
Sedang di Menara yang tingginya menjulang, bahkan jauh lebih tinggi dari pohon-pohon dan bangunan lain di sana, terdapat satu ruang di lantai teratas, dimana terdapat teropong untuk mengamati dari jauh proses pelatihan para anggota pasukan khusus itu.
“Yang Mulia…. Itu bangunan rumah untuk melaksanakan latihan. Agar kehadiran kita tidak mengganggu konsentrasi mereka, lebih baik kita mengamati latihan mereka dari menara pengawas.” Marcello berkata sambil tetap berjalan melewati bangunan rumah yang dijadikan pelatihan tanpa medekat ke sana.
“Aku ikut saja dengan saran Uncle Marcello.” Alvero berkata sambil mengikuti langkah-langkah Marcello, menuju menara.
Begitu sampai menara, Marcello langsung mempersilahkan Alvero untuk menggunakan teropong agar bisa mengamati proses pelatihan itu dengan lebih jelas.
Dalam proses pelatihan itu, para pasukan yang diperintahkan menyergap, merupakan orang-orang yang memiliki berbagai kemampuan khusus. Mereka terdiri dari orang-orang yang selain ahli dalam hal beladiri, juga ada yang ahli dalam menjinakkan bom, ada yang merupakan penembak jitu, ada yang ahli di bidang strategi, dan juga ada yang ahli dalam hal membobol semua jenis kunci, baik kunci dengan metode analog ataupun kunci dengan metode digital.
(Kunci dengan metode analog merupakan kunci dengan metode manual dimana untuk membukanya menggunakan anak kunci. Sedangkan metode kunci digital merupakan kunci dengan sistem otomatis. Ada banyak cara untuk membukanya, seperti menggunakan kode PIN khusus, kartu, memindai sidik jari, retina, suara atau bahkan menggunakan Bluetooth, dan biasanya dilengkapi dengan alarm).
Proses pelatihan berlangsung cukup menegangkan. Walaupun yang menjadi sandera dengan posisi terikat di kursi bersama lilitan bom di tubuhnya hanyalah sebuah boneka, namun bom yang terpasang merupakan bom sungguhan. Sehingga para peserta latihan harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan serius dalam proses pelatihan itu.
Hanya saja mereka yang berlatih tidak tahu bahwa sebenarnya bom itu bisa dikendalikan dari jauh oleh tim pengawas pelatihan. Sehingga jika saja terjadi hal buruk, mereka yang dalam pelatihan, para pasukan khusus yang sedang berlatih itu mengalami kegagalan, ledakan bom itu tetap tidak akan terjadi.
__ADS_1
Untuk beberapa lama, dengan serius Alvero mengamati latihan tersebut dengan rasa penasaran yang besar. Alvero begitu ingin melihat hasil akhir dari proses pelatihan yang berhasil membuatnya beberapa kali menahan nafasnya, seolah dia ikut terlibat dalam pelatihan itu. Setelah semuanya berakhir dengan sukses, Alvero tersenyum dengan bangga melihat bagaimana cekatannya para anggota tim pasukan khusus itu menyelesaikan latihan mereka dengan baik dan sukses.
“Mereka sudah cukup terlatih. Aku cukup puas dengan hasil latihan hari ini. Sepertinya Uncle Marcelo dan tuan Red sudah bekerja dengan cukup keras untuk melatih mereka.” Alvero berkata sambil matanya masih menggunakan teropong di depannya untuk mengamati proses terakhir latihan, dimana mereka ynag bertindak sebagai tim penyelamat berpura-pura mengelandang keluar para anggota tim yang berperan sebagai penjahat, keluar dari rumah tempat latihan itu.
Baru saja Alvero berniat mengalihkan matanya dari lubang teropong ketika dilihatnya sesosok asing orang, dengan memakai masker berdiri di pinggiran hutan yang biasanya juga digunakan untuk tempat latihan, dimana letaknya di bagian utara rumah tempat para pasukan khusus itu berlatih.
Orang yang memiliki tubuh tinggi tegap dan atletis itu terlihat memegang teropong dan ikut mengawasi jalannya latihan sore ini, seolah dia merupakan bagian dari tim pelatih atau pengawas. Tapi Alvero tahu, tim pengawas seharusnya selalu berada di depan layar monitor, dimana mereka harus selalu mengamati rekaman cctv di layar monitor yang ada di ruang kendali.
Dari postur tubuhnya, Alvero bisa langsung menilai bahwa orang itu merupakan orang yang fisiknya terlatih dengan baik. Namun, melihat keberadaan orang itu, dan cara dia mengamati bagaimana pelatihan itu berlangsung, Alvero yakin, dia bukan merupakan salah satu anggota dari tim pasukan khusus itu. Menyadari hal itu, Alvero sedikit mengernyitkan dahinya.
“Ya Yang Mulia. Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Marcello langsung mendekat dan bertanya kepada Alvero, begitu mendapat perintah untuk mendekat ke arah Alvero.
“Uncle, lihat di pinggiran hutan sebelah utara rumah yang digunakan untuk latihan kita sore ini. Ada seseorang yang sepertinya bukan anggota dari tim pasukan khusus kita, tapi aku juga tidak mengenal orang itu.” Alvero berkata sambil mengalihkan matanya dari lubang teropong dan menggeser tubuhnya agar Marcello bisa melihat siapa orang yang dia maksudkan.
Dengan sikap tubuh terlihat sedikit ragu, Marcello mengikuti perintah Alvero untuk mengintip dari lubang teropong ke arah yang tadi disebutkan oleh Alvero.
__ADS_1
Ah, bagaimana aku menjelaskan kepada yang mulia tentang sosok itu? Untuk sekarang ini, belum waktunya untuk yang mulia mengetahui kebenaran ini.
Marcello berkata dalam hati, sambil mengatur nafasnya dan raut wajahnya sebelum kembali bersiap berbicara dengan Alvero.
Dengan gerakan pelan, Marcello menjauhkan matanya dari teropong tersebut dan memberanikan diri untuk langsung menatap ke arah wajah Alvero yang sedang menunggu penjelasan darinya.
Sedang Deanda yang merasa ikut penasaran dengan sosok yang dimaksud dengan Alvero, langsung mendekati teropong, begitu Marcello menjauh dari teropong itu. Sekilas Deanda melihat ke arah yang dimaksudkan Alvero. Tapi sayangnya, sosok yang dikatakan oleh Alvero tadi sudah menghilang dari tempat itu, sehingga Deanda tidak sempat melihat sosok itu .
“Itu merupakan salah satu pelatih yang diundang oleh tuan Red, Yang Mulia. Seperti yang pernah dikatakan oleh tuan Red, dia akan membawa pelatih lain ke sini, untuk membantu kami.” Marcello berkata dengan mencoba menyungingkan senyum di wajahnya.
Mendengar penjelasan Marcello, Alvero sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya, karena dia ingat tentang perjanjian dimana Red bersedia melatih tim pasukan khusus jika diijinkan untuk mengatur semua sistem pelatihan dan juga mengajak pelatih yang dianggapnya bisa memberikan pelatihan terbaik untuk tim khusus itu.
“Kalau begitu, bisakah Uncle memperkenalkan kami dengan pelatih itu? Aku begitu penasaran, sosok hebat yang dimaksud oleh tuan Red itu. Aku juga ingin tahu tentang dia dan mengenalnya.” Marcello dengan keras berusaha mengendalikan wajah dan sikapnya agar tidak terlihat kaget mendengar permintaan dari Alvero barusan.
“Ah, mungkin tidak hari ini Yang Mulia. Sebenarnya, pelatih itu hanya sebentar mampir ke tempat pelatihan hari ini. Dia memiliki janji pertemuan dengan seseorang yang penting hari ini, karena itu mungkin saat ini dia pasti sudah meninggalkan tempat pelatihan ini.” Marcello mencoba menjelaskan kondisi tentang pelatih itu dengan sikap setenang mungkin.
__ADS_1
Dan Marcello merasa sedikit beruntung karena yang dia katakan barusan adalah sebuah fakta, bukan sekedar omong kosong. Bahwa saat ini orang itu memang pasti sudah pergi meninggalkan kamp pelatihan, karena untuk hari ini, dia memang berencana datang ke kamp pelatihan hanya sebentar karena ada janji lain dengan seseorang.