
Untuk beberapa lama mereka saling menikmati kelembutan bibir masing-masing dengan tangan Alvero memeluk pinggang Deanda dalam posisi duduk, sedang kedua tangan Deanda melingkar di leher Alvero. Ciuman manis dan lembut yang cukup lama dengan saling mengelus memanjakan pasangan mereka dengan sentuhan dan elusan lembut tersebut. Bukan sebuah ciuman panas dan bergelora yang dapat membuat jantung keduanya berdetak cepat. Tapi ciuman lembut itu sukses membuat mereka berdua saling menyadari tentang keberadaan pasangan masing-masing yang membuat mereka merasa begitu bahagia sudah menemukan belahan jiwa mereka.
Begitu Alvero menjauhkan bibirnya dari bibir Deanda, tangan kanannya bergerak ke wajah Deanda dan mengelus lembut kulit mulus wajah wanita cantik itu dengan penuh perasaan sayang.
"Your love make my life perfect. I promise that I will love you in every step of mine." Alvero berbisik lembut sambil menciumi leher jenjang istrinya dengan menggunakan hidung mancungnya.
(Cintamu membuat hidupku sempurna. Aku berjanji akan mencintaimu dalam setiap langkahku).
Alvero menghisap bau harum yang begitu jelas bisa dia cium melalui hidung mancungnya dari kulit leher istri cantiknya. Sedang Deanda hanya bisa menggigit bibir bawahnya merasakan ciuman Alvero yang berhasil membuat sel-sel dalam tubuhnya bergelinjang karena rasa bahagia yang mengalir memenuhi seluruh bagian dari tubuhnya, seolah ada ratusan kupu-kupu terbang dari dalam tubhnya. Rasanya bagi Alvero maupun Deanda tidak ada kata bosan dan puas saat mereka saling menyentuh, mencium, meraba, mengelus, memeluk pasangan mereka untuk bisa dengan bebas mengekpresikan cinta mereka berdua antara satu sama lain.
"If I did anything right in my life, it was when I gave my heart to you, my special one. (Jika aku melakukan sesuatu yang benar yang telah kulakukan dalam hidup adalah saat aku memberikan hatiku kepadamu, orang yang spesial untukku)." Deanda membalas perkataan Alvero dengan tidak kalah mesranya sambil kedua tangannya yang masih melingkar di leher alvero mengelus lembut bagian belakang kepala Alvero sampai ke tengkuknya, membuat jantung Alvero memompa dengan lebih cepat, mengalirkan darah ke setiap sel-sel tubuhnya, membuat Alvero memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan lembut Deanda yang membuatnya merasa menjadi laki-laki paling beruntung dan paling bahagia di dunia ini.
__ADS_1
Setelah sekian lama Alvero menyadari dirinya belum pernah tergerak, tertarik apalagi jatuh cinta dengan seorang wanita, dan sekarang kehadiran seorang Deanda sudah memporak porandakan dunianya yang sejak lama terasa dingin dan suram. Selama ini Alvero menjalani hidupnya dengan satu keinginan besar untuk membalas dendam kematian Larena dan membalas semua perbuatan keji Eliana semasa kecilnya. Namun, seorang wanita bernama Deanda Federer, bahkan sudah mengubah tujuan hidupnya. Menjadikan tujuan hidupnya membuat kerajaan Gracetian semakin maju dan sejahtera bersama wanita tercintanya dan anak-anak mereka yang akan lahir dari rahim Deanda.
Walaupun untuk mencapai tujuan itu Alvero harus menyingkirkan orang-orang yang menjadi benalu dan para penjahat yang menggerogoti pemerintahan, yang tentunya termasuk Eliana. Tetapi tujuan utamanya sekarang adalah menjadi seorang raja yang mencintai rakyat dan keluarganya, melindungi dan membahagiakan wanita cantik yang sudah membuatnya mengerti apa itu cinta dan tahu bagaimana berkorban untuk orang yang dicintainya, bukan lagi sekedar balas dendam.
"Sweety... kalau aku tidak bertemu denganmu, mungkin... sampai detik ini aku tetap tidak akan percaya apa itu cinta. Dan tidak akan percaya bagaimana seorang wanita yang dulu bagiku adalah makhluk menjijikkan akan bisa membuatku jatuh cinta sampai tergila-gila seperti ini. Tapi kehadiranmu dalam hidupku benar-benar sudah mengubah setiap pemikiran burukku tentang sosok wanita di otakku. Bahkan aku tidak keberatan jika ke depannya kamu melahirkan selusin putri untukku." Deanda yang awalnya begitu serius mendengarkan perkataan Alvero langsung melotot kaget begitu di akhir kalimat Alvero menyatakan keinginannya untuk memiliki selusin putri.
"Ah, selusin putri? Belum terhitung para pangeran ya? Berarti kamu harus bersiap untuk seing-sering tidak meminta jatahmu." Alvero langsung memandang ke arah Deanda dengan mata menyipit dan kening berkerut.
"Hei, kenapa bisa begitu? Itu tidak adil bagiku. Aku tidak mau. Justru semakin sering aku aku meminta jatahku, semakin banyak kesempatan untuk kamu segera hamil dan melahirkan lusinan putri dan pangeran." Deanda langsung tersenyum mendengar perkataan polos suaminya yang ternyata benar-benar tidak mengerti tentang wanita.
(Masa puerperium adalah istilah kesehatan yang biasa disebut dengan masa nifas. Masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya placenta sampai 6 minggu setelah melahirkan. Masa nifas terbagi menjadi: 1. Puerperium dini (masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan). 2. Puerperium intermedial (masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu). 3. Remote puerperium (waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dalam keadaan sempurna terutama bila ibu selama hamil atau persalinan menghadapi komplikasi).
__ADS_1
Tidak menyentuh Deanda untuk sebegitu lamanya? Rasanya Alvero sadar dia tidak akan bisa tahan dengan itu. Jika saja dua tiga kali harus menahannya karena kehamilan Deanda. It's ok, tapi lebih dari 12 kali? Tidak! Alvero langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Alvero merasa hal itu begitu berat untuknya.
"Kalau begitu aku hanya ingin 2 anak saja, atau mungkin... 3 anak! Itu maksimal! Tidak boleh lebih! Lagipula aku dengar melahirkan akan sangat sakit. Aku tidak mau kamu kesakitan." Alvero berkata sambil mengelus perut datar Deanda yang hanya bisa tersenyum geli melihat perubahan dari Alvero begitu menyinggung masalah "itu."
"Tapi sweety... eh.... kira-kira kapan masa mentruasimu datang untuk bulan ini?" Dengan wajah polos dan terlihat malu-malu Alvero bertanya kepada Deanda yang langsung tertawa kecil melihat bagaimana tergila-gilanya Alvero jika menyangkut masalah itu.
"Masih lama, terakhir kalinya aku mendapat mentruasi baru berakhir dua hari sebelum kita menikah...."
"Yes!" Seperti seorang anak kecil mendapatkan hadiah ulang tahun, Alvero berteriak kegirangan sambil hidungnya langsung mencium pipi Deanda, membuat Deanda hanya bisa tersenyum dengan wajah memerah.
Pembicaraan Alvero dan Deanda berakhir ketika mereka merasakan mobil yang mereka tumpangi berhenti. Tangan Alvero langsung memencet tombol untuk kembali membuat kaca pembatas antara pengemudi dan penumpang kembali normal, kembali menjadi tembus pandang. Mata Deanda langsung menoleh dan senyuman langsung tersungging di bibirnya begitu melihat mobil sudah berhenti di halaman rumah Marcello.
__ADS_1
Deanda berencana untuk dengan cepat turun dari mobilnya ketika tiba-tiba Alvero menahan pergelangan tangannya.
"Kenakan maskermu terlebih dahulu. Masyarakat sudah mengenal sosok permaisuri Gracetian, kamu tidak bisa lagi dengan sembarangan seperti dulu menunjukkan wajah aslimu di tempat umum." Alvero berkata sambil menyodorkan sebuah masker ke arah Deanda yang sudah disiapkan oleh Ernest, dan dia sendiri segera memakai masker untuknya sendiri.