
Sudah sejauh itukah jarak diantara kita papa? Bahkan kamu memanggilku dengan sebutan permaisuri, bukan lagi Deanda.
Deanda berkata dalam hati sambil berusaha keras menahan airmatanya, mendengar bagaimana Alexis yang memanggilnya dengan sebutan permaisuri, membuat hatinya merasa begitu sedih, seolah laki-laki yang ada di hadapannya sekarang hanyalah seseorang yang tidak dia kenal, yang sedang menyapa permaisuri Gracetian yang harus dia hormati.
Deanda tahu bahwa Alexis sengaja melakukan itu justru karena sejak awal dia yang ingin menjaga jarak dengan Alexis. Tapi mendapati bahwa Alexis benar-benar menjaga jarak darinya, ternyata membuat hati Deanda justru merasa begitu tidak tenang.
Jika saja boleh jujur, rasanya Deanda ingin melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu, membiarkan semuanya terlupakan tanpa jejak, tapi kakinya masih terasa berat untk melagnkah mendekat ke arah Alexis, bibirnya masih terasa kaku untuk memanggilnya kembali sebagai papa, dan hatinya masih terasa mengganjal untuk membiarkan semuanya seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi.
Apalagi kehidupan yang dialami oleh Deanda, selama Alexis tidak ada bersamanya bukanlah kehidupan yang mudah untuk dijalani.
"Malam ini saya akan kembali ke kamp pelatihan. Semoga Permaisuri selalu sehat dan bahagia. Juga bayi dalam kandungan permaisuri. Saya akan berdoa semua yang terbaik untuk Permaisuri dan calon putri atau pangeran di rahim permaisuri." Alexis berkata dengan tatapan matanya memandang ke arah Deanda dengan tatapan yang tidak bisa menyembunyikan rasa rindu dan sayangnya terhadap putri satu-satunya itu.
Dan dengan jelas Deanda maupun Alaya bisa merasakan itu, membuat dada Deanda bergetar hebat oleh rasa haru yang menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Alaya hanya bisa berdiri dengan sikap canggung di antara mereka tanpa berani mengeluarkan kata-kata sama sekali. Walaupun Clare, Abella dan Cleosa mengatakan bahwa Deanda adalah orang yang baik hati dan mudah memaafkan, tapi ketegangan yang tercipta malam ini membuat Alaya bahkan tidak berani untuk mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya, bahkan untuk sekedar menyapa Deanda agar bisa mencairkan suasana.
Karena tidak mendapatkan respon dari Deanda, Alexis langsung tersenyum lembut, lalu tanpa diduga Alexis membungkukkan tubuhnya hingga membentuk sudut 45 derajat tepat di hadapan Deanda.
"Permaisuri mohon memaafkan semua kesalahan saya di masa lalu. Selamat untuk pernikahan Permaisuri dengan Yang Mulia Alvero. Selamat karena sudah mendapatkan cinta yang begitu besar dari Yang Mulia Alvero. Semoga Permaisuri Deanda menjadi Permaisuri yang dicintai oleh seluruh rakyat Gracetian, menjadi istri yang selalu mencintai dan mendukung suami. Juga ibu yang bijaksana, menyayangi dan disayang oleh anak-anaknya." Alexis mengatakan semuanya itu dengan tubuh tetap membungkuk, dengan suara terdengar begitu tegas, tapi di bawah sana, mata Alexis yang menatap lurus ke arah lantai di bawahnya, tidak bisa menahan airmata yang mulai mengalir sejak dia membungkukkan tubuhnya kepada Deanda.
Mendengar perkataan Alexis, Deanda tidak bisa lagi membendung airmatanya yang langsung membanjiri wajahnya. Dan di akhir perkataan Alexis, Deanda tidak bisa lagi menahan dirinya.
Dengan gerakan cepat, Deanda bergerak ke arah Alexis dan langsung memeluk dengan erat tubuh Alexis yang masih membungkuk di hadapannya.
Alaya bisa merasakan bagaimana rasanya hidup terpisah dari seorang ayah, dan sekarang mereka dipertemukan kembali. Dan Alaya juga tahu, bagaimana sikap Alexis yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri selama ini pasti begitu merindukan sosok putrinya kandungnya, Deanda.
"Papa.... jangan... membungkuk di hadapanku. Aku mohon... aku tidak boleh membiarkan Papa bertindak seperti itu. Seorang ayah jangan membungkukkan tubuh di hadapan anaknya. Aku tidak mau Papa... aku tidak mau itu..." Deanda berkata dengan nafas tersengal-sengal karena berusaha berbicara sambil menangis keras.
__ADS_1
Alvero yang sedang berjalan berdampingan bersama Enzo tersentak kaget melihat apa yang terjadi antara Alexis dan Deanda. Awalnya Alvero inginĀ langsung mendekat dan menyakan apa yang terjadi. Tapi, kali ini Alvero berusaha menahan langkahnya, berharap malam ini Deanda bisa menyelesaikan masalahnya dengan Alexis.
Dan dengan gerakan cepat Alvero langsung meraih pergelangan tangan Enzo dan menariknya, begitu melihat Enzo berniat untuk berjalan mendekat ke arah Alexis dan Deanda yang sedang berpelukan dan melepas kerinduan mereka satu dengan yang lain.
Begitu Alvero menarik pergelangan tangannya, Enzo langsung menoleh, dan disambut oleh Alvero dengan gelengan kepalanya, memberi tanda agar untuk sementara waktu Enzo membiarkan Alexis dan Deanda tanpa mengganggunya, membuat Enzo menarik nafas panjang dan matanya kembali menatap ke arah Alexis dan Deanda.
"Permaisuri, aku tidak layak disebut ayah oleh Permaisuri. Terlalu lama aku membiarkan anakku sendiri menderita." Mendengar perkataan Alexis, Deanda mendorong tubuh Alexis agar kembali menegakkan tubuhnya.
Begitu Alexis kembali menegakkan tubuhnya kembali, dengan cepat Deanda langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Alexis, dan memeluk laki-laki itu dengan begitu erat, seperti seorang anak kecil yang sedang ketakutan dan menemukan tempat aman di posisi pelukan ayahnya.
"Maafkan aku Papa... maafkan aku..." Deanda berkata dengan nada suara terlihat begitu sedih sambil menempelkan wajahnya ke bahu Alexis yang langsung basah oleh airmata Deanda.
"Maafkan aku yang tidak mau mengerti tentang kondisi Papa waktu itu. Aku tahu sebagai seorang knight Papa memang harus bertindak seperti itu. Sebagai putri seorang knight, harusnya aku tahu resiko yang harus aku tanggung. Tapi aku berusaha untuk tetap mempertahankan egoku. Aku berusaha meminta hakku sebagai anak tanpa perduli kesulitan dan penderitaan yang juga Papa alami." Deanda berkata dengan airmata terus mengalir deras di pipinya.
__ADS_1
"Deanda.... putri kecilku. Terimakasih untuk maaf yang sudah kamu berikan. Kamu memiliki hati yang begitu lembut seperti Tiana. Hati yang selalu lebih memikirkan orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Putri cantikku... betapa papa sangat menyayangi dan begitu merindukanmu selama ini. Tiada hari papa lalui tanpa memikirkanmu. Dimanapun papa berada, papa selalu berdoa agar kamu dalam kondisi baik-baik saja, dan suatu ketika kita bisa bertemu lagi, seperti hari ini." Alexis berkata sambil mengelus-elus punggung Deanda yang ada dalam pelukannya.
Sebentar kemudian Alexis sedikit menjauhkan tubuh Deanda dari tubuhnya, untuk kemudian merangkum wajah cantik putrinya dengan kedua tangannya, menatapnya dengan tatapan mata sayang dan penuh ucapan syukur. Dan tak lama kemudian, Alexis sibuk menghujani Deanda dengan ciuman di kening dan pipinya untuk melepaskan semua kerinduan dalam hatinya yang rasanya sudah begitu menyesakkan dadanya selama ini, membiarkan Deanda tertawa dalam tangisnya mendapatkan ciuman-ciuman hangat dan penuh kasih sayang dari seorang ayah, yang sudah begitu lama dia rindukan.