BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENGIKUTI PERMAINAN ELIANA


__ADS_3

Kecuali Deanda tentunya. Harusnya saat aku mendengar info bahwa Ernest pernah mengantar Deanda dengan mengendarai mobil pribadi Alvero, saat itu aku segera bertindak secepat mungkin menyingkirkan gadis itu, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada Alvero untuk dapat menikahi Deanda. Waktu itu aku benar-benar salah langkah karena berpikir bahwa Alvero akan memperlakukan Deanda seperti memperlakukan para gadis lain yang sempat dikabarkan dekat dengannya. Yang akan berakhir dengan sendirinya tanpa alasan yang jelas. Haist, waktu itu aku bahkan percaya tentang isu yang menyatakan bahwa Alvero adalah seorang pria penyuka sesama jenis.


Eliana melanjutkan perkataannya dalam hati, berharap bisa mengulang taktik lama untuk dapat menjatuhkan Alvero dalam hal yang sama dengan Vincent.


"Dan raja Alvero sendiri, boleh dikata dia begitu dekat dengan Ernest, jadi kamu bisa memanfaatkan kedekatanmu dengan Ernest untuk menarik perhatiannya." Alaya menarik nafas panjang mendengar perkataan dari Eliana.


"Yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda selalu tampil sebagai pasangan serasi yang terlihat mesra dan saling mencintai. Bagaimana bisa saya masuk di tengah-tengah hubungan mereka? Jika saya gagal, bukan hanya nama baik saya yang rusak, tapi saya pasti akan mendapatkan hukuman berat dari yang mulia Alvero. Tidak, saya masih muda dan masih ingin menikmati hidup." Alaya langsung menanggapi perkataan Eliana sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, menunjukkan gerakan menolak penawaran Eliana sambil memasang sedikit ketakutan.


"Tenang Nona. Tenang. Kamu tidak perlu takut. Jika kamu menuruti perintahku, kamu akan bisa hidup sambil menikmati hasil dari kerja kerasmu. Aku akan membantumu memikirkan caranya. Kamu hanya perlu melakukannya sesuai dengan perintahku." Alaya terdiam mendengar perkataan dari Eliana, berpura-pura sedang berpikir keras, mencoba mempertimbangkan penawaran Eliana.


"Kalau.... saya gagal menarik perhatian yang mulia Alvero. Apa yang akan terjadi?" Alaya berkata dengan nada terdengar begitu ragu, membuat Eliana mendesis pelan.


"Jangan khawatir, aku tetap memiliki rencana lain tentang itu. Cobalah untuk mendekatinya untuk beberapa waktu ini. Jika gagal, aku yang akan bertindak. Kalaupun belum bisa mendapatkan hatinya, dapatkan kepercayaannya, sehingga suatu saat kita bisa menjebaknya." Eliana berkata dengan nada santai.


"Men... menjebak... nya? Bagaimana seorang raja yang hebat seperti yang mulia Alvero bisa dijebak?" Mendengar pertanyaan dari Alaya, Eliana langsung tertawa kecil, menunjukkan dia sedang menganggap remeh perkataan Alaya tentang sosok Alvero yang hebat.

__ADS_1


"Kamu hanya perlu mengajaknya keluar berdua di suatu tempat, setelah itu serahkan padaku. Aku akan membuat seolah-olah Alvero dan kamu sudah melakukan hubungan intim, sehingga kita bisa memaksa Alvero bertanggung jawab untuk itu. Jika dia menolak, tinggal membuat dirimu hamil dan mengakui bahwa itu adalah anaknya." Eliana berkata dengan senyum menyeringai, membuat Alaya tanpa sadar mengepalkan tangannya yang rasanya tidak sabar untuk bisa menghantam wajah wanita di depannya.


Untung saja tangan Alaya yang sedang terkepal erat berada di bawah meja, sehingga tidak terlihat oleh Eliana.


Benar-benar wanita licik dan kejam, seperti yang aku dengar dari kak Alvero dan uncle Alexis. Andai saja aku tidak memikirkan akibatnya, rasanya saat ini juga aku ingin menghajar wanita itu dan melemparkannya ke kandang singa yang kelaparan.


Alaya berkata dalam hati dengan dada yang terasa menyesakkan mendengar bagaimana mudahnya seorang Eliana menceritakan rencananya yang begitu menjijikkan itu kepadanya.


"Saya sungguh salut... pemikiran Yang Mulia sungguh hebat. Yang Mulia Ibu Suri sepertinya sudah begitu berpengalaman terhadap hal-hal seperti ini." Mendengar perkataan Alaya, Eliana mengangkat salah satu ujung bibirnya, menunjukkan sedikit senyum sinisnya.


Sungguh kurangajar sekali! Sepertinya apa yang terjadi pada papa Vincent memang sepenuhnya adalah jebakan kotor dari wanita ular ini.


Alaya memaki dalam hati. Kali ini perkataan Eliana benar-benar membuatnya hampir bangkit berdiri, mendekatkan tubuhnya ke arah Eliana, menarik kerah pakaian wanita itu agar dia dapat dengan sepuasnya memukuli wajah wanita itu hingga tidak bisa lagi dikenali.


"Dan satu lagi! Jika kamu menolak bekerja sama denganku, pilihanmu hanya satu. Yaitu kematian! Karena tidak pernah ada orang yang akan aku biarkan lepas saat aku sudah mengarahkan telunjukku padanya. Apalagi kamu sudah bertemu dan mendengarkan rencana-rencanaku hari ini." Eliana kembali mengucapkan kata-kata ancamannya.

__ADS_1


"Ta... tapi Ibu Suri... saya tidak berani...." Dengan terbata-bata Alaya berkata dengan wajah terlihat begitu tertekan, seperti sedang menghadapi seekor singa yang siap menerkamnya hidup-hidup.


"Siapapun yang sudah aku pilih, harus menuruti segala perintahku. Jika tidak, pilihan lainnya adalah kematian." Dengan tegas Eliana mengucapkan kata-katanya, membuat Alaya tersentak kaget, dengan wajah terlihat ketakutan.


"Maaf Nona. Kamu harus menuruti perintahku atau hari ini kamu tidak akan bisa lagi pulang ke apartemenmu dengan selamat." Eliana berkata sambil tersenyum dengan sinis, sekaligus puas melihat bagaimana wajah ketakutan dari Alaya.


"Ba... baik Ibu Suri. Tolong jangan sakiti saya. Saya... akan melakukan apapun perintah dari Ibu Suri." Alaya berkata sambil menundukkan kepalanya agar Eliana tidak melihat bagaimana matanya ingin sekali melotot di depan Eliana, agar bisa menunjukkan bahwa saat ini sebenarnya dia merasa marah sekaligus jijik melihat sosok wanita yang ada di depannya saat ini.


"Hmmm. Anak baik. Sepertinya kamu anak yang cepat mengerti. Sudah seharusnya sejak awal jangan mencari alasan untuk menolak permintaanku. Ah... lebih tepatnya perintahku!" Eliana kembali berkata sambil memainkan kuku ibu jarinya dan kuku jari telunjuknya.


"Terimakasih pujiannya Ibu Suri." Alaya berkata denga kepalan di tangannya semakin erat menggepal, dengan urat-urat di leher Alaya terlihat mulai menegang, karena benar-benar sulit baginya untuk menahan emosinya yang hampir meledak tidak terkendali, melihat dan membayangkan bagaimana licik dan kejamnya Eliana.


Eliana akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, termasuk memaksa, bahkan membunuh orang-orang yang menghalangi atau tidak menuruti perintahnya.


"Tapi... Ibu Suri.... Bolehkan saya meminta sesuatu kepada Ibu Suri?" Alaya berkata dengan nada pelan, sambil memberanikan diri mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, dan menatap ke arah Eliana dengan tatapan terlihat sedikit ragu., tapi sekaligus dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Alaya membuat Eliana sedikit mengernyitkan dahinya, dengan sikap bertanya-tanya, tentang apa yang membuat Alaya berani meminta sesuatu darinya, bahkan sebelum melakukan tugasnya.


__ADS_2