
"Ba... bagaimana saat itu.. kamu bisa bertemu anak laki-laki yang kamu ceritakan... barusan?" Deanda langsung menoleh ke arah Alvero, begitu mendengar Alvero mengucapkan kata-katanya dengan suara terputus-putus.
"Kenapa denganmu my Al? Jangan marah ya... Aku hanya bercanda. Jangan terlalu diambil hati. Tentu saja aku lebih ingin anak laki-lakiku setampan suamiku." Deanda berkata sambil mencium lembut pipi Alvero yang wajahnya masih telihat begitu tegang karena cerita Deanda sebelumnya.
Namun kecupan kecil Deanda pada pipinya, cukup membuat Alvero merasa jauh lebih tenang.
"Waktu itu ya? Waktu itu papa Alexis dan aku sedang mengunjungi keluargaku di kota ini. Keluargaku itu merupakan keluarga nelayan, karena itu aku dan saudara sepupuku beserta teman-temannya waktu itu bermain petak umpet. Aku tahu sebenarnya tidak boleh bermain di hutan bakau. Tapi karena di sana ada rumah kayu yang seringkali membuatku penasaran, aku berencana bersembunyi di sana. Tapi aku justru bertemu dengan anak laki-laki dengan matanya tertutup kain, sedang menangis dan dalam kondisi terikat. Di sekitarnya tampak para penjahat yang sedang membicarakan rencana mereka terhadap anak laki-laki itu. Bahkan aku mendengar para penjahat itu berencana membunuhnya. Benar-benar..." Deanda belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika dengan tiba-tiba, Alvero menarik pergelangan tangan Deanda dan mengajaknya berlari meninggalkana tempat itu dengan buru-buru.
"Eh... my Al... Kita mau kemana? Kenapa terburu-buru?" Deanda ikut berlari sambil meneriakkan pertanyaan kepada Alvero yang terlihat tidak ada niat sedikitpun untuk memperlambat larinya.
"Kita harus segera kembali ke villa untuk menemui papa Vincent! Ada sesuatu yang penting, yang ingin aku tanyakan padanya!" Alvero berteriak keras menjawab pertanyaan Deanda tanpa menoleh ke arah istrinya, dengan senyum lebar terlihat di wajah Alvero.
Jika memang benar Deanda yang menyelamatkanku saat itu, papa Vincent pasti tahu karena papa mengenal papa Alexis. Deanda Federer... jika itu benar-benar kamu... Ternyata Tuhan sudah mengirimkanmu sebagai malaikat penjagaku sejak dulu. Jika itu benar kamu... seumur hidupku, aku akan membalasnya dengan seluruh hati dan hidupku. Aku akan selalu menjagamu, aku akan selalu mencintaimu sampai akhir hidupku, dan menjadikanmu wanita paling bahagia sebagai istriku.
Alvero berkata dalam hati dengan hati yang membuncah dengan rasa bahagia sekaligus haru, yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Hanya kata-kata dalam hati yang dipenuhi dengan ucapan syukur dan pernyataan cintanya kepada Deanda yang terus diucapkan oleh Alvero dalam hati terus menerus tanpa terputus.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan yang mereka tempuh selama 10 menit dari pantai ke villa keluarga Enzo yang memang jaraknya tidak terlalu jauh, Alvero tidak mengucapkan sepatah katapun, dia justru sibuk menciumi tangan Deanda yang terus berada dalam genggaman tangannya sejak mereka berdua berlari meninggalkan pantai.
Alvero terus menggenggam erat tangan Deanda tanpa melepaskannya barang sedetikpun. Sesekali bibir dan hidungnya sibuk menciumi punggung tangan Deanda, dan tidak memberikan kesempatan kepada Deanda untuk bertanya tentang apapun.
Karena setiap kali Deanda berencana membuka mulutnya, mempertanyakan apa yang sudah terjadi, yang membuat Alvero bersikap aneh sore ini, Alvero langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Deanda, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Di samping itu, tatapan mata Alvero yang memandang terus ke arah Deanda tanpa henti menunjukkan bahwa saat ini Alvero seolah memohon agar kali ini Deanda cukup diam sampai mereka bertemu dengan Vincent.
Begitu sampai di villa dengan gerakan terburu-buru, Alvero langsung turun dari mobil tanpa menunggu para pengawal membukakan pintu untuknya, dan berlari ke arah pintu mobil di samping Deanda, membukanya dan dengan lembut tapi cepat segera menarik tangan Deanda agar segera turun dari mobil.
Rasanya dada Alvero hampir meledak karena rasa tidak sabar ingin segera bertemu dengan Vincent dan menanyakan tentang pemikirannya apakah benar yang sudah menyelamatkannya dulu adalah Deanda.
Tanpa membiarkan Deanda mengeluarkan komentar apapun, dengan setengah berlari, Alvero langsung membawa Deanda menuju ke kamar Vincent. Dua orang pengawal yang berjaga di depan kamar Vincent tampak sedikit terkejut melihat kedatangan raja dan permaisuri mereka yang tampak begitu terburu-buru.
"Apa yang mulia Vincent ada di dalam?" Deanda langsung memberikan tanda menerima salam penghormatan kedua pengawal tersebut begitu dilihatnya Alvero yang tidak memberikan tanda itu, justru langsung menanyakan keberadaan Vincent dengan sikap tidak perduli terhadap kedua pengawal itu.
"Yang mulia Vincent baru saja membersihkan diri dan sedang menikmati teh bersama dengan pangeran Enzo di balkon kamar." Salah satu pengawal itu langsung menjawab pertanyaan dari Alvero, yang langsung membuka pintu kamar Vincent.
__ADS_1
"Papa...!" Mendengar suara pintu yang dibuka dengan terburu-buru, sehingga menimbulkan suara cukup keras, yang terdengar sampai ke balkon, membuat Vincent yang sedang mengobrol dengan Enzo sambil menikmati teh dan beberapa cemilan berupa kue kering langsung menoleh kaget ke arah sumber suara.
Tapi, begitu dilihatnya yang datang adalah Alvero dan Deanda, sebuah senyuman segera tersungging di bibir Vincent.
"Pa..." Alvero langsung berjalan mendekat ke arah balkon dan berdiri tepat di depan papanya yang sedang duduk bersebelahan dengan Enzo yang sedikit menahan tawanya melihat sosok Alvero yang biasanya dingin dan tenang, sore ini tampak gelisah dan sedang mengatur nafasnya yang terlihat sedikit memburu.
"Ada apa denganmu nak? Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat terburu-buru seperti itu...."
"Pa, katakan padaku. Apa Papa ingat kasus penculikanku 15 tahun yang lalu di pantai Renhill. Papa ingatkan waktu itu ada seorang gadis kecil yang sudah menyelamatkanku? Siapa gadis kecil yang sudah menyelamatkanku waktu itu? Apa Papa tahu siapa gadis itu? Apa Papa mengenalnya?" Mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Alvero, Vincent sedikit mengernyitkan dahinya.
"Apa maksud dari pertanyaanmu nak?" Mendengar pertanyaan balik dari Vincent, wajah Alvero tampak menegang, ada rasa khawatir yang tiba-tiba menerjang dadanya, seolah takut jika ternyata tebakannya salah, bahwa ternyata bukan Deanda yang sudah....
"Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu kepada papa? Apa kamu tidak ingat kalau yang sudah menyelamatkanmu adalah putri dari Alexis? Tentu saja gadis kecil itu adalah Deanda. Gadis kecil itu adalah istrimu sendiri. Papa pikir sudah sejak awal kamu mengetahui itu. Bahkan kadang papa sempat berpikir bahwa salah satu alasan kamu menikahi Deanda adalah karena hal itu." Mendengar jawaban dari Vincent, Alvero mendongakkan kepalanya untuk menahan airmata harunya keluar dari sudut-sudut matanya.
Setelah sekian lama mencari dengan rasa penasaran yang begitu besar, ternyata penyelamatnya adalah sosok wanita yang begitu dicintainya, yang merupakan wanita miliknya sendiri, Deanda Federer. Wanita yang ternyata selama beberapa waktu ini selalu ada di dekatnya tanpa disadari oleh Alvero.
__ADS_1