
Setelah masa bulan madu kami berakhir, aku harus segera mulai berlatih beladiri lagi agar stamina tubuhku kembali seperti dulu. Olahraga memang hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk menjaga kekuatan dan stamina tubuhku. Setelah sekian lama mendekam dalam istana dengan berbagai suguhan makanan lezat dan kadang mengandung terlalu tinggi karbohidrat dan lemak.
Deanda berkata dalam hati sambil menahan nafasnya sebentar sebelum akhirnya tangannya menyentuh dan memeluk lengan Alvero yang masih melingkar di pinggangnya dengan penuh perasaan sayang. Untuk waktu ini, dia ingin menikmati setiap menit waktu, yang bisa dia habiskan bersama Alvero sebelum masa bulan madu mereka berakhir, dan dia kembali sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan Adalvino maupun sebagai permaisuri Gracetian, yang sebelum menikah bahkan nyonya Rose sudah menunjukkan kepada Deanda banyaknya jadwal yang harus dijalaninya jika dia menjadi permaisuri kelak.
Dan siapa menyangka, dia yang seharusnya menjadi putri mahkota setelah menikah dengan putra mahkota Alvero, pada hari itu juga... Tepat di hari pernikahannya, justru dia langsung menjadi seorang permaisuri karena Alvero diangkat menajdi raja Gracetian. Mengingat hal itu, Deanda hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
Semoga aku bisa menjadi pemaisuri yang baik, bukan hanya untuk yang mulia, tapi juga untuk seluruh rakyat Gracetian.
Deanda berkata salam hati sambil tersenyum dan memutuskan untuk saat ini memilih menikmati suasana indah sekaligus romantis yang sedang dialaminya bersama Alvero pagi ini.
Untuk beberapa lama mereka berdua berada pada posisi itu. Alvero yang dengan mesra memeluk tubuh istrinya dari belakang, dan menutupi tubuh polos mereka dengan selembar selimut tebal, menghadap ke arah jendela kamar, sambil menikmati keindahan matahari terbit sampai warna merah dan kuning keemasan menghilang, digantikan oleh warna langit yang tampak biru dengan matahari yang terlihat mulai berwarna putih dan menyilaukan kedua mata mereka.
"Matahari sudah naik. Ayo kita segera bersiap." Alvero berkata sambil memberikan sebuah kecupan mesra di punggung Deanda dan dengan sengaja meninggalkan sedikit tanda merah di kulitnya yang putih bersih, sebelum akhirnya mereka berdua berjalan beriringan ke arah kamar mandi.
# # # # # #
"Aku sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan sweety." Alvero berbisik pelan di telinga Deanda yang sedang memandang ke arah pantai Tavisha yang sudah mulai terlihat.
Jarum jam pendek di jam tangan yang dikenakan oleh Alvero sudah hampir berada di angka 10, menunjukkan bahwa sebentar lagi perjalanan dengan kapal pesiar kerajaan untuk merayakan ulang tahun Enzo akan berakhir. Dan kapal pesiar mewah itu segera berlabuh kembali.
__ADS_1
"Maksud Yang Mulia? Info tentang saksi-saksi itu?" Deanda yang berdiri di samping Alvero berbisik pelan ke arah Alvero.
Deanda berdiri di salah satu sisi kapal, dengan Ernest berdiri di samping Alvero. Posisi bediri mereka sedikit jauh dari posisi para tamu lain yang juga sedang memandang ke arah pantai, bersiap meninggalkan kapal pesiar.
"Ah, untuk itu karena itu merupakan kasus lama, tidak bisa secepat itu menemukan mereka. Apalagi setelah kejadian itu, tidak lama kemudian mereka berlima, semua meninggalkan istana dan tidak diketahui kemana mereka pergi. Seolah hilang ditelan bumi. Ini permintaanmu, info tentang kekasih Melva." Alvero membalas bisikan Deanda dengan suara tidak kalah pelan.
Perkataan Alvero langsung membuat mata Deanda membulat dan menunjukkan binar-binar semangat dari manik-manik mata ambernya yang indah.
"Wahhh. Yang Mulia.... Secepat itu? Kapan kamu meminta melakukan penyelidikan sehingga hasilnya sudah keluar sekarang?" Deanda berkata dengan nada terdengar begitu antusias, tidak sabar mendengar tentang hasil penyelidikan itu.
"Apa kamu meragukan kemampuan tim IT kerajaan sweety?" Alvero balik bertanya dengan kembali mendekatkan kepalanya ke wajah Deanda.
"Aku memberikan perintah kepada mereka tadi pagi saat terbangun, saat seorang wanita cantik di sampingku masih tertidur lelap karena terlalu lelah setelah memberikan pelayanan ekstra yang begitu memuaskan untukku semalam." Bisikan pelan dari Alvero yang begitu dekat di wajahnya, sehingga bau segar dari nafas Alvero menerpa wajahnya, ditambah isi dari perkataan Alvero, membuat wajah Deanda memerah.
"Hal sekecil itu... bagi tim IT kerajaan semudah mencari file di tumpukan kertas yang sudah tersusun rapi di lemari. hanya perlu mengambil dan membacanya." Alvero kembali melanjutkan kata-katanya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Deanda.
"Begitukah? Bagaimana? Info apa yang sudah kamu dapatkan?" Dengan bersemangat Deanda kembali bertanya kepada Alvero.
"Hmmm..." Alvero bergumam pelan sebelum menjawab pertanyaan Deanda.
__ADS_1
"Di sini terlalu banyak orang, sebaiknya kita tunggu semua orang turun nanti. Aku juga ingin menyampaikan info ini kepada Enzo." Mendengar jawaban Alvero yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaannya, Deanda langsung tersenyum lega.
Dengan Alvero mengatakan bahwa dia juga ingin bertemu dengan Enzo saat memberitahukan info itu, Deanda yakin, perkiraannya tidak jauh meleset. Ada sesuatu yang tidak beres tentang sosok kekasih Melva.
# # # # # # #
Begitu semua tamu mulai meninggalkan kapal satu persatu, Alvero meraih tangan Deanda lalu menggandengnya, mengajaknya kembali masuk ke dalam ruangan utama untuk menemui Enzo. Saat Alvero berjalan sambil menggandeng tangan Deanda, tanpa sengaja Alvero melewati sosok Desya dan Dion yang sedang berjalan diikuti para pengawal mereka untuk turun dari kapal pesiar itu.
Tanpa perduli dengan sosok Desya dan Dion, Alvero berjalan dengan mata menatap ke depan, seolah tidak ada orang lain yang mereka lewati saat berjalan. Sedang Deanda, sedikit menganggukkan kepalanya untuk menyapa mereka.
Melihat bagaimana Alvero tidak perduli sama sekali saat lewat di depannya, Desya hanya bisa melirik tajam ke arah Deanda dengan tangan kanannya terkepal dengan erat.
Gara-gara wanita kampungan itu, bahkan kak Alvero tidak mau memandang ke arahku lagi, bahkan hanya sekedar untuk melirik ke arahku. Kak Alvero benar-benar menjadikanku orang asing karena Deanda Federer.
Desya berkata dalam hati dengan tangannya yang lain memegang ke arah dadanya yang terasa panas. Semakin dia melihat Alvero, semakin dia ingin untuk dapat meemiliki laki-laki itu. Dan semakin dia melihat sosok Deanda, semakin ingin dia menghancurkan menyingkirkan wanita itu.
Dion yang baru saja melihat bagaimana Alvero menggandeng tangan Deanda dan mengajaknya masuk kembali ke ruang utama hanya bisa menarik nafas panjang. Dengan kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya, Dion menatap ke arah punggung Deanda yang sedang berjalan di samping Alvero dan semakin menjauh dari pandangan matanya, meninggalkan aroma harum dari rambutnya yang terurai. Dan bau harum itu membuat Dion dengan sengaja menarik nafas dalam-dalam saat Deanda lewat di depannya tadi.
Ah.... Deanda Federer, bahkan bau harum rambutmu membuatku tidak bisa membiarkannya lewat begitu saja tanpa menghirupnya dalam-dalam untuk dapat memenuhi semua rongga dadaku, sama seperti bayangan tentang kamu yang selalu memenuhi pikiranku. Sampai berapa lama lagi aku harus bersabar untuk bisa segera mendapatkan kesempatan untuk dapat menjauhkanmu dari kak Alvero?
__ADS_1
Dion berkata dalam hati dengan rasa penyesalan yang begitu besar karena sosok wanita yang sudah membuatnya begitu tergila-gila sampai saat ini belum berhasil untuk dia dekati bahkan hanya untuk berbincang-bincang dengannya, apalagi dia rebut dari Alvero.
"Ayo kita turun sekarang. Masih banyak yang harus aku kerjakan." Dion berkata kepada Desya sambil melangkah untuk dapat segera turun dari kapal pesiar itu, agar pikirannya tidak terus dipenuhi oleh sosok Deanda, yang semakin hari membuatnya tidak dapat memikirkan wanita lain, membuatnya ingin dengan segera pergi menjauh dan menyibukkan diri dengan hal lainnya jika tidak ingin hati dan pikirannya bertambah kacau karena seorang Deanda Federer.