BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SEBUAH PENGORBANAN


__ADS_3

"Alea, tolong ambilkan aku minum, aku haus sekali." Deanda berkata dengan mata menatap ke arah hutan, berharap dia segera melihat sosok Alvero keluar dari sana.


"Ok, aku akan ambilkan untukmu. Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana." Alea berkata sambil bergegas masuk kembali ke dalam bunker untuk mengambil minuman untuk Deanda.


Sementara Alea mengambilkan minum untuknya, Deanda terlihat tetap memandang ke arah hutan.


Deanda langsung mengernyitkan dahinya, dan juga menyipitkan matanya agar lebih fokus, ketika dilihatnya sesosok tubuh manusia terlihat berlari kencang keluar dari arah hutan.


"My Al?" Deanda berbisik pelan sambil matanya terus mengamati sosok yang baru saja terlihat berlari kencang keluar dari hutan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya yang berusaha mengimbangi kecepatannya berlari.


Ketika sosok Alvero semakin mendekat dan terlihat jelas, Deanda langsung tersenyum melihat bahwa matanya tidak salah lihat bahwa itu benar-benar sosok Alvero, laki-laki yang begitu dicintainya dan sudah ditunggunya sedari tadi dalam cemas.


Alvero sendiri, sebuah senyum lebar langsung tersungging di bibirnya begitu melihat sosok Deanda yang berdiri di depan bunker, sedang menatap ke arahnya.


Akan tetapi senyum di bibir Alvero segera menghilang, digantikan dengan mata yang terbeliak kaget begitu dia melihat dari arah lain tampak sosok wanita yang sedang mengarahkan pistolnya ke arah kepala Deanda.


"Sweety!" Alvero berteriak sekeras-kerasnya melihat bahwa wanita yang sedang mengarahkan pistolnya tanpa disadari oleh Deanda itu adalah Eliana.


Suara teriakan Alvero tentu saja tidak didengar oleh Deanda karena jarak mereka yang masih terlalu jauh.


Belum lagi terpaan angin yang cukup keras malam itu membuat suara Alvero tertahan oleh hembusan angin, membuat wajah Alvero memucat dengan dadanya yang bedetak dengan begitu keras melihat apa yang sedang dilihatnya.


"Sweety! Merunduk!" Alvero kembali berteriak sekeras mungkin, sampai akhirnya terdengar suara yang membuat Alvero bahkan tanpa sadar memejamkan matanya karena begitu takut untuk menghadapi kenyataan apa yang akan terjadi di depannya saat ini.

__ADS_1


"Dor!" Suara tembakan yang terdengar keras, memecah keheningan malam itu, diikuti oleh tubuh Deanda yang tersentak kaget dan dengan mata terbeliak, dan langsung reflek menggerakkan tubuhnya untuk melihat ke arah asal suara tembakan berasal.


Suara tembakan itu diikuti oleh ambruknya tubuh seseorang yang langsung terjatuh tepat di kaki Deanda.


Begitu terdengar suara tembakan baik Alaya, Alea, Alexis dan Red diikuti oleh beberapa pengawal yang lain langsung berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi dengan wajah khawatir terlihat di wajah mereka.


Apalagi Alea yang merasa sudah meninggalkan Deanda sendirian di luar tanpa pengawalan seorangpun.


"Ti... tidak! Dion!" Eliana berteriak histeris begitu melihat tubuh yang terjatuh karena menghalangi tembakan Eliana kepada Deanda adalah Dion.


Alvero yang akhirnya memberanikan diri untuk membuka matanya, langsung mendekat kea rah Deanda dan memeluk tubuh Deanda yang mematung dengan erat.


"Dion...." Deanda yang tidak menyangka bahwa Dion akan menggantikannya menerima tembakan dari Eliana langsung berkata menyebutkan nama Dion sambil menundukkan kepalanya, melihat Dion yang tergeletak di dekat kakinya.


"Dion! Apa yang sudah kamu lakukan nak? Kenapa kamu melakukan itu?" Eliana berteriak histeris sambil duduk bersimpuh di samping tubuh Dion yang dari punggungnya mengeluarkan begitu banyak darah segar.


"Deanda, apa aku terlihat keren barusan? Apakah kali ini... aku bisa membuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu?" Dion berkata sambil tersenyum ke arah Deanda, membuat Deanda memandang dengan tatapan tidak percaya ke arah Dion.


Sedang Alvero memilih untuk diam dengan salah satu lengannya memeluk erat tubuh Deanda yang sedang menatap ke arah Dion.


Kalau saja boleh jujur, bahkan Alvero ingin sekali menendang tubuh Dion untuk menunjukkan bahwa dia cukup marah mendengar bagaimana laki-laki lain menyatakan cinta kepada istrinya di depan matanya.


Tapi kenyataan tentang bagaimana Dion yang bahkan berani melindungi Deanda dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri membuat Alvero menahan dirinya sebisa mungkin.

__ADS_1


Paling tidak hanya itu yang bisa dilakukan oleh Alvero untuk menyatakan rasa terimakasihnya kepada Dion karena sudah menyelamatkan wanita tercintanya.


"Ah... Deanda Federer.... Sepertinya, apapun yang aku lakukan tidak akan membuatmu melihat ke arahku dengan cinta meski sedikit saja. Yang Mulia... Anda benar-benar beruntung memiliki wanita hebat yang begitu mencintaimu di sisimu." Dion berkata sambil dengan susah payah karena menahan sakit dari luka tembak yang dialaminya.


"Tapi aku senang melihatmu selamat. Paling tidak selama aku hidup masih ada sebuah kebaikan besar yang pernah aku perbuat untuk seseorang yang aku kagumi, walaupun tidak bisa aku miliki. Aku merasa sedikit menjadi orang yang berguna hari ini." Dion berkata sambil tersenyum dengan wajah terlihat lega, bukan wajah yang biasanya dipenuhi dengan nafsu ataupun amarah seperti biasanya, ketika begitu menginginkan Deanda tapi tidak bisa mendapatkannya.


"Dion! Kamu benar-benar bodoh..." Eliana berkata dengan nada mengerang sambil memukul-mukul pelan bahu Dion, menunjukkan bagaimana dia merasa begitu terpukul melihat kenyataan bahwa dia sudah mencelakai anak kesayangannya.


Sedangkan semua yang dilakukannya selama ini dia lakukan untuk Dion.


Airmata dengan deras membasahi wajah Eliana yang dadanya terasa begitu sesak karena penyesalan yang begitu besar, yang sedang memenuhi hatinya.


"Ma... bukan salah Mama. Aku yang dengan rela melakukannya." Dion berkata lirih ke arah Eliana, karena rasa sakit yang dirasakannya semakin menjadi.


"Ma... jangan menangis. Banggalah karena paling tidak aku sudah menyelamatkan nyawa seorang permaisuri Gracetian. Banggalah bahwa pada akhirnya aku menjadi seorang anak laki-laki yang bisa membanggakan kedua orangtuanya karena hal baik yang telah aku lakukan untuk kerajaan ini." Dion berkata sambil mengusap pipi Eliana dengan lembut.


Tindakan dan kata-kata Dion membuat tangis Eliana semakin keras dengan tangannya memegang erat tangan Dion yang sedang mengelus pipinya.


"Setelah ini, hiduplah dengan tenang, tanpa harus berpikir keras bagaimana cara untuk membuatku bisa menjadi seorang penguasa." Dion mengucapkan kata-katanya sambil tersenyum ke arah Eliana.


"Sudah waktunya Mama hidup tanpa beban berat karena keberadaanku. Maafkan aku... yang tidak bisa... menjagamu dengan baik... maaf Ma...."  Semakin lama Dion mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan nada suara semakin lirih dan tidak jelas, sampai akhirnya dengan pelan Dion menutup matanya, dan tangannya yang terkulai lemah, jatuh di tanah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2