
Jika saja Marcello tahu kalau hari ini Alvero dan Deanda akan berkunjung ke kamp pelatihan pasukan khusus, Marcello akan langsung mencegah orang itu untuk datang ke kamp hari ini. Hanya saja, kedatangan Alvero dan Deanda memang mendadak dan tidak dijadwalkan, sehingga Marcello tidak tahu.
Sedang Red sendiri terlalu sibuk dengan urusan saksi dan pembunuh yang meninggal hari ini, sehingga tidak sempat memberikan info kepada Marcello tentang rencana kunjungan Alvero dan Deanda ke kamp pelatihan pasukan khusus.
“O, begitukah? Kalau begitu, lain kali aku ingin bertemu dengan pelatih itu. Harap ingat itu dengan baik Uncle Marcello. Sayang sekali aku tidak mengetahui ada pelatih sehebat dia di negara ini.” Sebuah senyuman tersungging di bibir Alvero di akhir perkataannya, membuat Marcello merasa sedikit salah tingkah.
“Baik Yang Mulia. Di lain waktu, saya dan tuan Red akan mengaturkan waktu yang tepat untuk pertemuan itu.” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan oleh Marcello untuk sekarang ini.
“Yang Mulia dan Permaisuri mungkin ingin melihat proses latihan yang lain? Di tempat lain beberapa orang sedang berlatih beladiri di gedung latihan.” Marcello berkata sambil melirik ke arah Deanda yang wajahnya terlihat langsung berubah, terlihat begitu antusias begitu dia menyebutkan tempat latihan beladiri.
Ah, keponakanku yang cantik ini, sejak masih kecil, selalu terlihat bersemangat jika itu menyangkut tentang beladiri, yang sudah begitu mandarah daging di keluarga Federer.
Marcello berkata dalam hati dengan senyum di wajahnya memandang ke arah Deanda yang tanpa sadar langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar penawaran dari Marcello, sedikit lupa untuk menanyakan kesediaan Alvero untuk menerima pernawaran dari Marcello.
Alvero sendiri hanya bisa tersenyum geli melihat bagaimana bersemangatnya Deanda menanggapi penawaran dari Marcello.
“Baiklah Uncle, sebaiknya kita kesana. Sepertinya permaisuri juga ingin ikut berlatih untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya. Atau mungkin dia sedang ingin menjadikan beberapa orang sebagai sasaran tinjunya, karena sudah merindukan bagaimana memukul samsak.” Mendengar olok-olok dari Alvero, Deanda hanya tersenyum tanpa berusaha mengeluarkan kata-kata untuk membantah godaan dari Alvero.
Jujur saja, sejak menikah dengan Alvero, boleh dibilang Deanda tidak lagi bisa sesering dulu untuk berlatih beladiri. Karena jadwal kesibukkan Deanda sebagai permaisuri maupun asisten pribadi Alvero, membuatnya tidak lagi memiliki banyak waktu luang.
__ADS_1
Jika dulu hampir setiap hari Deanda biasa berlatih di sanggar beladiri Marcello bersama Lionel dan murid-murid lain. Sekarang dia bisa belatih seminggu dua kali saja itu sudah termasuk sangat beruntung.
Belum lagi keinginan Alvero agar Deanda cepat hamil, membuat Alvero begitu mengurangi kegiatan fisik Deanda, dengan alasan agar tubuh Deanda tidak terlalu lelah. Walaupun seringkali Deanda mengatakan bahwa baginya beladiri adalah olahraga yang menyehatkannya, Alvero tetap bersikeras agar Deanda mengurangi rutinitasnya berlatih agar bisa segera hamil, yang kadang membuat Deanda selalu mengatakan kepada Alvero bahwa mungkin memang belum waktunya dia untuk hamil, untuk merayu Alvero agar diijinkan untuk memiliki kesempatan lebih banyak untuk berlatih beladiri.
Keinginan Alvero agar Deanda segera hamil kadang membuat Deanda hanya bisa geleng-geleng kepala dengan apa yang dipikirkan oleh Alvero, yang bahkan begitu rajin mencari artikel tentang bagaimana agar seorang wanita cepat hamil. Mulai dari bagaimana pola dan jenis makanan, bagaimana emosi dan kesehatan Deanda yang harus dijaga, bahkan posisi saat mereka melakukan hubungan intim, semuanya dipelajari oleh Alvero.
Di samping itu, nyonya Rose yang begitu rajin memberi Deanda ramuan dan makanan yang dia percaya bisa menyuburkan kandungan, membuat Alvero semakin bersemangat dan berharap bahwa Deanda benar-benar segera mengandung buah cinta mereka.
Kali ini, melihat begitu bersemangatnya Deanda, membuat Alvero mengijinkan Deanda untuk ikut mencoba kemampuan para pasukan khusus itu jika istrinya menginginkannya. Hanya kali ini saja, untuk menyenangkan hati Deanda. Itu yang saat ini sedang dipikirkan oleh Alvero.
Apalagi, dari daftar para anggota pasukan khusus itu, terdapat 10 orang wanita sebagai anggotanya. Alvero berharap jikapun Deanda ingin berlatih, Alvero akan akan menginjinkannya selama lawan tandingnya adalah diantara kesepuluh orang wanita itu. Jika yang menjadi lawan tanding Deanda adalah pria, Alvero sudah bersiap untuk menolaknya mentah-mentah.
“Yang Mulia… bolehkah…?”
“Silahkan saja kalau kamu menginginkannya.” Alvero langsung memotong perkataan Deanda yang langsung tersenyum.
“Tapi Yang Mulia…” Deanda berkata dengan suara terdengar ragu, dengan tatapan penuh harap menatap ke arah Alvero.
“Kenapa? Apa kamu berubah pikiran? Tidak lagi ingin berlatih?” Alvero langsung bertanya meliaht bagaimana sikap ragu dari Deanda.
__ADS_1
“Tidak… hanya saja…. Aku ingin Yang Mulia yang menemaniku berlatih.” Alvero sedikit memicingkan matanya mendengar permintaan dari Deanda.
Memang selama ini, karena kesibukan masing-masing dan jadwal kegiatan yang kadang berbeda, seringkali saat berlatih beladiri di gedung latihan milik Alvero, Deanda lebih banyak ditemani oleh Alea. Sedang Alvero memiliki jadwalnya sendiri, sehingga mereka berdua boleh dibilang hampir tidak pernah berlatih beladiri bersama.
Bahkan jika Deanda tidak salah ingat, terakhir Alvero menjadi lawan tandingnya adalah saat pertandingan mereka ketika Alvero harus memenuhi salah satu syarat dari wasiat Alexis untuk siapa dan tipe pria yang bisa menikahi Deanda. Pria yang harus bisa mengalahkan Deanda dalam pertandingan beladiri.
“Oke…. Tapi, aku tidak mau bertanding denganmu hari ini. Aku mau kita mencoba berlomba untuk melewati semua alat ketangkasan yang ada di sana.” Alvero berkata sambil mengarahkan jari telunjuknya ke sebelah selatan, di halaman luar gedung latihan itu.
Di tempat yang ditunjuk oleh Alvero itu, terdapat serangkaian alat latihan untuk menguji ketangkasan. Deanda bisa melihat berbagai macam peralatan yang tersusun rapi di sana, memanjang sejauh lebih dari 100 meter. Mulai dari ban-ban yang disusun memanjang dan berjajar dua, dimana orang harus berlari sambil melompat melalui bagian dalam ban-ban itu.
Selain itu terdapat palang sejajar yang harus dilewati sambil melompat dengan kedua kaki membuka lebar di kanan kiri tubuh, membentuk sebuah huruf T terbalik, dan setelah itu harus merayap dan merangkak untuk mencapai alat ketangkasan selanjutnya.
Berikutnya, mereka akan memanjat jarring setinggi 4 meter untuk dapat melanjutkan aksi mereka yang disambung dengan melakukan gerakan salto dengan kedua tangan beberapa kali untuk menuju rintangan selanjutnya.
Setelah itu mereka harus melewati beberapa palang tunggal yang di pasang berjajar, dimana di bawahnya terdapat kolam air sehingga mereka harus melewatinya dengan cara bergelantungan dengan kedua lengannya agar tidak terjebur ke dalam kolam, disambung dengan melewati kolam dengan peralatan menggunakan gelang-gelang yang berjajar.
__ADS_1