
Deanda sungguh berharap bahwa kedua orang hebat itu akan mengabulkan permintaan Alvero untuk menjadi pelatih tim pasukan khusus yang disiapkan untuk menangani para pemberontak. bagi Deanda, selain Alexis dan Alvero, orang berkemampuan hebat yang pantas untuk menjadi tim pasukan khusus itu adalah dua sosok laki-laki yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Wah, benarkah seperti itu? Kami merasa begitu tersanjung jika memang kami bisa ikut serta dalam membantu keluarga Adalvino dan mengabdi kepada kerajaan sesuai dengan kemampuan yang kami miliki. Kira-kira apa yang bisa kami berdua lakukan untuk Yang Mulia dan Nona Besar?" Tanpa basa-basi, Red langsung menanyakan apa yang diinginkan oleh Alvero darinya dan Marcello.
"Sebelum aku menyampaikan keinginanku. Aku ingin memberitahukan kapada kalian hasil pertemuanku dengan yang mulia Vincent. Aku harap berita ini bisa membawa angin segar untuk kita semua. Membuat kita semakin bersemangat dalam mengungkapkan kebenaran." Perkataan Alvero membuat Red dan Marcello saling berpandangan.
"Yang mulia Vincent mengakui bahwa beliau sengaja menyembunyikan surat keputusan yang menuliskan alasan tentang pencabutan gelar knight papa Alexis, karena sebenarnya yang mulia Vincent tahu bahwa peristiwa pelecehan itu tidak pernah terjadi. Namun untuk membuat Eliana lega dan merasa dipercaya, yang mulia Vincent tetap melakukan proses pencabutan gelar knight tersebut. Itupun karena papa Alexis bersikeras agar yang mulia melakukan pencabutan gelar itu, agar papa Alexis bersama mama Tiana, bisa melindungi permaisuri Larena Hilmar dari rencana Eliana yang selalu berusaha mencelakakannya. Apalagi setelah permaisuri Larena keluar dari istana." Penjelasan dari Alvero membuat Red menundukkan kepalanya, sedang Marcello mendongakkan kepalanya untuk mencegah air mata haru menetes dari mata mereka yang tampak memerah.
Baik Red maupun Marcello berusaha keras mengendalikan emosi dan sergapan rasa haru yang membuncah di dada mereka, dengan berusaha tidak menunjukkan wajah mereka di hadapan Alvero maupun Deanda yang sebenarnya mengalihkan pandangan mereka untuk sementara waktu agar Red dan Marcello tidak menjadi salah tingkah.
Bagi Red, Alexis adalah seorang guru terbaik yang mengajarakan baginya banyak hal, kesetiaan, keberanian, pengorbanan dan kekuatan. Sedang bagi Marcello, Alexis adalah seorang kakak yang begitu menyayangi keluarga, sebagai seorang pelindung bagi keluarganya, termasuk dia sebagai adik yang berkali-kali juga dibantu dan diselamatkan oleh Alexis saat masih sama-sama berada di tim pengawal eksklusif kerajaan.
Apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero benar-benar membuat kedua orang yang begitu mengagumi sosok Alexis itu merasa begitu lega sekaligus bahagia. Pada akhirnya mereka menemukan kebenaran dan bukti bahwa Alexis tidak pernah melakukan hal serendah itu kepada Eliana.
__ADS_1
"Dengan apa yang dikatakan oleh yang mulia Vincent, begitu kita bisa menemukan bukti dan saksi, aku akan segera memulihkan nama baik dan gelar knight milik papa Alexis." Mendengar janji dari Alvero, baik Red dan Marcello terlihat senang dan berharap hal itu bisa segera terjadi.
"Lalu Tuan Alvi, selain itu, apa yang ingin Tuan Alvi sampaikan kepada kami?" Tanpa basi-basi, Red menanyakan tentang alasan Alvero menemuinya.
Karena Red yakin, jika hanya untuk menyampaikan masalah kebenaran tentang Alexis, tidak mungkin Alvero jauh-jauh datang kemari untuk bertemu dan mengobrol dengannya dan Marcello.
"Seperti yang pernah Tuan Red katakan, Tuan Red tidak mau kembali ke pasukan eksklusif kerajaan dan ingin menjadi pendukung keluarga Adalvino di belakang layar. Bisakah untuk saat ini saya meminta Tuan Red untuk benar-benar mendukungku sebagai raja Gracetian sekaligus keturunan dari keluarga Adalvino?" Mendengar pertanyaan dari Alvero, Red langsung mengernyitkan dahinya, berusaha menebak apa keinginan dari raja muda yang duduk di hadapannya saat ini.
"Apa yang diinginkan Tuan Alvi dariku? Untuk mendukung keluarga Adalvino?" Pertanyaan balik dari Red membuat Alvero tersenyum, paling tidak Red tidak langsung menolaknya.
"Apa keluarga Edarian sudah mulai bergerak? Apa kamu sudah mengetahui tentang pergerakan itu?" Marcello bertanya sambil menatap ke arah Red yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Keluarga Edarian sungguh selalu meresahkan." Marcello berkomentar pedas tentang keluarga Edarian begitu melihat anggukan kepala dari Red.
__ADS_1
"Selain Eliana, adik kandung Eliana, baron Amos Edarian merupakan orang yang berambisi untuk dapat menguasai istana. Dari beberapa informan milik Goldie Tavisha. Beberapa waktu ini, baron Amos mulai sering melakukan perjalanan keluar negeri, dan informan kami mengatakan dia sering melakukan pertemuan dengan kelompok-kelompok mafia di Italia untuk melakukan transaksi senjata gelap." Mendengar kata-kata Red yang merupakan info terbaru bagi Alvero, membuat Alvero langsung mengernyitkan dahinya.
"Maaf Tuan Alvi, info itu baru saja saya dengar. Saya tidak bermaksud menyembunyikan info sepenting itu. Hanya saja saya berencana menunggu masa bulan madu Yang Mulia dan Nona Besar berakhir agar tidak mengganggu." Red langsung memberikan penjelasan kepada Alvero begitu melihat perubahan wajah dari Alvero yang tampak kaget karena Red tidak memberikan info apapun tentang kegiatan Amos Edarian yang mencurigakan untuk beberapa waktu ini.
"Ah, sebenarnya tidak masalah, dari awal bulan madu kami sudah dikacaukan oleh hasil perbuatan Eliana." Alvero berkata sambil menyungingkan senyum.
Bagi Alvero, tidak perduli acara bulan madunya berantakan akibat kejadian yang tidak terduda. Yang terpenting, saat ini Deanda sudah menjadi istrinya yang sah, dan bagi Alvero, asal Deanda tetap selalu bersamanya, setiap harinya adalah masa bulan madu untuknya.
"Amos Edarian tidak bisa dianggap remeh. Dia orang yang cukup licik tapi juga licin. Tidak mudah untuk menjebak dan menangkapnya karena kejahatannya. Dulu mendiang kak Alexis pernah bercerita bahwa Amos Edarian adalah orang yang selalu menuruti perintah kakaknya, karena Eliana pernah menjanjikan pengangkatannya sebagai pangeran dan memberikan salah satu anak perusahaan milik Adalvino jika berhasil membantunya merebut posisi permaisuri. Jadi, sepertinya tentang kebakaran di tempat kediaman permaisuri Larena, mungkin saja ada kaitannya dengan Amos Edarian sebagai salah satu pelakunya." Kata-kata Marcello yang menjelaskan tentang Amos Edarian membuat Alvero tersentak kaget, dan tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Sampai detik ini, setiap ada orang yang menceritakan tentang bagaimana Larena meninggal karena terbakar di tempat kediamannya setelah keluar dari istana, selalu saja membuat emosi Alvero teraduk-aduk. Rasa marah, tidak terima, benci, ingin membalas dendam selalu saja muncul begitu peristiwa kebakaran itu disebutkan.
"Tapi Uncle, sampai saat ini dia tidak pernah diangkat sebagai pangeran Gracetian." Marcello tertawa sinis mendengar pertanyaan dari Alvero, menunjukkan bahwa Marcello juga begitu membenci keluarga Edarian seperti Alexis dan tentunya, Alvero sendiri yang juga membenci Eliana Edarian.
__ADS_1