
Dari sikap Alea, Alvero bisa langsung menangkap bahwa ada sesuatu hal yang cukup penting yang ingin disampaikan oleh Alea secara pribadi padanya. Keberadaan Abella yang selama ini tidak mengetahui siapa sebenarnya Alea dan tugas yang diembannya saat dia disusupkan ke istana oleh Alvero, otomatis membuat Alea yang terbiasa bertindak dengan hati-hati sebagai orang yang bekerja di Goldie Tavisha, tidak ingin membicarakan hal itu di depan Abella.
Tindakan Alea yang tidak lepas dari pengamatan Alvero langsung membuat Alvero mengerti bahwa Alea ingin menyampaikan apa yang ada di pikirannya tanpa sepengetahuan Abella yang boleh dibilang memang tidak tahu menahu tentang urusan mereka di istana.
"Abella, Deanda, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Alea, tentang kondisi para pelayan di istana. Kalian bisa memulai makan terlebih dahulu. Alea bisa menyusul nanti." Perkataan Alvero sempat membuat Deanda yang mendongakkan kepalanya ke arah Alvero dengan wajah heran, tapi senyuman di wajah Alvero dengan lirikan matanya ke arah Abella langsung membuat Deanda mengerti dan merasa tenang.
Saat ini, Deanda memilih untuk membiarkan Alvero menangani itu, tanpa dia perlu merasa khawatir.
Begitu sampai di ruang kerja Alvero yang ada di sisi lain bangunan penthouse milik Alvero itu, Alvero segera mempersilahkan Alea duduk tepat di depannya, dipisahkan oleh sebuah meja kerja besar.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di istana selama aku dan Deanda tidak ada di istana beberapa lama ini?" Alea langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan dari Alvero.
"Sebenarnya kejadian ini saya tidak sengaja mengetahuinya Yang Mulia. Kemarin kami mendapat perintah dari nyonya Rose untuk membersihkan gudang bahan makanan. Tanpa sengaja salah satu pelayan yang biasa memasak makanan untuk keluarga kerajaan, pakaiannya tersangkut oleh paku salah satu rak tua yang memang sudah waktunya untuk diperbaiki. Paku itu menyebabkan pakaian pelayan itu sobek di bagian bahu sampai ke punggung, dan tanpa sengaja saya yang kebetulan berdiri tepat di belakangnya melihat dengan jelas pelayan itu memiliki tato bergambar kepala singa yang mengaum di depan gambar matahari setengah lingkaran, seperti gambar di plakat yang pernah Yang Mulia sebutkan dulu." Bukan saja Alvero, baik Ernest maupun Erich dan Ernest yang ada bersama dengan Alvero di ruangan itu langsung membeliakkan matanya.
Bahkan perkataan Alea tanpa sadar membuat Erich maju selangkah dari tempatnya berdiri. Namun dengan cepat tangan Ernest langsung menahan gerakan Erich dengan cara menyilangkan lengannya di depan tubuh Erich, agar Erich bisa mengendalikan diri dan emosinya.
__ADS_1
"Alea, apa kamu yakin dengan yang kamu lihat?" Alvero langsung bertanya dengan mata menatap dalam-dalam kea rah Alea.
"Saya sangat yakin dengan itu Yang Mulia. Apalagi walaupun pelayan itu berusaha secepat mungkin menutupi punggungnya, saya sempat membantunya membenarkan pakaiannya yang sobek itu." Alea berkata dengan suara terdengar begitu percaya diri, menunjukkan bahwa dia bisa mempertanggungjawabkan apa yang baru saja dikatakannya.
Mendengar penegasan dari Alea, Alvero langsung menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya, mencoba membuat rencana ke depan.
“Alea, awasi pelayan itu secara khusus. Berikan nama lengkap, info apapun tentang dia kepada Ernest. Termasuk pergerakan dia di istana, siapa saja para pekerja di istana yang sering berhubungan dengannya, kamu harus laporkan kepada Ernest. Ernest, selidiki latar belakang, keluarga, semuanya secara detail tentang pelayan yang disebutkan oleh Alea tadi.” Alvero berkata sambil mengetuk-ketukkan ujung-ujung jari tangan kanannya ke atas meja kerja yang ada di depannya.
"Erich! Segera hubungi duke Evan, apa dia sudah mendapatkan info tentang plakat itu. Untuk Erich, coba temui papa Alexis dan tanyakan dengan detail, apapun yang dia tahu tentang plakat itu, dan juga mungkin info tentang tato dengan gambar yang sama dengan plakat itu! Aku mau sebelum hari ini berakhir, kalian sudah memberikan laporan lengkap kepadaku." Alvero segera memberikan perintahnya kepada kedua pengawal pribadinya, dengan tatapan mata yang terlihat tidak bisa lagi dibantah.
"Ah, ya, mungkin Deanda belum sempat menceritakan kepada kalian. Tuan Alexis Federer ternyata masih hidup dan selama bertahun-tahun ini tinggal di luar negeri. Dan saat ini tuan Alexis sudah kembali ke Gracetian. Deanda dan tuan Alexis sudah saling bertemu kemarin di Renhill." Mendengar perkataan Alvero, Alea langsung menghenyakkan tubuhnya di sandaran kursi dengan mata terbeliak, dan bibir sedikit terbuka karena begitu kagetnya mendengar berita barusan.
"Deanda... pasti senang sekali.... juga Red dan uncle Marcello..." Alea bergumam pelan sambil tersenyum, seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
"Tuan Red bahkan sudah tahu kehadiran tuan Alexis di Gracetian jauh sebelum kami berdua mengetahuinya. Kalau kamu merasa penasaran, kamu bisa menanyakan kepada Deanda tentang cerita lengkapnya. Aku harus segera kembali ke kantor karena beberapa urusan yang harus aku selesaikan bersama yang lain. Terimakasih untuk info berharga yang sudah kamu berikan padaku Alea." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya, yang langsung diikuti oleh Alea.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia. saya akan segera kembali kepada Deanda dan Abella." Alea berkata sambil sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Alvero yang sudah berjalan menjauhi meja kerjanya.
"Eh, Alea...." Tiba-tiba saja Alvero yang baru melangkah dua tiga langkah menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya kembali ke arah ALea yang sudah hampir menyusul langkah Alvero untuk segera keluar dari ruangan itu.
"Jangan bicarakan apapun tentang masalah istana dan tuan Alexis di depan Abella. Kamu tahu Abella hanyalah seorang gadis biasa yang polos, yang tidak mengerti apapun tentang yang sudah terjadi selama ini di sekitar kita. Semakin sedikit orang yang tahu, itu akan membuat lebih aman. Apalagi, jika Abella terlalu banyak tahu, itu justru akan membahayakan dirinya sendiri." Mendengar perintah dari Alvero, dengan sigap Alea langsung menganggukkan kepalanya.
# # # # # # #
Deanda menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan sikap gelisah. Sejak Alea dan Abella pergi meninggalkannya setelah makan siang selesai, Deanda berharap bisa memiliki kesibukan sebelum Alvero kembali dari kantornya.
Beberapa saat setelah Alea kembali ke istana, Deanda dan Alea sempat saling mengirim pesan untuk menjelaskan tentang keberadaan Alexis yang tiba-tiba saja tadi disebutkan oleh Alvero.
Tapi setelah Alea kembali sibuk dengan kegiatannya di istana, apalagi dia sudah mendengar penjelasan lengkap dari Deanda tentang Alexis. Mau tidak mau Deanda hanya bisa menikmati waktu sendirian di kamar penthousenya.
__ADS_1