BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENGEJAR ROLLAND


__ADS_3

"Kak Deanda, kak Alvero masih mengejar Rolland. Sebaiknya Kak Deanda beristirahat dulu. Ayo kita cari tempat yang cukup nyaman sambil menunggu kak Alvero kembali ke bunker ini." Alaya berkata sambil menarik pergelangan tangan Deanda setelah Alaya menyelipkan pistolnya di pinggang.


"Ayo kita cari tempat duduk yang cukup nyaman, supaya Kakak bisa sedikit beristirahat sebelum kak Alvero kembali." Alaya menarik tangan Deanda untuk mencari temapt untuk duduk di dalam bunker tersebut.


Melihat tidak mungkin bahwa dia mengikuti Alvero untuk mengejar Rolland, akhirnya Deanda mengikuti langkah-langkah Alaya untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Kali ini Deanda memilih untuk menahan dirinya karena mengingat bayi dalam kandungannya.


Alea hanya bisa mengikuti langkah-langkah Deanda tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun. Memilih diam daripada Alaya kembali memarahinya seperti tadi.


# # # # # # #


Begitu Rolland berhasil keluar dari bunker dan berlari ke arah belakang bunker yang masih dipenuhi dengan pepohonan, dengan sigap Rolland langsung menarik tangan salah satu anak buahnya yagn ada di sana, dan menjadikannya tameng ketika di dengarnya sebuah tembakan dari arah Alvero yang mengejarnya kembali terdengar.


"Sial!"


Begitu tembakannya gagal mengenai Rolland, Alvero mengumpat sambil berlari ke arah Rolland yang sudah memasuki wilayah hutan, sambil memandang ke arah anak buah Rolland yang terkena tembakan olehnya di bagian punggungnya dan ditinggalkan begitu saja oleh Rolland tergeletak di tanah.


Sebelum Alvero meneruskan untuk mengejar Rolland dan 2 anak buah Rolanda yang lari bersamanya, sambil berlari, dengan tangannya Alvero memberikan tanda agar beberapa orang yang mengikutinya membantunya mengurus anak buah Rolland yang terluka tersebut.


Dua dari anggota pasukan khusus yang mengikuti Alvero segera berhenti dan membawa anak buah Rolland untuk kembali ke bunker dan mendapatkan bantuan dari tenaga medis, sedang yang lain langsung berlari mengikuti Alvero masuk ke dalam hutan.


Dengan langkah penuh pertimbangan dan hati-hati, baik Alvero, Erich, maupun Ernest mempertajam pandangan mata mereka ke sekeliling untuk bisa menemukan sosok Rolland yang tiba-tiba menghilang di balik pepohonan besar di dalam hutan Tavisha itu.


Sekelebat bayangan membuat Erich langsung menembak ke arah pepohonan dimana tampak sosok bayangan berlari ke sana. Namun tembakan Erich hanya menembus angin.

__ADS_1


Dengan satu tangan memegang pistolnya, Alvero menggerakkan tangannya yang lain, memberikan tanda kepada Erich dan Ernest, juga beberapa orang yang mengikutinya agar mulai menyebar untuk bisa mengepung Rolland dan dua anak buahnya yang lain.


Dengan gerakan pelan dan berusaha tidak menimbulkan suara, mereka segera mengikuti perintah Alvero yang masih bediri di tempatnya untuk mengamati pergerakan dari Rolland dan dua orang yang mengikutinya.


Suara gemerisik yang berada di dekatnya membuat Alvero mengarahkan suara tembakan ke arah sumber suara. Alvero yang terlalu fokus tidak menyadari bahwa di bagian lain Rolland sedang bergerak dan berhasil menangkap salah seorang dari anak buah Alvero, melingkarkan lengannya ke arah leher anak buah Alvero sambil menodongkan pistol ke kepalanya.


"Berhenti atau aku tembak kepalanya!" Rolland berteriak sambil mempererat kuncian lengannya pada leher laki-laki yang dijadikannya sandera, sekaligus menembakkan pistolnya ke udara sekali.


Mendengar teriakan Rolland membuat Alvero dan yang lain menarik nafas panjang dan Alvero langsung memberikan perintah untuk menghentikan tembakan ke arah Rolland dan dua anak buahnya.


"Yang Mulia! Jangan dengarkan dia! Jangan menyerah karena saya!" Laki-laki yang disandera oleh Rolland segera berteriak, mencegah yang lain untuk menyerah.


"Diam kamu!" Rolland berteriak sambil memukul kening sanderanya dengan bagian belakang pistolnya hingga berdarah.


Mendengar perkataan Erich, Alvero langsung menggelengkan kelapanya.


"Aku tidak akan pernah mengorbankan nyawa orang-orangku hanya demi keselamatan pribadiku. Mereka juga memiliki keluarga yang sedang menunggu mereka kembali dengan selamat." Alvero berkata sambil menepuk bahu Erich yang wajahnya terlihat begitu tegang, melihat Alvero yang tidak mau mendengarkan sarannya.


Melihat tidak adalagi suara tembakan dari pihak Alvero membuat Rolland tersenyum membentuk sebuah seringai sinis.


"Sebaiknya semua dari kalian keluar sekarang juga!" Rolland segera memberikan perintahnya kepada Alvero dan yang lainnya, yang terpaksa mengikuti permintaan Rolland, setelah mendapatkan kode dari Alvero bahwa mereka harus mengikuti permintaan Rolland.


Senyum berupa seringai di wajah Rolland semakin melebar melihat bagaimana Alvero dan yang lain keluar sari pesembunyian mereka di balik pohon.


"Lempar semua senjata kalian ke arah belakang kalian! Dan angkat kedua tangan kalian ke atas! Termasuk Anda Yang Mulia Alvero!" Rolland berkata dengan wajah puas bisa memerintah Alvero seperti yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


Dengan gerakan pelan, mereka semua melempar senjata mereka ke arah belakang tubuh mereka.


"Maju tiga langkah ke depan!" Rolland memebrikan perintah sambil di sendiri berjalan mudur, menjaga jarak aman dari mereka semua, terutama Alvero yang dia tahu bukan sekedar ahli dalam menggunakan senjata, tapi juga ahli dalam beladiri.


"Kalian, ambil senjata mereka!" Rolland segera memberikan perintah kepada kedua anak buahnya yang tadi mengikutinya.


Sambil menunggu kedua anak buahnya memebereskan senjata-senjata itu, Rolland bergerak ke arah samping, berjalan menjauh dari Alvero dan yang lain.


Ketika kedua anak buahnya masih sibuk mengambil senjata milik Alvero dan anak buahnya, Rolland sedikit mengernyitkan dahinya karena merasa ada yang janggal.


Belum lagi Rolland bisa menemukan kejanggalan yang terjadi, tiba-tiba saja dari arah samping tampak Ernest bergerak cepat meraih tangan Rolland yang memegang senjata, berusaha merebut senjata dari tangan Rolland, sehingga membuat Rolland tanpa sadar melepaskan kuncian lengannya pada leher orang yang sedang disanderanya.


Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Alvero, Erich, Marcello dan yang lain untuk segera membalikkan tubuhnya dan menyerang dua orang anak buah Rolland yang sedang membungkukkan tubuhnya untuk memunguti senjata Alvero dan timnya.


Dengan gerakan cepat, Alvero dan yang lainnya segera merebut kembali senjata mereka dan langsung mengarahkannya kepada dua orang anak buah Rolland yang pada akhirnya terpaksa menjatuhkan senjata yang dipegang mereka sambil mengangkat kedua tangan mereka ke atas.


Sedang di bagian lain, Ernest sedang berjuang untuk merebut senjata di tangan Rolland, membuat kedua tubuh mereka berdua bahkan sampai terjatuh di tanah.


Mereka terus bergulat sampai tanpa disadari mereka berada di dekat jalan menurun tajam yang ada di hutan itu.


Jalan yang menurun tajam, lebih dari 15 meter, dimana di bawah terdapat sungai yang deras mengalir dan bebatuan besar.


 


 

__ADS_1


__ADS_2