BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
USAHA ELIANA MENYUSUL ROLLAND


__ADS_3

Setelah Rolland menemui anak buahnya dan membawa mereka ke gudang senjata tadi, Eliana berniat ke kamar mandi sebentar.


Tapi baru saja Eliana menutup pintu kamar mandi, Eliana mendengar keributan dari arah gudang senjata yang letaknya tidak jauh dari kamar mandi yang sedang dipakainya.


Bahkan Eliana bisa mendengar bunyi tembakan yang dilakukan Alvero untuk melukai kaki Rolland, sehingga membuatnya memutuskan untuk bersembunyi di dalam kamar mandi sambil mengamati apa yang sedang terjadi.


Setelah beberapa waktu, Eliana melihat bagaimana pasukan Alvero menggelandang para anak buah Eliana, namun Eliana tidak bisa menemukan sosok Rolland, sampai semua orang keluar dari gudang senjata itu.


Tapi.... dimana Rolland? Aku tidak melihat adanya Rolland. Dia pasti berhasil menyelamatkan dirinya. Aku harus segera mencari tempat persembunyian agar mereka tidak bisa menemukanku. Sebentar lagi mereka pasti akan mengobrak-abrik bunker ini untuk mencariku. Pihak rumah sakit pasti sudah mengabarkan tentang hilangnya aku dari rumah sakit. Sungguh sial!


Eliana kembali berkata dalam hati sambil mengepalkan tangannya.


Dengan gerakan terburu-buru, Eliana mengambil handphone di saku pakaiannya dan menuliskan pesan untuk Rolland.


Katakan dimana posisimu sekarang? Aku akan segera menyusulmu ke sana.


Eliana menuliskan pesan kepada Rolland, sebelum akhirnya dia mencari kesempatan yang baik untuk keluar dan berpindah tempat untuk bersembunyi di tempat penyimpanan bahan makanan, yang baginya merupakan tempat paling aman dan paling dekat dengan pintu keluar.


Eliana berharap, jika saja memungkinkan, dia akan bisa segera keluar begitu ada kesempatan jika dia berada di tempat itu, karena letaknya dekat dengan pintu keluar.


Sebelum melangkah keluar dari kamar mandi, Eliana segera meraih pistol yang tadinya dia bawa ketika keluar dari tempatnya beristirahat untuk menuju kamar mandi.


Setelah cukup lama Eliana bersembunyi di gudang bahan makanan itu tanpa diketahui, dia berusaha untuk keluar.

__ADS_1


Tapi Eliana langsung menghentikan niatnya, begitu didengarnya suara langkah-langkah orang yang sedang mendekat.


Dengan hati-hari Eliana mengintip dari balik pintu tempatnya bersembunyi, berusaha mengamati apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang itu.


"Apa semua sudah dibersihkan?" Sebuah suara dari seorang pria terdengar bertanya kepada yang lain.


"Sudah Tuan Alexis." Eliana langsung membeliakkan matanya begitu mendengar salah satu dari orang-orang itu menyebutkan nama Alexis.


Alexis? Alexis Federer?


Eliana berteriak dalam hati dengan mata memandang sinis ke arah orang-orang yang sedang berjalan melewati tempat persembunyiannya.


"Semua berkas-berkas yang aku berikan tadi, apakah sudah dipacking dengan baik dan dibawa ke pos penjagaan untuk segera dikirimkan ke istana?" Alexis berkata sambil menoleh ke arah orang yang diajaknya bicara, membuat Eliana dengan jelas bisa melihat wajah Alexis dan percaya bahwa itu memang Alexis yang sama dengan Alexis yang dia kenal dulu.


Seorang Alexis yang selalu berusaha membantu Larena dan begitu setia dengan keluarga Adalvino. Alexis yang selalu berhasil mencegah rencananya untuk mencelakai Larena.


Eliana memaki dalam hati dengan mata yang memancang ke arah Alexis dengan penuh kebencian, yang membuatnya hampir saja tidak bisa mencegah tangannya untuk mengarahkan pistolnya ke arah Alexis dan menembak kepalanya.


Akan tetapi, Eliana sadar sepenuhnya bahwa dia bukan orang yang cukup jitu dalam menembak. Dia membawa pistol itu sebagai alat untuk berjaga-jaga jika dia dalam kondisi terdesak.


Pada akhirnya, Eliana hanya bisa membiarkan sosok Alexis berlalu dari hadapannya tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sebentar kemudian ada beberapa sosok laki-laki lain yang berjalan melewati tempat Eliana bersembunyi.

__ADS_1


"Bantuan untuk yang mulia Alvero yang sedang mengejar tuan Rolland ke arah hutan sudah berangkat beberapa waktu yang lalu. Yang Mulia pasti berhasil meringkus tuan Rolland dengan mudah." Salah seorang dari orang yang lewat itu menjawab pertanyaan dari salah satu temannya.


"Aku berharap Yang Mulia menembak mati pimpinan pemberontak itu, supaya tidak memberinya kesempatan untuk kembali kabur dan melakukan rencana baru lagi." Rekannya langsung memberi tanggapan terhadap perkataan temannya.


Dan perkataan itu terdengar jelas di telinga Eliana yang langsung menggeretakkan giginya sambil menahan nafasnya karena dadanya yang sesak, dipenuhi dengan kemarahan sekaligus rasa khawatir terhadap kondisi Rolland.


Ke arah hutan? Rolland pergi kesana? Berarti ada kemungkinan dia belum tertangkap, karena dia sangat familiar dengan kondisi hutan disana.


Eliana berkata dalam hati sambil tersenyum dengan wajah terlihat begitu lega.


Kalau begitu, secepatnya aku harus mencari cara agar bisa segera menemui Rolland di hutan. Aku harus bertemu dengannya dan pergi meninggalkan tempat ini secepatnya. Setelah itu kita bisa memikirkan langkah selanjutnya.


Eliana kembali berkata dalam hati sambil mengamati sekelilingnya. Mempertajam matanya sekaligus pendengarannya, berharap orang-orang dari Alvero tidak lagi melewati tempatnya bersembunyi, sehingga dia bisa segera keluar dari bunker dan menyusul Rolland ke hutan.


# # # # # # #


"Kak Deanda, mau kemana? Ini sudah terlalu malam, sebaiknya Kakak beristirahat di sini saja sambil menunggu Kak Alvero kembali." Alaya langsung memanggil Deanda yang tiba-tiba bangkit dari duduknya di salah satu kursi panjang yang ada dalam bunker.


"Aku mau menunggu kakakmu di luar sambil mencari angin segar. Di sini terasa pengap." Deanda menjawab pertanyaan Alaya sambil berjalan keluar dari bunker, diikuti oleh Alea yang sedari tadi berusaha untuk tidak melepaskan pandangannya dari Deanda, khawatir jika tiba-tiba Deanda menghilang dari pengawasannya.


"Sudah lama yang mulia Alvero belum kembali, menurutmu apa yang terjadi Alea?" Deanda berkata dengan suara lirih, sambil matanya menatap lurus ke arah hutan dimana Alvero tadi terakhir terlihat bersama yang lain mengejar Rolland.


"Yang Mulia pasti baik-baik saja, jangan khawatir. Jangan terlalu terbawa emosi, Itu tidak akan bagus untuk kesehatan bayi dalam kandunganmu." Alea berusaha menghibur Deanda yang wajah cantiknya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya memikirkan begitu lamanya Alvero belum kembali, bahkan setelah pasukan bantuan dikirim ke sana.

__ADS_1


 


 


__ADS_2