BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
TIDAK ADA PAKAIAN YANG LAYAK


__ADS_3

Begitu Alvero dan Deanda masuk ke kamar mereka dan menyalakan lampu kamar itu, dan melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka membuat Alvero dan Deanda sama-sama melongo untuk beberapa saat. Setelah itu mereka berdua saling berpandangan dan kemudian sama-sama tertawa tergelak, melihat bagaimana Enzo menyiapkan kamar mereka dengan begitu istimewa.


Alvero memang tidak memberitahukan kepada Enzo rencana kedatangannya bersama dengan Deanda untuk membahas masalah Alexis. Namun, Alvero sudah meminta Enzo menyiapkan satu kamar untuknya karena dia akan mengajak Deanda menginap di hotel milik Enzo malam ini.


Begitu mereka melangkah masuk dan menutup pintu, langsung terdengar alunan lagu romantis dari Celine Dion, yang terdengar lembut dan memanjakan telinga mereka. Suara musik itu terdengar dari beberapa ceiling speaker yang terpasang, tersebar hampir di seluruh langit-langit ruangan presidential sweet room itu. Dan suara musik yang sedang mengalun lembut itu sukses membuat suasana semakin terasa romantis.


(Ceiling speaker adalah jenis speaker yang ditempatkan di langit-langit ruangan, biasanya berukuran kecil. Bisa digunakan untuk kebutuhan panggilan, pengumuman, panggilan darurat ataupun mendengarkan musik).


“Apa… kamu yang meminta atau pangeran Enzo yang…”


“Tentu saja ini murni ide Enzo, aku tidak ikut campur dalam hal ini.” Alvero memotong perkataan Deanda dengan cepat.


Mendengar itu Deanda hanya bisa menahan senyumnya karena merasa geli, bagaimana dia bisa berpikir Alvero bisa menyiapkan hal seromantis itu. Alvero, laki-lakinya yang dingin dan arogan, Deanda yakin sisi romantisnya tidaklah sebesar Enzo.


“Untung saja dia mengerti aku paling tidak suka tidur di atas kasur dengan sprei yang kotor. Walaupun kelopak bunga mawar itu terlihat romantis dan indah, aku senang Enzo menghiasnya di lantai, bukan di atas tempat tidur.” Alvero berkata dengan mata mengamati kelopak bunga yang disusun berbentuk hati itu, sambil mendecakkan bibirnya, seolah menganggap remeh hasil karya orng yang sudah menyusunnya.


"Aku tidak mengerti kenapa harus repot menyiapkan hal seperti ini kalau pada akhirnya kita tidak membutuhkan ini dan hanya akan melemparnya ke lantai." Alvero berkata sambil mendekat ke arah tempat tidur, diraihnya lingerie berwarna hitam yang tergeletak di atas tempat tidur dan di pegangnya dengan kedua tangannya sambil tersenyum geli.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Alvero sukses membuat degupan dada Deanda kembali beraksi.


Sepertinya.... malam ini yang mulia benar-benar akan meminta jatahnya kembali. Ahhh, kalau boleh jujur malam ini aku ingin tidur dengan pulas. Semua pikiran tentang kasus papa membuat moodku benar-benar buruk hari ini. Yang ingin kulakukan hanya memejamkan mata sehingga bisa sedikit melupakan tentang itu.


Deanda berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, bukannya dia tidak ingin melakukan hal itu bersama dengan Alvero, tapi malam ini hatinya benar-benar dalam kondisi berantakan, merasa tidak tenang karena memikirkan tentang apa yang sudah terjadi pada ayahnya, sehingga membuatnya begitu tidak bergairah dan merasa malas. Hanya ingin tertidur dan melupakan tentang kasus ayahnya sejenak.


Setelah menggeletakkan kembali lingerie yang ada di tangannya, Alvero menoleh ke arah Deanda yang wajahnya terlihat kusut, dengan tatapan mata kosong menatap ke arah lain. Melihat itu, Alvero langsung berjalan mendekat ke arah Deanda dan mengelus lembut rambutnya.


"Lebih baik kamu segera berganti pakaian sekarang sweety. Istirahatlah dan tenangkan pikiranmu." Alvero berkata dengan lembut.


Sesuai dengan apa yang dipelajarinya, Alvero ingat bahwa saat seorang pria melakukan hubungan intim dengan istrinya, itu justru merupakan sesuatu yang bisa menghilangkan stress dan menenangkan pikiran. Namun bagi seorang wanita, saat dia dalam kondisi tertekan atau tidak tenang, justru melakukan hal seperti itu adalah sesuatu yang begitu dihindarinya. Dan melihat bagaimana kusutnya wajah Deanda dengan tatapan mata kosongnya, Alvero tahu Deanda sedang tidak dalam mood yang bagus malam ini.


Semuanya tersedia di sana, dari alat riasnya, pakaian, gaun, tapi ada satu yang tidak tersedia. Pakaian tidur miliknya dan Alvero. Semua yang ada di sana adalah pakaian resmi mereka. Alvero yang menyusul Deanda untuk ikut mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya ikut melongo melihat bagaimana dia juga tidak bisa menemukan pakaian tidur, hanya sebuah celana boxer berwarna gelap tergantung di posisi paling depan, seolah sengaja menunjukkan bahwa hanya itu yang bisa dia pakai untuk tidur malam ini kecuali dia mau tidur dengan pakaian resminya yang pastinya akan terasa tidak nyaman.


"Enzoooooo!" Alvero menyebutkan nama Enzo dengan sedikit menggeram kesal, karena dia tahu seorang Ernest, apalagi Alea pasti tidak berani bertindak seperti ini, kalau tidak karena perintah dari Enzo.


Dasar otak mesum! Bagaimana dia yang masih lajang bisa mengerti begitu banyak tentang hal-hal seperti ini dibandingkan dengan aku yang sudah menikah?

__ADS_1


Alvero berkata dalam hati sambil meraih boxer dari gantungan, satu-satunya boxer dan sebuah kemeja lengan pendek yang bisa dia kenakan malam ini untuk tidur, dan langsung melangkah keluar meninggalkan Deanda yang wajahnya terlihat bingung karena hanya lingerie hitam yang sedang tergeletak di atas tempat tidur yang bisa dia kenakan malam ini. Alvero sendiri dengan bibirnya bergumam pelan mengutuki Enzo, berjalan ke arah kamar mandi.


Hanya malam ini saja.... Lagipula yang mulia tadi sudah mengatakan agar aku beristirahat malam ini. Yang mulia tadi juga tidak mengatakan apa-apa selain menyuruhku beristirahat, berarti malam ini yang mulia memang ingin segera beristirahat. Ah... lebih baik aku segera memakainya dan langsung tidur dibalik selimut.


Deanda berkata dalam hati sambil berjalan ke arah tempat tidur dengan cepat, meraih lingerie hitam tersebut dan berusaha mengganti pakaiannya dengan cepat sebelum Alvero keluar dari kamar mandi sehingga dia memiliki kesempatan untuk langsung berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


Si Enzo ini... dasar si trouble maker... Benar-benar berani membuat masalah denganku. Dengan kondisi pikiran Deanda yang galau setelah mengetahui info alasan tentang pencabutan gelar knight papanya bagaimana bisa aku meminta jatahku malam ini. Dan bisa-bisa Enzo menyiapkan hal seperti ini... benar-benar cari mati... dia pikir mudah mengendalikan diri saat aku begitu menginginkan hal seperti itu? Dengan godaan sebesar ini, Enzo tidak membantu justru membuat keadaan semakin sulit untukku. Hah...


Alvero mengomel dalam hati, dan untuk beberapa saat tetap berdiam diri di kamar mandi walaupun dia sudah selesai menggantikan celana panjangnya dengan celana boxer, dan terpaksa memakai sebuah kemeja lengan pendek yang ada, daripada dia harus tidur dengan bertelanjang dada, walaupun dua kancing teratas kemeja itu dibiarkannya terbuka karena merasa tidak nyaman harus tidur dengan pakaian resmi seperti itu. Karena sejak kecil Alvero tidak terbiasa tidur dengan bertelanjang dada.


Awas saja kamu Enzo.... saat bertemu besok aku akan pastikan untuk memberimu pelajaran. Jangan harap bisa melarikan diri dari hukumanmu. Kalau tidak ingat besok lusa adalah perayaan ulang tahunmu, aku akan mengurungmu selama seminggu.


Alvero kembali memaki dalam hati sambil membuka pintu kamar mandi.


Begitu Alvero melirik ke arah tempat tidur, dilihatnya Deanda sudah terbaring di sana dengan selimut tebal menutupi tubuhnya sebatas dada. Dari tali tipis yang terlihat di bahu Deanda, Alvero tahu saat ini Deanda pada akhirnya terpaksa menggunakan lingerie yang tadi tergeletak di atas tempat tidur.


Dasar Enzo! Tunggu saja! Begitu aku mendapatkan kesempatan! Aku akan membalasmu!

__ADS_1


Alvero berteriak dalam hati sambil berjalan ke sisi lain tempat tidur dan berusaha mengalihkan pandangan matanya dari sosok tubuh Deanda yang walaupun hanya terlihat hanya sebagian kecil dada bagian atas dan leher, namun kulit putih mulus milik istrinya yang di beberapa bagian masih menunjukkan adanya tanda cinta hasil perbuataannya kemarin malam dan tadi pagi di rumah kayu cukup untuk membuat Alvero menelan ludahnya dan pikirannya melayang membayangkan kembali kenikmatan yang dia rasakan bersama Deanda saat dengan segenap hati dan tubuhnya bisa menyatu dan menunjukkan bahwa dia begitu mencintai istrinya itu.


__ADS_2