BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
WANITA IMPIAN DION


__ADS_3

Sekilas Deanda melirik ke arah jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 3 siang.


Pukul 3 siang, semua orang pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Alea sudah kembali sibuk di istana. Abella walaupun mendapat ijin libur hari ini, tapi dia bilang ingin menghabiskan sisa hari dengan kekasihnya. Papa Alexis sedang sibuk melatih pasukan khusus. Papa Vincent juga waktunya beristirahat. Yang mulia pasti sedang sibuk dengan urusan kantor. Ah, ternyata menjadi orang menganggur benar-benar tidak menyenangkan sama sekali.


Deanda berkata dalam hati, sibuk memikirkan siapa yang kira-kira bisa diajaknya mengobrol, tapi pada akhirnya Deanda hanya bisa menghela nafasnya.


Sepertinya lebih baik aku menghabiskan waktu di cafe perusahaan sambil menunggu yang mulia selesai dengan pekerjaannya.


Deanda kembali berkata dalam hati sambil tersenyum dan bangkit dari berbaringnya, lalu berjalan ke arah walk in closet di kamarnya dan berganti dengan pakaian yang terlihat cukup santai.


Dengan wajah terlihat cerah, Deanda memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. celana jeans berwarna biru cerah, dipadukan dengan kemeja tanpa kerah berlengan 3/4 berwarna kuning, dan rambutnya yang hitam legam sebatas pinggang diikat tinggi membentuk ekor kuda, benar-benar membuat penampilan Deanda terlihat ceria dan begitu fresh. Menjadikannya seperti seorang mahasiswa baru yang akan melewati hari pertamanya di kampus.


"Aku jadi ingin kembali ke bangku kuliah." Deanda berkata pelan sambil tertawa kecil melihat penampilannya di depan kaca.


Sebelum Deanda benar-benar keluar dari penthousenya, dengan cepat Deanda meraih hanpdhonenya dan menuliskan pesan kepada Alvero dengan cepat.


Aku bosan. Aku akan menghabiskan waktu di cafe sampai kamu pulang.


Walaupun belum mendapatkan balasan dari Alvero, bahkan belum ada tanda yang menunjukkan bahwa Alvero sudah membaca pesan darinya, Deanda langsung menyimpan handphonenya ke dalam saku celana jeansnya dan dengan santai berjalan ke luar menuju lift untuk turun ke lantai satu gedung perusahaan tempat cafe yang ditujunya berada.


# # # # # # #


Cukup lama Deanda menghabiskan waktunya di dalam cafe sambil menikmati cheese cake dan jus lemon yang baginya terasa sungguh menyegarkan. Sampai akhirnya Deanda melirik layar handphone yang sedari tadi dibiarkannya di atas meja tanpa disentuhnya, yang barusan terlihat menyala dan memperdengarkan suara notifikasi sebuah pesan baru sudah masuk.

__ADS_1


Dengan cepat, Deanda segera membuka kunci pada layar handphonenya yang menunjukkan pesan dari Alvero.


Sweety, jika kamu sudah selesai menikmati cheese cake dan jus lemonmu, sebaiknya kamu segera kembali ke penthouse sambil menungguku. Aku tidak mau mata para lelaki di dalam cafe itu menikmati pemandangan indah dari seorang wanita cantik berbaju kuning yang terlihat seperti seorang mahasiswa yang belum memiliki kekasih.


Begitu membaca pesan dari Alvero yang karena kesibukannya baru sempat membalas pesannya, membuat Deanda langsung menoleh ke arah kamera cctv yang ada di cafe tersebut.


Ck ck ck... kebiasaan buruk yang mulia untuk selalu mengawasi gerak-gerikku ternyata belum berhenti juga.


Deanda berkata dalam hati, sambil sengaja menyugingkan senyum tepat di arah kamera pengawas tersebut, membuat Alvero yang kebetulan sedang mengamatinya dari layar komputer di kantornya langsung tertawa.


Terimakasih untuk senyum manisnya, walaupun tidak di depanku langsung. Hanya bisa aku nikmati lewat layar komputer.


Alvero kembali menuliskan sebuah pesan yang membuat Deanda tertawa geli, dan sekaligus menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari cafe. Sengaja berniat menyusul Alvero ke kantornya.


Deanda menuliskan pesan kepada Alvero sambil melangkah memasuki gedung perkantoran Adalvino.


Alvero langsung tersenyum begitu membaca pesan dari Deanda.


Aku akan menunggumu di sini. Hati-hati, jangan melirik laki-laki lain, jangan sembarangan tersenyum dengan pria asing. Jangan mengobrol dengan pria lain sepanjang jalan kemari. Perhatikan jalanmu dengang baik agar tidak terpeleset.


Membaca pesan balasan dari Alvero membuat Deanda langsung terkikik geli.


Dasar yang mulia, selalu saja bersikap over protektif dan posesif. Aku hanya berjalan dari café perusahaan ke kantornya. Memangnya siapa yang dia maksud dengan pria asing, sedangkan hampir semua pria yang ada di perusahaan ini adalah pegawainya sendiri.

__ADS_1


Deanda berkata dalam hati dengan perasaan geli melihat bagaimana sikap suaminya yang selalu cemburu dengan keberadaan pria lain tanpa alasan yang jelas.


“Eh….” Deanda yang tadinya terlalu asyik saling mengirim pesan dengan Alvero sedikit berteriak dan tersentak kaget ketika dilihatnya Dion yang ikut menyusulnya masuk ke dalam lift pribadi Alvero tanpa dia sadari.


“Selamat sore kakak ipar.” Dion berkata sambil tersenyum manis ke arah Deanda yang langsung mengambil sikap siaga dan mundur selangkah menjauh dari sosok Dion.


Melihat reaksi Deanda, Dion justru maju selangkah ke arah Deanda, dengan tatapan mata terlihat menunjukkan bahwa laki-laki itu begitu tergila-gila dengan sosok wanita yang ada di depannya saat ini, dan terlihat sangat bahagia bisa mendapatkan kesempatan bertemu dengan wanita pujaannya tanpa adanya Alvero di dekatnya.


Beberapa hari ini tidak melihat sosokmu walau sekilas sudah membuatku seperti orang gila. Membuat tidak ada satupun makanan dan minuman yang terasa enak di mulutku. Bahkan membuat mimpi-mimpiku dipenuhi dengan sosokmu. Dan lagi… sepertinya sekarang kamu terlihat semakin cantik dan anggun. Benar-benar sosok yang paling cocok untuk menjadi seorang permaisuri Gracetian. Permaisuriku….


Dion yang beberapa hari sebelumnya tidak masuk ke kantor karena mengunjungi salah satu kantor perwakilan perusahaan Adalvino yang menjadi tanggung jawabnya, berkata dalam hati sambil tetap tersenyum ke arah Deanda. Dengan gerakan pelan tapi pasti, tangan Dion berusaha meraih tangan Deanda untuk menciumnya.


Melihat apa yang akan dilakukan oleh Dion, dengan gerakan tangkas, Deanda menggerakkan tubuhnya ke samping sambil menangkis tangan Dion, yang mencoba untuk langsung melawan Deanda,


Hah! Sejak kapan pangeran Dion bisa beladiri? Melihat cara dia menahan tangkisanku, jelas dia bukan pangeran Dion yang beberapa bulan yang lalu bisa aku lumpuhkan dengan sekali serangan. Tapi sayang sekali pangeran Dion, kemampuanmu harus diasah bertahun-tahun lagi untuk dapat membuatmu layak berhadapan denganku.


Deanda berkata sambil tangannya lengan tangannya bagian bawah menghalangi gerakan Dion yang berencana meraih telapak tangan Deanda.


“Menarik.” Dion berkata pelan sambil matanya fokus menatap ke arah Deanda yang sedang berusaha menahan tangannya.


“Menjauh dari istriku sekarang juga atau aku akan mematahkan kaki dan tanganmu sekarang juga Dion!” Suara teriakan Alvero yang cukup keras dan bernada mengancam, bersamaan dengan suara pintu lift yang terbuka membuat Dion tersentak dan sedikit mundur, menjauh dari sosok Deanda yang sebenarnya dengan mudah bisa menghadapi Dion, tapi pemilik mata hazel yang saat ini terlihat begitu marah membuat Deanda langsung bergerak menjauhkan dirinya dari Dion.


 

__ADS_1


 


__ADS_2