
Melihat bagaimana sosok Melva yang sedang menyandarkan keningnya di bahu kanannya, membuat hati Enzo berdebar-debar dengan keras. Rasanya ingin sekali Enzo menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh Melva dengan erat. Bahkan jika memungkinkan, Enzo ingin sekali mengecup puncak kepala Melva untuk memberikan rasa tenang padanya, menunjukkan bahwa dia begitu mencintai Melva, dan akan selalu siap dan ada untuk membela dan melindungi gadis cantik itu.
Baik Alvero dan Deanda yang melihat bagaimana Melva menyandarkan kepalanya di bahu Enzo, walaupun tidak melihatnya dengan begitu jelas karena terhalang oleh pintu kaca yang memisahkan antara rumah dan teras samping, mereka berdua langsung saling berpandangan. Dan tanpa diperintah atau di kode, mereka berdua saling melempar senyum, merasa lega misi mereka kali ini berhasil dengan baik untuk membantu Enzo dan Melva memulai hubungan yang lebih dekat ke depannya.
Earl Robin yang dari posisi duduknya tidak dapat melihat apa yang terjadi antara Enzo dan Melva, hanya bisa sesekali mengarahkan pandangan matanya ke tempat dimana sosok Enzo dan Melva menghilang, berharap semua baik-baik saja. Dalam hati earl Robin sungguh berharap Enzo bisa membantu Melva menyembuhkan patah hatinya. Walaupun earl Robin tahu harapannya itu terdengar sedikit kurang ajar.
Bagaimana bisa dia yang hanya seorang earl mengharapkan seorang pangeran Adalvino, yang memiliki status sosaial jauh lebih tinggi darinya, menjadi pelarian anak gadisnya yang sedang patah hati. Sedangkan dia sendiri, mana berani mengharapkan Enzo memiliki perasaan lebih kepada anak gadisnya sebelum Enzo sendiri menunjukkan dan menyatakan perasaannya.
Meskipun earl Robin tahu selama ini Enzo selalu bersikap baik dan perhatian kepada Melva, earl Robin tidak berani memastikan tentang perasaan Enzo kepada Melva. Walaupun saat di acara ulang tahun Enzo, pembicaraannya dengan Alvero membuat earl Robin berharap Enzo memang memiliki perasaan lebih dari seorang teman kepada Melva.
"Emmm, Yang Mulia..." Earl Robin baru saja berencana mengatakan sesuatu kepada Alvero ketika dilihatnya salah satu dari pengawalnya berlari-lari dari arah luar rumahnya ke dalam ruang tamu.
"Selamat pagi Earl Robin. Maaf saya masuk dengan terburu-buru tanpa meminta ijin untuk menyela pertemuan ini." begitu berada di dekat earl Robin, pengawal itu segera berkata sambil membungkukkan tubuhnya, dengan salah satu tangannya menyilang di depan dadanya.
"Tidak apa-apa. Ada masalah apa sehingga kamu harus berlarian seperti itu?"
"Di luar... baru saja mobil milik duke Evan datang kemari." Dengan cepat pengawal itu menjawab pertanyaan earl Robin.
__ADS_1
"Eh? Duke Evan datang kemari?" Earl Robin segera bangkit dari duduknya karena kaget, tidak menyangka pagi ini, setelah kedatangan raja dan permaisuri Gracetian, sekarang seorang duke dengan posisi tertinggi setelah raja dan permaisuri ikut berkunjung ke kediamannya tanpa memberi kabar.
"Tenanglah Earl Robin. Aku yang meminta duke Evan untuk menemuiku di sini." Earl Robin yang sudah bangkit berdiri langsung memberikan perintah kepada pengawalnya untuk pergi kembali ke depan, begitu mendengar perkataan Alvero.
"Aku sengaja mengundang duke Evan datang kemari. Karena bagiku lebih baik kita melakukan pertemuan di sini, sehingga bisa mengurangi kecurigaan daripada aku harus menemui duke Evan di markas militer. Semoga Earl Robin tidak keberatan aku menjadikan rumah Earl Robin sebagai tempat pertemuan rahasia kami hari ini." Alvero berkata sambil memandang ke arah earl Robin yang langsung kembali duduk agar Alvero tidak perlu mendongakkan kepalanya saat berbicara dengannya.
"Ah... tentu saja... tentu saja saya tidak merasa keberatan tidak Yang Mulia. Justru saya merasa begitu terhormat, Yang Mulia memberikan kesempatan kepada saya untuk menyediakan tempat pertemuan ini. Kalau begitu... saya permisi terlebih dahulu. Saya harus menyambut kedatangan duke Evan, dan mempersilahkan beliau." Earl Robin berkata dengan senyum senang yang juga menunjukkan dia begitu bangga mendengar perkataan Alvero tentang rencananya melakukan pertemuan penting dengan para petinggi Gracetian di rumahnya.
"Silahkan Earl Robin. Silahkan menyambut dan memberikan penghormatan kepada duke Evan terlebih dahulu." Begitu mendengar ijin dari Alvero, dengan cepat earl Robin menganggukkan kepalanya dan bergegas keluar dari rumahnya untuk menyambut kedatangan Evan dan memberinya salam hormat.
Earl Robin benar-benar tidak menyangka dia bisa mendapatkan kehormatan untuk menjadi orang yang menyediakan tempat pertemuan untuk orang-orang dengan posisi terpenting di Gracetian hari ini. Menyadari hal itu membuat senyuman tidak lepas dari bibir earl Robin saat dia bergegas keluar untuk menemui dan menyam but kedatangan Evan.
"Aku kamu sudah merasa lebih baik sekarang?" Enzo bertanya kepada Melva begitu gadis itu menjauhkan kepalanya dari bahu Enzo.
"Iya Kak. Terimakasih untuk keberadaan dan kata-kata Kakak yang begitu menguatkan aku. Aku begitu beruntung bisa mengenal Kak Enzo dalam kehidupanku." Melva berkata sambil tersenyum, kali ini bukan senyum yang dipaksakan seperti tadi, membuat Enzo bisa ikut tersenyum dengan perasaan lega.
Melva senidir sedikit menarik nafas panjang. Keberadaan Enzo kali ini cukup membuatnya merasa jauh lebih tenang, dan mulai bisa memikirkan apa yang bisa dia lakukan ke depannya.
__ADS_1
“Tunggulah sebentar. Aku harus melakukan pertemuan penting dengan yang mulia Alvero dan duke Evan. Setelah itu, aku akan segera menemuimu kembali.” Melva langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar kata-kata Enzo barusan.
“Tidak perlu Kak. Jangan khawatir, aku sudah baik-baik saja sekarang. Pagi ini Kakak sudah menguatkanku. Aku berterimakasih untuk itu. Tapi, untuk selanjutkan, aku sendiri yang akan menyelesaikan urusanku dengan Emilio.” Enzo sedikit membeliakkan matanya mendengar bagaimana Melva berencana uintuk menghadapi Emilio seorang diri.
“Melva… jangan bertindak ceroboh dan nekat. Emilio bukan orang yang mudah untuk dihadapi dengan sifat liciknya. Apalagi oleh seorang gadis sepertimu.” Melva langsung tersenyum melihat perkataan Enzo yang diucapkannya dengan wajah terlihat begitu khawatir.
“Aku bersyukur Kak Enzo begitu perduli padaku. Tapi percayalah, aku bisa menjaga diriku, dan bisa menyelesaikan masalahku sendiri dengan baik. Jangan khawatir, jika aku betul-betul membutuhkan bantuan dari Kak Enzo, aku pasti akan memintanya kepada Kak Enzo tanpa ragu. Tapi, untuk saat ini, biarkan aku mencoba untuk menyelesaikan masalahku sendiri, dengan caraku. Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.” Melva berkata sambil menatap ke arah Enzo yang wajahnya terlihat tidak tenang.
"Tapi Melva..."
"Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja Kak Enzo." Melva langsung memotong perkataan Enzo, berusaha meyakinkan bahwa dia akan bisa mengatasi masalahnya sendiri.
Melihat wajah Melva yang tampak serius dan tidak akan membiarkan seorangpun menghalangi rencananya, Enzo akhirnya tersenyum sambil mengacak pelan rambut di kepala Melva, beraharap gadis itu akan baik-baik saja ke depannya.
"Jangan lupa, aku selalu siap jika kamu memerlukan bantuan. Apapun itu." Melva langsung mengangguk dengan sikap terlihat mantap mendengar perkataan Enzo.
__ADS_1