I GOT YOU, MY WIFE

I GOT YOU, MY WIFE
Bab 106 Memilih Untuk Diam-Diam Mencintaimu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Serena kali ini tidur sangat terlelap, jadi ketika dia bangun, sudah hari kedua dan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Mabok membuat kepalanya terasa sangat sakit. Setelah dia membuka mata yang ia rasakan hanyalah rasa sakit dikepala, tak ada yang lain.


Hello! Im an artic!


Dia dengan linglung melihat sekilas ke arah luar jendela, setelah menyadari waktu sudah siang, ia pun memaksakan diri untuk duduk.


“Jam berapa ini? Jangan bilang sudah telat untuk pergi kerja?” Dia menggerutu sambil mengambil tas yang ada diatas lemari dan mengeluarkan handphone dari dalam tas.


Begitu melihat, ternyata hari ini adalah hari minggu.


“Hari ini ngga perlu kerja.” Serena menghela nafas lega, kembali membaringkan badan dikasur.


Hello! Im an artic!


Bercanda, libur dua hari, tentu saja harus santai-santai dikasur! Apalagi kepala dia saat ini sakit banget.


Tunggu! Serena tiba-tiba membelalakan mata seakan terpikirkan sesuatu, melihat kamar yang terlihat asing tapi juga tak asing, dia jadi tersadar.


Ini adalah kamar tamu rumah Ralphie.


Hanya saja bagaimana dirinya dirumah dia?


Mungkinkah ia yang menelepon dia dan meminta untuk menjemputnya?


Serena mengerutkan alis mulai flashback bagaimana bisa dia datang sampai ketempat Ralphie.


Serena segera membuka ponselnya, membuka riwayat panggilan, tetapi didalamnya tidak ada apapun.


Lalu bagaimana cara ia datang kesini?


Kemarin malam mentraktir makan Isa dan Ryan, lalu makan dengan hati senang dan berakhiran minum-minum.


Dia minum gelas sudah langsung mabuk, lalu Isa dan Ryan masih lanjut minum.


Mungkinkah Isa mereka yang membawanya datang?


Tidak, tidak mungkin, ketika dia berdiri ke toilet, mereka juga mabok, jadi pasti bukan mereka yang mengantarnya kesini.


Serena masih terus berusaha flashback ketika ia pergi ke toilet.


Ia sepertinya ke toilet yang didalam ruang VIP dan seperti melihat Ralphie, dan ia dengan mabok menunjuk dia dan sepertinya berbicara sesuatu? Ngomong kalau ia tak mengenalnya?


Serena memegang hidung, memberitahu dirinya sendiri, saat itu ia sangat mabok, wajarnya saja jika ia tak mengenali Ralphie.


Setelah itu apa yang ia lakukan? Serena masih coba untuk flashback.

__ADS_1


Kemudian Ralphie sepertinya ingin membawanya keluar dari toilet, lalu ia……ia malah memeluk leher dia dan berkata, aku memelukmu loh, hehe……


Yah Tuhan! Semalam ia tidak mungkin nembak Ralphie kan?


Serena berusaha mengingat kejadian semalam, tetapi dia sama sekali tidak ingat apa yang sudah ia lakukan.


Ia menjadi sangat kacau dan berloncat-loncat, setelah itu, ia berusaha menenangkan diri bahwa dia tidak nembak.


Disaat Serena sedang galau, pintu kamar terbuka.


Ralphie tanpa ekspresi masuk kedalam, dengan datar berbicara, “Sudah bangun, cepet sana gosok gigi terus turun makan.”


Selesai berbicara, dia membuang pandangannya, seakan jika melihatnya lebih lama lagi akan membuat moodnya jadi rusak. Dia berbalik badan dan belakang punggungnya terlihat sangat dingin.


Serena melihat punggung dingin Ralphie dan berkata, “Ralphie……”


Ralphie menghentikan langkah kaki tetapi tidak berbalik badan, hanya dengan datar berkata, “Cepetan turun.”


Benerkah jikalau kemarin dia mabok dan menembaknya? Makanya sekarang dia bersikap sangat dingin padanya? Serena menatap kepergian Ralphie dan dengan kuat mengigit bibir bawahnya.


Ngga, kalau dia benar-benar sudah tahu, dia pasti tidak akan membawanya pulang.


Serena menenangkan dirinya lalu membuka selimutnya dan beranjak ketoilet untuk beberes, kemudian turun.


Ketika Serena masuk ruang makan, Raphie sedang membawa sebuah piring keluar dari dapur.


Selesai berbicara dia menarik kursi tempat dia biasa duduk lalu duduk, tidak seperti biasa yang menarikan kursi untuk Serena.


Dia benar-benar sudah tahu, kalau tidak dia tidak mungkin bersikap seperti ini.


Kali ini Serena sudah yakin dan pasti.


Serena menggengam erat kedua tangan yang ada disamping lalu dengan nada tenang berkata: “Aku tadi terima telepon dari roommate aku, katanya ada urusan, jadi aku ngga makan ditempatmu……”


Gerakan Ralphie mengambil makanan terdiam sesaar lalu dengan datar berkata ‘En’, dan lanjut makan.


Serena memberikan senyuman paksa kepada Ralphie, dengan senyuman datar berkata, “Semalem, terima kasih.”


Ralphie akhirnya mengdongakan kepala dan ketika melihat wajahnya, dia mengerutkan alis dan berkata: “Sama-sama, kita kan…….teman.”


Teman……Mungkin terlalu memaksanya menggunakan kata ini untuk menenangkannya.


Serena tiba-tiba tertawa, “Hehe…..aku kenapa lupa……”


Tertawa Serena sangat renyah, Ralphie merasa tidak nyaman, malah dia sama sekali tidak merasa kalau tangan Serena sudah berubah putih, seakan kuku sudah masuk kedalam daging dan pasti sangat sakit.


“Kalau gitu aku pergi dulu, bye-bye.”


Selesai berbicara,Serena berbalik badan dan pergi meninggalkan kediaman Ralphie.

__ADS_1


Mungkin kedepannya akan sangat sulit bertemu! Sekalipun ketmu, kamu hanya meninggalkan sikap dingin padaku.


Tetapi aku akan tetap diam-diam menyukaimu, mencintaimu.


Hanya saja waktu untuk aku menyembunyikan perasaanku padamu sangat pendek……


Ralphie melihat kepergian Serena, ntah kenapa dia merasa sesuatu.


Sedih, sakit……


Bukankah dia hanya menerima telepon dari roommatenya, ada masalah, bagaimana mungkin bisa dia sedih, sakit?


Ralphie menggelengkan kepala seolah dia salah melihat.


Mulai dari saat itu, Serena tak pernah lagi muncul dihadapan Ralphie.


Sekalipun ia merindukannya, ia juga tidak menelepo ataupun chat dirinya.


Ia berpikir, hanya dengan memutuskan semuanya, ia baru bisa memutuskan semua khayalan dan ini semua yang dia inginkan.


Jadi berbuat seperti ini adalah suatu hal yang bagus……walaupun dia sakit, sangat sakit. Tetapi dia akan senang……


Ia bisa dengan tenang melihat dia senang dan tetap menjaga agar dia senang.


Serena membuka album gambar, didalamnya ada beberapa lembar sketsa wajah Ralphie.


Ralphie yang sedang makan, Ralphie yang sedang lihat file, Ralphie yang sedang masak…..


Gambar ini ia gambar beberapa saat terakhir ini, ini semua miliknya, ia bisa dengan bebas memilikinya……


Telepon tiba-tiba berdering, Serena tersadar dan mengambil ponsel yang ada diatas meja.


Melihat nomor Isa, ia terdiam sebentar kemudian mengangkatnya.


“Halo?”


“Serena, kamu hari ini ada waktu keluar untuk makan ngga?” Suara Isa dengan tawaanya.


Serena membengkamkan mulut, kemudian menolak, “Maaf, kerjaanku masih belum selesai.”


“Hari ini kan libur, Serena bos kamu masih suruh kamu lembur.” Kata Isa.


Serena menjelaskan: “Bukan, aku datang untuk training dikantor, apa yang dibahas tadi sedikit lebih susah bagiku, jadi aku perlu menghabiskan waktu untuk mencari data.”


“Baiklah, kalau gitu kita hanya bisa kumpul sendiri.” Isa berbicara dengan rasa kecewa.


Serena menggigit bibirnya lalu membalas, “En, aku sibuk, aku matiin teleponnya dulu ya.”


Isa berkata ‘En’, lalu mematikan telepon.

__ADS_1


__ADS_2