BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
ASISTEN PRIBADI ALVERO


__ADS_3

“My Al, tidak bisakah keputusanmu diubah?” Deanda yang duduk di samping Alvero, di dalam mobilnya, bersiap untuk ke kantor hari bertanya kepada Alvero dengan tatapan mata memohon.


“Tidak bisa sweety. Kamu sudah tahu sejak awal alasanku memindahkanmu bekerja di bawahku langsung sebagai asisten pribadiku.” Alvero berkata sambil berusaha menahan dirinya agar tidak terpengaruh dengan permintaan dan sikap Deanda.


Bagi Alvero, orang yang paling sulit baginya untuk ditolak adalah Deanda. Sejak sebelum resmi menikah, Alvero memang dengan sengaja berencana memindahkan Deanda dari posisinya di departemen R&D pindah ke devisi kesekretariatan, dimana Alvero meminta agar diaturkan Deanda menjadi asisten pribadinya.


Di samping alasan karena Deanda memang memiliki kemampuan lebih setelah Alvero mengamati bagaimana kinerja Deanda. Alasan lain yang dimiliki Alvero adalah agar dia memiliki lebih banyak waktu bersama Deanda. Tidak perduli di kantor, di istana, di penthouse atau dimanapun posisinya, Alvero selalu ingin Deanda selalu berada di dekatnya, agar orang lain tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mengganggu dan mendekati permaisurinya, terutama para pegawai pria di gedung perkantoran Adalvino.


Rasanya setiap jam, setiap menit, setiap detik, sejak menikah dengan Deanda, Alvero ingin selalu berada di dekat Deanda. Walaupun mungkin dalam beberapa hal saat dalam kondisi genting seperti saat Alvero terpaksa meninggalkan Deanda ketika Vincent sakit, Alvero harus berpisah dari Deanda. Namun sebisa mungkin Alvero tetap ingin agar Deanda selalu berada di sisinya.


Namun, permintaan Deanda kali ini kepadanya, membuat Alvero harus menahan gejolak dalam hatinya agar dia bisa bertahan dengan pendapat dan tetap pada keinginannya tentang pekerjaan Deanda. Setelah menikah, Alvero tahu bahwa Deanda yang mulai mengerti banyak tentang dirinya, sanggup membuatnya menyerah untuk menolak permintaan istri cantiknya itu.


Apalagi dengan tatapan matanya yang sayu dan wajah memohonnya seperti hari ini. Rasanya menambah tinggi tingkat kesulitan yang sedang dialami oleh Alvero untuk menjawab tidak atas permintaan Deanda.


“Maaf sweety, kali ini aku tidak akan mengabulkan permintaanmu.” Alvero berkata sambil berusaha tersenyum ke arah Deanda yang akhirnya menyerah untuk memohon.


Yang mulia… apa kamu tahu alasanku yang sebenarnya menolak dengan keras untuk menjadi asisten pribadimu? Aku merasa belum pantas. Selama di R&D, bahkan orang bagian HRD pernah aku dengar membicarakan tentang bagaimana bisa aku seorang gadis tanpa pengalaman kerja dan ijazah bisa masuk ke perusahaan Adalvino dengan semudah itu. Walaupun sekarang ini aku adalah istrimu, orang tetap akan membicarakan tentang itu. Dan itu pasti akan terasa tidak nyaman bagiku dalam bekerja.

__ADS_1


Deanda berkata dalam hati sambil hati sambil memandang kea rah keluar jendela, karena sepertinya kali ini Alvero tidak akan mengubah keputusannya walaupun dia memohon kepada laki-laki itu.


“Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu sweety? Sehingga merasa tidak nyaman bekerja bersamaku sepanjang hari?” Seolah bisa melihat wajah kecewa atas penolakannya barusan, Alvero bertanya sambil tangannya meraih salah satu tangan Deanda dan menggenggamnya dengan erat.


Mendapatkan perlakuan hangat dari Alvero, mau tidak mau Deanda langsung menolehkan kepalanya, memandang ke arah Alvero.


“Memangnya kenapa harus aku yang menjadi asisten pribadimu? Tidak cukupkah Erich dan Ernest yang selama ini sudah banyak membantumu?”


“Mmmmm…” Alvero bergumam pelan sambil tersenyum ke arah Deanda dengan senyum menggoda di wajahnya.


“Aku dengar kamu mengatakan kepada Abella ingin agar Abella segera memiliki keponakan?” Deanda langsung tersentak kaget, karena tidak menyangka bahwa Alvero yang dipikirnya masih berada di kamar mandi tadi pagi ternyata mendengar pembicaraannya dengan Abella melalui panggilan telepon.


Mendengar cerita bagaimana Vian menyatakan perasaannya kepada Abella membuat Deanda merasa ikut senang sehingga tidak menyadari bahwa Alvero sudah selesai dari mandinya dan berdiri tepat di belakangnya sambil mengamati pembicaraan istrinya, sambil sesekali menyunggingkan senyum melihat wajah ceria dan bahagia dari Deanda saat mengobrol dengan Abella.


Dan dari pembicaraan mereka Deanda sempat mencetuskan kata-kata tentang harapannya agar Abella segera memiliki keponakan darinya dengan nada bercanda.


“Kamu… ternyata menguping pembicaraanku dengan Abella?” Deanda bertanya dengan sikap salah tingkah karena tidak menyangka kalau Alvero mendengarkan pembicaraannya dengan Abella yang dipenuhi dengan candaan dan omong kosong tadi pagi.

__ADS_1


“Wah…. Tuduhanmu kejam sekali padaku sweety. Menguping itu dilakukan dengan sengaja, secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Tapi aku tadi tidak sengaja mendengar karena sedang berdiri di belakangmu, yang sepertinya terlalu asyik sehingga tidak sadar aku sudah berada di dekatmu cukup lama. Lagipula kalau itu memang sebuah pembicaraan yang rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, bagaimana bisa kamu mengatakannya dengan nada sekeras itu. Untung saja kamar kita dilengkapi dengan peredam suara, kalau tidak, bisa jadi tertawamu saat bercanda dengan Abella membuat seisi istana terbangun tadi.” Mendengar candaan dari Alvero, mata Deanda sedikit melotot dengan semburat warna merah terlihat menjalar di pipinya yang berkulit putih mulus.


“Lalu apa hubungannya pembicaraanku dan Abella dengan keputusanmu menjadikan aku asistenmu, yang tidak bisa diubah lagi?” mendengar pertanyaan Deanda, Alvero langsung menggeser posisi duduknya agar lebih dekat ke arah Deanda.


“Kamu mau tahu sweety? Tentu saja itu berhubungan sangat erat sekali.” Alvero berkata sambil mengerlingkan matanya, sebelum kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Deanda, dan mengeluarkan suara bisikan pelan di sana.


“Kalau kamu mau segera memberikan Abella keponakan, kita harus sering-sering melakukan hal “itu”. Apa kamu tahu, seperti membuat adonan, harus sering berlatih agar semakin berpengalaman dan menghasilkan roti terbaik, bukan hanya sekedar bentuk dan penampilan, tapi juga menemukan rasa nikmatnya roti tersebut.” Mendengar penjelasan Alvero membuat wajah Deanda semakin memerah.


“Tidak ada hubungannya dengan menjadi asisten pribadimu.” Deanda tetap ngotot, berkata dengan nada acuh tak acuh sambil berusaha menjauhkan telinganya dari bibir Alvero.


Namun dengan cepat tangan Alvero meraih wajah Deanda dan kembali mendekatkan telinganya ke bibirnya untuk melanjutkan bisikan mesranya.


“Tentu saja berhubungan erat sekali. Karena…. Jika kamu menjadi asisten pribadi di kantor, berarti selain di istana atau penthouse, kita bisa melakukannya di kantor saat ada kesempatan. Kamu tahu kan ada kamar pribadi di kantorku.” Alvero berkata dengan santai.


Dan pada akhir perkataannya, Alvero meninggalkan jejak ciuman bibirnya ke telinga Deanda yang wajahnya semakin memerah dan dadanya langsung berdegup dengan kencang.


Astaga yang mulia… bisa-bisanya berpikir seperti itu? Berencana mencari kesempatan untuk melakukan hal-hal seperti itu? Akh, celaka jika yang mulia benar-benar serius dengan apa yang baru saja dikatakannya. Sepertinya yang mulia benar-benar ingin sesegera mungkin memiliki anak. Haist…. Darimana datangnya semua stamina dan semangat yang mulia jika menyangkut urusan tempat tidur? Yang mulia seperti orang yang sudah kecanduan saja.

__ADS_1


Deanda berkata dalam hati sambil mengalihkan wajahnya ke samping agar Alvero tidak melihat bagaimana gugup dan salah tingkahnya dia saat ini karena godaan Alvero. Belum lagi jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi, berdetak dengan begitu keras saat ini, sejak saat Alvero meninggalkan ciuman mesra di telinganya tadi, yang masih begitu terasa dengan jelas setelah lewat beberapa lama.


__ADS_2