
“Baik Yang Mulia.” Dengan sikap hormat namun tegas, Ernest menjawab perintah dari Alvero, sedang Jose sendiri segera bangkit dari duduknya.
“Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu Yang Mulia, Permaisuri, terimakasih untuk kepercayaan yang diberikan kepada saya agar dapat membantu Yang Mulia dan Permaisuri hari ini.” Jose berkata sambil kembali memberikan salam penghormatannya sebelum keluar dari ruangan itu.
“My Al, apa ada yang aneh dari liontin ini?” Begitu Jose sudah keluar dari kantor mereka, Deanda yang ikut bangkit dari duduknya langsung bertanya kepada Alvero sambil menatap ke arah wajah Alvero yang terlihat tegang, dengan tangan memegang erat-erat kertas dimana di atasnya tergambar liontin itu.
“Saat pertama kali melihat liontin ini, aku merasa pernah melihatnya, tapi entah dimana dan siapa yang mengenakannya. Sampai saat ini aku tidak bisa mengingatnya dengan baik. Tapi detail liontin ini, setelah tuan Jose dan kamu menggambarkannya dengan baik. Aku merasa ada yang aneh dengan liontin ini.” Alvero berkata dengan tatapan matanya tidak beralih sedikitpun dari gambar liontin di depannya itu.
“Apa yang aneh dari liontin yang terlihat indah ini my Al?” Deanda bertanya dengan pandangan mata ikut mengamati gambar liontin tersebut.
“Dari bentuknya, tidak ada yang aneh dari liontin ini. Tapi huruf A di bagian tengah liontin ini… lihat….” Jari tangan Alvero menunjuk kepada bagian tengah liontin yang menunjukkan adanya inisial huruf A di sana.
“Memang kenapa dengan huruf A tersebut?” Deanda bertanya dengan pandangan matanya terarah pada jari telunjuk Alvero yang menunjuk pada huruf A di bagian tengah liontin itu.
“Sweety…. Tidakkah bentuk dari huruf A ini mengingatkanmu akan sesuatu?” Pertanyaan balik dari Alvero membuat Deanda berusaha keras untuk memikirkan tentang huruf A itu.
“My Al… apa mungkin maksudmu huruf A ini adalah simbol dari….” Deanda menghentikan kata-katanya dan memandang dalam-dalam ke arah Alvero.
Mendengar perkataan Deanda yang menggantung, Alvero langsung menganggukkan kepalanya.
“Huruf A ini adalah simbol dari keluarga Adalvino. Entah dari siapa Alaya mendapatkan liontin ini, yang pasti, orang yang memberikan liontin ini pasti memiliki hubungan dengan keluarga Adalvino.” Alvero berkata sambil menarik nafas panjang.
“Apa itu artinya, Alaya merupakan salah satu dari keturunan Adalvino juga?” Pertanyaan dari Deanda membuat Alvero langsung mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
__ADS_1
“Tergantung siapa yang memberikan liontin ini kepada Alaya, dan hubungan apa yang dimiliki Alaya dengan pemilik liontin ini.” Alvero langsung menjawab pertanyaan Deanda.
Tangan Alvero bergerak melipat rapi kertas bergambar liontin itu dan memasukkannya ke saku jasnya.
“Kira-kira siapa pemilik liontin itu? Apa mungkin kamu memiliki keluarga di luar negeri yang sudah lama tidak berhubungan dengan keluarga di sini?” Deanda mencoba mengeluarkan idenya.
“Di kerajaan Gracetian, yang memiliki garis keturunan laki-laki Adalvino hanya papa Vincent dan papa dari Enzo. Selain mereka berdua, semua yang bermarga Adalvino adalah perempuan. Biasanya di keluarga Adalvino, jika dia adalah pihak perempuan, tidak bisa menurunkan simbol keluarga Adalvino ke anaknya, yang pastinya karena anak mereka akan mengikuti nama keluarga dari suaminya.” Penjelasan Alvero langsung mematahkan tebakan Deanda tentang asal liontin milik Alaya.
Apa mungkin…. Liontin ini milik ma…. Ah, tidak mungkin. Aku terlalu berkhayal jika memikirkan tentang kemungkinan yang tidak masuk akal itu.
Alvero berkata dalam hati sambil menahan nafasnya untuk beberapa saat.
“My Al, apa yang sedang kamu pikirkan?” Mendengar pertanyaan Deanda, Alvero segera menoleh ke arah permaisurinya.
“Ah, tidak. Jangan khawatir sweety. Setelah makan malam di istana, kita sempatkan waktu kita untuk menghubungi papa melalui video call, dan menanyakan tentang liontin ini. Mungkin papa memiliki jawaban pasti tentang pertanyaan kita ini.” Alvero berkata sambil mengelus dengan lembut rambut Deanda.
Mendapat kecupan mesra dari Alvero, Deanda langsung mengerakkan salah satu tangannya ke arah tengkuk Alvero, dan mengelus lembut bagian dari tubuh Alvero itu. Dan bukan hanya itu, tangan Deanda yang lain bergerak ke pinggang Alvero dan melingkar dengan manja di sana, membuat tubuh Alvero tersentak kaget dan bagian dari tubuhnya memberikan reaksi cepat terhadap godaan dari Deanda.
Deanda sengaja bersikap mesra dan manja untuk menggoda Alvero. Namun suara ketukan, diikuti dengan suara bel dari arah pintu membuat Deanda menghentikan niatnya.
“My Al, ada yang datang….” Mendengar bisikan lembut dari Deanda membuat Alvero menjauhkan dirinya dari tubuh Deanda dengan enggan.
Begitu Alvero memberikan balasan berupa suara bel, pintu segera terbuka, dan sosok Ernest dengan senyum ramahnya segera menyembul dari balik pintu.
__ADS_1
“Hah! Aku pikir siapa! Kenapa kamu cepat sekali kembali kesini?” Alvero langsung menggerutu begitu melihat sosok Ernest yang datang.
“Maaf Yang Mulia, bukannya, tadi sebelum tuan Jose datang, Yang Mulia mengatakan bahwa setelah tuan Jose selesai, ada hal tentang investasi baru yang akan kita bicarakan?” Ernest berkata sambil berjalan mendekat ke arah Alvero, diikuti sebuah senyuman geli dari Deanda melihat bagaimana Ernest menjadi korban kekesalan dari Alvero, karena merasa Ernest sudah mengganggu momen-momen mesranya.
Dasar Ernest, tidak bisakah dia mendukungku untuk bisa segera mendapatkan calon putra mahkota berikutnya? Kenapa kamu senang sekali menjadi pengganggu!
Alvero berkata dalam hati dengan bibir sedikit memberengut, karena kehadiran Ernest yang baginya begitu mengganggu, membuat dia tidak bisa melanjutkan kemesraan dengan Deanda.
“Kamu ini! Apa sulitnya menunda hal seperti itu 30 atau 40 menit lagi dari sekarang?” Dengan uring-uringan Alvero berkata sambil berjalan kembali ke arah meja kerjanya, dengan mata hazelnya melirik ke arah Deanda yang justru tampak tersenyum dengan wajah menggoda ke arah Alvero, yang langsung menarik nafas panjang sambil menggigit bibir bawahnya.
Tunggu saja sweety. Nanti malam akan menjadi malam panjang untuk kita berdua, menikmati malam indah bersama, agar secepatnya ada calon putra mahkota Gracetian selanjutnya di rahimmu.
Alvero kembali berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya dari sosok istri cantiknya, yang selalu saja berhasil membangkitkan gairahnya, dan begitu sulit untuk dikendalikan, jika itu timbul karena adanya Deanda di dekatnya.
Bagi Alvero, Deanda seperti magnet yang membuatnya selalu ingin mendekat, menyentuh, dan memanjakan wanita miliknya itu.
Di sisi lain, Ernest hanya bisa terdiam dengan wajah tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Alvero terlihat begitu uring-uringan dan terlihat jengkel padanya.
# # # # # # # #
“Sweety… apa kamu masih lama untuk bersiap?” Alvero yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi berkata sambil mengancingkan lengan panjang kemeja yang dikenakannya untuk menghadiri afternoon tea.
“Eh, aku sudah selesai. Kenapa terburu-buru? Bukannya acara afternoon tea baru akan dimulai 30 menit lagi?” Deanda bertanya kepada Alvero sambil berjalan mendekat ke arah Alvero.
__ADS_1
Melihat sosok cantik Deanda dengan gaun berwarna biru langit, membuat Alvero langsung menyungingkan senyuman dengan wajah bangga, karena sudah berhasil mepersunting wanita secantik dan semenarik Deanda. Dan bukan sekedar cantik dan menarik, tapi juga baik hati dan menjadi patner kerja terbaik untuknya.
“Sebelum menghadiri acara afternoon tea, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, yang mungkin berhubungan dengan pemilik liontin yang sekarang dikenakan oleh Alaya itu.” Alvero menjawab pertanyaan Deanda sambil menarik pergelangan tangan Deanda.