BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
ALVERO SI OVER PROTEKTIF


__ADS_3

Nama Eliana yang sepanjang hari ini banyak disebutkan di tengah-tengah mereka karena perbuatan jahat dan liciknya, membuat Vincent masih merasakan degupan jantungnya karena kemarahan di dadanya mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Eliana di masa lalu untuk menyakiti dan membuat Larena menderita sedemikian rupa.


"Tapi kita tidak mungkin menahannya untuk waktu yang lama Alvero. Orang akan menyadari perubahan bentuk tubuh Deanda cepat atau lambat, terutama orang-orang di dalam istana." Enzo berkata sambil melemparkan senyum puas ke arah Deanda, ikut merasa begitu bahagia sebentar lagi dia akan mendapatkan seorang keponakan, dan yang pasti akan membuat posisinya semakin jauh dari posisi putra mahkota selanjutnya.


Melihat bagaimana Enzo memandangi wajah istrinya sambil tersenyum hampir saja Alvero melempar sendok ke arah salah satu pangeran Adalvino yang kadang sulit untuk tidak menebar pesona dengan wajah tampannya itu.


"Kita memang tidak mungkin untuk terus menundanya, tapi kita akan mencari waktu yang tepat untuk mengumumkannya ke khalayak umum, ke publik tentang kehamilan permaisuri Gracetian." Alvero berkata sambil matanya memberi tanda agar Enzo menghentikan tatapan mata dengan wajah tersenyum manisnya ke arah Deanda.


"Karena itu, aku sungguh berharap kita bisa membujuk mama Larena agar mau kembali muncul di depan umum, memberikan pernyataan resmi bahwa dia masih hidup. Dengan begitu, kita akan bisa dengan mudah mengusir Eliana dari istana." Alvero berkata sambil melirik ke arah Vincent, Alaya dan Alexis secara bergantian.


"Maaf Kak Alvero, sebenarnya aku dan uncle Alexis ingin agar begitu mama datang ke Gracetian, dia mau menemui papa. Tapi kami belum menemukan cara yang terbaik untuk memberitahukan kepada mama tentang rencana kami itu." Alaya berkata sambil menatap ke arah Alvero yang langsung menarik nafas panjang, karena tahu bahwa apa yang dikatakan Alaya memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, mengingat bagaimana Larena sudah mengalami banyaknya penderitaan selama ini.


"Aku akan coba memikirkan cara terbaik agar mama mau kembali sebagai ibu suri Gracetian. Untuk selanjutnya aku berharap agar bukti kejahatan Eliana segera kita dapatkan. Agar dia bisa mendapatkan hukuman atas segala kejahatannya selama ini." Alvero kembali mengucapkan katanya sambil mengernyitkan dahinya.


Setelah sekian lama, Alvero sungguh berharap keluarganya bisa kembali berkumpul dan hidup damai. Dan juga untuk seluruh rakyat Gracetian, Alvero sungguh berharap bisa menjauhkan rakyatnya dari orang-orang semacam Eliana itu.

__ADS_1


# # # # # # #


"Sweety, mau kemana?" Alvero langsung bertanya kepada Deanda yang setelah acara makan malam, dilihatnya justru berjalan menjauhi posisi kamar mereka.


Padahal Alvero ingin Deanda mengambil waktu untuk beristirahat, mengingat bagaimana tadi siang Deanda sempat pingsan, dan membuatnya masih merasa begitu khawatir.


Begitu mendengar Deanda sedang mengandung 4 minggu, hal pertama yang dilakukan oleh Alvero sembari menunggu Deanda tersadar adalah mencari semua hal tentang kehamilan, terutama di masa-masa awal kehamilan yang sedang dijalani oleh Deanda saat ini.


Dari semua yang dipelajarinya, Alvero tahu masa-masa paling rentan bayi dalam kandungan adalah pada usia di bawah 3 bulan, karena tingginya resiko keguguran jika tidak dijaga dengan baik, membuat Alvero ingin menjaga Deanda dengan baik, apalagi Deanda sempat pingsan yang menurut info yang dia baca, jika seorang ibu hamil terlalu sering pingsan, bisa membahayakan kondisi janin dalam kandungan dan harus segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pingsannya.


"Aku ingin berjalan-jalan di luar sebentar untuk mencari angin segar." Deanda langsung menjawab pertanyaan Alvero sambil merapikan ikatan rambut di kepalanya yang dirasanya sedikit berantakan.


"Sudah terlalu malam, apa menurutmu tidak lebih baik kamu beristirahat sekarang? Apalagi besok subuh kita akan kembali ke kota Tavisha." Mendengar perkataan Alvero yang berkata sambil berjalan dengan berusaha mengikuti langkah-langkah Deanda, Deanda langsung mendekat ke arah suaminya dengan senyum geli di wajahnya.


"Sudah malam? bahkan ini belum lagi pukul 9 malam. Apa kamu lupa sebelum menikah bahkan kita pernah berkujung ke Goldie Tavisha sampai lewat tengah malam? Membuat nyonya Lilian marah padaku dan hampir saja tidak mengijinkan aku masuk ke dalam rumah?" Mendengar celoteh dari Deanda, Alvero langsung tertawa kecil.

__ADS_1


"Haist... jangan mengatakan tentang hal seperti itu. Sekarang kondisimu sedang membawa calon anak kita di perutmu. Bagaimana bisa kamu menyamakan kondisimu dulu dan sekarang? Mulai sekarang, berhentilah dulu berlatih beladiri. Aku tidak mau kamu melakukan hal-hal yang membahayakan bayi kita." Alvero yang berdiri di samping Deanda, di balik pagar pembatas balkon, berkata sambil lengannya memeluk bahu Deanda.


(Olahraga bela diri seperti judo, pencak silat, atau karate membutuhkan pergerakan tubuh yang sangat dinamis. Tak hanya ketangkasan, tapi keseimbangan tubuh juga sangat dibutuhkan, dan hal tersebut sulit untuk dilakukan oleh ibu hamil. Belum lagi benturan yang mungkin tidak sengaja terjadi saat melakukan gerakan tertentu, bisa sangat berbahaya untuk tubuh Anda dan janin. Jadi, bela diri sangat tidak dianjurkan untuk dilakukan oleh ibu hamil. Latihan beladiri yang boleh diikuti oleh ibu hamil adalah beladiri yang lebih ringan yang tidak berisiko tinggi terjadinya salah gerak, benturan ataupun cidera otot. Dr Phaidon L. Toruan, MM, pakar fitness lifestyle, menjelaskan sebaiknya olahraga dilakukan setelah trimester pertama. Atau setelah usia kehamilan 12 minggu atau tiga bulan. Pada saat itu janin sudah cukup kuat, sehingga aman bagi calon ibu untuk beraktivitas fisik).


"Ayolah my Al, kehamilan bukanlah kelainan atau penyakit. Jangan terlalu membatasi kegiatanku. Aku janji akan melakukan segala sesuatu dengan hati-hati, dan aku juga orang yang bisa mengukur kekuatanku sendiri." Mendengar sanggahan dari Deanda, Alvero tersenyum sambil mengelus-elus lengan Deanda dengan tangan yang sedang memeluk bahu Deanda.


"Sulit sekali melakukan negosiasi denganmu sweety." Mendengar perkataan Alvero, Deanda memajukan bibirnya ke depan.


"Bukannya itu karena kamu adalah orang yang begitu sulit untuk dinego?" Deanda berkata sambil memanyunkan bibirnya ke arah Alvero yang langsung tertawa geli mendengar ucapan istrinya tentang sifat keras kepalanya.


"Begitukah? Aku kok tidak merasa ya?" Alvero berkata di tengah-tengah tawa gelinya, membuat Deanda dengan cepat mencubit lengan Alvero dengan gemas, membuat tawa geli Alvero semakin keras.


"Ahhh, ampun sweety...." Akhirnya Alvero dengan wajah pura-pura kesakitan, meminta Deanda melepaskan cubitannya dengan pura-pura mengatakan ampun dengan tawa geli masih menguasai dirinya.


Begitu Deanda melepaskan cubitan di lengannya, dengan cepat Alvero yang masih merengkuh bahu Deanda menarik tubuh istrinya untuk lebih mendekat ke arahnya, dan langsung mencium bibir istrinya dengan mesra.

__ADS_1


 


 


__ADS_2