
Dengan gerakan pelan, Alvero mendongakkan kepalanya ke arah Deanda, dimainkannya dengan gerakan lembut, rambut Deanda yang tergerai indah malam ini, menambah sisi anggun dari permaisurinya itu.
"Aku sudah berhutang terlalu banyak padamu. Jika aku berani menyakiti, apalagi mengkhianatimu, saat itu juga kamu boleh melakukan apa saja terhadapku, untuk menghukumku." Mendengar perkataan Alvero dengan mata hazelnya yang indah menatap ke arah Deanda, membuat dada Deanda berdesir.
"Buat apa aku memikirkan hukuman untukmu, sedangkan aku percaya kamu akan selalu ada untukku dan mencintaiku sampai akhir hidup kita. Daripada membicarakan hal buruk seperti itu, kenapa kita tidak membicarakan hal-hal indah untuk masa depan kita?" Deanda langsung mengalihkan pembicaraan yang baginya justru akan menjadi beban pikiran.
Sejak Alvero menyatakan cintanya saat mereka berbulan madu di villa.... Saat itu juga Deanda memutuskan untuk mengabdikan dirinya sebagai istri yang baik dan setia kepada Alvero. Memberikan hati dan cintanya secara utuh hanya kepada Alvero.
Tidak perduli apapun badai yang akan mereka hadapi, Deanda bersumpah dia akan tetap ada di sisi Alvero dan mempercayai Alvero dengan sepenuh hatinya.
"Kamu memang wanita terbaik milikku. Sayang sekali aku terlambat mengetahui bahwa kamulah gadis kecil yang selama ini aku cari untuk dapat membalas hutang nyawaku waktu itu." Alvero berkata sambil menyandarkan kepalanya dengan manja di dada Deanda yang masih duduk di pangkuannya.
"Segala sesuatu ada waktunya my Al. Tidak perlu ada yang disesali. Yang harus disesali jika saja hari itu kita tidak bertemu. Membayangkan aku bisa saja kehilangan dirimu jika takdir tidak mempertemukan kita, membuatku hampir saja tidak bisa bernafas." Deanda berkata lirih, membuat senyum bahagia sekaligus bangga tersungging di bibir Alvero.
Seorang Deanda yang sejak pertemuan mereka di awal selalu bersikap dingin dan berusaha menghindarinya, apalagi saat Alvero memainkan sosoknya sebagai tuan Alvi. Dan sekarang, Deanda sudah begitu fasih mengucapkan kata-kata mesra untuknya. Menyadari itu membuat senyum bahagia di wajah Alvero semakin melebar.
"Kamu benar-benar membuatku semakin jatuh cinta padamu sweety. Sepertinya penyakit cinta yang kamu berikan padaku sungguh sudah berada pada stadium akhir, begitu akut, dan tidak bisa disembuhkan, kecuali kamu yang menyembuhkannya. Jadi, apakah kamu membawa obatmu sekarang?" Deanda langsung meringis mendengar perkataan manis dari Alvero.
"I love you my Al." Tanpa menjawab pertanyaan Alvero, Deanda mengucapkan pernyataan cintanya sambil memeluk leher Alvero dengan kedua lengannya, membiarkan kepala Alvero makin membenam di dadanya.
“Obat terbaik untukku, balasan cinta darimu yang begitu besar untukku.” Alvero berbisik lirih sambil tangannya mulai bergerak ke balik pakaian tidur Deanda yang akhirnya hanya bisa tersenyum malu-malu, karena tahu apa yang sedang diinginkan Alvero darinya saat ini.
__ADS_1
# # # # # # #
Deanda merasakan matanya masih begitu mengantuk pagi ini, beberapa kali Deanda mengerjap-kerjapkan matanya sambil menguap. Tapi, ingatan bahwa dia dan Alvero harus kembali ke kota Tavisha pagi ini membuat mau tidak mau Deanda memaksakan matanya untuk terbuka.
Selain itu, Deanda harus kembali ke kota Tavisha karena janji makan siang yang sudah dia buat bersama Abella dan yang lain hari ini.
Begitu Deanda membuka matanya hal yang pertama dilakukannya adalah membalikan tubuhnya ke arah Alvero yang masih memeluknya dari arah belakang dengan begitu erat, di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua setelah kegiatan panas mereka semalam.
"Morning sweety..." Suara sapaan yang terdengar pelan namun mesra dari Alvero cukup membuat Deanda tersentak kecil, karena dia berpikir Alvero masih tertidur.
Yang mulia ternyata sudah bangun, setelah berkali-kali meminta jatahnya tadi malam, aku pikir yang mulia akan merasa lelah dan bangun lebih lambat. Ternyata seperti biasa, yang mulia tetap saja bangun lebih awal, seolah cadangan energi yang mulia tersedia banyak sekali. Aku tidak tahu bagaimana stamina yang mulia bisa begitu bagus, sedang aku saja masih merasakan lelahnya. Apa mungkin karena sekarang ini aku semakin jarang berlatih beladiri ya?
Deanda berkata dalam hati sambil membalas sapaan Alvero dengan sebuah kecupan mesra di bibir suaminya, tanpa menjawab salam Alvero dengan kata-kata. Alvero yang mendapatkan balasan selamat bagi dengan begitu manis dari istrinya, dengan cepat langsung bergerak mempererat pelukannya kepada Deanda.
"Lagi?" Deanda berkata singkat sambil sedikit menjauhkan kepalanya dari jangkauan Alvero.
"Kenapa? Selagi masih pagi. Masih ada waktu satu setengah jam dari sekarang, sebelum kita berangkat ke Tavisha." Alvero berkata sambil jari-jari tangannya sibuk memainkan rambut Deanda yang tergerai dan menutupi pipinya.
"Lain kali ya... semalam kamu sudah membuatku kewalahan, aku masih merasa lelah." Alvero langsung tersenyum geli mendengar jawaban polos dari Deanda.
"Aku akan menunggu dengan sabar sampai kekuatanmu pulih. Aku juga tidak mau kamu terlalu lelah, agar aku bisa segera mendengar kabar tentang bayi kita di sini." Alvero berkata lembut sambil mengelus perut rata Deanda yang ada di balik selimut.
__ADS_1
Aku juga berharap bisa segera memberikan kabar gembira itu yang mulia. Rasanya hidupku akan semakin sempurna jika buah cinta kita hadir dalam rahimku.
Deanda berkata dalam hati sambil tangannya bergerak menempel pada punggung telapak tangan Alvero yang masih mengelus-elus perutnya dengan mesra.
"I love you sweety." Alvero berbisik pelan sambil menciumi tengkuk Deanda yang menyunggingkan senyum bahagianya.
"Ayo kita mandi dan segera berpamitan dengan papa untuk kembali ke Tavisha." Alvero berkata sambil melepaskan pelukannya kepada Deanda, berencana untuk bangun dari tidurnya dan membersihkan diri.
Namun dengan cepat Deanda membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Alvero.
"Kemarin malam ketika kami melakukan video call, Abella mengajakku makan siang di cafe, Clare dan Cleosa akan ikut makan bersama." Alvero sedikit mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari Deanda.
"Bolehkan? Aku ikut bersama mereka siang ini?" Deanda berkata dengan mata ambernya yang indah memandang ke arah Alvero dengan tatapan memohon, membuat Alvero yang awalnya ingin mengatakan tidak hanya bisa terdiam sesaat.
"Ayolah my Al... bolehkan? Sudah sangat jarang sekali aku bertemu dengan mereka karena kesibukan kita." Mendengar pertanyaan tentang ijin itu lagi, Alvero langsung menarik nafas panjang.
Walaupun sejak Deanda menjadi asistennya, membuat hampir 24 jam dalam sehari mereka bersama, tetap saja bagi Alvero membiarkan Deanda menjauh dari jangkauan matanya selama beberapa waktu membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak rela.
Alvero tidak perduli tentang bagaimana oang memandang dan menilainya sebagai seorang pria yang over protektif, super possesif ataupun pencemburu akut, seperti yang seringkali dikatakan Enzo kepadanya. Yang pasti, Alvero bisa bernafas lega saat kemanapun matanya memandang, dia berharap selalu bisa melihat sosok wanita tercintanya itu. Dan Alvero tidak merasa ada yang salah dengan itu.
__ADS_1