
Mendengar perkataan Alvero, Red dan Marcello hanya bisa saling berpandangan, setelah itu mereka langsung mengalihkan pandangan mereka kembali ke arah Deanda dan menganggukkan kepala mereka.
“Baiklah Nona Besar….”
“Baiklah Deanda…”
Mendengar baik Red dan Marcello kembali memanggilnya dengan sebutan yang biasa mereka ucapkan untuknya, Deanda langsung menyungingkan senyum lega di wajahnya, dan dengan cepat dia kembali mengambil posisi duduk di samping Alvero. Begitu Deanda duduk di sampingnya, Alvero menepuk paha Deanda beberapa kali dengan lembut.
Permaisuriku memang wanita yang hebat. Dia belajar dengan cepat bagaimana harus bersikap dan bertindak sebagai permaisuri Gracetian. Dan hari ini dia mulai belajar bagaimana menggunakan kekuasaannya yang dimilikinya dengan benar, dan tahu bagaimana menghormati orang-orang yang ada di sekitarnya. Ah, melihatmu seperti itu…. Bagaimana mungkin aku tidak semakin jatuh cinta padamu.
Alvero berkata dalam hati dengan tatapan bangga sekaligus tatapan penuh cinta melihat bagaimana dengan berjalannya waktu, setelah banyak hal terjadi, Deanda mulai berani mengambil sikap tegas sebagai pemimpin.
Tanpa sepengetahuan Alvero, baik Red dan Marcello yang melihat dengan jelas bagaimana cara Alvero memandang kea rah istrinya membuat kedua pria yang begitu menyayangi Deanda itu tersenyum bahagia.
Kak Alexis, akhirnya putri cantikmu mendapatkan seorang suami yang bukan hanya hebat, tapi dia begitu mencintai Deanda.
Marcello berkata dalam hati sambil menarik nafas lega.
Tuan Alexis, akhirnya setelah sekian lama Anda meninggalkan nona besar dan membiarkannya berjuang sendirian, sekarang ada sosok laki-laki hebat yang akan melindungi dan menjaga nona besar untuk Anda.
__ADS_1
Sambil sedikit mengalihkan pandangannya dari Deanda dan Alvero, Red berkata dalam hati dengan lega.
“Ah, baiklah, lebih baik kita hentikan suasana tegang ini dengan secangkir teh seduhan dari Tuan Red yang pasti nikmat. Terimakasih untuk tehnya Tuan Red.” Alvero berkata sambil meraih teko berisi teh yang ada di atas meja yang ada di depannya.
Melihat Tindakan Alvero, baik Red maupun Marcello langsung mengulurkan tangan mereka, bermaksud menggantikan Alvero menuangkan teh ke cangkir-cangkir itu.
Namun, Alvero segera menghentikan gerakan tangan kanannya yang sedang memegang teko sebentar, kemudian tangan kirinya memberikan tanda stop kepada Red dan Marcello agar tidak berusaha menggantikannya. Setelah itu Alvero kembali menuangkan teh itu ke cangkir-cangkir yang ada.
“Silahkan dinikmati tehnya. Aku melakukan ini sebagai menantu keponakan Uncle Marcello. Bukannya Deanda adalah keponakan Uncle Marcello? Berarti sejak aku menikah dengan Deanda, aku juga menjadi keponakan Anda. Benarkan Uncle Marcello?” Mendengar pertanyaan dari Alvero, Marcello hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena apa yang dikatakan oleh Alvero memang benar. Secara langsung, Alvero menjadi keponakannya setelah menikah dengan Deanda yang merupakan putri dari kakak kandungnya.
“Dan Anda Tuan Red, Anda adalah guru dari Deanda yang menggantikan Tuan Alexis melatih Deanda selama ini. Jadi aku melakukan ini karena menghormati Anda sebagai guru yang dihormati oleh istriku.” Red langsung tertawa mendengar perkataan dari Alvero.
“Yang Mulia… saya benar-benar tidak menyangka…. Saya merasa begitu tersanjung dengan penghargaan yang diberikan Yang Mulia kepada saya. Kalau begitu, dengan senang hari saya akan meminum teh ini.” Tanpa basi-basi Red langsung meraih cangkir di depannya, meniupnya sebentar sebelum akhirnya meminum teh itu.
“Ah, kalau begitu, bisakah kami memanggil Anda dengan sebutan Tuan Alvi? Sehingga kami juga merasa nyaman.” Red berkata dengan senyum masih tersungging di bibirnya, sedang Alvero langsung menganggukkan kepalanya.
“Silahkan saja, jika itu bisa membuat Tuan Red lebih nyaman bicara denganku dengan santai.” Selesai mengucapkan kata-katanya, Alvero meletakkan cangkir yang ada di tangannya ke atas meja kembali.
“Tuan Alvi, pasti ada sesuatu yang penting yang sudah membuat Anda dan Deanda meminta pertemuan ini.” Red kembali berkata dengan mata menatap dalam-dalam ke wajah Alvero.
__ADS_1
“Tuan Red dan Uncle Marcello. Apakah kalian berdua tahu apa alasan Tuan Alexis membenci keluarga Edarian?” Tanpa basa-basi, Alvero langsung mengucapkan sebuah pertanyaan kepada Red dan Marcello.
Baik Red dan Marcello sama-sama tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Alvero. Setelah beberapa detik kemudian, Red dan Marcello saling berpandangan, lalu sama-sama menarik nafas panjang.
“Ah, bagaimanapun salah satu keturunan Edarian adalah ibu tiri Anda. Apa tidak apa-apa jika kami membeberkan keburukan ibu suri?” Marcello berkata sambil menggaruk-garuk alisnya dengan sikap canggung.
“Aku tidak pernah menganggapnya sebagai ibu tiri, juga istri yang mulia Vincent. Permaisuri Gracetian sebelum Deanda, aku hanya mengakui Larena Hilmar, tidak ada yang lain.” Mendengar perkataan Alvero dengan nada berapi-api membuat Red dan Marcello kembali menarik nafas panjang.
“Anda tahu sebelumnya, kami bertiga adalah anggota tim pengawal eksklusif kerajaan untuk raja Gracetian, yang mulia Vincent. Saat itu tim pengawal ekslusif kerajaan dipimpin oleh Tuan Alexis Federer. Beberapa kali kamu harus menyelesaikan keributan dan masalah yang ditimbulkan oleh ibu suri Eliana yang saat itu masih menjabat sebagai permaisuri. Bahkan kami pernah harus memaksa membawa pulang ibu suri Eliana dari sebuah lounge karena mabuk dan hampir berkelahi dengan seorang wanita penghibur di tempat itu. Ibu suri Eliana sepertinya benar-benar orang yang berbakat membuat banyak keributan.” Red berkata sambil matanya menerawang mengingat apa yang pernah terjadi di kala itu.
(Walaupun sama-sama menyediakan minuman beralkohol seperti bar, namun Lounge biasanya berada di hotel bintang lima. Konsep lounge lebih elegan, aka nada pelayan yang akan melayani pesanan makan dan minum tamu. Biasanya lounge digunakan oleh para pekerja atau pebisnis untuk mengadakan pertemuan dan acara lainnya. Kalau ke lounge biasanya tamu memakai pakaian rapi, berdandan, dan umumnya minuman yang dijual di sana biasanya lebih mahal harganya).
“Banyak keributan?” Pertanyaan Alvero diiringi oleh sebuah kernyitan di dahinya, merasa begitu penasaran dengan sepak terjang Eliana.
“Hah…. Sebagai pengawal eksklusif raja bahkan kami merasa malu karena harus membela dan melindungi wanita seperti Eliana. Beberapa kali kami diharuskan menyelamatkan Eliana dari amukan masyarakat, karena dia seringkali merebut beberapa bisnis yang menguntungkan untuk diserahkan kepada keluarga Edarian yang lain. Dia selalu menindas orang lain menggunakan kekuasaannya sebagai permaisuri Gracetian agar keluarga Edarian diuntungkan dan selalu bebas dari segala tuduhan. Dia selalu memberikan ganti rugi dan harga paling rendah, yang tidak masuk akal saat mengambil alih bisnis milik orang lain itu. Dia selalu berusaha mengeruk keuntungan sebesar-besarnya untuk memperkaya keluarga Edarian.” Marcello menghentikan bicaranya sebentar.
“Dia wanita yang tidak segan-segan menggunakan segala tindakan kotor dan kejam. Baginya sudah biasa untuk memfitnah, membayar saksi palsu, memenjarakan orang bahkan membunuh orang tidak bersalah. Selain itu dari beberapa kali pemberontakan yang ada, kak Alexis mencurigai adanya keterlibatan ibu suri Eliana. Hal itu juga yang membuat Kak Alexis begitu membenci keluarga Edarian. Hanya saja, sampai kak Alexis meninggal ketika menyelamatkan istana dari para pemberontak dan mengejar mereka, kak Alexis belum berhasil menemukan bukti kuat untuk menyeret ibu suri Eliana ke ranah hukum.” Marcello kembali melanjutkan ceritanya tentang apa yang terjadi di masa lalu.
“Sebenarnya, kasus penculikan Anda sebagai putra mahkota waktu itu, Tuan Alexis sudah menemukan titik terang pelaku dan bukti kuat, seorang saksi yang merupakan pelayan yang ditugaskan oleh ibu suri Eliana untuk memancing putra mahkota jauh dari para pengawal. Tapi seperti Tuan Alvi ketahui, tidak lama setelah Tuan Alvi ditemukan, pelayan itu mati keracunan. Karena tidak adanya cukup bukti, kasus kematiannya dianggap sebagai usaha bunuh diri, padahal sebelumnya Tuan Alexis sudah berhasil menenangkan pelayan itu dan membujuknya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan menghadap raja. Tetapi ibu suri sudah bergerak lebih dahulu saat kami para pengawal ekslusif kerajaan yang waktu itu sibuk melindungi raja Vincent dan putra mahkota yang baru saja ditemukan.” Dengusan keras dari Red sambil menceritakan kejadian yang sudah lama berlalu itu membuat Alvero dan Deanda langsung mengerti bahwa Red masih begitu mengingat kejadian itu.
__ADS_1