
Larena… cintaku… dimanapun kamu berada saat ini, apapun yang sedang kamu lakukan. Aku sungguh bahagia mendengar kamu selamat dari peristiwa kebakaran itu. Bahkan, kamu sudah memberiku seorang putri yang begitu cantik dan bertumbuh dengan baik di bawah asuhanmu. Segeralah kembali ke Gracetian, aku sungguh merindukanmu, dan begitu ingin bertemu denganmu. Segeralah kembali agar aku bisa memohon ampun kepadamu atas segala kesalahan yang pernah aku perbuat di masa lalu.
Vincent berkata dalam hati sambil tidak bosan-bosannya terus memeluk Alaya dan membelai lembut punggung anak gadisnya itu.
Larena, aku tahu aku tidak akan bisa mengubah masa lalu. Tidak bisa menghapuskan luka yang aku torehkan dengan begitu dalam di hatimu. Tapi, aku akan membayarnya dengan seumur hidupku untuk membuatmu bahagia, berkumpul kembali dalam satu keluarga yang utuh. Aku tidak mungkin menghapus lukamu, tapi paling tidak aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia sampai kebahagiaan itu menutupi semua luka itu, membuatmu lupa tentang luka itu.
Vincent kembali berkata dalam hati dengan penuh harap, apa yang baru saja dia katakan itu bisa secepatnya menjadi kenyataan, meskipun Vincent tahu, Larena mungkin tidak akan semudah itu untuk memaafkannya.
Tapi keberadaan Alexis dan Deanda yang tampak saling menjaga jarak, membuat Vincent tersadar ada banyak hal dan banyak penjelasan yang harus mereka selesaikan hari ini. Entah itu sesuatu yang baik atau buruk, membahagiakan atau menyedihkan, dengan pertemuan ini Vincent berharap semuanya bisa diselesaikan dengan baik.
“Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan bersama yang lain.” Vincent berkata sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Alaya.
Walaupun Vincent belum merasa puas memeluk tubuh putrinya yang baru ditemuinya itu, namun dia sadar, saat ini bukan hanya masalah tentang Alaya. Tapi keberadaan Alexis bersama Alaya yang pasti menjadi tanda tanya bagi semua orang yang hadir di situ, terutama Alvero dan Deanda, harus diluruskan dan dijelaskan hingga detail agar tidak menimbulkan kekecewaan, sakit hati, maupun sebuah kecurigaan.
Begitu semua yang ada di situ sudah mengambil posisi duduk di tempatnya masing-masing, Alvero langsung menyampaikan apa maksud dari pertemuan hari ini.
Mendengar permintaan Alvero, Alexis sengaja memandang ke arah Deanda sekilas dengan tatapan rindu sekaligus sayangnya, membuat Deanda harus berpura-pura untuk sedikit menundukkan kepalanya, jika tidak ingin kembali menangis karena baginya saat ini cukup sulit untuk mengendalikan emosinya.
__ADS_1
Di satu sisi dia begitu rindu, tapi di satu sisi Deanda merasa begitu kecewa. Dua perasaan yang saling bertolak belakang yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya saat ini.
“Baiklah, semua sudah berkumpul di tempat ini.” Alvero berkata sambil memandang ke arah Alaya dan Alexis yang duduk lurus di depannya.
“Kita semua yang ada di sini tahu apa yang sebenarnya akan aku pertanyakan. Jadi, siapa diantara kalian berdua yang akan mulai menjelaskan kepadaku tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini? Bagaimana orang yang sudah hertahun-tahun dianggap sudah meninggal tiba-tiba saja bisa muncul kembali. Dan aku juga ingin penjelasan detail tentang siapa sebenarnya nona Alaya.” Alvero langsung menyatakan apa yang ingin dia ketahui tanpa basa-basi.
Walaupun dari sikap Vincent kepada Alaya jelas menunjukkan bahwa kemungkinan besar Alaya adalah benar adik kandungnya. Akan tetapi, Alvero ingin mendengarkan versi lengkap apa yang sudah terjadi di masa lalu melalui bibir mereka berdua.
“Saya akan menjelaskan semuanya dengan detail Yang Mulia. Dan Yang Mulia maupun Permaisuri bisa menanyakan tentang apapun setelah mendengar penjelasan dari saya.” Alexis menjawab pertanyaan Alvero yang langsung disambut sebuah anggukan kepala dengan sikap tegas sekaligus berwibawa dari Alvero.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Alexis langsung menceritakan tentang segala sesuatunya, sejak Larena keluar dari istana. Bagaimana sejak meninggalkan istana, di luar peristiwa kebakaran hebat di tempat kediaaman Larena, ternyata Eliana sudah beberapa kali berusaha untuk melukai Larena.
Diluar itu, ada beberapa kali Eliana mengirimkan pembunuh bayaran untuk melukai Larena, namun berhasil digagalkan oleh Alexis maupun Red yang berusaha melindungi Larena secara diam-diam.
Hembusan nafas maupun tindakan menahan nafas beberapa kali dilakukan baik oleh Vincent, Alvero maupun Deanda dan juga Enzo mendengar cerita di balik peristiwa beberapa tahun lalu.
Wanita ular itu sungguh kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bahkan tindakannya lebih buruk dari seekor binatang.
__ADS_1
Alvero merutuk dalam hati, mengutuk tindakan kejam yang selama ini pernah dia lakukan kepada Larena.
Eliana… kamu tidak pantas disebut manusia! Kamu benar-benar harus dengan sesegera mungkin disingkirkan dari Gracetian. Pertemuanku dengan Eliana malam itu adalah hal paling sial yang terjadi padaku. Kalau saja aku tidak bertemu dengan wanita itu! Aku dan Larena, beserta anak-anakku tidak akan terpisah seperti ini.
Vincent berteriak dalam hati mendengar bagaimana perjuangan Larena dan Alexis dalam menghadapi kekejaman dan kelicikan Eliana di masa lalu.
Aku tidak menyangka bahwa ibu suri merupakan orang yang begitu kejam. Tapi, apakah itu bisa menjadi alasan untuk papa dengan mudahnya meninggalkanku tanpa penjelasan apapun?
Deanda berkata dalam hati sambil merenungi apa yang sudah diceritakan oleh Alexis tentang apa yang terjadi setelah Larena pergi meninggalkan istana hari itu.
Wah, benar seperti julukan Alvero terhadap ibu suri. Wanita ular… wanita itu benar-benar licik, kejam dan juga pembohong besar. Sama persis dengan sifat seekor ular. Aku harap Alvero segera memberikan hukuman yang setimpal untuk wanita itu. Bahkan sepertinya hukuman mati terlalu ringan untuk orang sekejam dan selicik itu. Dan juga orang yang begitu serakah itu.
Enzo ikut berkata dalam hati mengutuki tindakan keji dan licik Eliana yang diceritakan oleh Alexis yang cukup membuatnya ikut geram dan jengkel.
Tanpa perduli dengan sikap maupun reaksi setiap orang yang ada di tempat itu, Alexis meneruskan ceritanya sampai pada malam dimana terjadinya kebakaran hebat di kediaman Larena. Dan juga cerita tentang permintaan terakhir Tiana Allen saat itu, agar apapun yang terjadi, Alexis harus menyelamatkan Larena yang saat itu terluka parah dan juga dalam keadaan hamil.
Mendengar cerita tentang permintaan terakhir mamanya, berserta alasan kenapa mama Deanda melakukan semuanya itu, membuat Deanda tidak lagi bsia menahan airmatanya lagi. Apalagi setelah itu Alexis menceritakan bagaimana jasad yang terbakar parah dan tidak bisa lagi dikenali dari Tiana membuatnya dianggap sebagai Larena membuat dada Deanda terasa sesak dan semakin tidak bisa menghentikan tangis tanpa suara yang terjadi padanya.
__ADS_1
Mama… ternyata selama ini kubur yang selalu aku kunjungi setiap tahunnya tepat di tanggal dimana mama meninggal hanyalah sebuah kubur kosong.
Deanda berkata dalam hati sambil dengan sekuat tenaga menahan agar dirinya bisa mengendalikan emosi sekaligus tangisnya yang makin menjadi mengetahui satu lagi kenyataan pahit tentang kubur kosong milik Tiana.