BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
TENTANG NAMA ALAYA


__ADS_3

"Benar Pa. Alaya. Kenapa dengan nama itu? Kenapa Papa terlihat begitu kaget mendengar nama Alaya?" Vincent diam terpaku tanpa menjawab pertanyaan Alvero setelah Alvero mengatakan bahwa gadis itu bernama Alaya.


Larena... itu pasti kamu, pasti kamu... Alaya... nama itu.... Larena, gadis itu pasti anak kita kan? Bahkan kamu sudah memberiku seorang anak perempuan tanpa memberitahukan hal itu padaku. Selama bertahun-tahun, kamu pasti sudah mengalami banyak kesulitan karena kebodohanku. Larena... aku harap sampai saat ini benar kamu masih hidup dan memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku padamu. Larena... maafkan aku. Aku begitu merindukanmu. JIka kamu masih hidup, kembalilah ke sisiku Larena, aku mohon.


Vincent berkata dalam hati dengan tatapan mata terlihat nanar, dengan bibirnya yang tampak bergetar hebat.


"Pa...." Panggilan singkat dari Alvero membuat Vincent tersadar dari lamunannya.


"Kenapa pa? Apa ada yang tidak beres? Apa Papa merasa ada yang sakit?" Mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Alvero, Vincent segera menggelengkan kepalanya.


"Tidak... Alaya... nama itu... adalah nama yang aku inginkan jika aku dan Larena memiliki seorang anak perempuan. Ketika kamu lahir, Larena menanyakan kepadaku, siapa nama yang aku inginkan untuk anak kami jika suatu ketika kelak dia melahirkan seorang anak perempuan untukku. Saat itu aku menyebutkan nama Alaya." Mata Vincent kembali berkaca-kaca mengingat tentang kenangan-kenangan indah dan bahagianya bersama Larena sebelum kemunculan Eliana dulu.


"Alaya... gadis itu... aku yakin dia memang adikmu Alvero. Ah, andai saja kesehatanku sudah jauh lebih baik dari sekarang, aku ingin pergi ke kota Tavisha sekarang dan secepatnya menemui gadis itu." Vincent berkata sambil menggerakkan tubuhnya dengan susah payah untuk dapat duduk di tepian tempat tidur.


Jika benar Alaya adalah adik yang mulia, berarti itu adalah salah satu alasan kuat yang bisa aku pikirkan untuk saat ini, kenapa yang mulia tidak alergi saat bersentuhan dengan Alaya.

__ADS_1


Deanda berkata sambil tersenyum dalam hati. Entah kenapa Deanda merasa sedikit lega karena hal itu.


Setelah mereka menikah, Alvero bersikeras untuk selalu mencari alasan dan  menunda rencananya untuk berobat dan melakukan konsultasi atas alergi yang dideritanya, jika bersentuhan dengan wanita. Deanda ingin sekali Alvero bisa hidup normal seperti manusia lainnya, tapi jika tidak alerginya Alvero, hanya terhadap satu dua orang gadis selain dirinya, ada rasa tidak rela dalam hati Deanda, karena seolah-olah satu dua gadis itu memiliki posisi penting di hati Alvero, selain dirinya.


"Papa harus tenang. Besok aku akan mengurus semuanya. Untuk malam ini sebaiknya Papa beristirahat dulu." Mendengar perkataan Alvero, Vincent mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ok kalau begitu Pa. Silahkan beristirahat. Kita bertemu lagi besok. Aku berjanji, seceaptnya kita akan bereskan masalah ini agar tidak berlarut-larut." Alvero berpamitan kepada Vincent sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


Begitu Alvero sudah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Vincent, Alvero segera mencari nama Enzo di daftar kontak yang ada di handphonenya dan melakukan panggilan.


"Sembarangan saja bicaramu! Memangnya aku orang yang hanya ketika butuh bantuan baru mencarimu?" Protes Alvero membuat Enzo yang sedang menikmati suasana malam di pantai Renhill bersama Melva yang sedang mencari inspirasi untuk lukisannya, tertawa tergelak.


"Aih aih... apa raja Gracetian kita ini benar-benar sudah lupa diri? Kalau ada orang yang berani mengatakan hal seperti itu tentang kita dulu sebelum kamu menikah, aku pasti akan menghajar dan memberi pelajaran pada mulut kurang ajar milik orang seperti itu. Tapi sejak menikah... kamu memang benar-benar seperti orang yang tidak lagi punya waktu untuk saudara sepupumu ini." Perkataan Enzo membuat Alvero mengangkat salah satu ujung bibirnya, membentuk sebuah senyum menyeringai.


"Kamu bisa seenaknya bicara seperti itu karena kamu belum menikah. Coba kamu sudah merasakan bagaimana enaknya menikah, kamu pasti tidak akan berani mengatakan hal seperti itu padaku. Coba, berikan teleponmu kepada Melva. Biar aku sebagai raja Gracetian yang melamar gadis itu untukmu. Supaya dia tidak bisa lagi menolakmu." Mendengar perkataan Alvero, dengan buru-buru Enzo langsung menjauh dari Melva, karena merasa khawatir Melva mendengar apa yang dikatakan oleh Alvero barusan.

__ADS_1


Sial, kenapa begitu sulit untuk menyembunyikan sesuatu dari raja satu ini. Darimana dia tahu bahwa sekarang aku sedang bersama Melva?


Enzo berkata dalam hati sambil melirik ke arah Melva, dan menarik nafas lega begitu melihat Melva terlihat sedang fokus melihat ke arah laut.


Alvero sendiri bisa mengetahui bahwa Enzo sedang bersama Melva karena sebelum Enzo menyapanya tadi, sekilas Alvero bisa mendengar deburan ombak dan suara seorang wanita yang mengatakan kepada Enzo bahwa hari ini langit terlihat cerah, akan bagus jika dia membawa alat lukis dan melukisnya.


"Eh... yang benar saja... jangan coba-coba melakukan itu padanya. Aku ingin semuanya berjalan secara natural tanpa paksaan. Tidak seperti kamu yang memaksa Deanda untuk menikahimu dengan seribu satu cara. Menggunakan semua cara yang kamu bisa untuk menjebak gadis polos seperti Deanda." Enzo menanggapi perkataan Alvero sambil mengecilkan suaranya, agar Melva tidak tidak mendengar pembicaraannya saat ini dengan Alvero.


"Kamu ini...." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari Deanda agar Deanda tidak mendengar apa yang dikatakan Enzo.


Deanda sendiri sedang sibuk sendiri, memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuhnya beberapa waktu ini, kenapa dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sambil berpikir, Deanda merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kepala bersandar pada sandaran tangan sofa, karena pinggangnya yang lagi-lagi terasa sedikit pegal malam ini, padahal sudah lebih dari seminggu ini dia tidak melakukan aktifitas berat, apalagi berlatih beladiri.


 


 

__ADS_1


__ADS_2