
“Yang Mulia, aku mohon mintalah pengampunan kepada yang mulia Alvero yang berencana mengusir putri Desya dari istana.” Mendengar perkataan Eliana, di seberang sana terdengar suara helaan nafas dari Vincent.
“Eliana… aku sudah mendengar apa yang telah dilakukan Desya kepada Deanda tadi pagi dari duke Evan sebagai pemegang tanggungjawab tertinggi keamanan kerajaan. Dalam hal ini kita sebagai orangtua harus mengakui kesalahan kita sudah salah dalam mendidik Desya. Kita tidak mendidiknya dengan baik sehingga dia berani merencanakan sesuatu yang buruk kepada Deanda. Apa kata orang jika kita sebagai keluarga kerajaan tidak bisa menjadi panutan.” Vincent berkata dengan nada terdengar kecewa.
“Aku tahu Yang Mulia. Tapi hukuman Desya… diusir keluar dari istana merupakan hukuman yang sangat berat baginya Yang Mulia.” Eliana tetap bersikeras agar Vincent setuju dengan pemikirannya.
“Sepertinya kamu harus berterimakasih kepada raja Alvero karena secara hukum, bahkan status Desya sebagai putri bisa dicabut jika dia melakukan sesuatu yang merusak nama baik atau membahayakan kehidupan keluarga kerajaan. Apalagi yang hendak dicelakai oleh Desya adalah seorang permaisuri Gracetian.”
“Tapi Yang Mulia…” Eliana berkata dengan nada memohonnya, membuat yang hadir di sana sedikit memalingkan wajahnya, jika tidak ingin dianggap tidak sopan melihat kondisi Eliana yang sedang memohon kepada Vincent. Mereka tabhu walaupun mendengar harus pura-pura tidak mendengar, walaupun melihat harus berpura-pura tidak melihat untuk menunjukkan rasa hormat mereka, baik kepada Eliana maupun Vincent.
“Lalu… apa yang kamu inginkan dariku?” Eliana sedikit menarik nafas lega begitu mendengar Vincent menanyakan apa yang diinginkanya, seolah itu adalah sebuah penawaran yang memberinya harapan baru tentang kekhawatirannya terhadap Desya.
“Aku mohon yang mulia Vincent meminta agar Yang Mulia Alvero memberikan keringanan hukuman untuk putri Desya.” Suara helaan nafas kembali terdengar dari seberang sana begitu Eliana menyampaikan keinginannya kepada Vincent.
__ADS_1
“Permintaanmu… kamu tahu itu tidak mungkin aku lakukan untukmu dan Desya. Saat ini raja Alvero merupakan raja Gracetian yang sah. Apapun keputusan yang sudah dia buat, aku yakin itu sudah dalam pertimbangan yang masak. Aku tidak akan melakukan intervensi apapun terhadap keputusan raja Alvero. Sebagai raja, raja Alvero memiliki hak prerogatif yang tidak bisa disangkal atau dibatalakan oleh siapapun. Cobalah untuk menghormati dan menerima keputusan dari raja Alvero, walaupun statusnya adalah anak kita dan usianya lebih muda dari kita, namun kedudukannya sekarang adalah raja Gracetian yang harus kita hormati dan taati.” Perkataan Vincent membuat kepala Desya kembali tertunduk, sedang Eliana mengepalkan tangannya dengan erat tanpa bisa berbuat apa-apa lagi.
(intervensi adalah campur tangan terhdap kedua belah pihak yang sedang berselisih pendapat yang jelas tidak ada hubungan dengannya).
“Eliana… apa kamu masih di sana?” Pertanyaan dari Vincent membuat Eliana sedikit tersentak.
“Ya Yang Mulia… aku masih di sini.”
“Aku harap kamu mau mendengarkan apa yang baru saja aku katakan. Itu hal yang bagus untuk Desya belajar tentang kehidupan di luar istana, agar membuatnya semakin dewasa. Jika raja Alvero bisa membuatnya keluar dari istana, kamu tahu dengan mudah dia juga bisa membawanya kembali masuk ke istana. Hanya menunggu waktu saat Desya sudah bisa membuktikan dia sudah belajar dan berubah.” Mendengar penjelasan Vincent yang panjang lebar, Eliana menahan nafasnya, sadar bahwa kali ini dia tidak lagi dapat berbuat apa-apa untuk masalah Desya.
“Ok, aku sudahi dulu panggilan teleponnya, nanti malam aku akan menelpon lagi.” Alvero langsung mengambil kembali handphonenya, berkata kepada Vincent begitu Eliana mengiyakan perkataan Vincent.
Alvero berniat meminta ijin untuk memutus panggilan teleponnya setelah mematikan mode speaker.
__ADS_1
“Alvero… berusahalah terus untuk selalu menjadi raja yang bijak dan tegas. Jangan ikuti jejak papamu yang seringkali tidak bisa bersikap tegas. Papa tahu kamu akan melakukan semua yang terbaik untuk Gracetian. Papa akan selalu mendukung apapun keputusan yang kamu buat nak. Lanjutkan pertemuan itu, jika kamu sudah luang, kamu bisa menghubungi papa.” Mendengar kata-kata Vincent sebelum dia memutuskan sambungan telepon itu membuat Alvero tersenyum.
Sedikit terlambat, tapi Alvero sungguh bersyukur di saat-saat Vincent sudah mulai menurun kesehatannya, dan Alvero sendiri semakin sibuk, dia baru bisa merasakan hubungan yang sesungguhnya ayah dan anak antara dia dan Vincent. Deanda yang duduk berdekatan dengan Alvero mau tidak mau bisa mendengar sayup-sayup pembicaraan antara Vincent dan Alvero, membuat Deanda merasa ikut senang bagaimana Vincent memberikan dukungan penuh kepada Alvero, dan sepertinya hubungan mereka berdua justru semakin membaik setelah Vincent masuk ke rumah sakit, dan untuk beberapa waktu Alvero menghabiskan waktu bersama Vincent di rumah sakit.
“Baiklah, kalian sudah mendengar keputusanku tentang putri Desya. Mulai hari ini silahkan putri Desya berkemas, karena paling lambat besok pagi putri Desya akan meninggalkan istana. Kita akhiri pertemuan kita hari ini.” Mendengar perkataan Alvero yang langsung berdiri sesudah mengatakan itu, Desya hanya bisa menghenyakkan tubuhnya di sandaran kursi dengan wajah putus asa, sedang Eliana yang masih berdiri di tempatnya terdiam mematung dengan tangan terkepal erat.
“Ah, ya, yang meminta agar hukuman putri Desya hanyalah diusir keluar dari istana tanpa mencabut gelar putrinya adalah permaisuri Deanda. Kalau ibu suri Eliana dan putri Desya ingin mengucapkan terimakasih, silahkan ucapkan terimakasih kalian kepada permaisuri Deanda yang sudah berbaik hati. Tapi tentu saja aku tidak bisa memaksa seseorang untuk berterimakasih.” Sebelum meninggalkan tempat, tiba-tiba saja Alvero kembali membalikkan tubuhnya, berkata sambil memandang ke arah Desya dan Eliana secara bergantian.
Perkataan Alvero sukses membuat Eliana membeliakkan matanya, sedang Desya memandang ke arah Alvero dengan tatapan kosong. Enzo yang melihat itu langsung menghampiri Desya.
“Jika kamu ingin mendapat kesempatan kembali ke istana dengan menunjukkan niat baikmu untuk berusaha berubah, ucapkan terima kasih kepada permaisuri Deanda, sekaligus minta maaflah padanya. Bukankah kamu juga belum meminta maaf sekalipun kepada permaisuri untuk menunjukkan rasa penyesalan dan bersalahmu?” Mendengar perkataan Enzo, Desya meremas kuat-kuat gaun yang dikenakannya di bagian pahanya.
Desya tahu hari ini Alvero benar-benar berniat menghancurkan harga dirinya untuk membalas perbuatannya kepada Deanda. Dan kali ini Desya tidak lagi memiliki alasan untuk menolak nasehat Enzo yang seratus persen benar. Jika dia tetap menunjukkan sikap keras kepalanya, sampai selamanya dia tidak akan lagi memilki kesempatan untuk bisa kembali masuk ke istana.
__ADS_1
Deanda Federer! Kali ini aku akan mangalah! Tapi saat ada kesempatan, aku sendiri yang akan menghancurkanmu! Kita lihat saja! Siapa yang akan tertawa paling akhir sebagai pemenang! Dan kamu kak Alvero! Aku akan membuatmu memohon kepadaku! Bersimpuh di kakiku! Dan aku rela melakukan apapun agar harapanku itu tercapai!
Desya berteriak dalam hati sambil bangkit dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Deanda dan Alvero. Desya segaja memperlambat langkah kakinya sembari menunggu orang lain yang ada di ruangan itu satu persatu meninggalkan tempatnya.