
“Alvero!” Melihat bagaimana Alvero tidak menjawab teriakan barusan darinya, Enzo kembali meneriakkan nama Alvero yang justru langsung tertawa tergelak mendengar suara Enzo memanggilnya dengan nada suara terlihat panik.
“Bagaimana Enzo? Apa kamu sudah mulai merasakan reaksinya? Sebagai saudara dekat, aku ingin kita berbagi suka duka bersama. Jadi, kamu juga bisa merasakan apa yang sudah aku alami kemarin malam.” Alvero berkata dengan salah satu sudut bibirnya terangkat.
“Ayolah Alvero! Aku minta maaf buat kemarin. Sekarang tolong perintahkan orangmu untuk membuka pintu kamarku sekarang juga! Aku sudah hampir tidak bisa menahannya lagi.” Enzo berkata dengan memohon kepada Alvero.
Enzo kembali mengingat kejadian bagaimana dia bisa terjebak dalam kamarnya yang terkunci rapat dari luar, tanpa dia bisa menyalakan lampu, alat pendingin ruangan ataupun air di kamar mandi karena semua fasilitas di dalam kamar hotelnya hanya bisa diaktifkan saat kunci kamar hotel berada dalam posisinya.
Malam ini, Alvero benar-benar melakukan apa yang sudah diniatkan dalam hatinya, seperti yang sudah direncanakan Alvero untuk membalas perbuatan Enzo kemarin malam. Alvero sengaja menyuruh orang untuk memberikan parfum ruangan yang sama yang sudah digunakan oleh Enzo kepadanya kemarin malam.
Begitu Enzo memasuki kamarnya, dengan cepat orang suruhan Alvero yang menyamar sebagai salah satu pegawai hotel yang mengikuti Enzo ke kamarnya, langsung mengambil kunci kamar hotel Enzo dan menguncinya dari luar.
"Hei!" Enzo yang menyadari lampu dan pendingin ruangan di kamarnya mati dengan tiba-tiba karena kunci kamarnya dicabut dari tempatnya langsung berlari ke arah pintu kamar hotelnya yang baru saja kembali tertutup rapat.
"Apa yang sudah kamu lakukan! Siapapun itu! Buka pintunya!" Enzo berusaha berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamarnya, akan tetapi sama sekali tidak ada tanggapan apapun dari luar.
Begitu melihat tidak ada yang membukakan pintu untuknya, Alvero berusaha mendekati telepon yang ada di kamarnya untuk menghubungi petugas front office hotelnya. Namun, begitu mengangkat gagang telepon itu, dan Enzo tidak bisa mendengar suara apapun dari speaker telepon itu, menandakan bahwa seseorang sudah memutus kabel sambungan teleponnya, Enzo hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sambil meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya, sambil mencoba menebak siapa yang sudah berani-beraninya mengerjainya dengan menguncinya di dalam kamarnya sendiri.
__ADS_1
Enzo langsung meraih handphonenya dan melakukan panggilan melalui handphonenya kepada bagian front office hotelnya ketika tiba-tiba dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Mata Enzo melirik ke arah pendingin ruangan di kamarnya. Dia tahu kalaupun pendingin ruangan mati karena kunci kamarnya tercabut dari tempatnya, karena ini bukan musim panas di Gracetian, seharusnya udara tidak terlalu panas. Namun, sekarang Enzo merasakan tubuhnya tiba-tiba terasa gerah.
Dan bukan hanya itu, Enzo mulai merasakan dadanya berdebar-debar tanpa alasan yang jelas, dan sesuatu miliknya di bawah sana tiba-tiba bereaksi dan terbangun dari tidurnya.
Sial! Pengharum ruangan! Aku baru menyadari ini bukan bau harum pengharum ruangan yang biasa digunakan untuk kamarku. Alvero! Satu-satunya orang yang berani dan sanggup melakukan ini hanya orang itu! Haist.... lain kali aku harus berhati-hati jika tidak ingin mendapatkan pembalasan seperti ini darinya.
Enzo mengomel dalam hati dengan sedikit menyesal sudah berani memberikan sesuatu kepada Alvero yang bisa saja menjadi suatu senjata makan tuan untuknya. Seperti yang sudah terjadi padanya sekarang ini. Membuatnya mau tidak mau harus menghubungi Alvero dan meminta belas kasihannya agar mau melepaskan dia malam ini.
"Alvero! Cepat buka pintu kamarku!" Enzo kembali meminta kepada Alvero membuka pintu kamarnya setelah pikirannya kembali fokus dengan apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
Dengan gerakan sedikit kasar karena buru-buru, Enzo melepaskan kancing kemejanya karena merasakan tubuhnya terasa semakin gerah, dadanya semakin berdebar-debar dengan kepala yang terasa aneh karena pikirannya sudah mulai melayang kemana-mana, membayangkan sesuatu yang seharusnya tidak dia bayangkan.
Deanda yang mendengar perkataan Alvero langsung membeliakkan matanya. Dengan cepat Deanda bisa menebak apa yang sudah terjadi dengan Enzo sehingga barusan Enzo menelpon Alvero dan mengeluarkan suara teriakan yang cukup keras sehingga dia yang duduk tepat di samping Alvero bisa dengan jelas mendengar teriakan histeris Enzo kepada Alvero.
Aduh... apa yang terjadi dengan pangeran Enzo? Apa yang mulia benar-benar membalas perbuatan pangeran Enzo semalam dengan melakukan hal yang sama kepada pangeran Enzo? Aduh.... kasihan sekali pangeran Enzo.
Deanda berkata dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya. Melihat kemungkinan Alvero memang membalas perbuatan Enzo semalam, membuat perasaan Deanda antara kasihan sekaligus geli, melihat tingkah kedua keturunan Adalvino yang seringkali saling berbuat iseng dan usil seperti apa yang sudah terjadi sekarang.
__ADS_1
"Ok! Ok! Aku yang salah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga akan meminta maaf kepada Deanda. Tapi sekarang, tolong keluarkan aku dari tempat ini! Jangan membuatku tersiksa seperti ini Alvero!" Mendengar permohonan dari Enzo, Alvero kembali tertawa tergelak.
"Well... mengingat besok adalah hari ulang tahunmu, aku akan berbaik hati padamu untuk sekali ini. Lain kali kalau kamu berani mengerjaiku lagi dan permaisuriku, aku akan membalasnya lebih dari yang sudah kamu perbuat." Alvero berkata sambil menjauhkan punggungnya dari sandaran sofa, dengan Deanda hanya bisa memandang ke arah Alvero dengan wajah terlihat begitu penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tunggu sebentar. Aku akan membukakan pintu kamarmu. Sebelum itu... jangan melakukan hal yang aneh-aneh ya. Ingat, belum waktumu melakukan hal seperti itu. Jangan sampai kamu membuat skandal ya. Ha ha ha ha." Alvero mengakhiri panggilan teleponnya dengan sebuah tawa geli.
Setelah itu dengan cepat Alvero langsung menghubungi Ernest agar memerintahkan orang yang membawa kunci kamar Enzo membuka kamar Enzo dan menyerahkannya kembali kepada Enzo. Namun, baru saja pintu kamar dibuka, belum sempat orang suruhan Alvero menyerahkan kembali kunci kamar itu, Enzo langsung mendorong tubuh orang suruhan Alvero ke arah samping dan berlari kencang, keluar menyusuri lorong hotel.
Penampilan Enzo yang terlihat berantakan, dengan kemeja yang dikenakannya tampak semua kancingnya terbuka, terus berlari ke arah selatan gedung lantai tempat kamarnya berada. Begitu Enzo sampai di sebuah pintu, dengan gerakan cepat Enzo langsung membukanya, dan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, Enzo langsung menceburkan diri ke dalam kolam dengan pakaian lengkap yang masih dikenakannya, diikuti oleh pandangan heran oleh beberapa orang yang sedang menikmati suasana di sekitar kolam renang sambil menikmati makan malam mereka di cafe hotel yang ada di samping kolam renang itu.
# # # # # # #
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada pangeran Enzo? Apa dia baik-baik saja sekarang?" Mendengar pertanyaan Deanda, Alvero yang masih tertawa geli langsung memandang ke arah Deanda sambil menepuk lembut paha Deanda.
"Sebuah pelajaran kecil untuk Enzo. Jangan khawatir, Enzo jauh lebih berpengalaman daripada aku dalam mengatasi masalah seperti itu. Aku tahu saat ini dia pasti sudah menemukan cara untuk mengatasi masalahnya tanpa harus membuat suatu kesalahan apalagi hal yang dapat mencoreng nama baiknya sebagai pangeran Adalvino." Alvero berkata sambil meraih buah anggur yang tersaji di meja yang ada di depannya dan mulai menikmatinya.
"Apa kamu benar-benar memberikan kepadanya parfum ruangan yang sama dengan yang dia berikan kepada kita?" Mendengar pertanyaan Deanda, Alvero langsung menganggukkan kepalanya dengan sikap santai, membuat perasaan Deanda merasa tidak enak, bahkan mulai merasa sedikit khawatir, apalagi Enzo jelas-jelas belum menikah.
__ADS_1
Bagaimanapun Deanda takut jika karena itu Enzo melakukan kesalahan fatal, melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan sebelum Enzo menikah. Sebagai seorang wanita yang polos dan tidak mengerti banyak tentang pria, tentu saja Deanda tidak mengerti apakah ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Enzo untuk mengatasi masalahnya.