BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERBUATAN DESYA


__ADS_3

Deanda sedikit menarik nafas lega walaupun kedua pilihan yang diberikan Alvero kepadanya merupakan pilihan yang sama-sama berat, namun paling tidak, tidak akan seberat jika kedua hukuman itu diberikan secara bersamaan.


"Mungkin... hukuman dengan mengusirnya dari istana sudah cukup berat untuknya. Tapi paling tidak dengan gelar putri yang masih melekat padanya akan membuat orang lain masih menghormatinya karena statusnya." Deanda berkata dengan ragu-ragu, berharap pilihannya tidak salah.


Sudah kuduga sebelumnya, itu yang akan kamu pilih sweety. Karena jika aku mencabut gelar putri darinya tanpa mengusirnya dari istana pun, lama kelamaan keberadaannya akan dilupakan orang dan terusir dengan sendirinya dari istana. Kamu benar-benar memiliki pemikiran yang matang sweety. Saat kamu ingin menyelamatkan seseorang kamu melakukannya dengan sepenuh hati dan penuh pertimbangan, tidak asal bicara.


Alvero berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah danau tanpa mengucapkan apapun, hanya lengannya yang masih melingkar di bahu Deanda mengelus-elus lembut bahu Deanda, membuat Deanda justru merasa tidak enak hati karena Alvero tetap diam tanpa membalas perkataannya sehingga membuat Deanda mulai berpikir Alvero tidak setuju dengan pendapatnya atau bahkan marah dengan pilihannya.


"My Al..." Akhirnya Deanda kembali menyebutkan nama panggilan kesayangannya kepada Alvero dengan suara pelan, membuat Alvero mau tidak mau harus menanggapinya.


"Aku tahu maksudmu sweety. Kali ini demi kamu, aku akan menahan diri, tapi kamu tahu, aku bukan orang yang dengan mudah memberikan kesempatan kedua kepada orang lain atau mengampuni orang yang bersalah, apalagi kesalahan itu fatal. Dan jangan merasa berkecil hati jika suatu ketika, pada hal-hal tertentu, aku tetap akan menjalankan keputusanku tanpa meminta pendapatmu terlebih dahulu." Alvero berkata sambil mengalihkan matanya dari danau dan mengecup lembut puncak kepala Deanda dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu adalah raja yang berpikir jauh ke depan. Semua yang kamu lakukan adalah yang terbaik yang sudah kamu pikirkan masak-masak. Aku akan selalu menganggap apapun keputusanmu adalah yang terbaik, walaupun mungkin aku kurang setuju dengan keputusan itu atau suatu waktu kamu tidak memberiku kesempatan untuk menyampaikan pendapatku kepadamu. Aku akan selalu mendukungmu untuk apapun yang akan terjadi ke depannya. Aku juga harus belajar banyak darimu tentang bagaimana mengambil keputusan dengan bijaksana." Deanda berkata sambil tersenyum tulus, tidak ada beban dalam hatinya saat mengatakan itu karena baginya Alvero merupakan seorang raja yang bijaksana dan berpikir jauh ke depan.


Setelah mengenal Alvero beberapa lama ini Deanda tahu dia tidak perlu meragukan kehebatan dan pemikiran Alvero atas segala sesuatu yang dikerjakan dan diputuskannya. Bahkan bagi Deanda, Alvero menanyakan pendapatnya adalah suatu bentuk penghargaan Alvero kepadanya sebagai istri, bukan karena Alvero tidak mampu atau ragu untuk memutuskan hal seperti itu sendiri.


"Kamu memang wanitaku, wanita yang terbaik bagiku." Alvero berkata sambil mengacak pelan rambut Deanda.


"Tapi bolehkah aku tahu, bagaimana pada akhirnya Ernest menemukan bahwa putri Desya yang melakukan itu? Apa pagi tadi putri Desya ke istal kuda?" Deanda kembali bertanya karena merasa begitu penasaran bagaimana akhirnya Ernest menemukan Desya sebagai dalang kejadian tadi pagi.


"Desya tidak mungkin melakukannya dengan tangannya sendiri. Gadis semanja dia, tidak mungkin mau mengotori tangannya sendiri untuk melakukan hal-hal seperti itu. Benar-benar mirip dengan Eliana, selalu melempar batu untuk melukai orang lain dengan menggunakan tangan orang lain. Desya bekerja cukup rapi, tapi menemukan siapa pelakunya bukanlah hal yang sulit. Hanya perlu melihat history siapa yang bertanggung jawab terhadap white angel tadi pagi. Karena baru di acara makan pagi aku mengumumkan tentang acara berkuda, pasti pelakunya bertindak diantara jam setelah makan pagi dan sebelum kita datang ke istal. Lagipula karena terlalu ketakutan setelah melakukan aksinya, orang suruhan dari Desya langsung berusaha melarikan diri dengan meninggalkan istal kuda tanpa pesan kepada teman-temannya yang lain, justru menunjukkan dengan jelas dia yang melakukan perbuatan itu. Belum lama dia meninggalkan istana tim pasukan eksklusif kerajaan sudah berhasil menangkapnya sehingga Desya juga tidak bisa lagi berkelit." Alvero berkata sambil meraih pergelangan tangan Deanda.


“Tidak! Dia mencoba berkelit, karena dari awal Desya sudah mengancam jika dia berani membuka mulut, Desya akan menyandera satu persatu anak dan istrinya. Namun Ernest mengatakan padanya jika dia tidak mau berterus terang, dia yang akan menanggung tuduhan sebagai pemberontak. Di sisi lain, Ernest menunjukkan kepadanya rekaman bagaimana para orang suruhan Desya bahkan sedang berusaha mencelakakan anak istrinya bahkan sebelum dia tertangkap. Untung saja para pengawal ekslusif kerajaan bergerak dengan cepat menyelamatkan anak istri dari petugas istal kuda itu.” Deanda langsung menarik nafas lega mendengar apa yang baru dijelaskan oleh Alvero tentang rentetan peristiwa yang sudah terjadi.

__ADS_1


“Desya sempat hampir keluar dari istana untuk menemui petugas istal kuda itu, tapi Ernest lebih dahulu bertindak dengan mewakiliku, memberi perintah agar pagi tadi tidak ada seorangpun diperbolehkan untuk meninggalkan istana begitu terjadi peristiwa padamu dan white angel.” Deanda hanya bisa terdiam mendengar perkataan Alvero.


Saat mereka sedang bersantai di rumah kayu, ternyata di istana sudah terjadi hal besar tanpa sepengetahuannya, memikirkan itu Deanda merasa lega paling tidak Desya tidak berhasil menyakiti keluarga petugas kandang kuda itu.


"Sudah sore. Kita harus kembali ke istana sekarang. Aku juga harus mengurus masalah Desya secepat mungkin. Karena saat ini Eliana juga sudah berada di istana. Aku yakin dia sednag mencari cara agar Desya terbebas dari hukumannya." Mendengar perkataan Alvero, Deanda langsung bangkit dari duduknya, mengikuti Alvero yang sudah lebih dahulu berdiri sambil memegang pergelangan tangan Deanda.


“Di tempat ini aku belum sempat memerintahkan orang untuk menyiapkan pakaian dan segala keperluanmu. Terpaksa kamu harus mengenakan kembali pakaian berkudamu.” Alvero berkata sambil menggandeng tangan Deanda, kembali masuk ke kamar dan mendekat ke arah tempat dimana pakaian berkuda mereka terlipat rapi.


“Tidak masalah, toh tadi aku masih memakainya sebentar.” Deanda menjawab dengan santai sambil meraih pakaian berkudanya.


“Aku juga akan mengenakan kembali pakaian berkudaku agar yang lain tidak berpikir macam-macam. Walaupun sebenarnya aku tidak terlalu perduli dengan pemikiran orang lain. Hanya saja aku tidak ingin kamu merasa malu.” Kata-kata Alvero sukses membuat wajah Deanda memerah.

__ADS_1


Mau tidak mau perkataan Alvero kembali mengingatkan pada Deanda tentang peristiwa manis yang terjadi tadi pagi antara dia dan Alvero di kamar ini. Peristiwa yang membuat bagaimana akhirnya saat ini Deanda dengan kondisi sadar kembali menyerahkan dirinya kepada Alvero, melakukan kewajiban tapi juga mengambil haknya sebagai istri sah Alvero, dan berakhir dengan mengenakan kemeja milik Alvero seperti yang terlihat saat ini.


“Ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan tentang perkataanku barusan sweety? Mau mengulang kejadian tadi pagi lagi? Sayang sekali kita harus membereskan terlebih dahulu masalah Desya supaya tidak berlarut-larut. Nanti malam kamu bisa menyiapkan diri untuk melakukan hal seperti itu lagi di kamar kita di istana.” Alvero yang bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Deanda, langsung menggoda Deanda yang terlihat begitu salah tingkah.


__ADS_2