menghubungi Enzo dan menanyakan bagaimana kondisinya?" Dengan ragu Deanda meminta Alvero kembali mengecek kondisi Enzo.


Deanda sadar betul bagaimana pengaruh pengharum ruangan itu karena dia sudah merasakan akibat dari menghirup parfum ruangan itu. Efek parfum itu sudah membuatnya kehilangan kendali untuk bisa menahan gairahnya yang tiba-tiba saja memuncak dengan cepat. Yang bahkan bisa membuatnya berubah dari seorang gadis yang polos, tiba-tiba saja tidak bisa mengendalikan dirinya untuk bersikap sedikit liar dan dengan berani meminta Alvero bercinta dengannya, bahkan lebih dari sekali, seolah dia tidak merasa puas dan lelah. Sesuatu yang Deanda tahu dengan kondisi sadar dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu dengan terang-terangan kepada Alvero yang walaupun merupakan suaminya tapi tetap saja dia merasa belum cukup percaya diri untuk meminta hal seperti itu kepada Alvero.


Mendengar permintaan dari Deanda, Alvero sedikit mengernyitkan dahinya sambil tangannya mengacak pelan rambut di atas kepala Deanda, seolah berusaha untuk menenangkan Deanda.


"Percayalah padaku. Enzo akan baik-baik saja. Dia tidak sepolos kita berdua. Bahkan pengetahuannya tentang hal itu mungkin lebih banyak daripada kita berdua. Dia pasti bisa mengatasi masalahnya dengan baik. Kalau itu terjadi padaku, mungkin aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengatasinya. Tapi aku beruntung hal itu terjadi saat kita sudah menikah. Jadi, tidak ada yang perlu aku khawatirkan." Alvero berkata sambil mengecup lembut puncak kepala Deanda, membuat Deanda hanya bisa berharap Enzo benar-benar dalam kondisi baik-baik saja seperti yang sudah dikatakan oleh Alvero barusan.


"Ah.... aku rasa setelah menikah denganmu semua hal yang aku alami sekarang adalah hal yang baik dan membahagiakan. Kadang aku masih merasa begitu menyesal, kenapa pertemuan dan pernikahan kita tidak terjadi lebih awal." Alvero berkata sambil mengecup leher Deanda dengan lembut, dan untuk beberapa saat Alvero sengaja berdiam dalam posisi seperti itu karena membuatnya merasa begitu nyaman, bisa menikmati harum tubuh istrinya dan bermanja dengan wanita yang begitu dicintainya, yang keberadaannya selalu membuat hatinya bergetar hebat dan hatinya selalu meluap dengan rasa cinta yang semakin hari semakin dalam kepada istrinya itu.


# # # # # # #


"Aku ingin berangkat lebih awal agar bisa membantu Enzo memastikan bahwa tim kita bersama tuan Robert sudah mempersiapkan keperluan pesta ulang tahun Enzo dengan baik. Setelah aku, pasti pangeran Adalvino yang dipaksa untuk segera menikah adalah Enzo. Semoga saja Dion yang lebih muda tidak mendahului Enzo, supaya Enzo tidak menjadi bahan pergunjingan masyarakat, dianggap sebagai pangeran Adalvino yang tidak laku untuk menikah. Aku berharap di acara ulang tahun Enzo kali ini dia bisa bertemu dengan jodohnya." Alvero berkata dengan mata memandang ke arah wajah Deanda yang berdiri dengan wajah serius di hadapannya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap untuk berangkat 15 menit dari sekarang?" Alvero bertanya kepada Deanda yang sedang mengancingkan kemeja lengan panjang berwarna putih tulang yang dikenakan Alvero untuk menghadiri pesta ulang tahun Enzo hari ini di atas kapal pesiar milik kerajaan.


"Ah, ya, aku hanya perlu mengganti pakaianku. Yang lain sudah beres. Barang-barang keperluan kita juga sudah dibawa oleh Erich dan Ernest ke bawah." Deanda yang sudah berdandan namun belum mengganti pakaiannya dengan gaun pesta yang sudah tergantung di walk in closet, berkata sambil jari-jari tangannya yang lentik mengancingkan kancing terakhir dari kemeja Alvero.


Dengan status Alvero sebagai seorang raja Gracetian, dan dia sebagai permaisuri dari Alvero, Deanda tahu hampir setiap apapun keperluannya dan Alvero selalu disiapkan oleh para pelayan yang akan selalu siap saat dipanggil dalam waktu 24 jam penuh. Tapi, ada kalanya Deanda ingin merasakan sebagai istri yang bisa melayani suaminya, termasuk dalam hal berpakaian.


Dengan sengaja hari ini Deanda tidak meminta siapapun untuk membantunya dan Alvero, kecuali riasan di wajahnya karena dia bukan wanita yang bisa merias wajah dengan baik, bahkan bagaimana menggunakan setiap alat make up lengkap yang selalu tersedia di meja riasnya, selain lipstik, sepertinya Deanda benar-benar tidak tahu bagaimana cara menggunakannya dengan baik. Selain masalah riasan, Deanda ingin dia sendiri yang melakukannya, termasuk yang sedang dilakukannya sekarang, membantu Alvero mengenakan pakaiannya.


Begitu Deanda selesai mengancingkan kancing terakhir di kemeja Alvero, Deanda menarik kemeja bagian lengan Alvero, setelah itu menepuk-nepuk sambil mengusap lembut bagian kemeja yang ada di bagian dekat krah kemeja Alvero, memastikan bahwa kemeja yang dikenakan oleh Alvero sudah terlihat rapi.


"Kenapa mengikutiku?" Deanda berkata sambil meraih jas Alvero yang tergantung di lemari pakaian Alvero yang ada di salah satu sisi walk in closet, terletak saling berhadapan dengan lemari yang berisi pakaian Deanda.


"Biar aku kenakan sendiri jasku, lebih baik kamu segera mengganti pakaianmu." Alvero berkata sambil meraih jasnya yang berada di tangan Deanda, dan dengan cepat mengenakan jasnya.


Melihat apa yang dilakukan Alvero, Deanda hanya bisa tersenyum dengan matanya menatap dengan kagum ke arah suaminya yang tampak sudah rapi sekaligus tampak begitu tampan.

__ADS_1


Ah, apapun yang kamu kenakan, kenapa kamu selalu terlihat begitu tampan dan mempesona yang mulia? Seolah semua yang ada di wajahmu adalah kumpulan dari bagian terbaik pada setiap pria tampan yang ada di dunia ini. Bahkan sampai detik ini kadang masih begitu sulit bagiku untuk percaya bahwa sosok laki-laki yang begitu aku kagumi selama ini sekarang adalah suamiku.


Deanda berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alvero tanpa berkedip, sedang Alvero yang menyadari bagaimana mata amber yang bercahaya seperti emas milik istrinya yang begitu indah sedang memandanginya tanpa berkedip langsung menyungingkan sebuah senyuman tipis di bibirnya.


"Apa yang sedang kamu lihat sweety? Kenapa tidak segera mengganti pakaianmu? Waktu kita sudah tidak banyak." Alvero berkata sambil melirik jam di pegelangan tangannya yang terus berjalan.


"Eh, iya. Kamu bisa menungguku di ruang tamu, aku akan segera menyusulmu." Deanda berkata sambil meraih gaun berwarna putih tulang, senada dengan kemeja yang dikenakan Alvero di balik jasnya yang berwarna hitam.


"Tidak, aku akan menunggumu di sini." Alvero berkata sambil menyandarkan tubuhnya yang sudah rapi dengan jasnya ke dinding walk in closet dengan kedua tangannya terlipat, sengaja berdiri dengan santai di sana sambil mengamati Deanda yang wajahnya tampak sedikit memerah mendengar perkataan Alvero barusan.


Entah kenapa walaupun mereka telah menikah, masih saja ada rasa malu bagi Deanda jika harus berganti pakaian tepat di depan suaminya.


"Ayolah sweety, kenapa terdiam? Apa kamu masih merasa malu jika harus berganti pakaian di depanku? Padahal aku sudah melihat bahkan menikmati semua yang ada di tubuhmu." Alvero berkata sambil menahan tawanya.


Mendengar perkataan Alvero, tanpa menanggapi kata-kata godaan dari Alvero, Deanda segera membalikkan tubuhnya, berusaha membelakangi tubuh Alvero, untuk mengurangi rasa canggungnya. Dengan gerakan terlihat ragu, Deanda mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya, untuk menggantinya dengan gaun pesta yang akan dikenakannya untuk menghadiri pesta ulang tahun Enzo.

__ADS_1


__ADS_2